NovelToon NovelToon
Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:260.8k
Nilai: 4
Nama Author: miirathurmudzi123

Ia lahir tanpa ayah dan ibu, bahkan kakeknya sendiri tidak mengakui keberadaannya. meskipun begitu ia tetap berusaha hidup dan terus berjuang bersama orang-orang yang selalu mendukungnya.

Ia memulai perjalanan-perjalanan yang panjang dan amat jauh.

"Kakek, aku akan menjadi pendekar hebat yang bisa kau banggakan!"

Apa yang telah menunggunya di setiap perjalanan yang dilaluinya?

Kawan? Lawan? Saudara? Keluarga? Atau kekuatan yang luar biasa?

Bagaimana akhir dari perjalanannya?

Akankah ia menemukan apa yang ia inginkan?

Ikuti kisah perjalanannya di setiap episodenya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miirathurmudzi123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberadaan yang tak dianggap

Suara langkah kaki kecil dengan gontai menyusuri jalan setapak di sebuah desa terpencil. Desa Kadipaten namanya. Desa yang terletak di kaki bukit Darmalaya. Ya, dia adalah Jaka Umbara. Seorang anak kecil tanpa ibu dan ayah. Salah seorang cucu dari sang raja terkemuka di bukit Darmalaya, Prabu Panempuh Baskara Nara Diningrat, Baginda Raja kerajaan Suryalaya.

Ayahnya dulu merupakan seorang prajurit dari pasukan perang kerajaan Suryalaya, namun ayahnya terbunuh dalam peperangan saat bertempur melawan pasukan kerajaan Kertamukti untuk mempertahankan daerah kerajaan Suryalaya. Sedangkan sang ibu yang merupakan puteri dari sang Raja Suryalaya tutup usia saat dirinya baru dilahirkan. Bahkan, sejak kecil ia tak pernah merasakan kasih sayang dari keluarganya, karena sejak kecil ia sudah yatim piatu. Ia diasuh dan dibesarkan oleh satu-satunya dayang istana yang bekerja pada kedua orang tuanya, itu pun hanya bertahan hingga usianya menginjak sepuluh tahun.

Ia terus mengikuti langkah kaki-kaki kecilnya yang tak pernah tahu ke mana ia harus melangkahkan kedua kakinya. Ia hanya bisa melangkah mengikuti ke mana kakinya berjalan tanpa ada tempat tujuan yang pasti.

Kaki-kaki kecil itu terus saja berjalan menyusuri jalan setapak di sekitar desa Kadipaten, berharap ia akan menemukan tempat bernaung untuknya. Tempat di mana ada orang-orang yang akan menerima keberadaannya. Tempat di mana ia dapat kembali dari setiap perjalanannya.

“Lihatlah, lagi-lagi dia melewati jalan ini,” ucap seseorang dengan nada sinis.

“Jangan sampai ia menginjak rumah kita,” timpal yang lain dengan pandangan jijik.

“Hei, jangan keras-keras. Nanti bisa-bisa kita kena batunya,” sambung yang lain pula.

Jaka hanya tertunduk dan memilih diam seribu bahasa, berharap ia dapat beranjak dengan cepat dari tempat itu. Ia bukan tak berani membalas ucapan yang dilontarkan orang-orang kepadanya. Namun, ia tahu, apapun yang ia katakan tak akan ada yang mempercayainya meski ia sudah bersungguh-sungguh, meski sekuat apa pun ia berbicara, ucapannya tak lebih bak suara hewan ternak semata.

Pikirannya menerawang menembus sekat demi sekat bayangan memori di kepalanya. Ia teringat jelas peristiwa yang terjadi pada satu-satunya teman baik yang ia miliki sewaktu kecil dulu. Demi menolong dirinya, teman baiknya sampai kehilangan nyawanya. Namun, tak ada satu pun yang percaya atas ucapannya. Orang-orang malah menuduhnya telah membunuhnya dengan mendorongnya dari atas bukit hingga teman baiknya kehilangan nyawa.

Ingatan itu masih jelas terbayang. Saat-saat terakhir kalinya ia bisa melihat sosok teman baiknya. Kala itu ia pergi ke bukit di dekat desanya untuk mencari tanaman obat hingga menjelang senja. Sesuatu yang tidak pernah disangka oleh mereka tiba-tiba terjadi. Ketika mereka sedang mengumpulkan tanaman obat ada seekor ular cukup besar yang sedang mengintai mereka. Mereka masih tertawa riang tanpa menyadari adanya bahaya. Rekaman memori itu masih terbingkai dalam ingatan Jaka.

“Lihatlah, Dawul! Betapa banyaknya tanaman obat yang kita dapatkan. Pamanmu pasti akan senang sekali,” ucap Jaka penuh antusias.

“Iya, Jaka... pasti Pamanku akan sangat senang dan berterima kasih banyak pada kita,” balas Dawul dengan tidak kalah senangnya.

Keduanya segera memetik setiap tanaman obat yang mereka cari. Hingga ancaman mendekati mereka, tak ada kewaspadaan sedikit pun diantara keduanya. Namun, Dawul merasakan firasat buruk sedang menghampiri tempat mereka.

Benar saja, seekor ular dengan ukuran cukup besar datang dengan cepatnya ke arah mereka berada. Dawul yang mengetahui hal itu segera mendorong Jaka dengan keras.

1
Aufaaaaa
thor,,yg benar bae,,yg masuk akal dikit napa,, mereka kan msh bocil,jd sesuaikan dgn umurlah,, koq kayak cerita bf seehh
Night Watcher
mcnya dibuat kyk idiot banget
spooky836
membosankan sampah
Siti rochmah Iyon
mana lanjutan jangan setengah" aku penasara sm jaka umbara n dewi maya sari
Iskandar Zulkarnain Zulkarnain
alur terlalu ribet...bingung mengikuti cerita.
Daryus Effendi
bosan bertele tele
Wahyu Indra
kurang niat untuk ngelanjutin ceritanya
Putra_Andalas
lama matinya klo ditusukkan ke Perut...beda cerita klo tusukan ke Ulu Hati atau Jantung..😂
Habsah Hermawan
Luar biasa
Putra_Andalas
udah separuh dibaca..gk ada Greget & serunya...STOP BACA dah..!!!
Putra_Andalas
mkin ksini bknnya mkin seru nih alur ceritanya...malah mkin receh gk jelas...😬
Putra_Andalas
gk jelas nih cerita...😵
Putra_Andalas
tiba² punya nama..itu yg kasih nama Bapaknya apa Author nya...?? 😁
nana 2024
banyak iklan ganggu aja sialanlu
Asri Parinding
mana ep. selanjutnya
Rusliadi Rusli
😥😥😥😥
Rusliadi Rusli
👍👍
Rusliadi Rusli
jangan terlalu di pikirkan jaka..guru akan baik"aja
Rusliadi Rusli
waduh
Rusliadi Rusli
sabar jaka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!