NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10: Pangeran Matahari

Madam Elara berdeham keras, memecah ketegangan yang diciptakan oleh Scarlet. Tatapannya tajam, mengisyaratkan bahwa ia tidak akan membiarkan ruang belajarnya berubah menjadi arena pertengkaran kekanak-kanakan. "Putri Scarlet," suara Madam Elara terdengar dingin, "kehadiran Anda di sini mulai mengganggu konsentrasi murid saya. Jika Anda tidak memiliki kepentingan lain selain menjatuhkan kipas, mohon biarkan sesi ini berlanjut dengan tenang."

Wajah Scarlet seketika berubah merah padam. Ia merasa seolah-olah baru saja ditampar di depan umum. Rasa malu yang membakar dan amarah yang meledak membuatnya tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata balasan yang cerdas. Dengan geraman tertahan, Scarlet menyambar kipas tangannya dari lantai, berbalik dengan kasar hingga gaun merah menyalanya berkibar kencang, dan berlari keluar dari perpustakaan.

BRAKK!

Suara pintu yang dibanting dengan kekuatan penuh mengguncang keheningan perpustakaan, meninggalkan getaran pada rak-rak buku tua yang menjulang tinggi di sekeliling mereka.

Madam Elara menghela napas panjang, sebuah reaksi langka yang menunjukkan rasa lelahnya menghadapi drama keluarga kekaisaran. Ia menutup catatan pengajarnya dan memberikan anggukan formal kepada Rubellite. "Saya rasa cukup untuk sesi hari ini, Nona Rubellite. Ketenangan Anda dalam menghadapi gangguan tadi adalah bukti bahwa mental Anda lebih kuat dari yang terlihat. Beristirahatlah."

Madam Elara melangkah keluar, meninggalkan Rubellite dalam kesunyian yang mencekam. Rubellite tidak langsung bergerak. Ia mengatur napasnya, memastikan keseimbangan tubuhnya kembali normal sebelum perlahan mengangkat tangan kanannya untuk menjepit buah apel merah di atas kepalanya. Dengan tangan kiri, ia menurunkan buku sejarah tebal itu dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang.

Ia meletakkan keduanya di atas meja marmer tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Rubellite kemudian berdiri dan membungkuk dengan sangat sempurna ke arah pintu yang baru saja dilewati gurunya. "Terima kasih atas bimbingannya hari ini, Madam Elara," bisiknya pada ruangan yang kini hanya menyisakan aroma kertas tua.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Dari balik deretan rak buku yang menjulang, terdengar suara langkah kaki yang tenang dan berirama. Seorang remaja laki-laki dengan jubah emas yang memancarkan aura agung melangkah maju. Ia mengambil apel merah di meja Rubellite, lalu memutar-mutarnya di tangan dengan senyum yang tampak begitu hangat dan bersahabat.

"Sejarah Valtia memang terasa lebih berat daripada sekadar sebuah apel, bukan begitu?" ucap remaja itu sambil menatap Rubellite dengan mata biru yang jernih.

Rubellite mendongak. Di kehidupan lamanya, ia sangat mengenal sosok ini sebagai Caspian, kakak laki-lakinya yang dijuluki Pangeran Matahari. Namun, di kehidupan sekarang, pria ini adalah orang asing yang belum pernah ia temui secara fisik. Rubellite tidak memberikan senyum. Ia justru mengerutkan kening, memasang ekspresi dingin yang penuh kewaspadaan.

"Maaf, siapa kau?" tanya Rubellite dengan nada datar yang menusuk. "Dan atas hak apa kau menyentuh barang di mejaku tanpa izin sedikit pun?"

Caspian tertegun sejenak, senyumnya sedikit goyah sebelum ia tertawa kecil—suara tawa yang terdengar sangat merdu namun terasa hampa bagi Rubellite. "Ah, maafkan kelancanganku. Aku lupa kita belum pernah diperkenalkan secara resmi. Aku adalah Caspian, kakak laki-lakimu. Aku baru saja kembali ke istana dan mendengar kabar burung tentang adik perempuan baruku yang sangat menarik perhatian Ayahanda."

Caspian melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. Ia mengulurkan tangannya, hendak menyentuh pipi Rubellite dengan gerakan yang tampak penuh kasih sayang. Namun, Rubellite segera memundurkan tubuhnya satu langkah, menolak kontak fisik tersebut secara terang-terangan.

"Pangeran Caspian," ucap Rubellite, kini menggunakan gelarnya secara formal untuk memberikan jarak. "Aku menghargai niat baikmu untuk menyapa, namun aku tidak terbiasa disentuh oleh orang yang baru kutemui dalam hitungan detik. Di panti asuhan, aku belajar bahwa tangan yang terlihat ramah sering kali adalah tangan yang paling berbahaya."

Senyum Caspian kini benar-benar membeku. Ia menarik tangannya kembali ke sisi tubuh, matanya yang biru kini berkilat tajam—campuran antara rasa tersinggung dan rasa penasaran yang mendalam. "Kau sangat kaku dan waspada, Rubellite. Padahal aku hanya ingin menyambutmu di rumah ini."

Tepat saat ketegangan itu memuncak, seorang pelayan masuk dengan terburu-buru sambil membawa baki perak berisi botol kaca kecil dengan cairan ungu bening yang berkilau.

"Mohon maaf mengganggu, Pangeran Caspian," ucap pelayan itu sambil membungkuk dalam. "Tuan Muda Valerius De Vermilion menitipkan ini untuk Nona Rubellite sebelum beliau meninggalkan istana. Beliau berkata ini adalah ramuan pelemas otot yang sangat dibutuhkan Nona setelah menjalani pelajaran etika pertamanya."

Caspian menatap botol dari keluarga Vermilion itu dengan tatapan yang mendadak dingin, lalu kembali menatap Rubellite. "Valerius... putra Duke itu benar-benar perhatian, ya? Sejak kapan kau membiarkan 'orang luar' masuk begitu dalam ke urusan pribadimu, Rubellite? Bahkan jauh sebelum kau sempat mengenal kakakmu sendiri?"

Rubellite menatap botol ramuan itu sejenak, lalu beralih menatap Caspian dengan pandangan yang membuat sang Pangeran merasa seolah sedang diadili. Ia tidak mengambil botol itu dari baki, namun ia juga tidak membiarkan Caspian mengintimidasi ruang geraknya.

"Orang luar?" Rubellite mengulang kata-kata Caspian dengan nada yang sanggup membekukan udara di perpustakaan. "Bagiku, 'orang luar' adalah mereka yang membiarkanku membusuk di panti asuhan selama bertahun-tahun tanpa pernah sekali pun menanyakan keberadaanku."

Caspian tertegun, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar.

"Tuan Muda Valerius adalah orang pertama yang memberiku bantuan saat aku nyaris hancur di paviliun tempo hari. Jadi, jika Anda ingin menggunakan status 'keluarga' untuk mengomentari hubunganku dengannya, aku rasa Anda sedikit terlambat, Pangeran," lanjut Rubellite. Ia menekankan kata 'Pangeran', menolak menyebutnya sebagai kakak.

"Rubellite, aku tidak tahu kalau penderitaanmu separah itu, aku baru saja kembali—"

"Ketidaktahuan bukan berarti tidak ada kesalahan, Pangeran Caspian," potong Rubellite tajam. "Di istana ini, semua orang menyebut Anda sebagai 'Matahari'. Tapi bagi saya, matahari yang tidak pernah menyinari sudut yang gelap adalah matahari yang tidak berguna."

Rubellite melangkah maju, mengambil botol ramuan dari baki pelayan dengan gerakan anggun. Ia menatap Caspian langsung ke matanya—tatapan merah yang menyimpan ribuan luka dari masa depan.

"Anda menyebut diri Anda kakakku? Maaf, tapi aku tidak memiliki kakak. Aku hanya memiliki seorang Kaisar sebagai ayah, dan beberapa orang asing yang kebetulan memiliki nama belakang yang sama denganku di istana ini."

Caspian mengepalkan tangannya di balik jubah emasnya. Ia merasakan harga dirinya sebagai Pangeran Mahkota baru saja diremuk oleh seorang bocah perempuan. "Kau benar-benar tidak tahu cara menghargai uluran tangan, ya? Aku datang ke sini dengan niat baik."

"Niat baik tidak akan menyembuhkan luka cambuk di punggungku, Pangeran," bisik Rubellite yang membuat Caspian tersentak ngeri. Rubellite kemudian berbalik, memberikan punggungnya pada sang Pangeran sebagai tanda bahwa percakapan telah berakhir.

"Silakan keluar. Pelajaranku sudah selesai, dan aku butuh ketenangan untuk memulihkan otot-ototku menggunakan bantuan dari 'orang luar' yang jauh lebih peduli padaku."

Caspian berdiri kaku. Ia menatap punggung kecil itu dengan tatapan yang kini tidak lagi hangat. Rasa penasaran yang tadi ia miliki kini berubah menjadi kewaspadaan yang gelap. Ia tidak berkata apa-apa lagi, berbalik dan melangkah keluar dengan hentakan kaki yang berat—meninggalkan keheningan yang penuh dengan aroma kemenangan bagi Rubellite.

Di sudut perpustakaan yang remang, Valerius yang sebenarnya belum benar-benar pergi dan mengawasi dari kejauhan, hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia menyadari bahwa Rubellite bukan hanya sekadar berlian yang perlu diasah, tapi sebuah pedang yang kini mulai menemukan sarungnya.

Begitu pintu perpustakaan tertutup dengan dentuman yang menandai kepergian Caspian, Rubellite akhirnya membiarkan pundaknya sedikit merosot. Ketegangan yang ia tahan sejak kedatangan Scarlet hingga konfrontasi dengan Caspian benar-benar menguras energinya.

Ia menatap botol ramuan di tangannya, lalu meminum isinya perlahan. Rasa hangat menjalar ke otot-ototnya, perlahan mematikan rasa nyeri yang tadi menusuk-nusuk.

"Menolak Pangeran Mahkota secara terang-terangan... kau benar-benar tidak takut mati, ya?"

Rubellite tersentak kecil, namun ia segera mengenali aroma kayu cendana dan salju yang familiar itu. Ia tidak menoleh saat Valerius melangkah keluar dari bayang-bayang rak buku di sudut ruangan.

"Kau masih di sini?" tanya Rubellite parau.

Valerius berjalan mendekat, berhenti tepat di samping meja marmer. Ia menatap sisa-sisa kehancuran di meja—buku yang terbuka dan suasana yang masih terasa 'panas' akibat adu mulut tadi.

"Aku harus memastikan kalau 'permata' yang aku temukan di panti asuhan tidak pecah karena tekanan matahari yang terlalu terik," ucap Valerius dengan nada datar, namun matanya menatap Rubellite dengan intensitas yang berbeda.

Valerius kemudian mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengulurkannya pada Rubellite. "Hapus keringatmu. Kau terlihat mengerikan untuk ukuran seorang Putri."

Rubellite menerima sapu tangan itu, merasakan kain sutra yang dingin di kulitnya. "Terima kasih, Valerius. Dan terima kasih untuk ramuannya."

"Jangan berterima kasih padaku," sahut Valerius sambil bersedekap. "Berterima kasihlah pada dirimu sendiri karena punya nyali untuk menyebut kakakmu sebagai 'orang asing'. Di istana ini, kejujuran seperti itu adalah senjata yang paling mematikan."

Valerius mencondongkan tubuh sedikit, menatap lurus ke mata merah Rubellite. "Sekarang, beristirahatlah. Besok pesta kebun dimulai. Scarlet dan Caspian tidak akan membiarkanmu bersinar begitu saja. Gunakan sisa harimu untuk bersiap, Rubellite."

Tanpa menunggu jawaban, Valerius berbalik dan menghilang di antara deretan buku, meninggalkan Rubellite dengan sapu tangan bermotif keluarga Vermilion di genggamannya.

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!