NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 6: Hari Setelah Wisuda

​Aku lulus.

​Dua kata yang selama empat tahun terakhir terasa seperti sebuah tujuan yang cukup jelas cukup konkret untuk dikejar, cukup terukur untuk dijadikan alasan bertahan di hari-hari yang rasanya ingin menyerah saja.

​Dan sekarang, ia sudah terjadi.

​Aku lulus.

​Dengan IPK yang cukup tinggi untuk membuat dosen pembimbingku mengangguk puas. Dengan skripsi yang selesai tepat waktu, meskipun ada dua minggu di bulan ketiga yang nyaris membuatku mendaftar jadi kasir minimarket saja karena terlalu stres. Dengan toga yang sedikit kekecilan di bagian bahu karena aku meminjamnya dari kakak tingkat yang badannya lebih mungil, sehingga selama empat jam prosesi wisuda aku harus terus-menerus menariknya supaya tidak melorot.

​Aku lulus. Dan seharusnya, itu terasa seperti sesuatu yang besar.

​Prosesi wisudanya berjalan persis seperti yang sering diceritakan orang-orang panjang, formal, dan selalu ada satu titik membosankan di tengah-tengah acara ketika kau duduk di antara ratusan orang berpakaian hitam yang sama, mulai mempertanyakan apakah semua penderitaan ini sepadan dengan biaya sewa gedung dan make-up subuh-subuh.

​Tapi ada satu momen yang tidak pernah diceritakan orang.

​Momen ketika namamu menggema dari speaker, kamu berdiri, berjalan menaiki tangga panggung, dan rektor menyerahkan selembar map yang digulung rapi. Kamu berdiri di sana, di bawah cahaya lampu sorot yang terlalu terang, menahan senyum palsu ke arah kamera fotografer sampai rahangmu sedikit pegal.

​Di momen itu di antara riuh tepuk tangan dan kilatan blitz dari arah tribun mataku bergerak liar mencari wajah Ibu.

​Ia ada di baris ketiga dari depan, di tribun sayap kanan. Ia mengenakan baju kebaya brokat hijau tua yang aku tahu selalu ia simpan di dalam plastik laundry dan hanya dikeluarkan untuk acara-acara yang ia anggap berskala nasional. Rambutnya disanggul rapi sesuatu yang tidak sering ia lakukan karena membuat kepalanya pusing, tapi selalu dipaksakannya kalau ada tetangga yang perlu dibungkam.

​Ia menatapku ketika aku berdiri di tengah panggung.

​Senyum tipis. Anggukan kecil.

​Itu saja.

​Tapi dari seorang Sri Wahyuni, anggukan kecil dari tribun kanan dengan mata yang sedikit lebih berkaca-kaca dari biasanya... itu setara dengan standing ovation dari seratus orang.

​Aku turun dari panggung dengan map kelulusan di tangan, membawa sesuatu yang hangat di dadaku yang tidak langsung bisa kuberi nama.

​Sari ada di tribun yang berbeda. Ia datang bukan sebagai wisudawati, melainkan sebagai penonton eksklusif. Jadwal wisudanya baru bulan depan di kampus yang berbeda, tapi ia datang hari ini dengan alasan yang ia nyatakan sendiri dengan sangat lugas di chat semalam:

​"Aku mau foto sama kamu pakai toga SEBELUM kamu keburu turun panggung, gerah, dan tiba-tiba mode anti-sosialmu kumat terus nggak mau difoto lagi."

​Akurasinya membaca tabiatku memang sangat tinggi untuk orang yang baru mengenalku sekitar enam tahun.

​Di luar gedung, setelah lautan manusia tumpah dari pintu utama, Sari menemukanku dengan ekspresi lega seperti seseorang yang baru saja berhasil menyelesaikan misi menjinakkan bom.

​"Nemu juga akhirnya!" Ia langsung mengambil posisi di sebelahku dan mendorong HP-nya secara paksa ke dada seorang mahasiswa random yang sedang lewat. "Mas, tolong fotoin kami dong. Yang bagus ya, awas ngeblur."

​Orang yang lewat itu yang tampaknya terlalu kaget untuk menolak mengambil foto kami dengan ekspresi pasrah.

​Hasilnya ada tiga jepretan. Satu yang bagus, satu yang mataku setengah terpejam karena blitz, dan satu di mana muka Sari terlihat seperti baru selesai lari maraton sepuluh kilometer. Sari tentu saja memilih foto pertama dan langsung mengunggahnya.

​" Caption-nya enaknya apa?" tanyanya, ibu jarinya sudah bersiap mengetik di atas layar.

​"Terserah."

​"Oke." Sepuluh detik kemudian ia menunjukkan layarnya ke depan wajahku.

​Caption-nya: Teman terbaikku lulus hari ini dan aku yang mau nangis 🥹🎓

​Aku menatapnya datar. "Kamu nggak nangis tadi."

​"Tapi rasanya di dalam dada mau nangis."

​"Itu dua hal yang berbeda secara fisik."

​"Secara emosional sama aja, Nara."

​Aku menghela napas, memutuskan untuk tidak mendebat logika itu.

​Sesi foto keluarga dilakukan sepuluh menit kemudian di depan taman kampus yang spot-nya sudah diantre panjang sejak tadi. Aku, Ibu, dan Bapak.

​Ya, Bapak ternyata datang. Sesuatu yang sejujurnya tidak berani kuasumsikan sebelumnya, karena sawah tidak mengenal kalender merah atau hari libur yang bisa dijadwalkan sesuka hati. Tapi ia ada di sana, berdiri kaku di sebelah Ibu, mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang yang terakhir kali kulihat ia pakai di acara pernikahan saudara jauh dua tahun yang lalu.

​Bapak tidak banyak bicara seperti biasa. Tapi ia ada. Dan untuk seorang pria yang separuh napasnya dihabiskan di antara gabah, lumpur, dan diam yang panjang, kehadirannya di kampusku ini sudah merupakan sebuah deklarasi kasih sayang yang bising.

​"Senyum dong, Pak," perintah Sari yang kini merangkap jadi fotografer dadakan kami.

​Bapak tersenyum kecil, sangat kaku, tapi itu sebuah senyum.

​Aku berdiri di tengah, memegang map ijazah, dengan sebelah tangan diam-diam menarik bahu toga yang melorot.

​Klik.

​Makan siang setelahnya dihabiskan di warung makan Padang dekat kampus. Bukan restoran mewah, bukan kafe instagrammable tempat anak-anak lain merayakan wisuda, tapi warung sederhana dengan kursi plastik merah muda, nasi yang pulen, dan rendang sapi yang sudah jadi menu favorit Bapak sejak pertama kali aku mengajak mereka makan di sini saat ospek dulu.

​Sari tidak ikut bergabung. Ia punya acara keluarga sendiri sore itu, jadi ia pamit setelah sesi foto dengan pelukan yang sedikit terlalu erat untuk ukuran pelukan normalnya.

​"Selamat ya, Ra," bisiknya tepat di dekat telingaku. "Kamu udah jauh banget melangkah."

​Aku tidak langsung merespons kalimat itu.

​Karena ada sesuatu dalam susunan kata-katanya yang mengenai sebuah titik buta yang tidak kukira.

​Kamu udah jauh banget.

​Jauh dari mana? Jauh dari rumah? Jauh dari beban? Atau justru aku hanya berjalan berputar-putar dalam ekspektasi yang sama selama dua puluh dua tahun?

​Nanti, batinku memerintah. Pikirin nanti.

​"Makasih banyak, Sar," balasku menepuk punggungnya.

​Makan siang keluargaku berlangsung dengan ritme yang sudah sangat familier. Bapak makan dengan tenang, memesan es teh manis yang langsung ia minum setengahnya sebelum piring nasi datang. Ibu memesan sayur daun singkong dan ayam pop, lalu di tengah kunyahan, ia tiba-tiba bercerita soal tetangga di sebelah tokonya yang bangkrut, yang entah bagaimana logikanya terhubung ke sebuah opini panjang soal pentingnya punya penghasilan tetap sebelum berani buka usaha.

​Aku mengunyah rendangku dan mendengarkan celotehannya.

​Ini masih hari yang baik, kataku dalam hati, mencoba menikmati cuaca yang sedang cerah. Nikmati dulu.

​Perjalanan pulang ditempuh menggunakan bus kota. Bapak duduk di dekat jendela dan langsung tertidur bahkan sebelum bus berhasil keluar dari terminal sebuah keahlian super yang tidak pernah berubah sejak aku kecil, kemampuan tidur di atas kendaraan apa pun dalam posisi anatomi apa pun.

​Ibu duduk di kursi tengah, dan aku di sisi lorong.

​Setengah jam pertama, tidak ada yang bicara. Bus sangat ramai, kenek berteriak, dan suara mesinnya berisik. Itu adalah alasan yang cukup masuk akal untuk tidak memulai percakapan.

​Tapi di antara stasiun pemberhentian kedua dan ketiga, Ibu menoleh ke arahku.

​"Nara."

​"Iya, Bu?"

​"Mulai besok kamu rencana ngapain?"

​Itu adalah pertanyaan yang wajar. Pertanyaan yang sudah kusiapkan template jawabannya sejak berminggu-minggu lalu saat menyusun skripsi.

​"Mau mulai apply kerja yang serius, Bu. Udah ada beberapa lowongan admin dan staf di perusahaan yang aku incar. Tinggal kirim CV."

​Ibu mengangguk-angguk pelan. Hening dua detik.

​"Sambil nunggu panggilan itu, bantu Ibu nungguin toko dulu bisa, kan?"

​Sirine kecil berbunyi di dalam kepalaku. "Bisa sesekali, Bu. Tapi aku perlu fokus ke revisian lamaran kerja dan interview dulu."

​"Ya sambil itu."

​"Iya. Sambil itu."

​Ibu mengangguk lagi, lalu kembali menatap lurus ke depan punggung kursi.

​Aku kembali menatap ke arah jendela memandangi jalanan aspal yang bergerak mundur dengan sebuah perasaan mengganjal bahwa percakapan itu sebenarnya belum selesai. Hanya di-pause.

​Besoknya atau lebih tepatnya, dua hari setelah wisuda, karena hari pertama setelah wisuda benar-benar kuhabiskan untuk tidur mati dan Ibu ajaibnya membiarkan itu tanpa komentar itulah hari di mana bom waktu itu meledak.

​Pagi itu Bapak sudah berangkat ke sawah sebelum aku sempat bangun.

​Ibu ada di dapur, sedang menyiapkan sarapan. Aku turun dari kamar, mencuci muka, lalu duduk di kursi meja makan.

​Nasi goreng kecap. Telur mata sapi setengah matang. Kerupuk udang. Sarapan biasa.

​Hari biasa, pikirku. Hari biasa yang sama seperti dua puluh dua tahun kehidupanku di rumah ini.

​Kami makan. Ibu bercerita soal toko ada stok baju daster yang baru datang kemarin sore dari supplier, warnanya bagus tapi serinya kurang bervariasi. Aku mendengarkan, sesekali bergumam menimpali, meminum teh hangat yang selalu terasa membakar lidah di tegukan pertama.

​Selesai makan, aku membawa piring kotorku ke wastafel dan mencucinya.

​Selesai mengeringkan tangan, aku berniat masuk ke kamar untuk menyalakan laptop dan mulai mengirimkan email lowongan kerja.

​"Nara, sebentar."

​Langkahku terhenti tepat di ambang pintu dapur.

​Ibu sedang mengeringkan tangannya dengan lap kain. Ada sesuatu dari gerakannya saat melakukan itu terlalu teliti, terlalu lambat, terlalu lama yang memberitahu instingku bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah eksekusi.

​"Duduk dulu sini."

​Aku berbalik dan kembali duduk di kursi meja makan yang baru saja kutinggalkan. Ibu menyusul duduk di seberangku.

​Dari saku celemeknya, ia mengeluarkan sesuatu. Sebuah buku catatan berukuran sedang. Sampulnya berwarna merah, sudah terlihat agak memudar dan melekuk di bagian ujung-ujungnya, dengan sebuah karet gelang kuning yang melingkar erat mengikat buku itu di tengahnya.

​Aku mengerutkan kening. Aku tidak pernah melihat buku itu sebelumnya.

​Atau mungkin aku pernah melihatnya terselip di laci toko, tapi tidak pernah menganggapnya penting.

​Ibu meletakkan buku merah itu di atas taplak meja plastik. Ia tidak langsung membukanya.

​"Nara udah lulus ya sekarang," buka Ibu, suaranya pelan.

​"Iya, Bu."

​"Empat tahun kuliah di negeri."

​"Iya."

​Ibu meletakkan telapak tangannya di atas buku catatan itu bukan untuk membukanya, hanya meletakkannya di sana seolah sedang menimbang berat benda itu.

​"Ibu senang kamu lulus. Sungguh. Ibu bangga."

​"Makasih, Bu."

​"Tapi ada yang perlu kita bicarakan hari ini."

​Jemari Ibu menarik karet gelang itu, lalu membuka buku catatan tersebut. Ia membalik beberapa halaman, lalu menyodorkannya ke arahku agar aku bisa membacanya.

​Halaman pertama.

​Itu adalah tulisan tangan Ibu yang sangat rapi dan miring ke kanan. Aku sangat hafal karakter tulisannya, huruf-hurufnya kecil, ditekan dengan pulpen ballpoint cukup keras sampai kadang tintanya menembus ke halaman sebaliknya.

​Di halaman itu, berbaris deretan angka-angka.

​Angka-angka dengan tahun dan bulan di sebelah kirinya. Keterangan di bagian tengahnya. Dan nominal rupiah di kolom paling kanan.

​Mataku bergerak membaca baris pertama.

2002 Biaya melahirkan di bidan Rp 800.000

​Jantungku berdetak satu kali, terasa sangat keras menabrak tulang rusuk. Aku turun ke baris kedua.

2003 Susu formula 0-12 bulan Rp 1.200.000

​Baris ketiga.

2008-2014 Biaya SD (SPP, seragam, buku LKS) Rp 4.500.000

​Aku duduk membeku di kursi plastik itu, mataku menelusuri angka-angka itu satu per satu ke bawah seolah sedang membaca surat vonis mati.

​Ada puluhan baris. Jauh lebih banyak dan lebih detail dari yang otakku sanggup bayangkan. Uang pangkal sekolah, biaya les SMP yang berhenti di tengah jalan tapi tetap tercatat uang pendaftarannya, uang baju lebaran setiap tahun. Bahkan... ada sebaris catatan: Biaya mantri waktu Nara demam tinggi kelas 3 SD Rp 45.000.

​Tenggorokanku tercekat.

​(Ibu... waktu kelas empat SD aku menyembunyikan demamku sampai menggigil sendirian di depan TV supaya Ibu tidak mengeluarkan uang. Ternyata, biaya berobatku di tahun-tahun sebelumnya pun tetap dicatat di sini?)

​Lalu mataku tiba di halaman terakhir. Ada angka-angka yang nominalnya jauh lebih membengkak di bagian bawah biaya kuliah empat tahun, uang semesteran, kos, uang makan bulanan, transportasi, sampai biaya jilid skripsi.

​Semua tercatat. Semua memiliki nominal. Semua itu kemudian dijumlahkan di baris paling bawah, dengan angka total yang ditarik garis bawah dua kali menggunakan tinta merah.

​Total.

​Aku tidak akan menuliskan angkanya di sini.

​Tapi ketahuilah, angka itu cukup masif untuk membuat sesuatu di dalam organ tubuhku melakukan gerakan yang tidak bisa kugambarkan dengan tepat. Rasanya bukan seperti tenggelam, bukan juga seperti meledak. Lebih seperti... bergeser. Seperti lempeng tektonik tanah yang bergeser diam-diam di bawah telapak kakimu, dan kau baru menyadarinya ketika kau tidak lagi berpijak di tempat yang sama.

​"Ibu tidak minta semuanya dibayar sekaligus," kata Ibu. Suaranya sangat tenang bukan dingin, tapi tenang dengan cara yang sudah disimulasikan berkali-kali di dalam kepalanya. "Ibu tahu kamu baru lulus. Belum kerja."

​Aku menatap buku itu. Mataku panas. Aku tidak sanggup mengangkat kepalaku untuk menatap wajah Ibu.

​"Tapi sekarang kamu udah dewasa, Nara. Kamu udah sarjana. Sudah waktunya kamu mikirin balik apa yang sudah Ibu keluarkan untuk kamu selama dua puluh dua tahun ini."

​"Bu"

​"Bukan sekarang semuanya," potong Ibu cepat. "Tapi mulai berkontribusi. Kalau nanti sudah kerja, sisihkan sebagian gajimu buat Ibu tiap bulan. Ibu rasa itu wajar, Ibu tidak minta banyak."

​Aku terdiam kaku.

​Karena di detik itu, ada terlalu banyak hal yang mendidih ingin kuucapkan, dan aku tahu tidak ada satu pun yang akan keluar dengan nada yang aman.

​Ibu, ini bukan utang bank.

Ibu, ini namanya kewajiban membesarkan seorang anak.

Ibu, aku tidak pernah minta dilahirkan untuk dicatat jadi bon tagihan.

​Tapi yang keluar dari mulutku setelah keheningan yang terlalu panjang dan menyiksa hanyalah satu kalimat patuh yang sudah tertanam di DNA-ku sejak kecil:

​"Iya, Bu. Aku mengerti."

​Ibu mengangguk puas. Ia menutup buku catatan merah itu. Memasukkannya kembali ke saku celemek yang masih ia pakai dan aku baru sadar ia bahkan belum repot-repot melepas celemeknya, seolah menghancurkan mentalku ini hanyalah jeda lima menit dari rutinitas paginya mengurus rumah sebelum kembali bekerja.

​"Ibu tahu kamu pasti bisa," katanya sambil berdiri dari kursi. "Kamu anak yang pintar. Selalu bisa diandalkan kalau mau."

​Lalu ia membalikkan badan, kembali ke area wastafel dapur.

​Dan suara piring keramik yang disusun kembali ke rak terdengar persis seperti biasa normal, domestik, tidak ada musik latar yang dramatis sama sekali.

​Aku duduk mematung di kursi itu selama lima menit penuh setelah Ibu pergi dari pandanganku.

​Menatap kosong ke arah permukaan taplak meja yang kini sudah bersih dari buku catatan itu.

​Ada sesuatu yang mengerikan dari cara semua eksekusi itu terjadi. Tidak ada teriakan marah. Tidak ada piring pecah. Tidak ada adegan menangis histeris. Tidak ada kalimat kotor yang bisa dengan mudah dikategorikan sebagai 'kekejaman orang tua'.

​Percakapan tadi, kalau direkam dan diperdengarkan ke orang luar, mungkin akan terdengar seperti obrolan wajar dan sangat logis antara seorang ibu kelas menengah ke bawah dengan anaknya yang baru lulus kuliah soal 'balas budi'.

​Wajar. Lumrah. Bahkan mungkin ada tetangga yang akan bertepuk tangan dan bilang bahwa itu sudah kewajiban anak.

​Tapi ada sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang duduk di kursi ini orang yang tumbuh menjadi pawang cuaca ekstrem, yang hafal cara menahan napas agar tidak merepotkan, yang memiliki arsip belasan tahun soal apa artinya menerima sepotong ayam goreng yang datang dengan syarat dan ketentuan berlaku.

​Uang yang tertera di buku itu bukanlah hal yang paling berat.

​Yang menghancurkanku adalah kesadaran bahwa buku itu sudah ada sejak lama. Catatan itu sudah ditulis, diakumulasi, dipelihara dengan teliti selama dua puluh dua tahun... dan aku tidak pernah menyadarinya. Aku hanyalah proyek investasi. Pinjaman berbunga yang kini sudah masuk masa jatuh tempo.

​Atau mungkin... di sudut hatiku yang paling gelap, aku selalu tahu. Aku hanya terlalu pengecut untuk mengakuinya.

​Aku berdiri perlahan. Berjalan masuk ke kamarku.

​Menutup pintu tanpa dibanting.

​Aku duduk di tepi kasur busaku, dengan posisi punggung membungkuk yang persis sama dengan yang kulakukan saat aku kelas empat SD, ketika kertas ulangan matematika angka delapan puluh sembilan dikembalikan tanpa senyuman.

​Perbedaannya aku sudah dua puluh dua tahun sekarang. Dan yang tergeletak di atas meja belajarku bukanlah kertas ulangan, melainkan ijazah sarjana yang baru dicetak dua hari lalu, masih tersimpan kaku di dalam map plastik bening yang belum kubuka karena aku tidak tahu harus diapakan.

​Aku duduk dalam posisi itu cukup lama.

​Aku tidak langsung menangis. Belum. Ada proses transmisi shock yang harus dilalui oleh otakku sebelum sistemnya benar-benar kolaps. Semacam jeda kosmik ketika logikamu masih mencerna dan hatimu masih memutuskan apakah ini masuk kategori 'bencana darurat' atau 'sesuatu yang bisa ditelan bersama air ludah'.

​Proses buffering itu memakan waktu sekitar tujuh menit.

​Lalu aku berdiri. Membuka pintu kamar, berjalan gontai menyusuri koridor menuju kamar mandi di ujung belakang rumah. Aku masuk, lalu mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam.

​Aku menurunkan closet duduk, lalu merosot ke lantai. Bersandar pada sisi bathtub plastik kuning yang sudah lama tidak berfungsi sebagai bak mandi karena salah satu kakinya patah bertahun-tahun lalu dan tidak pernah diperbaiki. Tempat itu kini hanya beralih fungsi menjadi gudang ember dan sikat lantai cadangan.

​Dan baru di sana di antara tumpukan ember berlumut, bau karbol, dan ubin yang basah aku hancur.

​Aku menangis.

​Bukan tangisan yang dramatis. Bukan tangisan histeris seperti di film-film melodrama di mana sang tokoh utama memukul-mukul dadanya di bawah kucuran shower.

​Tangisanku lebih seperti bendungan tua yang akhirnya retak karena tak sanggup lagi menahan volume air. Pelan. Lelah. Tersendat-sendat di tenggorokan. Dan aku sendiri bahkan tidak terlalu yakin bagian mana dari diriku yang sedang kutangisi.

​Ijazahnya?

Buku catatan merah sialan itu?

Uang ratusan juta yang tidak akan pernah sanggup kulunasi?

​Atau sesuatu yang lebih menyedihkan dari itu semua sesuatu yang tidak punya nama pasti, tapi sudah membusuk sejak seorang anak SD menyembunyikan demamnya di malam hari, berharap eksistensinya tidak pernah merepotkan siapa pun?

​Aku tidak tahu.

​Mungkin aku menangisi semuanya sekaligus.

​Dua belas menit kemudian, sistem pertahananku menyala kembali. Aku berdiri, menyalakan keran wastafel, dan membasuh mukaku dengan air sedingin es. Aku menatap pantulan mataku yang merah di cermin kusam, lalu me-reset ekspresi wajahku kembali ke pengaturan pabrik: Nara yang tidak tergoyahkan.

​Saat aku keluar dari kamar mandi, Ibu sudah ada di ruang tamu. Ia sedang menyampirkan tas selempangnya, bersiap berangkat menjaga toko.

​"Ibu berangkat ke toko dulu ya, Nara. Nanti kalau di rumah butuh apa-apa, WA Ibu aja."

​"Iya, Bu," jawabku senormal mungkin.

​"Makan siang sendiri ya. Lauknya udah ada di bawah tudung saji."

​"Iya."

​Ibu merapikan letak kerudungnya sebentar, lalu berjalan menuju pintu depan.

​Namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti melangkah.

​Ia tidak menoleh. Ia memunggungiku.

​"Nara."

​"Iya, Bu?"

​"Ibu bangga kamu lulus."

​Lalu Cklek. Pintu ditutup dari luar.

​Terdengar suara anak kunci diputar dua kali. Kemudian deru motor matic Ibu menyala dan menjauh. Sunyi.

​Aku berdiri mematung di ruang tamu yang mendadak terasa hampa, dengan empat kata itu masih menggantung, mengambang beracun di udara.

​Ibu bangga kamu lulus.

​Empat kata ajaib yang tidak pernah semudah itu keluar dari mulut Sri Wahyuni selama dua puluh dua tahun nyawaku bersemayam di bumi.

​Dan ia sengaja memilih untuk mengatakannya di ambang pintu, membelakangiku, di saat aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, tepat sepuluh menit setelah ia menyodorkan tagihan hutang hidupku.

​Entah karena membelakangi adalah cara paling mudah baginya untuk mengucapkan kebohongan itu tanpa merasa bersalah. Atau karena memang ada bentuk-bentuk kasih sayang sinting yang lebih mudah diucapkan ketika kau tidak harus menatap mata orang yang baru saja kau hancurkan.

​Aku tidak tahu mana yang benar. Mungkin Ibu sendiri juga tidak tahu. Cuacanya terlalu ekstrem hari ini.

​Aku merogoh saku celanaku perlahan. Mengeluarkan HP.

​Aku membuka aplikasi chat dan mencari nama Sari. Tanganku sedikit gemetar saat mengetik.

​Nara: Sar, aku butuh ngobrol.

​Hanya butuh waktu tiga detik sebelum tanda 'Typing...' muncul dengan panik.

​Sari: KENAPA, ADA APA, KAMU OKE?!

Sari: Maaf capslock jebol. Tapi ada apa Ra? Tumben banget kamu yang ngechat duluan.

​Aku mundur perlahan, lalu menjatuhkan bokongku ke atas sofa ruang tamu yang empuk. Aku menatap layar silau itu dengan pandangan kosong.

​Nara: Nanti aku cerita. Sekarang aku cuma mau kasih tahu kalau ada yang perlu aku ceritain ke kamu.

​Sari: Oke. Aku free kok sore ini. Mau ketemuan di mana? Cafe biasa?

​Aku berpikir sebentar.

​Nara: Besok aja. Hari ini aku perlu mikir dulu sendirian.

​Sari: Oke. Tapi kalau kamu mendadak butuh aku sekarang, telepon aja langsung ya.

Sari: Iya.

Sari: Ra.

Sari: Apa.

Sari: Kamu beneran baik-baik aja, kan?

​Aku menatap rentetan pesan terakhir itu selama belasan detik tanpa berkedip.

​Baik-baik aja?

​Secara fisik, ya. Aku tidak sedang sekarat. Tidak ada darah yang keluar. Aku tidak dalam kondisi medis yang membutuhkan ambulance dan masuk ruang ICU.

​Tapi di dapur sana, ada sebuah buku catatan merah yang usianya ternyata jauh lebih tua dari kesadaranku. Ada angka-angka hutang yang ditulis rapi miring ke kanan. Ada total nominal yang digarisbawahi dua kali dengan tinta merah.

​Dan yang paling menakutkan, ada sebuah pertanyaan raksasa yang lebih tua dari itu semua pertanyaan yang sudah lama mengendap di dasar kolam jiwaku sejak bertahun-tahun lalu, dan kini teraduk naik ke permukaan tanpa ampun.

​Siapa aku, di luar semua label anak berbakti dan mesin pencetak nilai ini?

​Jari jempolku bergerak kaku di atas keyboard virtual.

​Nara: Masih perlu dipikirin.

​Sari tidak langsung membalas.

​Tapi dua menit kemudian, layar HP-ku kembali menyala. Muncul satu balasan darinya. Bukan kata-kata penyemangat. Bukan petuah bijak. Hanya satu emoji sederhana.

​🫂 (Hug)

​Aku menekan tombol lock, lalu meletakkan HP itu di sebelah pahaku.

​Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran sofa, menatap langit-langit ruang tamu yang cat putihnya sudah mulai menguning dan retak memanjang di sudut kiri. Dinding itu sudah lama retak seperti itu, tidak pernah diplester ulang, dan sudah menjadi bagian dari pemandangan permanen rumah ini sampai-sampai aku tidak pernah lagi memedulikannya.

​Sama seperti diriku.

​Dua hari yang lalu aku wisuda, pikirku nelangsa.

Dua hari yang lalu aku mendapatkan ijazah dengan gelar sarjana.

Hari ini, Ibuku bilang ia bangga.

Tapi hari ini juga, aku disodori buku catatan merah berisi angka-angka hutang nyawa yang sudah ditulis sejak hari pertamaku menghirup udara.

​Dan hari ini... di usiaku yang menginjak dua puluh dua tahun, aku akhirnya sadar bahwa aku masih sama sekali tidak tahu siapa diriku di luar semua tuntutan, ranking, dan ekspektasi Ibu.

​Masih belum tahu.

​Tapi mungkin mungkin saja hari ini aku sudah cukup muak dan lelah untuk mulai berani mencari tahu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!