Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PERSIDANGAN DUSTA DAN PEMILIK ASLI
Gedung Pengadilan Agama Jakarta Pusat tampak seperti benteng batu yang siap menghancurkan mimpi siapapun yang memasukinya. Pagi itu, kerumunan wartawan sudah menyemut di depan gerbang, kamera-kamera mereka terarah seperti moncong senjata, menunggu mangsa yang akan menjadi tajuk utama berita sensasi nasional: Skandal Hak Asuh Pewaris Arkananta.
Arlan turun dari mobil lebih dulu. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sangat kaku, namun wajahnya lebih kaku dari pakaiannya. Ia tidak langsung berjalan masuk; ia berbalik, mengulurkan tangan pada Arumi yang duduk di dalam mobil dengan wajah pucat pasi.
Arumi menyambut tangan itu. Ia mengenakan gaun formal berwarna putih tulang yang sopan, namun tangannya sedingin es. Di dalam dekapan Bi Inah yang duduk di kursi belakang, Leon sedang tertidur, tidak tahu bahwa hari ini identitasnya akan diperebutkan seperti sepotong roti di tengah kerumunan orang lapar.
"Apapun yang terjadi di dalam, jangan lepaskan tanganku," bisik Arlan. Suaranya rendah, namun penuh dengan proteksi yang luar biasa.
Saat mereka melangkah masuk, lampu blitz kamera meledak berkali-kali. Suara teriakan wartawan menyerbu mereka.
"Tuan Arlan, benarkah Anda menyembunyikan bayi selama setahun?"
"Nona Arumi, apakah Anda hanya pengasuh atau lebih dari itu?"
"Di mana ibu kandung bayi itu sebenarnya?"
Arlan tidak menjawab satu pun. Ia terus berjalan, melindungi Arumi dengan tubuh tegapnya hingga mereka sampai di ruang sidang tertutup.
Di dalam ruangan yang berbau kayu tua dan parfum mahal, seorang wanita sudah duduk di kursi penggugat. Ia mengenakan gaun hitam rancangan desainer ternama, kacamata hitam yang bertengger di kepalanya yang berambut pirang hasil salon mewah.
Elina.
Begitu melihat Arlan masuk, Elina berdiri. Ia tidak tampak seperti wanita yang baru saja "kembali dari kematian". Ia tampak seperti wanita yang siap menjarah kerajaan.
"Arlan, Sayang. Lama tidak jumpa," Elina tersenyum manis, senyum yang membuat bulu kuduk Arumi meremang. Matanya kemudian beralih pada Arumi, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Jadi... ini wanita yang kau sewa untuk menggantikan posisiku? Manis juga, tapi baunya masih seperti susu murah."
"Diam, Elina," desis Arlan. "Kau tidak punya hak menyebut namanya."
"Aku punya hak atas segalanya di sini, Arlan. Termasuk putraku yang kau sembunyikan," Elina duduk kembali dengan anggun saat hakim memasuki ruangan.
Sidang dimulai dengan pembacaan gugatan. Pengacara Elina, seorang pria paruh baya yang dikenal sebagai "Hiu Hukum", mulai memaparkan argumennya. Ia menunjukkan akta kelahiran Leon yang mencantumkan nama Elina sebagai ibu kandungnya—sebuah dokumen yang jelas-jelas hasil pemalsuan tingkat tinggi yang didukung oleh pengaruh Victoria Arkananta.
"Klien kami, Nyonya Elina, mengalami depresi pasca melahirkan yang sangat berat, sehingga ia terpaksa menyingkir untuk berobat. Namun, Tuan Arlan justru menggunakan kesempatan itu untuk memisahkan ibu dan anak, bahkan menyewa wanita asing—seorang rakyat jelata—untuk memberikan ASI yang seharusnya menjadi hak klien kami," ucap pengacara itu dengan nada dramatis.
Arumi meremas jarinya di bawah meja. Depresi? Menyingkir? Ia tahu dari cerita Arlan bahwa Elina pergi karena mengejar pria lain dan harta di luar negeri. Betapa kejamnya dunia ini, di mana kebohongan yang disusun rapi bisa terdengar seperti kebenaran yang menyedihkan.
"Pihak tergugat, apakah ada pembelaan?" tanya Hakim Ketua.
Arlan berdiri. "Yang Mulia, wanita ini meninggalkan Leon saat usianya baru dua minggu. Dia tidak pernah menyentuh Leon, tidak pernah memberikan setetes pun kasih sayang. Dia hanya menginginkan status sebagai Ibu dari pewaris Arkananta untuk kepentingan finansialnya."
"Tuduhan tanpa bukti, Tuan Arlan," sela pengacara Elina. "Secara biologis dan hukum, dia adalah ibunya. Kecuali... Anda bisa membuktikan sebaliknya?"
Di sinilah letak jebakannya. Arlan tahu bahwa secara dokumen, Elina adalah ibunya. Namun, saat Arlan hendak bicara, pintu ruang sidang terbuka.
Victoria Arkananta masuk dengan langkah perlahan namun penuh wibawa. Kehadirannya membuat suasana semakin mencekam. Ia duduk di kursi saksi.
"Saya sebagai nenek dari bayi tersebut," Victoria memulai, suaranya tenang namun mematikan. "Saya menyaksikan sendiri betapa Elina mencintai bayinya sebelum Arlan mengusirnya.
Arlan terlalu egois. Dia lebih memilih tinggal bersama wanita perawat ini yang latar belakangnya sangat mencurigakan."
Victoria menatap Arumi dengan tajam. "Siapa kau sebenarnya, Arumi? Kau datang tiba-tiba, menyusui bayi yang bukan milikmu, dan sekarang kau ingin menjadi nyonya di rumah anakku? Apakah kau tidak punya rasa malu?"
Arumi merasa seluruh dunia sedang menghakiminya. Ia menunduk, air mata mulai menggenang. Namun, saat ia menoleh ke samping, ia melihat Arlan menatapnya dengan pandangan menyemangati.
Tiba-tiba, sebuah ingatan masa lalu menghantam kepala Arumi seperti kilat.
Sepuluh tahun lalu. Saat ia masih menjadi mahasiswa kedokteran tingkat pertama yang putus asa karena ibunya butuh operasi ginjal. Ia pergi ke sebuah klinik fertilitas elit di pinggiran kota. Ia menandatangani dokumen anonim untuk mendonorkan sel telurnya demi uang seratus juta rupiah—jumlah yang sama dengan kontrak Arlan.
Arumi mengangkat kepalanya. "Yang Mulia," suaranya bergetar namun jelas. "Bolehkan saya berbicara?"
Hakim mengangguk.
Arumi berdiri, menatap Elina dan Victoria bergantian. "Anda bilang Anda adalah ibu biologis Leon, Nyonya Elina? Jika demikian, bolehkah saya bertanya satu hal?"
Elina tertawa sinis. "Silakan, Pelayan."
"Di bagian tubuh mana Leon memiliki tanda lahir yang unik?" tanya Arumi.
Elina tertegun. Ia melirik pengacaranya, lalu berdehem. "Di... di punggungnya. Sebuah tahi lalat."
Arumi menggeleng perlahan. "Salah. Leon tidak punya tanda lahir di punggung. Dia punya tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit di belakang telinga kirinya. Dan satu hal lagi... Leon menderita alergi turunan terhadap antibiotik jenis penisilin yang sangat spesifik. Alergi yang hanya dimiliki oleh kurang dari satu persen populasi."
Arlan menatap Arumi dengan terkejut. Ia sendiri baru tahu soal alergi itu semalam dari laporan dokter. Bagaimana Arumi tahu?
"Saya tahu," lanjut Arumi, suaranya semakin kuat. "Karena saya memiliki alergi yang sama. Dan sepuluh tahun lalu, saya mendonorkan sel telur saya di Klinik Grha Medika. Saya masih menyimpan kode referensi donor saya di buku harian lama saya."
Suasana sidang seketika gaduh. Victoria tampak memucat, sementara Elina mulai panik.
"Itu bohong! Dia hanya mengarang!" teriak Elina.
"Yang Mulia," Arlan menyela dengan cepat, ia segera menangkap momentum ini. "Saya meminta sidang ditunda untuk melakukan tes DNA pembanding antara Arumi dan Leon. Jika apa yang dikatakan Arumi benar, maka wanita di depan saya ini bukanlah ibu kandung Leon, melainkan pelaku penipuan identitas."
Sidang ditunda selama tiga hari untuk tes DNA. Arlan membawa Arumi kembali ke vila dengan pengawalan yang lebih ketat dari biasanya. Sepanjang jalan, Arlan terdiam, namun tangannya tak pernah melepas genggaman pada Arumi.
Sesampainya di vila, setelah Leon tertidur, Arlan menarik Arumi ke balkon.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?" tanya Arlan. Suaranya tidak marah, hanya penuh dengan keheranan yang luar biasa.
"Saya baru menyadarinya tadi, Arlan. Saat Nyonya Victoria bertanya siapa saya... saya mencoba mengingat kapan hidup saya mulai bersinggungan dengan dunia medis. Klinik itu... Klinik Grha Medika adalah bagian dari Arkananta Healthcare, bukan?"
Arlan mengangguk pelan. "Benar. Sepuluh tahun lalu, aku sedang dalam masa pemberontakan. Aku ingin memiliki keturunan tanpa harus terikat pernikahan dengan wanita pilihan ibuku. Aku memesan prosedur itu secara rahasia, menggunakan donor anonim yang memiliki kriteria kecerdasan dan kesehatan terbaik. Aku tidak pernah menyangka... bahwa donor itu adalah kau."
Takdir telah memutar roda yang sangat jauh. Arumi menyusui bayi yang secara biologis adalah darah dagingnya sendiri yang sempat ia lepaskan demi nyawa ibunya.
Arlan memeluk Arumi dari belakang, menenggelamkan wajahnya di leher Arumi. "Ini artinya, Arumi... kau bukan lagi 'ibu susu'. Kau adalah ibu yang sesungguhnya. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun, termasuk ibuku, menjauhkanmu dari putra kita."
Arumi menangis haru. "Tapi persidangan ini akan membongkar segalanya, Arlan. Reputasimu akan hancur jika orang tahu kau menggunakan prosedur donor ilegal."
"Biarkan saja," bisik Arlan. "Aku lebih baik kehilangan perusahaanku daripada kehilangan kalian berdua. Aku sudah cukup lama menjadi budak bagi nama Arkananta. Sekarang, aku ingin menjadi seorang ayah dan seorang pria yang mencintaimu."
Arlan membalikkan tubuh Arumi, menatap matanya dalam-dalam. "Arumi, saat tes DNA itu keluar, aku akan mengumumkan pada dunia bahwa kau adalah istriku. Bukan karena kontrak, bukan karena Leon, tapi karena kau adalah satu-satunya alasan aku ingin tetap bernapas."
Di bawah sinar rembulan Bogor yang dingin, Arlan mengecup kening Arumi dengan penuh takzim. Namun, di kejauhan, di dalam mobil hitam yang terparkir di bawah bukit, Siska dan Bram sedang melihat ke arah vila melalui teropong malam.
"Biarkan mereka merayakannya malam ini," desis Siska. "Besok, Klinik Grha Medika akan terbakar habis beserta semua catatan medisnya. Tanpa bukti fisik, ucapan Arumi hanya akan dianggap sebagai dongeng di depan hakim."