Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Setelah makan pagi yang menegangkan itu, ketika Evans memaksa Xerra duduk di sebelahnya…
ketika pria itu dengan suara datar namun tak terbantahkan mengatakan
“Dua minggu. Kau punya dua minggu untuk menerima pernikahan ini.”
…semenjak saat itu, seluruh hidup Xerra terasa seperti terbalik.
Xerra kembali ke kamarnya dalam keadaan kacau
Begitu pintu kamar tertutup, Xerra langsung bersandar pada pintu.
Napasnya cepat, tangannya gemetar hebat.
Bukan karena malu, bukan karena tersentuh.
Tapi karena takut.
Ia baru saja makan bersama seorang pria yang pulang dengan darah semalam,
pria yang memegang senjata seperti memegang pulpen,
pria yang memberi perintah kepada para penjaga seperti seorang raja.
Dan kini, pria itu memintanya menikah… secepat itu.
Xerra memeluk dirinya sendiri, berjalan perlahan menuju ranjang.
“Kenapa hidupku seperti ini…?”
Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha tidak menangis.
Tubuhnya masih kaku karena ketakutan yang Evans tanam hanya dengan tatapan.
Evans bukan orang biasa… dan itu membuat segalanya semakin buruk
Dulu, saat pertama kali Evans muncul di halte untuk menolongnya,
Xerra pikir dia hanya pria kaya yang baik hati.
Ternyata
dia bisa menyembunyikan darah di tubuhnya seolah itu hal biasa,
Ben dan Gerry memakai senjata,
mansion ini memiliki penjaga sebanyak markas militer,
wajah mereka bisa berubah dengan masker sintetis,
dan yang paling menyeramkan…
Evans tidak menerima penolakan.
Tadi pagi, saat Xerra berkata, “Aku belum siap…”
respons Evans bukan marah, bukan membentak.
Melainkan senyum
Senyum lembut… tapi berbahaya.
Senyum milik seseorang yang terbiasa mengambil apa pun yang dia inginkan.
“Dua minggu,” katanya.
Nada suara itu seperti vonis.
Xerra tahu ia harus memilih antara dua hal
Tetap di sini dan menikahi pria berbahaya itu.
Hidupnya akan aman secara materi…
tapi tidak ada jaminan jiwanya aman.
Atau… kabur.
Meski ia tahu
kalau Evans bisa menemukan kelompok bersenjata di pelabuhan,
menemukan dirinya tentu lebih mudah.
Tapi ia tidak bisa hanya duduk menunggu.
Xerra menutup wajah dengan kedua tangan.
“Kalau aku menikah dengannya… aku akan hidup selamanya dalam ketakutan.”
Dan satu hal lagi yang membuat dadanya sesak
Jika Evans marah suatu hari nanti,
jika Evans kehilangan kontrol…
Siapa yang bisa menyelamatkan Xerra?
Tidak ada.
Ia duduk di tepi ranjang, mengambil kertas dari meja rias, dan mulai menulis yang ada di benaknya
Mansion besar
Pagar tinggi
Hutan di belakang
Penjaga di setiap sudut
Dua pria bersenjata (Ben dan Gerry)
Kamera CCTV
Pelayan yang bisa melapor
Jalan menuju gerbang sangat jauh
Hampir semua jalur ditutup.
Namun bukan berarti tidak ada celah.
“Pasti ada jalan keluar… pasti ada,” bisiknya.
Xerra berjalan ke jendela.
Di bawah sana, terlihat hutan lebat.
Jika ia bisa mencapai hutan itu…
meski hanya sebentar…
ia bisa bersembunyi, lalu mencari bantuan.
Tentu itu sangat berbahaya.
Ia bisa hilang dalam hutan.
Bisa terluka.
Bisa ditemukan oleh Evans.
Tapi jika tidak mencoba…
Ia akan terjebak selamanya.
Xerra menggigit bibir bawahnya hingga memerah.
“Aku harus kabur sebelum dua minggu lewat… sebelum Evans benar-benar memaksaku menikah.”
Mata Xerra memancarkan tekad.
Tekad untuk bertahan hidup.
*****
Xerra yang resmi dianggap calon istri oleh semua orang di mansion
Evans yang semakin posesif, tenang tapi mengintimidasi
Xerra yang bingung,takut, tapi juga merasa aman
Persiapan pernikahan yang Evans atur sendiri tanpa minta persetujuan penuh dari Xerra
Malam itu saat melihat Evans pulang dengan noda darah yang sempat ia sembunyikan, Xerra tidak langsung lari.
Justru malam itu, ia mengamati mansion Evans lebih saksama.
Ia memperhatikan pola kerja para pelayan.
Pergerakan penjaga.
Jam-jam ketika Ben dan Gerry keluar.
Dan terutama… kapan Evans tidur paling nyenyak setelah pulang dari “pekerjaan gelap”nya.
Xerra tahu ia tidak bisa selamanya bergantung pada laki-laki yang bahkan belum ia ketahui nama aslinya.
Ia hanya memanggilnya “Om tampan”.
Malam itu, sambil berpura-pura membaca buku di sofa, ia menyusun rencana kabur dalam hati nya.
Kabur sebelum matahari terbit.
Lewat pintu belakang dapur.
Menyusuri jalan setapak ke hutan.
Lari sampai menemukan jalan raya atau rumah warga.
Itu satu-satunya pilihan yang ia punya.
Xerra bangun lebih cepat dari biasanya.
Pelayan masih tidur, dapur masih gelap.
Ia memakai hoodie tipis, mengambil sebotol air, lalu melangkah setenang mungkin menuju pintu belakang.
Jantungnya berdetak keras.
Namun begitu kakinya menginjak hutan, dingin pagi menamparnya.
Ia tetap berlari, menembus pepohonan.
Tanah licin. Kabut tebal. Nafas tersengal.
Setelah hampir 20 menit, langkahnya melemah. Ia berhenti di dekat batang pohon besar, napas nya kian berat, rambut berantakan.
“Hhh… jauh… sekali….”
Ia mulai sadar rencananya mungkin tidak seideal yang ia pikirkan.
Dan saat itulah suara langkah perlahan muncul di belakangnya.
Tenang. Teratur. Tidak tergesa.
Sejak awal, Xerra tahu itu bukan hewan.
Itu dia.
Evans muncul di antara kabut. Coat hitam panjang. Wajah setengah tertutup topi. Tangan dimasukkan ke saku seakan sedang jalan santai.
Seolah ia sekadar menyusul anak kecil yang nakal.
“Rencananya lumayan bagus,” ucap Evans santai. “Tapi kurang jauh.”
Xerra menelan ludah. “O.....om… om tampan. Aku cuma… ingin lihat sekitar.”
Evans tidak menjawab.
Ia mendekat dan berdiri di depan Xerra yang hampir kehabisan tenaga.
“Jangan bohong padaku.”
Suara itu dalam, tapi tidak keras. Justru semakin menakutkan.
Xerra melepas hoodie yang sudah lembap oleh keringat. “Aku cuma…?
“Kau ingin kabur dari aku.”
Diam.
Xerra akhirnya mengangguk kecil.
Evans mendesah pendek, mendekat satu langkah. “Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.”
“Aku bukan siapa-siapa om… aku tidak pantas di sana…”
“Kau akan menjadi seseorang,” ucap Evans datar.
Ia menatap Xerra dari atas ke bawah, lalu melanjutkan dengan kalimat yang membuat napas gadis itu terhenti.
“Menikahlah denganku.”
Xerra membelalak. “O...om… itu mustahil?! Baru kemarin aku tidur di kamar mewah! Kita bahkan belum saling mengenal.....!”
Evans perlahan mengeluarkan pistol kecil dari balik coatnya. Tidak menodongkan.
Ia menurunkannya ke tanah tepat di depan Xerra.
“Kau bebas memilih,” katanya tenang.
“Tapi dunia luar tidak akan menampungmu. Kau tidak punya apa-apa. Tidak punya rumah. Tidak punya keluarga. Tidak punya uang.”
Xerra menggigit bibir nya keras-keras, gemetar. Bukan karena takut … tapi karena yang di katakan Evans benar,dia tidak punya siapa-siapa.
“Jadi kau tidak mencemaskanku?” tanya Evans tiba-tiba.
“Cemas,” jawab Xerra pelan. “Tapi… bukan karena luka om. Aku… cuma takut kalau om kenapa-kenapa, aku tidak ada tempat tinggal lagi. Tidak ada makanan hangat. Tidak ada kamar nyaman. Tidak ada baju bagus dan mahal.”
Evans menatapnya lama.
Rahangnya mengeras.
Tapi bukan marah.
Ia terlihat… senang.
“Aku suka kau jujur dan realistis.”
Xerra menunduk, tubuhnya semakin gemetaran karena dingin dan panik.
“Kalau… kalau menikah membuat om senang… dan aku tetap hidup… ya aku… aku terima…”
Evans tidak menjawab.
Ia justru membungkuk sedikit, memutar tubuhnya membelakangi Xerra.
“Naik.”
Xerra mengerjap. “Hah?”
“Gendong belakang. Kau sudah terlalu lelah untuk berjalan.”
Xerra ragu. “Om… ini aneh.”
“Xerra.”
Hanya namanya.
Dalam.
Tegas.
Tak memberi ruang penolakan.
Dengan pasrah, Xerra meraih pundaknya dan memeluk leher Evans dari belakang.
Evans mengangkat pahanya, memastikan pegangan kuat, lalu berjalan pulang menembus kabut pagi.
Langkah Evans stabil. Hangat tubuhnya menembus hoodie tipis Xerra.
“Mulai hari ini,” katanya sambil berjalan,
“kau bukan tamu. Kau akan menjadi milikku.”
Xerra menyembunyikan wajahnya di bahu Evans, antara malu… takut… dan tidak tahu apa yang menantinya.
Hutan terdengar sunyi ketika Evans membawa pulang gadis muda itu, seperti mengantar takdir yang tidak bisa diubah.