NovelToon NovelToon
MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Cinta setelah menikah / Romansa pedesaan / Konglomerat berpura-pura miskin / CEO / Nikahmuda
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Prettyies

Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.

Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.

Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasi goreng

Tak lama kemudian, pelayan kembali membawa nampan besar.

“Permisi, pesanannya,” katanya ramah sambil meletakkan dua piring nasi goreng di hadapan mereka.

Aroma gurih langsung menguar. Selina tanpa sadar menelan ludah.

“Ini nasi goreng seafood pedas sedang, dan ini nasi goreng spesial level dua,” jelas pelayan.

“Silakan dinikmati.”

“Terima kasih,” jawab mereka hampir bersamaan.

Pelayan pergi. Selina menatap piringnya sebentar sebelum mengambil sendok.

“Kelihatannya enak,” katanya pelan.

Adipati mengangguk. “Coba dulu. Kalau kurang apa-apa bilang.”

Selina menyuap satu sendok. Matanya sedikit membesar.

“Enak,” katanya jujur. “Nasinya nggak berminyak.”

Adipati tersenyum kecil. “Iya, itu yang aku suka dari sini.”

Mereka makan dalam hening beberapa detik. Suasana tak lagi sekaku tadi, hanya terdengar bunyi sendok menyentuh piring.

Adipati melirik Selina.

“Pedasnya aman?”

Selina mengangguk. “Aman. Tapi kayaknya level dua pun aku masih kuat.”

“Jangan sok kuat,” sahut Adipati. “Nanti kepedesan, minumnya habis duluan.”

Selina tertawa kecil. “Mas protektif amat.”

“Namanya juga suami,” jawab Adipati ringan.

Selina hampir tersedak lagi.

“Mas… kamu ngomongnya santai banget,” protesnya sambil menutup mulut.

Adipati tertawa pelan. “Kalau nggak dibiasain dari sekarang, nanti kamu makin kaget.”

Selina menggeleng, tapi bibirnya tersenyum.

“Pelan-pelan aja, Mas. Aku masih adaptasi.”

“Aku juga,” kata Adipati jujur. “Tapi nggak apa-apa. Kita kan belajar bareng.”

Selina menatapnya sesaat, lalu kembali ke piringnya. Hatinya terasa hangat.

Beberapa menit berlalu.

Piring Selina hampir kosong, hanya menyisakan sedikit nasi di pinggir.

Adipati mengangkat wajahnya, menatap Selina lebih lama dari sebelumnya.

“Cepat juga makannya,” ujarnya ringan.

Selina mengangkat bahu.

“Lapar. Dari kemarin kepalaku penuh pikiran.”

Adipati berhenti menyuap.

“Kalau ada yang bikin kamu kepikiran, bilang. Jangan dipendem.”

Selina menunduk, lalu mengangguk pelan.

“Iya, Mas.”

Adipati kembali menatapnya—lalu keningnya sedikit berkerut.

“Sel…”

“Hm?” Selina mengangkat wajah.

Adipati mendekat sedikit.

“Diam.”

“Mas kenapa—”

Belum sempat Selina bertanya, Adipati sudah mengangkat tangannya, memegang dagu Selina dengan lembut.

Jantung Selina langsung berdetak kencang.

Tangannya refleks mencengkeram ujung meja.

“Mas…?” suaranya nyaris bergetar.

Adipati menatap bibirnya.

“Ada nasi nempel.”

Dengan ibu jarinya, ia menyeka pelan sudut bibir Selina.

Butiran nasi itu menempel di jarinya.

Tanpa berpikir panjang, Adipati memasukkan jarinya ke mulutnya sendiri.

“Mas!” Selina membelalak, wajahnya langsung panas.

“Ngapain sih!”

Adipati menelan sambil berdiri santai.

“Jangan belepotan lain kali.”

Selina terpaku, otaknya seakan berhenti bekerja.

“Mas tuh… bikin kaget aja,” gumamnya sambil buru-buru mengambil tisu dan mengelap bibirnya sendiri.

Adipati sudah berjalan ke wastafel.

“Kamu kaget karena aku atau karena deg-degan?” tanyanya iseng tanpa menoleh.

“Dua-duanya!” Selina spontan menjawab, lalu langsung menutup mulutnya sendiri.

Adipati terkekeh kecil sambil mencuci tangan.

Setelah itu ia melangkah ke kasir.

“Mbak, sekalian,” katanya sambil mengeluarkan dompet.

Selina berdiri, masih menenangkan jantungnya.

Ia ikut ke wastafel, mencuci tangan, lalu menyusul Adipati.

Saat mereka berjalan berdampingan keluar dari foodcourt, Selina berbisik pelan,

“Mas…”

“Hm?”

“Lain kali… bilang dulu.”

Adipati meliriknya, senyum tipis terukir di wajahnya.

“Baik, Bu Dokter.”

Selina mendengus pelan, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.

Adipati menggandeng tangan Selina menuju area perabotan rumah tangga.

Deretan etalase panci, kompor, hingga peralatan makan berkilau di bawah lampu toko.

Selina langsung menelan ludah.

“Mas…” ia mendekat dan berbisik,

“Di sini mahal banget harganya.”

Adipati menoleh santai.

“Kamu pilih aja yang sesuai selera kamu. Biar kamu makin betah di rumah.”

Selina menggigit bibir.

“Aku tuh nggak pintar masak, Mas.”

Adipati tersenyum kecil.

“Gak apa-apa. Gosong pun mas makan.”

Selina langsung menoleh kaget.

“Serius?”

“Serius,” jawab Adipati ringan.

“Yang penting masaknya kamu.”

Wajah Selina langsung memanas.

“Mas ini ada-ada aja.”

Mereka berhenti di depan rak peralatan masak.

Seorang pramuniaga menghampiri dengan senyum profesional.

“Selamat siang, Bapak Ibu. Mau lihat atau cari peralatan tertentu?”

Selina refleks hendak mundur setengah langkah, tapi Adipati tetap menggenggam tangannya.

“Kami mau lihat peralatan dapur,” jawab Adipati.

“Yang bagus tapi simpel.”

Pramuniaga mengangguk.

“Baik, Pak. Untuk rumah baru, biasanya yang dicari kompor, set panci, sama alat makan. Mau yang stainless atau keramik?”

Selina melirik Adipati ragu.

“Mas, mending yang mana?”

“Kamu yang pakai, kamu yang pilih,” jawab Adipati.

“Mas ikut.”

Pramuniaga tersenyum melihat interaksi mereka.

“Wah, rumah baru ya, Pak, Bu?”

Selina tersenyum kikuk.

“Iya… baru menikah.”

“Pantesan,” kata pramuniaga ramah.

“Kalau begitu saya rekomendasikan set ini. Tahan lama dan mudah dibersihkan.”

Selina memegang salah satu panci.

“Mas, ini berat nggak?”

Adipati mengambilnya, menimbang sebentar.

“Beratnya pas. Kamu nggak bakal kesusahan.”

“Kamu mikirin sampai segitunya,” gumam Selina.

Adipati menatapnya lembut.

“Soalnya yang mas pikirin kamu.”

Selina langsung salah tingkah.

“Mas… ngomongnya jangan tiba-tiba gitu.”

Pramuniaga menahan senyum.

“Kalau sudah cocok, nanti saya bantu hitung totalnya, ya.”

Adipati mengangguk.

“Iya. Kita ambil yang ini dulu.”

Selina memandang deretan barang di troli.

Untuk pertama kalinya, belanja perabot bukan terasa menakutkan—

melainkan seperti awal dari sebuah rumah yang benar-benar ingin ia tinggali.

1
Ayu
lanjut kak
Ayu
seru
wagiyah baru
ditunggu kelanjutannya kak
wagiyah baru
seru
Scarlett Rose
lanjut kak🤭
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut heeh
Anonymous
lanjut thor🤭
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut
wagiyah baru
lanjut kak
wagiyah baru
lanjut
Scarlett Rose
seru
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut thor
Ayu
lanjut kak
Ayu
lanjut kqk
Bambang
lanjt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!