Di tengah dunia yang terbelah antara realita modern dan kiamat zombie, Shinn Minkyu—seorang cowok berwajah androgini dengan pesona misterius—mendadak mendapatkan sebuah sistem unik: Sistem Pengasuh.
Dengan kemampuan untuk berpindah antar dunia, Shinn berniat menjalani hidup damai... sampai seorang gadis kecil lusuh muncul sambil dikejar zombie. Namanya Yuki. Imut, polos, dan penuh misteri.
Tanpa ragu, Shinn memutuskan untuk merawat Yuki layaknya anaknya sendiri—memotong rambutnya, membuatkannya rumah, dan melindunginya dari bahaya. Bersama sistem yang bisa membangun shelter super canggih dan menghasilkan uang dari membunuh zombie, keduanya memulai petualangan bertahan hidup yang tak biasa.
Penuh aksi, tawa, keimutan maksimal, dan romansa menyentuh saat masa lalu Yuki perlahan terungkap...
Apakah Shinn siap menjadi ayah dadakan di tengah kiamat? Atau justru… dunia ini membutuhkan keimutan Yuki untuk diselamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F R E E Z E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
"Yuki, kamu ngapain di situ, sayang? Jangan terlalu deket sama pintu besi itu..." ucapku sambil buru-buru narik Yuki dari gerbang depan shelter.
Yuki cuma menunjuk ke luar dengan ekspresi bingung. “Shinn… ada zombie, tapi dia nggak kayak yang lain...”
Aku langsung melongok keluar dari balik monitor pengawas. Dan bener aja—ada satu zombie berdiri doang. Nggak nyerang. Nggak ngeluarin suara geraman. Cuma diam di tempat sambil… ngelihatin ke arah kamera.
“Ini aneh...” aku gumam pelan sambil ngerasain bulu kuduk berdiri. “Yuki, kamu masuk kamar, ya. Jangan keluar dulu. Ini berbahaya.”
“Tapi dia... kayaknya kenal aku...” suara Yuki kecil banget. Aku bisa ngerasa dia cemas, tapi juga penasaran. Dia masih kecil, tapi nalurinya tajam.
Aku segera nyalain sistem pertahanan otomatis. Rangkaian laser, tembok pelindung, sama robot-robot mini langsung aktif.
“Mode pertahanan aktif. Energi stabil. Senjata aktif. Shelter siap bertahan dalam 24 jam ke depan,” suara sistem terdengar tenang seperti biasa.
Tapi kali ini aku gelisah. Zombie itu beda. Dia pakai pakaian yang udah compang-camping tapi jelas dulunya jas kerja. Bekas ID card masih nempel, walau udah nggak kebaca tulisannya.
Aku zoom in ke wajahnya.
Wajah itu... setengah rusak. Tapi ada bagian yang aneh. Ada emosi di situ.
Dan yang paling bikin aku terdiam: zombie itu nangis.
“Gila, jangan bilang... Jangan bilang ini...”
Aku langsung buka data lama yang aku temukan waktu pertama kali menyelamatkan Yuki. File itu diambil dari chip kecil di kalungnya. Isinya? Data identitas orang tua. Nama ibunya Elya Kirana, dan nama ayahnya... Aldren.
Aku bandingin foto lama dengan tampang zombie di luar sana.
Persis.
Aku mundur, duduk di lantai. Nafas ngos-ngosan. “Zombie itu... ayahnya Yuki?”
System langsung muncul dengan panel holografik di depan wajahku. “Kemungkinan mutasi parsial teridentifikasi. Subjek menunjukkan sisa kesadaran manusia. Kemungkinan besar ini adalah kasus langka: ‘Zombifikasi Emosional’.”
“Zombifikasi... emosional?”
“Ya, Shinn. Ini kasus langka ketika subjek terinfeksi tapi tidak kehilangan semua identitas diri. Sangat mungkin karena ikatan emosional yang kuat, terutama terhadap anaknya.”
Aku berdiri pelan, lalu lihat lagi ke layar. Zombie itu masih berdiri di tempat. Nggak bergerak.
“System... ada cara komunikasi?”
“Ada. Tapi butuh perangkat neural link. Kamu harus keluar dan menempelkan alat di belakang kepalanya.”
“Gila. Itu nekat banget.”
“Kesempatan langka. Atau kamu akan kehilangan satu-satunya jejak yang mungkin bisa membawa kita ke ibu Yuki.”
Aku menelan ludah. Ini gila. Tapi... aku udah bersumpah bakal lindungi Yuki dan cari ibunya.
Aku masuk ke ruang senjata. Pakai armor ringan, aktifkan pelindung tubuh, dan bawa satu neural link. Aku buka pintu shelter perlahan-lahan.
Yuki sempet lari keluar. “Shinn! Jangan pergi...!”
Aku menatapnya dan senyum. “Aku harus, Yuki. Mungkin dia bisa bantu kita ketemu ibu kamu.”
Dia cuma diam, tapi air matanya mulai jatuh.
Aku keluar. Jalan pelan-pelan. Zombie—atau ayah Yuki—masih diam.
Pas aku deketin, dia bergumam pelan banget.
“Yu...ki...”
Astaga... dia masih inget.
Tanganku gemetar pas tempelkan alat neural link ke belakang lehernya. Cahaya biru nyala. Koneksi aktif.
Aku langsung denger suara di pikiranku.
_Aku... Aldren... aku... masih ingat... jangan... biarkan dia sendirian._
Aku hampir jatuh saking kagetnya. Dia beneran masih sadar.
_Shelter... Yuki... Elya... selamatkan mereka..._
Tapi koneksi mendadak melemah. Tubuhnya mulai goyang, lalu jatuh berlutut.
“System, kenapa ini?”
“Sinyal neuralnya melemah. Waktunya nggak banyak.”
“Bisa diselamatkan?”
“Kalau kamu mau, aku bisa simpan memorinya di drive sistem. Tapi tubuh biologisnya... kemungkinan nggak bisa bertahan lama.”
Aku nyesek. Tapi aku angguk. “Ambil semua memorinya. Simpan.”
Setelah itu, tubuh Aldren ambruk ke tanah. Aku terdiam di sampingnya beberapa saat sebelum akhirnya narik nafas panjang dan masuk ke dalam lagi.
Yuki langsung lari dan meluk aku. “Shinn... kamu ketemu dia?”
Aku mengangguk. “Iya. Dia ayahmu, Yuk. Dan... dia sayang banget sama kamu.”
Yuki diam. Lalu pelan-pelan air matanya jatuh.
“Dia bilang, dia ingin kamu tetap aman... dan dia minta aku jagain kamu.”
Yuki mengangguk pelan, lalu tiba-tiba memelukku lebih kencang.
“Shinn... jangan tinggalin aku juga...”
Aku mengusap kepalanya. “Aku nggak akan ke mana-mana. Kita bareng-bareng, ya?”
System muncul lagi. “Memori berhasil disimpan. Koordinat terakhir keberadaan Elya telah ditemukan. Kemungkinan besar dia berada di zona barat—wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kota Reruntuhan Tertutup.”
Aku memandang layar, lalu genggam tangan Yuki. “Ayo kita siapkan perjalanan ke sana. Kita bakal temuin ibu kamu, Yuk.”
Yuki angguk. “Tapi... zombie-nya banyak banget di sana, kan?”
Aku senyum nakal. “Tenang. Kita punya senjata rahasia... kamu!”
“Hah? Aku?”
“Yup. Si imut yang bisa bikin siapa pun luluh. Termasuk aku.”
Yuki ketawa. Untuk pertama kalinya hari itu, tawa kecilnya mengisi shelter yang dingin dan sepi. Suara yang mengingatkanku: ini bukan cuma soal bertahan hidup.
Ini soal harapan.
Dan keluarga.
mampir kak