Nama saya Yuda, Saya siswa SMA tahun ke 2. Kehidupan sekolah saya tidak ada yang istimewa. Tetapi ada seseorang yang sangat saya sukai dari tahun pertama sekolah, saya mengejar cintanya selama 2 tahun, namun tidak mendapatkan respon dan berujung penolakan yang menyakitkan. Sampai suatu saat saya mulai membuka mata saya, berapa banyak waktu yang saya buang sia-sia hanya untuk wanita yang tidak mencintai saya. Namun ini hanya permulaan dari cerita tahun ke 2 saya di sekolah. Dimana saya akhirnya memilih untuk melangkah maju dan berhenti membuang waktu, saya memutuskan untuk berhenti mengejar cintanya dan menjalin hubungan pertemanan dengan teman-teman lainnya. Berusaha mengupgrade diri dan mencoba membuka hati untuk orang baru walau rasa trauma dari orang lama masih membekas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dame Dha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 Persaudaraan
~ Sudut pandang Citra ~
Bel pelajaran berakhir telah berbunyi. Waktunya pulang, sesuai janji kami berempat, kami akan jalan-jalan untuk merayakan kembalinya Jessi.
Reuni yang sangat menyenangkan, aku berharap kami berempat bisa selalu bersama seperti ini.
~ Sudut pandang Yuda ~
Setelah pulang kerumah, aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Setelah mandi karena tidak ada kegiatan, Aku dan Yui bermain game untuk menunggu waktu luang.
Di sela-sela main game Yui menyinggung soal anak baru yang masuk hari ini.
"Kak Yuu, Di kelas kakak ada murid baru kan?" Tanya Yui padaku.
"Oh, iya, tapi ga baru-baru juga, dia teman SD ku" jawabku.
"Yang bener, siapa dia kak, kata teman-temanku orangnya cantik banget" tanya Yui.
"Kamu tau kok, si tomboy pirang" jawabku
"Anak tomboy pirang, maksudnya kak Jessi" ucap Yui sambil bertanya-tanya.
"Iya Jessi, sekarang dia udah jadi wanita seutuhnya, aku mau kamu belajar darinya Yui" ucapku
Aku membuka ponsel ku dan menunjukan foto kami berempat sore hari tadi pas main barang.
"Ehh..tapi ga banyak berubah juga sih, yang berubah cuma model rambut doang" ucap Yui setelah melihat foto kami berempat.
"Tapi waktu pertama kali ketemu aku sama sekali ga sadar loh, ku kira dia cuma pelanggan kafe yang tau nama aku doang" ucapku.
"Kak Jessi sama kak Citra cantik banget, kapan-kapan ajakin main kesini kak" ucap Yui
"Aku mau-mau aja, tapi ngajak mereka main kesini buat apa" jawabku.
"Akhir pekan nanti kan ayah mau bikin pesta barbeque, ayah juga suruh aku undang teman-teman ku" ucap Yui
"Barbeque, dalam rangka apa?" tanyaku pada Yui
"Loh, kakak ga dikasih tau ayah, buat ngerayain ulang tahun kafe Jordan yang ke 10" ucap Yui
"Ahh, iya, paman sudah pernah cerita, ku kira cuma makan-makan keluarga , memangnya boleh ajak berapa orang?" tanyaku pada Yui
"Kalau aku mau ajak semua teman sekelas ku, kata ayah makin banyak yang datang makin bagus, sekaligus promosi juga" jawab Yui
"Ohh, bagus juga, berarti total ada 40 orang, aku bisa buatkan kartu undangan kalau mau, nanti kamu kasih ke teman-teman mu" ucapku pada Yui
"Boleh juga kak, besok kita bisa ke tempat percetakan setelah pulang sekolah" jawab Yui
Saat kami asik mengobrol, tante July datang dari mini market membawa bahan-bahan masakan. Aku berinisiatif untuk membawakan bahan-bahan ke dapur.
"Tante, langsung masuk aja tante, biar aku yang bawa semua belanjaannya" ucapku pada tante July yang membawa banyak belanjaan ditangannya.
"Ohh, Yuu, terima kasih, tante masuk duluan kalau begitu" jawab tante July sambil menyerahkan semua belanjaan itu padaku.
Tante July berterima kasih sambil tersenyum dengan suara beliau yang sangat lembut, aura tante July sangat luar biasa.
Jika aku harus menyebutkan seperti apa pasangan hidup yang sangat ku dambakan, wanita seperti tante July adalah jawabannya.
Apalagi ketika aku mendengar cerita paman dan tante yang berjuang bersama dari nol itu seperti sebuah kisah fantasy. 10 tahun aku tinggal bersama mereka dan hampir selama itu tidak pernah ada ketegangan antara mereka.
Ini yang disebut paman tentang perasaan itu bukan bisnis yang bisa tawar-menawar. Mereka saling menerima kekurangan masing-masing dan hasilnya adalah keluarga yang sangat harmonis.
Walaupun menurutku tante July sama sekali tidak ada kekurangan.
Aku meletakkan semua bahan-bahan ditempatnya. Tante July sedang menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam.
"Tante mau masak apa, ada yang bisa ku bantu" tanyaku pada tante July yang sedang merapikan dapur.
"Yakin mau bantuin tante, nanti Yui marah loh ditinggal main sendiri" ucap tante July.
"Ahh..Yui sudah SMA tante, dia bukan anak kecil lagi" jawabku pada tante July.
Dengan wajah khawatir tante July menatapku dan bertanya "Yuda, kalau kamu mau cerita sesuatu, cerita aja sama tante ya" ucap tante july sambil memegang bagian pipi sebelah kanan dari wajahku.
"Terima kasih tante, tapi ga papa, ga perlu khawatir sama aku" jawabku
"Kalau begitu izinkan tante membantumu" ucap tante July sebelum kemumia dia memberikan pelukan hangat padaku.
Tante July memberikan pelukan hangat penuh kasih sayang, aku benar-benar dibuat jatuh ke dalam lautan yang dalam.
"Yuda...kamu berhasil...kamu berhasil menjadi kakak yang hebat untuk Yui" ucap tante July dengan suara lembutnya.
Apa iya?. Aku merasa belum banyak melakukan sesuatu yang hebat.
"Tante juga berhasil, tante adalah ibu terhebat" ucapku pada tante July.
Tante July melepaskan pelukannya, dia kemali menatap wajahku dengan lembut.
Setelah itu tante July kemudian melanjutkan untuk memasak. Aku membantu dengan memotong sayuran dan mencuci perkakas yang sudah di pakai.
Setelah membantu tante July menyiapkan masakan, aku kembali keruang tamu untuk menemui Yui. Seperti biasa dia hanya tiduran di sofa.
~ Sudut pandang Yui ~
Kak Yuu sedang membantu ibu memasak, sedangkan aku hanya rebahan di sofa, usia kami hanya berbeda satu tahun tapi kak Yuu selalu bisa di andalkan, sedangkan aku tidak jarang hanya bisa merepotkan kak Yuda.
"Kak Yuu, menurut kak Yuu aku ini gadis yang seperti apa" tanyaku pada kak Yuda
"Heh..Kok tiba-tiba nanya begitu" ucap kak Yuda dadengan sedikit bingung
"Ishh...jawab aja dulu kak" ucapku pada kak Yuda.
"Hmm...seperti apa ya. Kamu pengennya di lihat sebagai apa dulu, sebagai gadis biasa, atau sebagai adik perempuan" tanya kak Yuda
"Dua-duanya kak" jawabku.
"Yakin?.. kalau jawaban ku tidak sesuai harapan jangan marah ya. Aku orangnya jujur loh" ucap kak Yuda.
"Hmm..Kalau sebagai gadis biasa, ya gadis biasa pada umumnya sih" jawab kak Yuda.
"Iiihh...bukan begitu kak...aku ini gimana menurut kakak, lucu?, ceria? Atau bagaimana" tanyaku dengan sedikit menekan ucapanku pada kak Yuda.
"Oohh begitu.., Yui, duduk sini disamping kakak" ucap kak Yuda sambil menyuruhku duduk disampingnya.
"Hahh, ngapain sih kak?" tanyaku dengan heran
"Udah sini aja dulu" ucap kak Yuda.
Aku beranjak dari posisiku yang sedang rebahan dan duduk disamping kanan kak Yuu.
"Duduk seperti ini kan kak?" tanyaku pada kak Yuda
Kak Yuu kemudian merentangkan tangannya melewati punggungku sampai ke bahu sebelah kanan, kemudian dia menariknya sampai lengan kiri ku menempel dengan tubuhnya.
Dia kemudian mengusap kepalaku dengan lembut dan penuh kasih sayang, tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku ke dada kak Yuda. Aku merasakan kehangatan yang sangat menenangkan.
"Yui, bagaimana perasaanmu sekarang, sudah lebih baik atau belum?" tanya kak Yuda padaku
"Hmm, aku merasa hangat kak" ucapku sambil bersandar pada kak Yuda
Sudah lama sekali aku tidak diperlakukan lembut seperti ini oleh kak Yuda.
"Yui... kamu ga perlu mikir yang tidak-tidak, aku ga akan kemana-mana, siapapun yang datang dan pergi dari kehidupanku, Yui akan selalu punya tempat spesial di hati kakak selamanya" ucap kak Yuda sambil terus mengelus-elus kepalaku dengan lebut.
Mendengar kata-kata kak Yuu yang sangat tulus, mata ku berkaca-kaca, air mata mulai mengalir dari mataku.
~YUDA & YUI~
Dengan posisi kepalaku masih bersandar di dada kak Yuu, aku memeluk tubuh kak Yuu sambil menangis sampai membuat baju kak Yuu menjadi basah oleh air mataku.
"Kak Yuu.....maafin aku....harusnya aku ga perlu meragukan kak Yuu" ucapku sambil tersedu-sedu.
Kak Yuu mengusap air mata di pipiku dengan tangannya.
"Yui, kamu ga perlu minta maaf, kamu seperti ini karena ga mau kakak kemana-mana kan, terima kasih sudah khawatir, aku juga sayang sama Yui, kamu ga perlu jadi orang lain, cukup jadi adik kecilnya kakak, itu sudah lebih dari cukup, kakak akan selalu menyayangi Yui lebih dari apapun, karena Yui adalah pelangi yang selalu mewarnai hidup kakak" ucap kak Yuda sambil menenangkanku yang masih menangis dan bersandar di dadanya.
"Aku takut....aku takut perhatian kakak ke aku terus berkurang, maaf aku jadi egois begini kak" jawabku sambil tersedu-sedu.
"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf, kakak juga egois, sampai membuat Yui sedih begini, pokoknya kalau ada apa-apa bilang sama kakak, jangan dipendam sendiri ya" ucap kak Yuda dengan lembut.
"Hmm..aku janji kak, kakak tahu kan kalau aku sangat sayang kakak" ucapku dengan suara yang hampir habis karena terus menangis dipelukan kak Yuda
"iya kakak tahu..kakak juga sangat menyangi Yui" jawab kak Yuda dengan Lembut.
Aku memeluk kak Yuda lagi untuk melepaskan semua beban yang selama ini ku pendam. Kemudia suara ibu terdengar dari dapur memanggil kami.
"Yui...Yuu...makan dulu...udah siap semua..." ucap ibu dari ruangan dapur dibelakan.
Kami berdua beranjak dari sofa dan menuju dapur. Di atas meja makan sudah siap semua masakan dan singkatnya kami makan bersama dengan suasana yang hangat dan damai.
-Terima kasih sudah membaca cerita saya. Untuk ilustrasi karakter cerita ini bisa cek di Trending-
Jika ada kritik dan saran silahkan DM saya dan jangan sungkan-sungkan :D