NovelToon NovelToon
PENGANTIN PENGGANTI TERNYATA HACKER

PENGANTIN PENGGANTI TERNYATA HACKER

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Bullying dan Balas Dendam / Pengantin Pengganti / Mafia / Tamat
Popularitas:198.5k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Rubiana Adams, seorang perempuan jenius teknologi dan hacker anonim dengan nama samaran Cipher, terjebak dalam pernikahan palsu setelah dipaksa menggantikan saudari kembarnya, Vivian Adams, di altar.

Pernikahan itu dijodohkan dengan Elias Spencer, CEO muda perusahaan teknologi terbesar di kota, pria berusia 34 tahun yang dikenal dingin, cerdas, dan tak kenal ampun. Vivian menolak menikah karena mengira Elias adalah pria tua dan membosankan, lalu kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan reputasi keluarga, Rubiana dipaksa menggantikannya tanpa sepengetahuan Elias.

Namun Elias berniat menikahi Vivian Adams untuk membalas luka masa lalu karena Vivian telah menghancurkan hidup adik Elias saat kuliah. Tapi siapa sangka, pengantin yang ia nikahi bukan Vivian melainkan saudari kembarnya.

Dalam kehidupan nyata, Elias memandang istrinya dengan kebencian.
Namun dalam dunia maya, ia mempercayai Cipher sepenuhnya.

Apa yang terjadi jika Elias mengetahui kebenaran dari Rubiana sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10. SIUMAN

Suara mesin pemantau jantung berdetak pelan di ruangan itu, ritme monoton yang menandai kehidupan masih melekat pada sosok di atas ranjang. Di luar jendela, sinar matahari pagi menyelinap di sela tirai putih, lembut namun menyilaukan bagi mata yang baru saja mengenal kembali dunia nyata setelah dua hari lamanya terperangkap dalam gelap tak sadar.

Rubiana terbaring dengan wajah pucat pasi, bibirnya kering, dan selang infus menancap di tangan kanannya. Luka-luka samar di kulitnya menjadi saksi bisu atas hari-hari panjang yang penuh kekerasan. Di sisi ranjang, Elias duduk dengan punggung sedikit membungkuk, kedua tangan bertaut di antara lututnya, tatapannya tak beranjak dari wajah gadis itu.

Dua hari.

Dua hari penuh diam, tanpa sepatah kata, tanpa gerak. Dua hari di mana Elias hanya bisa menatap tubuh ringkih itu, diapit kabel dan cairan infus, dan merasa bersalah tanpa tahu bagaimana menebusnya.

Ketika kelopak mata Rubiana akhirnya bergerak sedikit, Elias sontak menegakkan tubuh. Napasnya tertahan di tenggorokan, seolah takut bahwa jika ia bersuara, keajaiban kecil itu akan lenyap.

Pelan-pelan, mata Rubiana terbuka. Cahaya membuatnya menyipit. Dunia terasa asing dan kabur. Ada bau antiseptik, suara langkah kaki dari luar pintu, dan dingin dari pendingin ruangan yang menembus kulitnya.

Elias berdehem pelan, suara yang hampir bergetar. "Ruby," panggilnya.

Nama itu keluar lirih, hampir seperti doa.

Rubiana mengerjap beberapa kali, mencoba memahami di mana dirinya berada. Begitu pandangannya mulai fokus, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Elias, tinggi, tegap, dengan sorot mata kelam yang menatapnya penuh cemas.

Namun yang terjadi kemudian membuat dada Elias mencelos.

Rubiana tiba-tiba berubah salam sekejap. Tangannya gemetar hebat, matanya melebar, dan bibirnya mulai bergetar ketakutan.

"J-jangan ...," suaranya pecah, nyaris seperti bisikan yang penuh teror. "Ampun ... a- aku tidak mau dihukum lagi. Maaf, Dad, maafkan aku ... aku tidak akan bicara lagi aku janji ... jangan kurung aku lagi," racau Rubiana.

Elias terpaku. Setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu seperti pecahan kaca yang menusuk jantungnya. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin memeluknya, namun langkahnya seolah terkunci di lantai.

"Ruby, tidak ... kau aman sekarang. Aku, Elias," ujar pria itu pelan, mencoba mendekat.

Namun semakin ia mendekat, semakin keras tangisan Rubiana pecah. Ia meronta, berusaha menyingkirkan selang infus, berteriak di antara isak yang terputus-putus.

"Maaf, Dad! Aku tidak akan bilang siapa pun! Ak-aku hanya pengganti Vivian, bukan salahku, bukan aku yang mau!"

Jeritannya menggema di ruang itu, membuat beberapa perawat di luar segera berlari masuk. Elias hanya berdiri terpaku, menatap Rubiana yang kini histeris, tubuhnya gemetar hebat seolah ketakutan pada sesuatu yang tak terlihat.

"Dia ketakutan, tolong tenangkan dia!" seru Elias panik.

Seorang dokter muda segera masuk bersama dua perawat. Mereka mencoba menahan tubuh Rubiana yang menggeliat tak terkendali, air matanya mengalir deras, teriakan 'ampun' dan 'maafkan aku' terus keluar, berulang-ulang, memecah keheningan ruangan.

"Berikan dia penenang ringan," ujar dokter dengan suara tegas namun lembut.

Jarum suntik menusuk pelan di lengannya, dan perlahan, suara tangis itu mulai melemah. Tubuh Rubiana yang tadinya menegang mulai lunglai, matanya menutup kembali, kali ini karena obat.

Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara detak monitor yang terdengar, kini stabil lagi.

Elias menatap gadis itu lama, napasnya bergetar tak beraturan.

Perasaannya campur aduk, antara bersalah, marah, dan putus asa. Ia tak menyangka, luka yang dialami gadis itu begitu dalam hingga bahkan ketakutan bisa menguasai kesadarannya begitu rupa.

Dokter muda itu menatap Elias, lalu menarik napas pelan. "Sir, maaf ... tapi saya harus jujur."

Elias mengangkat kepala. "Tentang apa?"

Dokter itu menunjuk pelan ke arah tubuh Rubiana. "Berdasarkan hasil pemeriksaan, kami menemukan cukup banyak luka lama. Ada bekas cambuk di punggung, lebam di lengan dan pergelangan tangan, dan luka bekas tekanan benda tumpul di beberapa bagian tubuh. Anda juga sudah mendengar kalau gadis ini mendapatkan kekerasan, tapi bukan hanya kekerasan biasa."

Elias terdiam, rahangnya mengeras.

"Saya menduga gadis ini mengalami kekerasan fisik dalam waktu yang panjang, takutnya justru dari dia kecil," lanjut dokter itu dengan nada hati-hati. "Dan dari reaksi histerisnya barusan, bisa dipastikan juga ada trauma psikologis berat. Dia mengulang-ulang kata 'Dad'. Artinya pelaku kemungkinan besar adalah ayah kandungnya."

Suasana di ruangan itu berubah tegang.

Kata-kata dokter menggantung seperti kabut tebal yang menyesakkan dada.

Elias tidak segera menjawab. Ia hanya memejamkan mata, menekan pelipisnya, mencoba mengatur napas yang kini terasa berat. Elias tahu dengan jelas kalau ayah Rubiana yanh menjadi dalangnya. Ia mendengar dan melihatnya sendiri bagaimana pria brengsek itu menyiksa putrinya, darah dagingnya sendiri.

"Apakah trauma seperti itu bisa disembuhkan?" tanya Elias dengan suara serak, nyaris tak terdengar.

"Bisa," jawab dokter lembut. "Tapi tidak cepat. Ia butuh waktu, terapi, dan rasa aman. Dan satu hal lagi ... kasus seperti ini berhak diusut secara hukum. Saya menyarankan Anda melaporkannya. Orang yang melakukan kekerasan terhadapnya harus ditindak," lanjutnya

Elias menatap kosong ke depan. Kata-kata itu berputar di kepalanya, namun pikirannya melayang ke banyak hal, Vivian, hari pernikahan itu, dan bagaimana ia dengan mudah mengira Rubiana adalah perempuan yang ia benci.

Rasa bersalah menyesak hingga ke dada. Elias merasa kotor, tidak lebih baik dari pria yang juga melakukan kekerasan secara tidak langsung kepasa Rubiana.

"Baik, Dokter," ucap Elias akhirnya pelan. "Saya akan mengurusnya."

Dokter mengangguk singkat, meninggalkan ruangan dengan perawat, membiarkan Elias kembali sendiri di sisi Rubiana.

Keheningan menyelimuti ruang itu lagi.

Jam dinding berdetak pelan, jarumnya bergerak lambat, dan sinar sore menembus tirai tipis, membentuk garis lembut di lantai.

Elias duduk kembali di kursi, menatap wajah Rubiana yang tenang dalam tidur paksa.

Dalam diam, ia bertanya-tanya, bagaimana seseorang bisa hidup selama ini dengan luka sebanyak itu? Bagaimana seorang ayah bisa memandang anaknya sendiri dan memilih untuk menyakitinya?

Elias menggenggam tangan Rubiana yang dingin.

"Maafkan aku," bisik Elias, lebih untuk dirinya sendiri dari pada untuk gadis itu. "Aku juga .. menyakitimu, tanpa tahu apa yang sudah kau lalui."

Waktu berjalan lambat. Dua jam kemudian, Rubiana kembali terbangun. Kali ini lebih tenang. Matanya terbuka perlahan, tanpa ketakutan, hanya kebingungan samar yang tersisa.

Elias yang masih duduk di sana langsung menegakkan tubuh, namun ia tak bergerak mendekat, takut membuat gadis itu kembali tak

Rubiana atap sekeliling. Ruangan putih, aroma obat, suara mesin. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya masih lemah.

"Jangan dulu," ujar Elias cepat, lalu berhenti sejenak, menyadari bahwa suaranya mungkin terlalu tiba-tiba. "Kau baru saja bangun tubuhmu masih lemah."

Rubiana menoleh perlahan ke arahnya. Wajah itu terlihat asing tapi juga… tidak menakutkan kali ini. Ia mengerutkan kening.

"Elias?" panggil Rubiana.

"Ya," jawabnya lembut. "Aku di sini."

Hening sejenak. Tatapan mereka bertemu.

Ada sesuatu di mata gadis itu — kosong, bingung, tapi juga lembut. Seolah bagian dirinya yang ketakutan tadi lenyap entah ke mana.

"Aku kenapa di sini?" tanyanya pelan. Suaranya serak, hampir pecah.

Elias menarik napas, mencoba memilih kata. "Kau pingsan, Ruby. Dua hari. Aku membawamu ke rumah sakit."

Rubiana menunduk, berusaha mengingat, tapi kilasan yang muncul di benaknya justru potongan-potongan kacau, suara bentakan ayahnya, tangan kasar yang menarik rambutnya, dan malam ketika ia memohon ampun di hadapan pria yang kini duduk di hadapannya.

Namun seolah otaknya menolak menghadirkan semuanya sekaligus. Ia menutup mata, menggenggam selimut erat.

"Maaf," gumamnya pelan. "Aku menyusahkanmu."

Elias menatapnya lama. Kata itu, 'menyusahkan', membuat dadanya terasa sesak. Bagaimana bisa gadis sebaik itu menganggap dirinya sebagai beban, padahal dialah yang paling tersakiti?

"Tidak, Ruby,” ucap Elias akhirnya. "Kau tidak menyusahkan siapa pun. Kau hanya .. terlalu lama disakiti.”

Rubiana menoleh, keningnya berkerut. "Disakiti?"

Elias menatap matanya dalam.

"Kau tak perlu mengingatnya sekarang. Tapi ... aku tahu semuanya. Tentang Vivian. Tentang bagaimana kau menggantikannya di hari pernikahan. Tentang ayahmu. Jangan khawatir soal itu lagi."

Tubuh Rubiana menegang. Sekejap, napasnya terhenti. Namun kali ini tidak ada histeria, tidak ada jeritan. Hanya diam. Panjang dan berat.

Ia menunduk, jemarinya menggenggam erat ujung selimut.

"Dia tahu?" bisiknya nyaris tak terdengar.

"Ya," jawab Elias pelan. "Dan aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi. Tidak akan."

Air mata pelan menetes dari mata Rubiana. Bukan tangis histeris, tapi kelegaan bercampur rasa takut yang belum sepenuhnya pergi.

"Aku ... aku takut"."

$Aku tahu," jawab Elias cepat, suaranya bergetar. "Tapi kau aman sekarang. Aku janji."

Rubiana mengangkat wajahnya perlahan. Pandangannya kabur oleh air mata, tapi ia bisa melihat ketulusan di wajah pria itu. Tak ada kebencian di sana, tak ada dingin yang dulu membuatnya ingin lari. Hanya ada sesal, dan sesuatu yang lembut, perhatian yang mungkin terlalu lama tak pernah ia dapatkan.

"Kenapa ... kau masih di sini?" tanya Rubiana lirih. "Setelah tahu siapa aku."

Elias menggeleng pelan. "Karena aku tak ingin pergi sebelum memastikan kau baik-baik saja. Aku juga berdosa karena menjadi bagian dari kekerasan yang alami."

Hening kembali mengisi ruangan. Di luar, senja mulai turun. Warna jingga membias di tirai putih, menyinari wajah Rubiana yang kini tampak lebih damai meski masih lemah.

Elias duduk di kursinya, diam, hanya mendengarkan suara napas lembut dari gadis yang perlahan tertidur lagi. Ia tahu, perjalanan mereka baru dimulai. Luka Rubiana bukan sekadar luka fisik yang bisa sembuh dalam hitungan minggu. Ia adalah luka jiwa, luka yang tak akan benar-benar hilang, hanya bisa diterima, sedikit demi sedikit, dengan kehadiran seseorang yang mau menetap dan tidak menyerah.

Dan Elias ... mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin menjadi orang itu

Ketika malam tiba, ruangan itu sepi. Hanya lampu kecil di sisi ranjang yang menyala. Elias masih di sana, dengan jas yang kini terlipat di sandaran kursi.

Telepon genggamnya bergetar. Raven.

"Bagaimana keadaannya?" tanya suara di seberang. Raven.

Elias menatap Rubiana yang masih tidur. "Stabil. Tapi dia ... trauma parah, Raven. Dokter juga bilang ini bukan kekerasan biasa."

"Apakah kau yakin ingin melaporkannya?" tanya Raven.

Pertanyaan itu menggantung lama sebelum Elias menjawab. "Ya. Kali ini aku tidak akan diam."

Setelah menutup telepon, Elias bersandar di kursi, menatap langit-langit rumah sakit. Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan hanya kemarahan yang mendorongnya bertindak, tapi juga rasa tanggung jawab, sesuatu yang lahir dari kesadaran bahwa ia juga sempat menjadi bagian dari luka itu.

Ia menatap lagi ke arah Rubiana. Gadis itu tampak damai dalam tidur, namun setiap kali ia memejamkan mata, Elias tahu bayangan masa lalu masih mengintainya.

Pagi berikutnya, sinar matahari kembali menyelinap di antara tirai. Rubiana membuka mata dengan napas pelan. Tubuhnya masih lemah, tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini, ketenangan.

"Elias?" panggil Rubiana.

Elias menoleh ketika mendengar suara lirihnya memanggil. Ia mendekat pelan, kali ini tak ada ketakutan di mata gadis itu.

"Ya?" sahut sang pria.

Rubiana menatap jari-jarinya sendiri yang kurus, kemudian bertanya lirih, "Apakah aku banyak bicara kemarin?"

Elias menatapnya, lalu mengangguk pelan. "Sedikit. Tapi tidak apa-apa."

Gadis itu menarik napas panjang, lalu tersenyum samar. "Aku merasa mimpi buruk. Tapi aku tak ingat semuanya."

Elias menatapnya lama, lalu mengelus lembut punggung tangannya. "Mungkin memang lebih baik begitu."

Rubiana mengangguk. Ia menatap keluar jendela, ke arah langit yang perlahan berubah biru terang. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada kemungkinan hari-hari ke depan bisa dijalani tanpa rasa takut. Meski kecil, meski samar, harapan itu ada.

Elias duduk di sisinya, tanpa berkata apa pun lagi. Kadang diam memang cara terbaik untuk menyembuhkan, dan di dalam diam itu, mereka berdua tahu, luka mulai belajar untuk tenang.

1
Marina Tarigan
karena nikah dgn vivian bukan Rujiana
Marina Tarigan
kok bisa seorang memperlakukan ( ayah kandung)seperti binatang kek gitu sedari kecil demi kekuasaan harta dan gengsi melukai sadis behitu
Archiemorarty: Banyak sekarang yang kayak gini. Uang dan kekuasaan menggelapkan mata 😌
total 1 replies
Marina Tarigan
terserah pd Elias pokoknya Rubiana jgn disakiti oleh elias Rubiana korban ketamakan ayah biadapnya itu
Marina Tarigan
lebih mati saja Rub penderitaanmu terlampau sadis mungkin kamu anak haram ya
Marina Tarigan
elias tdk salah disini Rubiana terlampau lemah tdk berani melawan orang tuanya terlampau serakah korbankan anak sendiri
mimief
wah... selesai juga.

nice ending
beautiful story'

yah begitulah terkadang yg kelihatan nya sebuah musibah besar buat kita ternyata sebuah keberkahan besar..
itulah sebabnya jangan berburuk sangka dengan takdir yang sudah ditetapkan. walaupun kelihatannya menyakitkan.

karena Tuhan selalu tau apa yg kita butuhkan
bukan yg kita inginkan
Archiemorarty: Setuju...

terima kasih buat kakaknya udah baca ceritanya 🥰
total 1 replies
mimief
om om demen gadis muda,🤣🤣
mimief
iiihhh eliias kudet.ada dijepang
semangka kotak
tapi harganya ga ngotak🤣🤣
Archiemorarty: Ya kan 🤣
total 1 replies
mimief
ga pake nasi bang
kenyang ga tu🤣🤣
Archiemorarty: Mereka gx kenal nasi....kalau kita belum makan rasanya kalau belum makan nasi 🤣
total 1 replies
mimief
aaakhhhh...
narasi mu Thor,lembut bgt
Archiemorarty: Ishhh...jadi malu othor /Smirk/
total 1 replies
mimief
wait...wait Thor
kok rose sama Lily ga terima lencana ini
apa ga diceritakan kah?
atau..ahh
buat mereka mah biasa aja
wong kejadian Arthur Ama arabella juga outstanding
apalagi cerita rose
CK..CK... CK
Archiemorarty: Yeps...soalnya mereka nggak mau berhubungan sama pemerintahan langsung, lebih milih low profile, karena kalau ketahuan nanti para Elite lawan mereka. Sedangkan mereka itu demi lindungin keluarga aja daripada dunia 🤭
total 1 replies
mimief
iy..Lucas aja yg ga ngalamin jadi objek percobaan aja hampir setengah gila ngilangin bayangan itu
apalagi Ruby😭
Archiemorarty: Hahaha....yg lain itu aman loh.
kalau yg Lucas itu research nya mendalam kali lah, sampe mantengin google maps tiap action dimulai 🤣
total 3 replies
mimief
sumpaaah, berinding aku Thor
ternyata POV dr cerita yg ngalamin
sama yg melihat dr jauh,lebih berinding yg jauh.
apalagi dr sisi Ruby yg jadi korban
Camelia beruntung karena dia ga mengingat ketika di lab nya
dan....hanya sekali
tapi Ruby??
seperti baru kemaren dia ada di lab itu😭
Archiemorarty: anak campuran milenial sama gen z saya 🤣
total 3 replies
mimief
waduuuh
Mak Lily dan rose mang juara
tapi...mang sibunny ini lebih juara,karena sekalian mendobrak trauma nya

ahhh... semua ajaib dah
Archiemorarty: Kan kan, the best woman mereka ini emang 😭
total 1 replies
mimief
Miranda?
kyknya pernah kesebut
dicerita yg mana ya Thor?
Archiemorarty: Lupa...kadang make nama sama karena males nyari nama karakter 🤣
total 3 replies
mimief
gostbite yg rose temuin bukan si Thor?
Archiemorarty: Bukan, username Rose nanti bakal muncul 🤭
total 1 replies
mimief
iblis aja sungkem ya..Van sama dia
gila...emang
Archiemorarty: Bener, saking gilanya manusia ini 😭
total 1 replies
mimief
mungkin Camelia salah satu yg selamat karena darian🥺
mimief: 😭😭😭🥺🥺
total 2 replies
mimief
ilmu pengetahuan bagaimana dua sisi bukan...
seperti pencipta bom atom yg masih menangisi dari dalam kubur yang hasil ciptaan nya dibuat untuk membunuh ribuan orang yg padahal di awal penciptaan nya buat kemajuan manusia.

semuanya dengan maksud baik tapi di luluh lantak kan dengan manusia serakah
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
mimief
ilmu pengetahuan bagaimana dua sisi bukan...
seperti pencipta bom atom yg masih menangisi dari dalam kubur yang hasil ciptaan nya dibuat untuk membunuh ribuan orang yg padahal di awal penciptaan nya buat kemajuan manusia.

semuanya dengan maksud baik tapi di luluh lantak kan dengan manusia serakah
Archiemorarty: Benar sekali...semua hal itu ada baik dan buruknya 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!