NovelToon NovelToon
Cinta Suami Amnesia

Cinta Suami Amnesia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Suami amnesia
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mama eNdut

Anara Bella seorang gadis yang mandiri dan baik hati. Ia tak sengaja di pertemukan dengan seorang pria amnesia yang tengah mengalami kecelakaan, pertemuan itu malah menghantarkan mereka pada suatu ikatan pernikahan yang tidak terduga. Mereka mulai membangun kehidupan bersama, dan Anara mulai mengembangkan perasaan cinta terhadap Alvian.
Di saat rasa cinta tumbuh di hati keduanya, pria itu mengalami kejadian yang membuat ingatan aslinya kembali, melupakan ingatan indah kebersamaannya dengan Anara dan hanya sedikit menyisakan kebencian untuk gadis itu.
Bagaimana bisa ada rasa benci?
Akankah Anara memperjuangkan cintanya?
Berhasil atau berakhir!
Mari kita lanjutkan cerita ini untuk menemukan jawabannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama eNdut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gara-gara Kelomang

Nara menghampiri Vian yang masih terbaring lemah di ranjangnya. Meraih tangan lelaki itu untuk ia genggam.

"Maafkan aku Mas, andai aku tahu kamu mempunyai alergi dengan udang aku tidak akan memintamu untuk memakannya Mas". Lelehan air mata mengalir dari mata Nara. "Tapi dasar istrimu saja yang bodoh, seharusnya tidak membuatkan makanan yang sensitif memicu alergi seperti itu, istrimu ini memang bodoh Mas", gumam Nara disela tangisnya. Ia begitu merasa bersalah. Nara menelungkupkan wajahnya dikedua lipatan tangannya.

"Kamu benar, istriku memang bodoh, dia menangisi hal yang bukan terjadi karena ketidaktahuannya".

Suara lemah Vian terdengar, membuat Nara mendongak, menatap Vian yang tengah tersenyum kearahnya.

"Mas Vian maafkan aku, sungguh aku menyesal, seharusnya aku..."

"Cukup menyalahkan dirimu sendiri Nara, kamu tidak tahu, kita sama-sama tidak mengetahuinya kan! Lagi pula aku sudah baik-baik saja".

"Iya Mas, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi".

"Begitupun aku Nara".

Nara merawat Vian dengan sangat baik, dengan telaten ia menyuapi lelaki itu, membantunya minum obat, membantunya ke kamar mandi dan sebagainya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, tak disadari Nara ada sebelas panggilan tak terjawab masuk di ponselnya. Setelah selesai membantu Vian ke kamar mandi dan membantunya berbaring kembali, Nara duduk di sofa yang disediakan didalam ruangan itu, ia mengambil ponsel didalam tasnya.

"Astaga sudah jam tiga lebih", gumam Nara yang masih bisa didengar oleh Vian.

"Ada apa Ay?".

"Aku lupa belum meminta izin di tempat kerja ku Mas". Gadis itu lantas menelpon Andre, atasan Nara di tempat kerjanya. Ia meminta izin tidak bisa masuk kerja hari ini dengan alasan sedang menunggui suaminya di Rumah Sakit. Andre sempat terkejut karena setau dia, karyawannya itu belum menikah, tetapi akhirnya Andre pun mengizinkan Nara untuk libur hari ini. Sebenarnya tidak masalah bagi Andre jika karyawannya sudah menikah atau belum, hanya saja ia tak mendapat kabar apapun mengenai pernikahan Nara, jadi bisa jadi itu hanya alas an Nara untuk membolos, pikirnya.

"Mas, aku pulang dulu ya mau mengambil baju ganti buat Mas", kata Nara sembari menggendong tas ransel di punggungnya, Vian pun mengangguk sebagai jawaban.

Nara berjalan di koridor Rumah Sakit, sampai di lobby, ia baru teringat jika ia belum membayar taksi yang ia pesan pagi tadi.

"Astaga, aku sampai lupa belum membayarnya".

Nara segera mengeluarkan ponsel dari tasnya, berniat membayar sekaligus memesan taksi online kembali untuk mengantarnya pulang, namun ia di buat bingung ketika mendapati sebuah notifikasi di akunya bahwa pesanan taksi tadi pagi di cancel oleh drivernya.

"Tunggu, kok di sini tertulis di cancel, apa karena aku lupa belum membayarnya ya tadi, tetapi apa bisa seperti ini?".

*****

Nara telah siap kembali ke Rumah Sakit setelah membawa beberapa stel pakaian dan beberapa barang yang di rasa perlu. Gadis itu mengendarai motor maticnya sendiri agar nanti memudahkannya jika mencari sesuatu yang mengharuskannya keluar dari Rumah Sakit.

Nara menghentikan laju kendaraannya saat melihat seorang lelaki berjongkok di tengah jalan raya. Jalanan memang terlihat sepi namun apa yang di lakukan lelaki itu membuat Nara berpikir yang tidak-tidak.

"Apa yang sedang ia lakukan di sana?".

Nara belum beranjak, gadis itu masih melihat apa yang ingin di lakukan oleh lelaki berpakaian rapi tersebut. Saat lelaki itu berdiri, sebuah mobil melaju ke arahnya, suara klakson berbunyi tak beraturan, tanda jika mobil yang sang sopir kendarai tengah bermasalah.

"Awas, rem blong", teriak sopir itu sembari mengeluarkan kepalanya dari kaca pintu mobil yang terbuka.

Namun lelaki itu seakan tak mendengarnya. Tak ada pilihan lain bagi Nara, seperti adegan di film-film, Nara berlari dan menubruk badan lelaki itu membawanya berguling ke tepian jalan. Sementara mobil itu melaju dengan cepat hingga menubruk sebuah pohon besar, asap mulai keluar dari kap mobil yang ringsek akibat benturan tersebut.

Dari suara keras yang di timbulkan membuat beberapa orang berlari mendekat, mencoba menolong orang yang berada didalam mobil. Di samping itu Nara mengumpat pada orang yang barusan di tolongnya. Pantas saja orang itu tak mendengar suara klakson, di telinganya terpasang earphone yang tersambung dengan alat pemutar musik.

"Apa yang sedang kamu lakukan hah? Kamu bisa tertabrak tadi". Bukannya menjawab dan berterimakasih orang itu malah sibuk mencari sesuatu. "Sudahlah, tidak ada gunanya berbicara denganmu, lain kali lebih berhati-hatilah".

"Bilang saja jika kau ingin berkenalan denganku!".

"Apa?".

Mendengar ucapan dari lelaki itu membuat Nara yang hendak bangun menjadi mengurungkan niatnya, menatap tajam punggung lelaki yang masih membelakanginya. Nara tidak habis pikir dengan sosok lelaki di hadapannya, yang dengan pedenya mengatakan hal seperti itu.

Lelaki itu melepaskan earphone nya dan berbalik badan menghadap Nara yang juga menatapnya.

"Benarkan?".

"Sepertinya tanpa aku berkenalan denganmu pun aku tahu siapa kamu".

"Tentu saja, siapa yang tak mengenal seorang As- ".

"Ya, kamu itu ORANG GILA!", ucap Nara yang langsung memotong ucapan lelaki itu dengan intonasi meninggi dengan menekankan penyebutannya.

"Apa? Kau,... Kau menyebutku apa tadi?".

"O-rang gi-la".

Tak ingin terlalu lama berada di tempat itu, apa lagi dengan orang aneh yang dapat ia pastikan membuat tekanan darahnya naik, Nara memutuskan untuk pergi meninggalkan lelaki itu tanpa memperdulikan omelannya. Nara merasakan sakit pada pergelangan kakinya namun ia mengabaikannya, ia berlari ke seberang jalan menghampiri sepeda motornya terparkir lantas mengendarainya pergi.

Lelaki itu mengumpat, baru kali ini ia di abaikan oleh seorang gadis dan yang lebih parahnya lagi, gadis itu mengatainya dengan sebutan orang gila.

"Ah sial".

Tiba-tiba saja sebuah tepukan di bahu mengalihkannya. Terlihat seorang pria paruh baya di belakangnya.

"Lain kali hati-hati ya Mas, untung saja ada Mbaknya tadi yang nolongin".

"Maksudnya?".

"Lihat itu Mas, di depan sana ada mobil yang menabrak pohon karena remnya blong", ucap orang itu sembari menunjuk ke arah kerumunan orang yang mengelilingi tempat kecelakaan. "Coba, jika Mbaknya tidak menolong Masnya, Masnya bisa tertabrak tadi", imbuhnya.

"Hah? Jadi dia tadi menolongku?".

"Iya Mas, ya sudah, saya permisi ya Mas".

Selepas kepergian orang itu, lelaki itu membuka kepalan tangannya dan mengomel.

"Itu gara-gara kamu", ucapnya pada sesuatu yang berada di telapak tangannya. "Gara-gara aku menyelamatkanmu. Aduh malunya aku, bukannya berterimakasih aku malah berkata yang tidak-tidak padanya. Aku benar-benar tidak menyadari karena terlalu memperhatikan mu!".

Ia terus saja mengomel dengan perasaan bersalah yang bercampur malu, namun perhatiannya teralihkan ketika melihat seorang dua gadis kecil yang berjalan melewatinya. Lelaki itu lantas memanggilnya.

"Eh Dek, Dek, apa kamu suka dengan binatang?".

Gadis kecil itu mengangguk malu-malu.

"Kakak punya sesuatu, apa kalian mau merawatnya".

Gadis kecil itu kembali mengangguk. Lelaki itu meminta gadis kecil untuk membuka telapak tangannya lantas meletakkan seekor kelomang kecil dengan cangkang yang di cat warna merah bergambar angry bird di sana.

*****

Nara berjalan tertatih di koridor rumah sakit, kakinya terasa berdenyut, sangat sakit.

"Aduh, kenapa tambah sakit ya, perasaan tadi tidak seperti ini?", gumam Nara yang duduk di depan ruang rawat Vian. Di saat yang bersamaan Zico datang dan berhenti di dekat Nara yang masih memijit kakinya.

"Permisi, ada yang bisa saya bantu?".

"Ah Dokter, tidak Dokter, saya baik-baik saja".

"Baiklah, kalau begitu saya ke dalam dulu".

Zico hanya melirik sekilas lantas memalingkan pandangannya dan meneruskan langkahnya memasuki ruangan Vian. Nara mengangguk, gadis itu mengikuti Dokter Zico untuk masuk ke dalam ruangan, ia tidak ingin tertinggal kabar mengenai keadaan suaminya.

Mendengar suara pintu terbuka, Vian yang sedang berbaring segera menengok ke arah suara, dilihatnya Dokter Zico serta Nara yang berjalan pincang di belakang Dokter itu.

Tanpa menyapa sang Dokter, Vian lantas menanyai kondisi Nara.

"Nara, kaki kamu kenapa?", Tanya Vian panik, ia bangkit dari ranjangnya hendak turun.

"Eh, jangan turun, aku tidak apa-apa Mas". Nara berjalan pelan menghampiri ranjang Vian lalu mencium punggung tangannya.

"Tidak apa-apa bagaimana? Lihatlah cara jalanmu, itu pasti sangat skit. Coba kamu periksa ke Dokter", ucap Vian, dari suaranya terdengar jelas jika lelaki itu sangat khawatir.

"Tidak apa-apa Mas, nanti juga sembuh, jangan terlalu khawatir", jawab Nara dengan senyuman. Sementara dokter Zico hanya memperhatikan interaksi keduanya.

"Seorang Alvian bisa bersikap lembut sepertinya ini yang di harapkan oleh Om Agam", batin Dokter Zico.

Dia memang sudah lama bersahabat dengan Vian, jadi dia tau sifat Vian itu seperti apa, dingin, arogan, pemarah bisa juga di bilang kejam. Zico sendiri tidak tahu apa penyebab perubahan sikap Vian hingga dari yang begitu ramah dan baik menjadi seperti itu dan sekarang apa yang dilihatnya membuatnya cukup senang. Ia bisa melihat sosok Vian yang berbeda, sikap lemah lembut dan penyayang yang ia berikan terhadap gadis itu memperlihatkan diri Vian yang sesungguhnya. Astaga rasanya Zico ingin mengadakan syukuran tujuh hari tujuh malam.

"Eh, Dokter maaf", ucap Nara yang sudah sadar jika tidak hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Ia merasa tidak enak hati karena telah mengacuhkan Dokter Zico.

"Iya tidak apa-apa, sebaiknya kamu periksakan kakimu, lebih baik segera dari pada menundanya".

"Apa Dokter bisa memeriksa kakiku?".

Dokter Zico melihat Vian seakan meminta izin, sementara objek yang di lihatnya menaikkan satu alisnya karena merasa bingung.

"Kenapa Dok?",tanya Nara yang melihat arah pandang Dokter Zico.

"Apa suamimu mengizinkan?", tanya Dokter Zico.

"Jadi dia meminta persetujuanku, Dokter yang sopan", batin Vian. "Silahkan Dok", imbuhnya.

Dokter Zico lantas meminta Nara untuk duduk di kursi, tanpa disuruh Nara lalu membuka sepatu kets nya.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa sebelumnya kamu terjatuh?‌".

"Em ya, bisa di bilang seperti itu Dok", ucap Nara setengah berbohong, tidak mungkin kan di menceritakan kejadian yang sesungguhnya, huh mengingatnya saja membuat Nara merasa kesal.

"Saya rasa tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kakimu hanya sedikit bengkak, mungkin karena kamu memaksanya untuk berjalan, nanti akan saya bawakan obat oles untuk meringankan nyeri di kaki kamu", ucap Dokter Zico menjelaskan.

"Terimakasih Dok. Lalu bagaimana keadaan suami saya Dok?".

"Keadaan suami kamu sudah membaik, bintik-bintik merah ditubuhnya juga mulai menghilang. Suami kamu juga sudah tidak merasa sesak lagi, jadi kemungkinan besok dia sudah boleh pulang".

"Syukurlah jika begitu Dok", terlihat kelegaan di wajah Nara setelah mendengar pernyataan dari Dokter Zico mengenai kondisi Vian saat ini.

"Kalau begitu saya permisi dulu, selamat malam", Dokter Zico lalu berlalu dari ruangan, meninggalkan Nara dan juga Vian yang menatap kepergian Dokter tersebut.

Setelah Dokter Zico pergi, Nara berpindah duduk di samping Vian yang masih berbaring di ranjangnya. Ia memandang wajah suaminya dengan penuh kasih sayang. "Sudah tidak sakit lagi, kan Mas?", tanya Nara dengan suara lembut.

Vian mengangguk dan tersenyum, "Sudah tidak sakit lagi, Ay. Terimakasih sudah merawatku dengan baik".

1
Antok Antok
Sepertinya aku yang pertama.... lanjut Thor
WiwikAgus
bagus /Good/
Antok Antok
kelomang lukis jadi inget mainan jaman kecil dulu
Antok Antok
Menarik
Antok Antok
Semakin menarik... semoga novel ini berlanjut sampai tamat. dan banyak p mbacanya yang suka.... lanjut torrrrr
Antok Antok
Awal yang bagus, lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!