Sean, seorang Casanova yang mencintai kebebasan. Sean memiliki standar tinggi untuk setiap wanita yang ditidurinya. Namun, ia harus terikat pernikahan untuk sebuah warisan dari orang tuanya. Nanda Ayunda seorang gadis yatim piatu, berkulit hitam manis, dan menutup tubuhnya dengan jilbab, terpaksa menyanggupi tuntutan Sean karena ulah licik dari sang Casanova.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Sudah tiga hari berlalu. Sean memasuki rumahnya yang kini terasa begitu sepi. Sejak kepergian Nanda hari itu, gadis itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Rumah ini jadi terasa lebih sunyi dan gelap.
Ia berjalan menuju dapur, tempat biasa mereka berbagi makanan dan berdebat. Sean membuka kulkas—tidak ada yang berubah sejak terakhir kali ia membukanya. Tak ada masakan yang sudah diolah oleh Nanda. Menghabiskan waktu dan menikmati masakan gadis itu rupanya sudah menjadi rutinitas baginya, hingga kini ia merasa kehilangan.
"Yah, kalau nggak ada makanan juga nggak apa-apa. Aku masih bisa pesan lewat aplikasi," gumamnya sembari mengeluarkan ponsel dari saku celana dan memesan makanan lewat layanan antar.
"Setengah jam lagi datang. Mending mandi dulu," ucapnya sambil berjalan menuju kamar.
Bel rumah berbunyi. Dengan hanya mengenakan jubah mandi, Sean melangkah ke depan dan menerima pesanan makanannya. Ia menuju meja makan di dapur, membuka bungkusan plastik, lalu menuangkan makanan ke dalam mangkuk. Seporsi sup ikan patin, perkedel, dan nasi siap disantap.
Satu sendok masuk ke dalam mulutnya. Lalu sendok berikutnya, hingga tiga suapan berhasil melewati tenggorokannya.
"Sialan! Rasanya hancur! Bagaimana bisa mereka menjual makanan nggak enak begini?!" gerutunya, membanting sendok ke meja.
"Aku nggak bisa makan makanan sampah seperti ini!" umpatnya, lalu mengambil ponselnya kembali dan memesan makanan dari restoran lain.
Sambil menunggu pesanan datang, Sean mondar-mandir di depan kamarnya dan kamar Nanda.
"Apa dia nggak pulang? Kalau nggak pulang, tidur di mana? Masih di panti? Apa dia nggak nyuci baju? Nggak ngambil seragam? Atau malah nggak kerja?"
Rasa penasarannya hampir membunuhnya, tetapi gengsinya terlalu tinggi untuk sekadar bertanya. Apalagi Nanda memang tak pernah menghubunginya, meskipun menyimpan nomornya.
Tak lama kemudian, makanan datang. Sean duduk di meja makan, menatap beberapa menu yang ia pesan dari restoran berbeda. Cah kangkung dan tempe dari Warung Deso. Oseng jamur dan ayam goreng dari tempat lain. Tanpa sadar, semua makanan itu adalah menu yang pernah dimasak Nanda. Entah kenapa, ia justru memilih menu-menu itu.
"Harusnya makanan ini ada yang enak," gumamnya.
Sean mengambil sendok dan mulai menyuap.
"Kunyah, kunyah, telan."
Tanpa sadar, ia mengulang kata-kata yang biasa Nanda lontarkan saat makan. Seketika, hatinya terasa jengkel.
Selepas makan malam yang tidak menggugah selera, Sean duduk di teras belakang. Bara rokok yang dihisapnya membakar ujung tembakau, lalu ia menghembuskan asapnya ke udara.
Ia menoleh ke sisi kirinya—tempat Nanda biasa duduk saat mereka berbincang dan saling melempar ejekan. Sean tersenyum miring, menghisap rokoknya lagi, lalu menatap lurus ke depan.
Tiba-tiba, suara ponselnya memecah kesunyian. Ia mengambilnya dan menggeser tombol terima.
"Ya?"
"Sean, kau di mana? Aku bosan, ayo kita jalan-jalan," suara seorang wanita terdengar dari seberang telepon.
"Aku lelah, Feb," tolak Sean sembari kembali menghisap rokoknya.
"Kalau begitu aku ke rumahmu, ya? Kirimkan lokasimu," ujar Febi.
"Jangan! Aku sedang nggak mau diganggu."
"Ayolah, Sean. Aku sedang ingin," bujuk Febi menggoda.
Sean tersenyum sinis. Tanpa menjawab, ia langsung memutuskan panggilan.
Tring! Notifikasi pesan masuk. Dengan malas, Sean membukanya. Seperti yang sudah ia duga, pesan itu dari Febi. Sebuah foto wanita itu mengenakan lingerie merah muda dengan pose menggoda terpampang di layar ponselnya.
Sean menyeringai. "Baiklah, sedikit hiburan mungkin tak apa."
Ia berdiri, mengambil jaket, lalu membalas pesan bahwa ia akan datang.
Di dalam kamar hotel, Febi duduk di pangkuan Sean, berusaha merayunya. Namun, Sean hanya diam, tidak banyak merespons.
"Kenapa?" tanya Febi, merasa sudah cukup memberi rangsangan.
Sean menghela napas. "Aahhh, maaf. Sepertinya tadi aku makan nggak enak."
"Jadi kamu lapar?"
"Entahlah." Sean menggeleng, tak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau makan sesuatu dulu?" Febi mencondongkan tubuh, meraih sepotong kue dari meja di samping mereka. Ia menyodorkan kue itu ke mulut Sean.
"Ayo buka mulutnya. Atau, kamu ingin di suapi dengan ini?" Febi menyentuh bibirnya yang berwarna merah membahana.
"Zina!"
"Bercinta dengan sembarang wanita, itu zina."
"Nanti tertular penyakit kelamin!"
Sean tersenyum kecut, "bahkan suaranya terus berdenging di telingaku!" gumamnya mengumpat.
Memegang kedua lengan Febi, dengan sedikit dorongan sampai wanita itu tak lagi di pangkuannya dan berpindah di atas ranjang. Wajah Febi sudah berbinar akan segera melepas apa yang belum tersalurkan. Namun, senyum itu pudar seketika saat melihat Sean mengambil jaket sportnya.
"Apa ini?"
"Aku tidak berselera, aku pergi!"
Mata Febi membulat tak percaya,"Sean!?"
Mulut wanita itu pun ikut membentuk huruf o, melihat Sean abai dan memakai jaketnya.
"Kau benar-benar akan pergi?"
"Heem," dehem Sean mengambil dompet dan mengeluarkan setumpuk uang dari dompetnya. Lalu menjatuhkan begitu saja di atas ranjang depan Febi duduk. Membuat wanit semakin tak percaya, melihat uang dan Sean bergantian.
"Kau pikir aku pelacur?"
Sean menarik sudut bibirnya sebelah,"Kau memang pelacur!"
"Sean! Bajingan kamu!" Umpat Febi meneriaki lelaki yang sudah berlalu pergi dari kamar.
Febi memukul udara hingga tangannya mendarat di atas selimut. Walau sangat kesal dan marah, wanita itu melirik tumpukan uang merah di atas ranjang. Mengambil dan menghitungnya, "cih! Hanya lima ratus ribu!"
.
.
Mobil kuning Sean bergerak perlahan di depan panti, mata lelaki itu menyisir setiap sudut bangunan yang tampak dari luar.
"Appa dia di sini? Kenapa sepi sekali?"
Setelah menepikan kendaraan, Sean keluar memasang kacamata hitam dan topi. Berjalan memasuki panti, matanya mengedar mencari sosok berjilbab yang sudah tiga hari lamanya tidak ia temui. Membuat nafsu makannya berubah drastis.
Sean terus semakin ke dalam, suara anak-anak mengaji menyapa telinga lelaki itu. Melangkah ke arah suara berasal. Suara itu menuntunnya sampai di sebuah pendopo terbuka di tengah bangunan panti. Dari sudut tembok Sean menyembunyikan diri, gadis yang sudah tak ia temui selama tiga hari itu sedang mengajar seorang anak di sana. Sementara anak-anak yang lain duduk berbaris dengan tenang menunggu giliran.
Nanda, tak hanya mengajari sendiri, ada dua orang pengasuh lain yang mengajar ngaji saat itu.
"Siapa itu?" Teriak salah satu anak santri dari pendopo.
Seketika Sean menyembunyikan diri di balik tembok. Wajahnya udah tegang karena takut ketahuan sedang mengintip di panti.
Lari! Hanya itu yang ada di benaknya. Saat hampir mengambil langkah, tertahan oleh anak-anak yang menghadangnya.
"Om!?" Teriak salah satu anak dengan Koko dan peci hijau.
"Astaga, anak-anak ini," gumam Sean ketangkap basah.
"Apa yang om lakukan di sini? Om ngintip ya?" tuduh bocah-bocah yang menghadangnya.
"Ssstttt!" Desis Sean sudah cemas jika sampai Nanda tau. Namun, beberapa sudah mencekal tangan dan kakinya. Mudah saja bagi Sean untuk melepaskan diri. Sekali kibas bocah-bocah itu akan terpental, tapi bukan itu konsepnya.
"Anak-anak!?" Hal yang ia takutkan terjadi, suara Nanda terdengar semakin dekat.
Sean menoleh, dengan tubuh yang sudah digelayuti anak-anak panti dan kacamata yang sudah merosot dari tempatnya.
"Kak Sean?"
kok bisa ada dtempat yg sma yaaa??
apa yg akan terjadi??
lanjut thor 🙏🌹❤👍🤔🤭
sampai bikin malika kaget
🤔👍❤🌹🙏
hayooh nti terlambat loh keburu diambil irham
🤣🤣🙏🌹❤👍
mending kamu terus aja hubungan sama Irham 👍👍👍😁
🤣🙏🌹❤👍
heheee... pasti kaget lou tau 🤭🙏🌹❤👍
dah tau sean udah muak sama kamu udah dblokir pula ehhh PD bgt sok nlpon2
🤭👍🌹❤🙏