Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pagi yang kacau
.
.
.
Hari sudah berganti.
Pagi itu, ketika Yao Yao tengah menikmati hidup barunya jauh dari keluarga Zhang, kediaman keluarga Zhang justru berubah menjadi medan kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Biasanya, saat matahari belum sepenuhnya naik, meja makan sudah tertata rapi. Aroma sarapan hangat memenuhi rumah, pakaian kerja tersusun rapi di kursi, dan segalanya berjalan seperti roda yang diminyaki dengan baik.
Namun hari ini tidak ada Yao Yao.
Di dapur, Lian berdiri dengan celemek miring dan rambut yang berantakan. Tangannya sibuk mengaduk panci, sementara mulutnya tak berhenti memuntahkan amarah.
“Huh! Gara-gara kalian semua!” bentaknya sambil membanting sendok. “Yao Yao sampai pergi! Mama nggak mau tahu, pokoknya bawa anak itu pulang! Kalau dia nggak kembali carikan mama pembantu! Akhhh!”
Suara dentingan panci dan wajan bercampur dengan teriakannya yang frustasi.
Di kamar masing-masing, Fusheng dan Haoran sedang sibuk bersiap ke kantor. Tapi baru beberapa menit, kekesalan sudah terpampang jelas di wajah mereka.
“Ma!” teriak Haoran dari kamar. “Kenapa baju Hao keriting kayak mi instan begini? Biasanya kan rapi, tinggal pakai!”
Belum sempat Lian menjawab, suara Fusheng ikut menyahut.
“Punya papa juga, Ini kusut semua.”
Lian mencengkeram rambutnya sendiri, napasnya memburu.
“Akhhh! Kalian ini punya tangan, kan?! Setrika sendiri! Biasanya juga Yao Yao yang beresin semua baju kalian!” bentaknya sambil meletakkan piring dengan kasar.
“Oh…”
Fusheng dan Haoran menjawab hampir bersamaan, lalu kembali masuk ke kamar dengan wajah masam.
Belum sempat dapur kembali tenang, suara langkah cepat terdengar dari tangga.
“Astaga, jam berapa ini? Aku telat!”
Meilin turun tergesa-gesa, tas disampirkan di bahu, rambutnya masih setengah basah.
“Ma, aku udah rapi belum?”
Lian menoleh, menilai putri kesayangannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wajahnya langsung melunak.
“Sudah, sudah. Pinter anak mama,” katanya sambil tersenyum. “Syukurlah kamu nggak kayak papa dan kakakmu. Dari pagi bikin mama pusing.”
Meilin tersenyum kecil, tapi dalam hatinya ia menggerutu.
‘Ya ampun, aku juga bangun pagi buat nyetrika ini-itu. Sekarang aku malah telat kuliah. Harusnya sih dari dulu sewa pembantu. Keluarga sekaya ini kok pelit amat.’
“Ma, aku berangkat dulu ya. Udah benar-benar telat. Aku sarapan di luar aja,” katanya cepat. “Oh iya, nanti transfer uang ya. Sama satu lagi… minta papa cari maid aja mulai hari ini.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lembut namun penuh pengaruh.
“Kita nggak mungkin minta Yao Yao balik, kan? Masa kita nurunin harga diri cuma buat dia.”
Setelah itu, Meilin langsung berlari keluar tanpa menunggu jawaban.
Lian berdiri terpaku.
“Benar juga…” gumamnya. “Harga diri mama mau ditaruh di mana? Kalau pun ada yang memohon, harusnya gadis itu.”
Di ruang makan, Haoran sudah duduk sambil menenggak kopi.
“Ma, sarapannya cuma ini?” keluhnya.
UHUK!
“Astaga pahit banget!” ia terbatuk. “Udah deh, aku sarapan di kantor aja.”
“Papa juga,” sambung Fusheng cepat. “Kalau kopinya aja nggak bisa diminum, aku nggak berani coba yang lain.”
“HAH?!”
Lian membelalak.
Usahanya sejak subuh tak satu pun dihargai.
“Akhhhhh!”
Ia berteriak frustasi, lalu duduk di kursi makan dan menyuapkan masakannya sendiri.
HUEK—
“Apa-apaan ini?!” teriaknya marah, lalu terdiam.
“Ih… iya juga. Aku yang masak.”
Amarahnya menguap, berganti rasa lelah dan malu. Lian berdiri dan berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri, membiarkan air mengalir seolah mencuci kekesalan di dadanya.
Tak lama kemudian, ia keluar dengan riasan tipis dan pakaian rapi.
“Hari ini aku mau ke kantor papa,” gumamnya. “Sekalian ke agen penyalur tenaga kerja. Minimal dua pembantu.”
Di dalam hatinya, untuk pertama kalinya sejak Yao Yao pergi, Lian merasakan sesuatu yang mengganjal
sebuah rumah yang besar, tapi tiba-tiba terasa kosong dan berantakan tanpa gadis yang selama ini mereka anggap remeh.
______________
Kediaman Keluarga Li
Pagi masih sangat muda ketika Fengyun sudah berdiri di ruang kerja, jasnya belum sepenuhnya rapi, ponsel menempel di telinga.
📞 “Kalian tangani dulu semua urusan di kantor. Aku ada urusan penting.”
Tanpa menunggu jawaban, sambungan telepon itu langsung ia putus.
Tok.
Tok.
“Qinglan!”
Suara Fengyun menggema di lorong.
Ceklak—
Pintu kamar terbuka sedikit. Qinglan menampakkan wajah kusut dengan mata setengah terpejam, rambutnya masih berantakan.
“Gege…” gumamnya malas. “Ada apa sih pagi-pagi udah kayak kebakaran?”
“Cepat bersiap,” kata Fengyun tanpa basa-basi. “Kita cari Yao Yao. Aku takut dia ditipu orang waktu cari apartemen.”
Qinglan langsung terjaga sepenuhnya.
“Astaga…” Ia menepuk jidatnya sendiri. “Gege, Yao Yao itu pergi sejak semalam. Baru sekarang mau dicari? Percuma. Kalau ada yang mau nipu, dia pasti sudah—”
“Banyak omong,” potong Fengyun dingin. “Cepat bersiap.”
Nada suaranya tegas, tanpa celah untuk membantah.
“…Lima belas menit.”
BRAK!
Pintu kamar langsung ditutup.
“QINGLAN!” Fengyun mengetuk keras. “Lima belas menit terlalu lama. Sepuluh menit! Kalau tidak, pintu ini kuhancurkan!”
“Iya iya! Berisik banget!” sahut Qinglan dari dalam dengan nada mengusir.
Sepuluh menit kemudian, Qinglan sudah turun ke ruang makan, rambutnya masih setengah basah.
“Aku sarapan dulu,” katanya santai. “Habis itu baru cari Yao Yao.”
Fengyun menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk.
Setelah sarapan singkat, mereka langsung berangkat.
“Yao Yao bilang apartemennya di pusat kota,” ujar Qinglan sambil bersandar santai di kursi mobil.
Fengyun menoleh. “Kamu punya nomor Yao Yao?”
“Tentu,” jawab Qinglan cepat, senyum kemenangan tersungging di bibirnya.
Tring
Ponselnya bergetar.
“Eh?” Qinglan menatap layar. “Dia share lokasi.”
Ia langsung mencondongkan badan ke depan. “Pak, ikuti map ini.”
Sang sopir mengangguk, mobil melaju membelah pagi kota yang mulai ramai.
______________
Apartemen Wei Chen
Di sisi lain kota, Yao Yao justru sudah bangun sejak pagi dan kini berdiri di dapur apartemen Wei Chen, dikelilingi kantong belanja yang penuh.
Wei Chen menatap tumpukan bahan makanan itu dengan wajah bingung.
“Yao Yao… ini semua buat aku?”
“Iya,” jawab Xinyao cepat. “Tapi aku juga bakal makan di sini tiap hari.”
Ia tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya.
“Aku nggak terlalu jago masak, tapi aku sangat cinta makanan enak. Jadi aku beli bahan, kamu yang masak. Saling menguntungkan.?”
“Hehehe…”
Wei Chen terdiam sejenak, lalu tertawa kecil.
“Oke, setuju,” katanya akhirnya. “Lumayan buat ngurangin pengeluaran makan.”
“Deal!” mata Xinyao berbinar. “Kalau gitu, masak apa hari ini?”
“Ikan asam manis,” jawab Wei Chen sambil menggulung lengan baju. “Tunggu di sana.”
“Ikan asam manis?!”
Wajah Xinyao langsung bersinar.
“Kalau gitu, besok-besok aku bakal beli lebih banyak ikan sama daging!” katanya penuh semangat.
“Ga masalah,” Wei Chen tersenyum. “Aku masak sesuai permintaanmu.”
Ia mulai bergerak cekatan di dapur memotong, menggoreng, mengaduk saus dengan gerakan terampil.
Xinyao berdiri di sudut dapur, memperhatikan dengan mata penuh kekaguman.
‘Yao Yao dulu hebat banget dalam memasak… sedangkan aku... Aku Xinyao bukan Yao Yao ah, urusan masak benar-benar minus,’ batinnya lesu.
Tak lama kemudian, aroma asam manis memenuhi ruangan.
“Wah… harum banget,” seru Xinyao tak sabar.
“Sebentar lagi matang,” jawab Wei Chen, nadanya sama antusias.
Beberapa menit kemudian, ia membawa hidangan ke meja.
“Matang.”
Mata Xinyao berbinar melihat meja penuh makanan.
“Chen, kamu berbakat banget,” katanya sambil buru-buru mengambil nasi dan sumpit. “Cocok jadi koki!”
Wei Chen tertawa kecil.
“Selamat makan.”
Aroma ikan asam manis masih mengepul hangat ketika Yao Yao sudah duduk rapi di kursinya, sumpit di tangan, mata berbinar seperti anak kecil menemukan harta karun.
“Kalau aku tahu kamu masak seenak ini,” katanya sambil menelan ludah, “harusnya aku pindah ke apartemenmu saja.”
Wei Chen mengangkat alis. “Jangan. Nanti aku bangkrut.”
“Hah? Kan aku yang beli bahan,” Xinyao protes cepat, lalu tanpa menunggu jawaban, sumpitnya sudah lebih dulu mendarat di ikan.
“Hm—!”
Ia langsung memejamkan mata.
“Enak banget…” gumamnya serius. “Ini bukan ikan asam manis biasa. Ini ikan asam manis yang punya jiwa.”
Wei Chen tertawa kecil melihat ekspresinya.
“Kamu lebay.”
“Ini bukan lebay,” sanggah Xinyao sambil menambah nasi. “Ini penghormatan tertinggi dari seorang pemakan profesional.”
Ia makan dengan penuh semangat, sumpit bergerak cepat, sesekali mengangguk-angguk sendiri seperti sedang menilai kompetisi memasak.
“Chen,” katanya tiba-tiba sambil mengunyah, “kalau suatu hari kamu bangkrut, kamu bisa buka warung. Aku jadi pelanggan tetap.”
“Kalau kamu jadi pelanggan tetap,” jawab Wei Chen santai, “aku malah makin bangkrut.”
“Hah?” Xinyao menatapnya tak percaya, lalu mendengus. “Keji.”
Beberapa saat kemudian, piring ikan hampir bersih.
Xinyao menyandarkan punggung ke kursi, mengelus perutnya dengan wajah puas.
“Hidup itu indah,” katanya penuh perasaan. “Punya rumah sendiri, tetangga yang bisa masak, dan makanan enak tiap hari.”
Wei Chen menatapnya sekilas. “Kedengarannya kamu baru pertama kali hidup nyaman.”
Xinyao terdiam sepersekian detik, lalu tertawa ringan.
“Anggap saja aku baru pindah dari dunia yang keras.”
Ia berdiri, membawa piring ke wastafel.
“Tenang, aku nggak numpang gratis. Aku bantu cuci piring.”
Wei Chen belum sempat menolak
KRING
Bel apartemen Xinyao berbunyi, di iringi satu pesan masuk di hanpone Xinyao.
Xinyao menghentikan gerakannya.
Bersambung......
Tidak semua orang terlahir di tempat yang hangat,
tapi setiap orang berhak memilih ke mana langkahnya akan pergi.
Yao Yao mengajarkan kita bahwa berani pergi dari tempat yang menyakitkan bukanlah bentuk pelarian, melainkan awal dari menghargai diri sendiri.
Kadang hidup memang tidak langsung memberi kenyamanan,
namun ketika kita berani melangkah,
Tuhan selalu menyiapkan pertemuan baru, ruang baru, dan harapan yang baru pula.
Tidak apa-apa jika kamu pernah ditipu, dikhianati, atau diremehkan.
Yang penting adalah kamu tidak membiarkan luka itu mencuri masa depanmu.
Hidup akan terasa lebih ringan saat kita berhenti hidup demi menyenangkan orang lain,
dan mulai hidup demi kebahagiaan diri sendiri.
Dan ingat
kebaikan yang kamu tanam, sekecil apa pun,
akan selalu menemukan jalannya untuk kembali kepadamu.
Jika kisah Yao Yao membuatmu tersenyum, terdiam, atau merasa sedikit lebih kuat hari ini,
jangan simpan sendiri perasaan itu 🤍
🌷 Like jika kamu menikmati ceritanya
🌷 Komentar jika ada adegan yang membuatmu gemas, kesal, atau penasaran
🌷 Share ke teman yang mungkin butuh cerita hangat seperti ini
🌷 Dan Subscribe / Follow agar tidak ketinggalan kelanjutan kisah Yao Yao, Fengyun, dan Qinglan
Karena setiap dukungan kecil darimu
adalah semangat besar bagi penulis untuk terus melanjutkan cerita ini.
Sampai bertemu di bab berikutnya
di antara tawa, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap 🌙✨
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...