NovelToon NovelToon
Burnt And Broken

Burnt And Broken

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Selingkuh / Cinta Terlarang / Beda Usia / Pelakor
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Adra

Nathan Hayes adalah bintang di dunia kuliner, seorang chef jenius, tampan, kaya, dan penuh pesona. Restorannya di New York selalu penuh, setiap hidangan yang ia ciptakan menjadi mahakarya, dan setiap wanita ingin berada di sisinya. Namun, hidupnya bukan hanya tentang dapur. Ia hidup untuk adrenalin, mengendarai motor di tepi bahaya, menantang batas yang tak berani disentuh orang lain.
Sampai suatu malam, satu lompatan berani mengubah segalanya.
Sebuah kecelakaan brutal menghancurkan dunianya dalam sekejap. Nathan terbangun di rumah sakit, tak lagi bisa berdiri, apalagi berlari mengejar mimpi-mimpinya. Amarah, kepahitan, dan keputusasaan menguasainya. Ia menolak dunia termasuk semua orang yang mencoba membantunya. Lalu datanglah Olivia Carter.
Seorang perawat yang jauh dari bayangan Nathan tentang "malaikat penyelamat." Olivia bukan wanita cantik yang akan jatuh cinta dengan mudah. Mampukah Olivia bertahan menghadapi perlakuan Nathan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEMAM DI FAJAR

Langit masih gelap. Suasana sunyi.

Angin pagi bertiup lembut dari jendela yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin yang menusuk.

Olivia membuka matanya perlahan, merasakan tubuhnya yang pegal setelah semalaman tidur di kursi.

Dia menggerakkan lehernya, merenggangkan otot-otot yang terasa kaku.

Matanya kemudian melirik jam di dinding.

04.00 pagi.

Masih terlalu pagi untuk bangun, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa kembali tidur.

Pandangannya langsung tertuju pada sosok pria yang terbaring di tempat tidur.

Nathan.

Dalam kondisi apa pun, pria itu tetap terlihat tampan.

Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Selimutnya tersingkap, membuat tubuhnya terkena udara dingin.

Olivia menghela napas pelan dan bangkit dari kursinya.

Dia mendekat dan menarik kembali selimut itu, menutup tubuh Nathan agar tidak kedinginan.

Namun saat dia mendekat...

Dia melihat sesuatu yang membuatnya mengerutkan kening.

Wajah Nathan tampak lebih pucat dari biasanya.

Napasnya terdengar sedikit berat, dan keringat dingin membasahi dahinya.

Lalu..

Nathan mengigau.

Bibirnya bergerak pelan, menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

Terkadang terdengar seperti keluhan, terkadang seperti nama seseorang.

Olivia langsung merasa waspada.

Dia meraba kening Nathan.

Panas.

Sangat panas.

Olivia terkejut.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Dia tidak bisa membiarkan ini.

Tanpa berpikir panjang, dia bergegas ke kamar mandi, mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air dingin.

Kembali ke sisi Nathan, dia duduk di tepi tempat tidur dan mulai mengompres dahi pria itu.

Tangannya bergerak hati-hati, menekan lembut kain basah itu di atas kulit Nathan yang panas.

Wajahnya serius.

Pikirannya berputar cepat, mencoba mengingat langkah-langkah yang seharusnya dia lakukan dalam kondisi seperti ini.

Dia tidak boleh panik.

Dia harus tetap tenang.

Saat itu juga, Nathan menggerakkan kepalanya sedikit.

Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan mulai terbuka.

Dia menatap Olivia dengan mata yang sedikit sayu dan penuh kebingungan.

"Kau...?" Suaranya serak.

Olivia tersenyum kecil. "Kau demam. Aku sedang mengompresmu."

Nathan berkedip beberapa kali, seolah mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar, dia berbisik

"Kenapa... kau masih di sini?"

Olivia tersenyum tipis.

Dia mengganti kain kompres yang mulai menghangat dengan yang lebih dingin.

"Aku bilang aku tidak akan pergi, bukan?"

Nathan menatapnya lama.

Ada sesuatu dalam tatapannya sebuah perasaan asing yang bahkan dia sendiri tidak mengerti.

Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, matanya kembali terpejam.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, dia membiarkan seseorang merawatnya.

Nathan masih terbaring lemah dengan keringat dingin membasahi dahinya. Tubuhnya menggigil sesekali, sementara bibirnya bergerak menggumam sesuatu yang tidak jelas. Olivia, yang duduk di samping tempat tidur, merasakan kekhawatiran semakin dalam saat ia meraba kening Nathan panasnya masih tinggi.

Aku harus melakukan lebih dari ini.

Olivia menelan ludah, sedikit ragu, tapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dengan hati-hati, ia mulai membuka kancing piyama Nathan. Satu per satu, hingga dada pria itu terlihat. Badan pria yang dulu bidang sekarang terlihat kurus. Hawa panas yang keluar dari tubuhnya begitu terasa, membuat Olivia semakin sadar betapa serius kondisinya.

Nathan Hayes, pria yang dulu dipuja sebagai chef tampan dan penuh percaya diri, kini tampak berbeda. Tulang selangkanya lebih menonjol, dadanya yang dulu berisi kini sedikit menyusut. Tubuh yang pernah begitu kuat, kini terlihat rapuh akibat pola makan yang tidak teratur dan depresi yang menggerogoti dirinya.

Nathan mengerang pelan, matanya sedikit terbuka, tapi tidak fokus. Olivia mencoba menenangkan, "Kau harus bertahan, Nathan... Aku di sini." Suaranya lembut, berharap bisa memberikan sedikit kenyamanan di tengah penderitaan Nathan.

Dengan handuk basah, Olivia mengusap lehernya, turun ke bahu, lalu ke bagian dadanya. Ia melakukannya dengan penuh perhatian, memastikan tidak ada bagian yang terlewat.

Tiba-tiba, Nathan menggeliat lemah, jemarinya bergerak mencengkeram lengan Olivia. Olivia tersentak, menatap wajah pria itu matanya masih terpejam, tapi ekspresinya terlihat kacau.

"Jangan tinggalkan aku..." Nathan bergumam dalam igauannya, suaranya serak dan hampir tidak terdengar.

Olivia terdiam, hatinya sedikit bergetar. Apa yang sebenarnya tersimpan dalam hati pria ini? Seberapa besar luka yang ia sembunyikan hingga bisa berkata seperti itu dalam kondisi setengah sadar?

Ia menarik napas panjang dan melanjutkan mengompres tubuh Nathan dengan lebih lembut. Aku tidak akan pergi, Nathan.

Dan untuk pertama kalinya, meski dalam kondisi demam tinggi, wajah Nathan terlihat sedikit lebih tenang.

Pagi itu, udara masih dingin saat Charlotte membuka pintu kamar putranya dengan hati-hati. Matanya langsung menangkap sosok Olivia yang duduk di samping tempat tidur Nathan, mengganti kompres di dahi pria itu.

Raut wajah Charlotte langsung berubah khawatir.

"Ada apa dengan Nathan?" tanyanya cemas, berjalan cepat mendekat.

Olivia menoleh, ekspresinya tetap tenang meski kelelahan terlihat jelas di matanya. “Sejak dini hari tadi suhu tubuhnya naik, Bu. Saya sudah mengompresnya, tapi saya pikir lebih baik jika dokter datang untuk memeriksa kondisinya,” ucapnya lembut.

Charlotte menatap putranya yang masih terlelap dengan napas berat, sesekali mengerang pelan. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya, namun wajahnya tetap pucat.

Charlotte mengangguk cepat. "Baik, aku akan menghubungi dokter. Aku tidak ingin kondisi Nathan semakin buruk."

Ia mengambil ponsel dan segera menghubungi dokter keluarga mereka, sementara Olivia tetap setia di sisi Nathan, memastikan suhu tubuhnya tidak semakin meningkat.

Selama menunggu dokter datang, Olivia dan Charlotte terus berusaha membuat Nathan minum, tapi sia-sia. Bahkan hanya untuk menelan sedikit air, pria itu tampak kesulitan. Matanya setengah terbuka, tapi tatapannya kosong—seperti orang yang tidak sepenuhnya sadar.

Charlotte mulai panik, tetapi Olivia mencoba tetap tenang. Ia mengusap lembut dahi Nathan, mencoba membisikkan kata-kata yang menenangkan, "Nathan, kamu harus minum... setidaknya sedikit saja. Aku tahu kamu kuat." Tapi tetap saja, pria itu tidak merespons.

Untungnya, dokter keluarga mereka tiba lebih cepat dari perkiraan. Ia segera memeriksa suhu tubuh, tekanan darah, serta respons saraf Nathan. Setelah beberapa saat, ia menghela napas dan berkata,

"Demamnya tinggi, kemungkinan besar akibat kelelahan fisik dan tekanan emosional yang berlebihan. Kurangnya asupan makanan dan istirahat juga memperburuk kondisinya. Jika ini terus berlanjut, tubuhnya bisa semakin melemah."

Charlotte semakin khawatir. "Apa yang harus kami lakukan, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter menatap Charlotte dan Olivia bergantian sebelum berkata, "Dia perlu banyak istirahat dan dipastikan mendapatkan cukup cairan serta nutrisi. Jika masih menolak makan dan minum dalam beberapa jam ke depan, kita mungkin harus memberinya infus. Selain itu, usahakan untuk tetap menenangkan pikirannya. Stres yang berkepanjangan bisa memperburuk kondisi fisiknya."

Mendengar itu, Charlotte mengangguk cepat, sementara Olivia menatap Nathan yang masih tampak lemah. Dalam hatinya, ia bertekad untuk melakukan apa pun yang bisa membantu pria itu pulih.

1
Dee
Wah, makasih! Senang banget kalau visualnya bisa sesuai ekspektasi pembaca. Semoga ceritanya jg makin bikin betah, ya.../Smile/
Dee
Yup, akhirnya benteng es mulai retak, tapi tenang Nathan masih pura2 kuat, Kasihan nggak, nih?
Dee
Iya, bener banget! Olivia ini calon pahlawan tanpa tanda jasa. Harus dikasih medali kesabaran, nih/Facepalm/
Dee
Hahaha.., kalau getok nanti dia malah lupa kalau dia chef! Gimana nasib restorannya?/Joyful/
Dee
Betul! Nathan memang punya ego tinggi, tapi pertanyaannya apakah dia benar2 akan berubah atau akan tetap keras kepala? Kira2 menurutmu dia bisa menebus kesalahannya nggk?/Proud/
Kusii Yaati
semangat Olivia cantik 💪🤭
Kusii Yaati
luluh juga akhirnya walau masih gengsi 😁
Kusii Yaati
yang sabar Olivia 🤧
Kusii Yaati
lama2 tak getok kepala mu Nathan biar hilang ingatan sekalian 😩
Kusii Yaati
visual Olivia cantik dan kalem Thor aq suka , Nathan juga tampan 🤭
Kusii Yaati
korban broken home ternyata 😩
Kusii Yaati
ini akibat dari kesombongan mu Nathan,kau terlalu menganggap dirimu sempurna 🥺
Dee
Haha, nggak apa-apa! Hari raya memang waktunya kumpul keluarga, makan opor, dan hitung angpau. Selamat Idulfitri! Mohon maaf lahir dan batin. Terima kasih sudah menyempatkan baca karyaku lagi. /Heart/
Aksara_Dee
maaf baru hadir Thor di NT lagi setelah berkutat dengan opor, keliling lebaran dan menghitung angpau lebaran🤣
Dee
Kita lihat saja nanti, itu masih menjadi misteri apakah dia cukup berani untuk mengakui perasaannya atau malah menahannya dalam diam./CoolGuy/
Paramitha Tikva
Lanjut Thor
Apakah Nathan akhirnya berani mengungkapkan perasaannya??
tutiana
Luar biasa
Dee: Terima kasih kakak/Heart/
Jangan lupa like dan komen dan votenya ya kakak, biar aku makin semangat berkarya/Pray/
total 1 replies
Aksara_Dee
aku yang meleleh /Drool/
Alma
Lanjut Thor...terus bikin Nathan cemburu /Facepalm/
Alma
So sweet/Rose//Rose/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!