Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan perjodohan
Setelah cukup lama Winda menangis dalam diam di kamarnya, tangis itu akhirnya mereda. Ia menghapus sisa air mata di pipinya, lalu berdiam diri sejenak, berusaha menenangkan diri. Beberapa menit berlalu—terasa seperti selamanya—hingga akhirnya Winda memberanikan diri untuk keluar dari kamar.
Ia berhenti sejenak di depan pintu, memastikan tak ada lagi suara pertengkaran orang tuanya. Setelah yakin rumah kembali sunyi—
" Huft..." Ia menghela nafas berat sebelum membuka pintu dan melangkah keluar kamar.
Langkah kakinya terasa berat saat berjalan menuju dapur. Entah mengapa, udara di dalam rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu lorong menyala terang, namun suasananya justru sunyi dan kaku.
Di dapur, Winda melihat ibunya sedang mengupas bawang. Gerakannya tampak sibuk, namun raut wajah Priska jelas menunjukkan bekas tangisan. Sementara itu, ayahnya duduk di kursi meja makan, menatap kosong ke arah dinding di hadapannya. Rahangnya mengeras, seolah menahan banyak hal yang tak terucap.
Dapur itu begitu tenang. Hanya suara mesin air dari dalam kamar mandi yang terdengar samar.
" pagi ma..." sapa Winda pelan dan berhati hati
" sudah bangun, ya. cuci muka dulu sana"
ucap Priska lirih hampir tak terdengar.
" ah... iya.."
Winda mengangguk pelan. Pandangannya sempat berpindah ke arah ayahnya sebelum akhirnya melangkah masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Winda keluar sambil mengusap wajahnya dengan tisu.
"Duduk dulu, Winda," kata Arman tiba-tiba tanpa menatapnya.
Winda terdiam sejenak sebelum menurut. ia duduk di kursi di hadapan Arman. Tangannya saling meremas di pangkuan. Jantungnya berdebar, seolah sudah tahu kabar ini tidak akan menyenangkan.
" ada apa yah?" tanya Winda gugup.
Arman tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya mendongak, menatap mata Winda dengan sorot yang sulit ditebak.
"Kamu masih ingat om Bram?" tanya Arman akhirnya.
Winda mengangguk pelan. Nama itu tidak asing. Justru terlalu asing untuk dibahas dengan nada sepenting ini.
"Kami sudah sepakat," lanjut Arman, suaranya datar namun tegas, "perjodohan kalian akan dilanjutkan."
Dunia Winda seakan berhenti berputar.
"Apa… apa maksud ayah?" suaranya hampir tak terdengar.
Winda menggeleng pelan. Dadanya sesak. "Tidak, ayah. Aku belum siap. Aku bahkan tidak mengenal anaknya om bram, ayah. Aku...aku bahkan tidak tau seperti apa wujud anaknya."
Namun arman hanya diam menatap winda dengan ekspresi yang sama.
Winda masih menggeleng pelan.
"Aku belum siap, Yah… tolong," ucapnya lirih.
"Ayah bahkan tidak pernah bertanya apakah aku mau atau tidak."
Arman mendengus pelan."Mau?" ulangnya dingin. "Sejak kapan pendapatmu penting?"
Winda menatap ayahnya, napasnya tercekat.
"Om Bram keluarga kaya," lanjut Arman tanpa ragu. "Anaknya sekarang sudah pegang perusahaan. Kalau kamu menikah dengannya, mahar yang mereka berikan cukup besar."
" Ayah menjual ku?" suara Winda mulai bergetar.
Priska akhirnya bersuara, tapi suaranya gemetar—menandakan dia tidak punya kuasa.
Priska menghentikan gerakannya. Pisau di tangannya ditaruh pelan di meja.
"Arman… dia masih anak kita," ucapnya lirih.
"Dia belum siap."
Arman menoleh tajam.
"Kamu pikir aku ingin begini?"
"Kalau bukan karena keadaan, aku juga tidak akan memaksa."
"Arman… jangan bicara seperti itu," suaranya bergetar.
Arman menoleh tajam ke arah istrinya.
"Diam."
Satu kata itu membuat Priska kembali terdiam.
Winda merasa tubuhnya dingin.
"Jadi… ayah menjodohkan aku hanya karena uang?" tanyanya hampir tak bersuara.
Arman menatap Winda lurus, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Iya."
Jawaban itu singkat. Jelas. Jujur. Dan menusuk.
" Ayah gak pernah peduli sama ,Winda. Selama ini ayah anggap Winda apa sih? " tanya winda dengan suara yang bergetar. air matanya jatuh. semalam ia menangis. beberapa jam lalu ia menangis. dan sekarang ia juga menangis.
"Kamu pikir selama ini aku peduli?" lanjut Arman. "Sejak kamu lahir, yang kamu lakukan cuma jadi beban yang terpaksa ku tanggung. kau paham sekarang kan?."
Dada Winda terasa seperti diremas.
"Kalau bukan karena kamu masih bisa menghasilkan sesuatu," Arman mencondongkan tubuhnya ke depan,
"aku sudah lama menyuruhmu pergi dari rumah ini."
Air mata Winda jatuh semakin deras.
"Setidaknya," Arman melanjutkan dengan suara dingin,"sebelum kamu pergi dari keluarga ini, kamu masih berguna."
Kata berguna itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Winda.
"Kamu kira aku mau mengurus hidupmu selamanya?" Arman melanjutkan.
"Kamu bukan anak kecil lagi, Winda. Dan aku tidak punya alasan untuk mempertahankanmu di rumah ini," katanya dingin.
"Kecuali… kamu memberi sesuatu sebagai gantinya."
" tapi aku bekerja ,ayah.. aku bisa menghidupi keluarga ini jika ayah tak mau lagi bekerja tapi aku mohon-"
" gaji mu tak seberapa. " potong Arman.
Air mata Winda jatuh lagi.
"Kalau aku tidak mau?" tanyanya lirih.
Arman menatapnya lama, lalu berkata tenang
"Tidak ada tempat untukmu di sini."
"Arman… dia anak kita," suara Priska pecah.
"Bagaimanapun dia darah daging kita."
"Kalau memang darah daging, seharusnya dia tahu diri." ucap Arman dingin.
Winda menoleh ke ibunya.
Matanya penuh harap.
Tapi Priska hanya menangis pelan, tak mampu berkata apa-apa lagi.
Saat itulah Winda sadar—
ia sendirian.
Winda melihat itu semua.
Dan di saat itulah, sesuatu di dalam dirinya mulai mati.
Winda menatap ayahnya, matanya mulai memanas. "Tapi ini hidup aku, Yah. Aku punya mimpi sendiri. Aku belum mau menikah. Dan aku ga cinta dengan anak Om Bram."
Nada suaranya meninggi tanpa ia sadari. Tangannya bergetar, napasnya tidak lagi teratur.
"Kamu terlalu memikirkan perasaan," Arman membalas, kali ini lebih keras. "Ada hal yang lebih penting dari sekadar perasaanmu."
"Kenapa ayah tidak pernah bertanya apa yang aku inginkan?! " suaranya pecah.
" Aku benci ayah! AYAH JAHAT!"
Arman berdiri mendadak. Kursinya bergeser kasar ke belakang.
"Jaga ucapanmu!"teriak Arman marah.
Winda diam menatap ayahnya itu penuh dengan kebencian.
Arman menarik nafas dalam dalam sebelum menghembuskan nya. ia kembali duduk di kursinya dan mencoba kembali tenang sebelum kembali berbicara
Arman menatap Winda lama, lalu berkata dingin
"Seminggu lagi Om Bram akan datang."
"Kamu bersikap baik, atau ayah yang akan membuatmu patuh."
Winda membeku.
Di dadanya, ada rasa takut… dan kebencian yang semakin dalam terhadap ayahnya.
Arman berdiri dan merapikan bajunya.
"Pikirkan baik-baik, Winda," katanya tanpa menoleh.
"Menikah dan bawa uang ke keluarga ini…"
"atau pergi tanpa membawa apa pun."
Pintu terbuka.
Tertutup.
Ruangan kembali sunyi. Tak ada suara.
Langkah kakinya menjauh.
Winda duduk terpaku.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia baru sadar—
ia tidak pernah dicintai sejak awal.
Dan untuk pertama kalinya, Winda merasa…
rumah ini bukan lagi tempat pulang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah cepat menuju kamarnya. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, namun cukup untuk menegaskan satu hal—penolakannya tidak pernah benar-benar dianggap.
Di balik pintu, Winda menjatuhkan diri ke lantai. Tangisnya pecah.
hidupnya mungkin sudah diputuskan, bahkan sebelum ia sempat memilih.
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini