NovelToon NovelToon
THE EAGLES OF DEATH

THE EAGLES OF DEATH

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Contest / Badboy / Tamat
Popularitas:448k
Nilai: 4.9
Nama Author: lisaautmptri

SEASON 1
"DIAM MENAKUTKAN, BERGERAK MEMATIKAN." Semboyan dari sebuah gank remaja SMA Taruma Bangsa.
Orang bilang, masa SMA adalah awal dari sebuah perjuangan. Putih Abu menjadi saksi, pahit manis kehidupan tanah suci pendidikan.

SEASON 2

Bagi Nabila, Zein adalah segala nya. Zein adalah hidup nya.

Bagi Zein, cinta dan ungkapan perasaan itu dua hal yang berbeda. Dia bukan orang yang pandai mengungkapkan perasaan melalui ucapan atau perbuatan.

Bagi inti 'The Eagles' persahabatan adalah segala nya, susah senang kehidupan akan mereka jalani bersama. Menjalani kehidupan dengan tujuan masing-masing? Boleh saja, namun 'The Eagles' tetap menjadi prioritas.

Siap mengikuti kisah percintaan dan persahabatan mereka? Jangan lupa klik favorite untuk mendapat notifikasi saat update.

Akun ig @_lisaautmpri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

THE EAGLES OF DEATH 10

Beruntungnya, saat masuk ke dalam kelas ternyata guru yang mengajar belum hadir. Setidaknya rombongan 'The Eagles' tidak harus mendengar ceramah dua kali. Kedatangan tujuh pemuda yang berpakaian lusuh itu disambut dengan tak acuh oleh teman sekelasnya, seperti itu bukanlah hal yang baru.

Dan tanpa rasa bersalah sama sekali, tujuh pemuda itu duduk dibangkunya masing-masing. Sedangkan Tito, yang seragamnya dipenuhi bercak darah terpaksa harus mengganti dengan kaus dalam biasa.

Anisa yang tadi duduk bersama Nabila untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru sebelumnya, terpaksa harus pindah saat Zein melototinya dengan mata elang pemuda itu.

"Lo kan bisa duduk disitu dulu," Anisa menunjuk kursinya sembari berdiri, mempersilakan Zein untuk duduk. Zein menoleh, dengan mata tajam yang meremehkan.

"Nggak," tolaknya tanpa berpikir, Zein mengeluarkan buku tugasnya dari dalam tas.

"Hiss, dasar nyebelin." Anisa menghentakkan sepatu di ubin lantai.

"Gue ke kursi gue dulu yah nanti kita lanjutin," ucapnya kemudian pada Nabila. mengangguk sembari tersenyum, lalu menoleh pada Zein.

"Muka kamu kenapa?" Tanya Nabila menelisik wajah Zein yang terdapat baret kecil di dekat mata kiri nya. Zein menoleh dengan tatapan tajam seperti biasa.

Nabila mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, lalu menoleh lagi pada Zein yang masih menatapnya.

"Luka kecil jangan di anggap remeh, bisa jadi bekas luka lho." Ucapnya mengulurkan tangan, Zein menoleh. Sebuah plaster masih dibungkus utuh ditangan Nabila kini berpindah ke tangannya.

"Ambil aja gak papa, aku tahu kamu pasti gak punya uang receh kan?" Ucap Nabila yang membuat Zein tergagu, memang siapa juga yang ingin membayar untuk benda kecil ini.

"Aku punya banyak karena sering jatuh dari sepeda," lanjut Nabila lagi, tidak peduli walaupun Zein tidak ingin mendengar ucapannya.

"Oh," Nabila menoleh saat Zein menyahut, oh akhirnya ada sepatah kata yang keluar dari mulut pemuda itu.

Zein hanya melihat plaster yang sudah berpindah ke tangannya, tidak ada niat sedikitpun untuk memakai benda itu. Melihat reaksi Zein yang begitu, Nabila kembali merampasnya membuat Zein terkejut.

"Kamu tuh jangan bandel, kalo mama kamu tau pasti di marahin lagi." Seloroh Nabila yang membuka bungkusan plastiknya, lalu menempelkan plaster mini itu pada wajah Zein.

Zein mengernyit, menatap tidak suka pada Nabila. Lancang sekali gadis ini memegangnya, dan lihat itu dia bahkan tertawa riang didepan wajah Zein.

Tanpa sadar, tangan Zein tergerak menyentuh plaster yang kini melekat diwajahnya. Merasakan sejuk di kulitnya yang terbungkus rapat dengan plaster itu.

"Thanks," ucap Zein mengalihkan tatapan, sedetik kemudian pemuda itu langsung menyesali habis-habisan ucapan yang keluar dari mulutnya. Zein mengumpat, lebih tepatnya mengumpati diri sendiri yang kelepasan mengucap terimakasih.

"Sama-sama tuan Zein," jawab Nabila masih dengan senyum merekah di wajahnya. Dan apa-apaan itu, kenapa juga dia harus memanggil Zein dengan sebutan 'tuan?

"Akhh!" Tito meringis saat dengan usil Kevin menyentuh sudut bibirnya yang terluka.

Tito mengumpat kesal, membanting bukunya di meja. Bukannya prihatin, teman-teman sekelasnya justru menertawakan pemuda itu.

"Asyu lo pada ya, kawan gak punya akhlak semua. Ini sakit woy!" Geram Tito mengungkapkan kekesalannya.

"Aseeekk bro Tito marah, biasa nya lo paling adem syetan!" Celetukan Aric yang duduk didepan langsung mendapat timpukan pena dari Tito.

"Sakit bangs4t! Gila lo main lempar aja," Aric menghadap ke belakang menggebrak meja kasar. Bukannya merasa takut, Tito justru menantangnya dengan garang.

"Woy anak Dajjal, bisa diem nggak mulut lo berdua? Gue mau nugas gak konsen bro!" Pandu ikut berceletuk yang bukannya menenangkan suasana, justru membuat perseteruan semakin panas.

"Berisik asu!" Andre ikut berkomentar, semakin riuh lah suasana kelas dibuat para the most wanted namun tampan sekolah Taruma Bangsa itu.

"Kalo ngomong semua kapan diem lo pada tai!" Rian pun akhirnya ikut berkomentar, Rian yang sejak tadi menutup telinga dengan earphone lama-lama jengah juga mendengar perdebatan teman-temannya.

"DIAM KALIAN SEMUA ATAU KELUAR DARI KELAS!" Itu suara ketua kelas, sang pemimpin yang harusnya ditakuti anggotanya. Suasana mendadak hening, tatapan semua orang tertuju pada laki-laki yang berdiri didepan kelas dan berteriak lantang.

Bukan karena takut atau segan! Justru tatapan meremehkan yang diterima pemuda dengan celana panjang yang menempel kuat diperutnya. Tidak lupa dengan rambut semir yang di beri hair gel yang membuatnya tampak mengilap, ditambah lagi dengan kacamata besar yang membingkai matanya.

"Aaa basyood!" Ejek Pandu dengan memperagakan sebuah meme dengan tokoh kartun Sepongebob melambaikan kedua tangan memperlihatkan pelangi indah.

Yang sontak saja ditertawakan satu kelas, ketua kelas bernama Dimas itu menghela napas. Menunduk dalam menahan malu, ah memang rasa malunya sudah hilang! Entah sudah ke berapa ratus kalinya dia mendapatkan perlakuan begini dari kawan-kawan kelasnya.

Alasannya sepele! Hanya karena penampilannya yang sedikit berbeda dari temannya yang lain dan juga karena statusnya sebagai salah satu penerima beasiswa sekolah. Status pekerjaan orangtua nya sebagai petani sudah menjadi rahasia umum khususnya anggota kelas XI IPA 2, dan hal itu pula yang menjadikannya sebagai sasaran empuk para pelaku bullying.

"Udah diem lo pada, gua catet nama kalian terus kasih ke pak Santos baru tau rasa. Mau kalian traktir tu botak licin di kantin hah?!" Kali ini terdengar suara Anisa, gadis berambut pendek itu berdiri dengan gagahnya lalu memukulkan penggaris besi ke meja.

"Beb Nisa jangan marah-marah, Aa' Kevin diem nih!" Ujar Kevin menutup mulut dengan kedua tangan.

"Terserah lo buaya laknat!" Dengus Anisa kembali duduk ditempatnya.

Setelah perdebatan panjang yang cukup menguras emosi, akhirnya bel istirahat berbunyi. Para murid yang sejak tadi berjuang menahan nafsu untuk bangkit dari kursi dan berkeliaran di luar, akhirnya memekik riang dengan jiwa merdeka yang menggelora. Akhirnya perut kosong segera terisi, rasa jengah akan pelajaran segera usai dan rasa rindu akan kekasih yang berbeda kelas akan segera dibayar kontan.

"Ayo ke kanting gengs, laper gue abis gelud tadi. Mana belum sarapan lagi," adu Aric yang perutnya sudah keroncongan sejak tadi.

Tanpa menunggu aba-aba, rombongan 'The Eagles' bergegas meninggalkan kelas. Tak terkecuali Zein yang juga ingin segera mengisi tenaga kembali dengan suplay makanan.

"Bila ayo ke kantin," ajak Anisa menghampiri meja Nabila dengan senyum sumringah.

"Emm," Nabila tersenyum kikuk, ini sudah keberapa kalinya Anisa mengajaknya ke kantin. Dan sudah ke berapa kali juga Nabila menolak ajakan gadis itu.

"Aku bawa bekal," ucap Nabila mengeluarkan kotak makannya dari laci meja.

"Lo nggak bosen makan makanan rumahan terus, sesekali cobain makanan kantin kita. Bergizi juga kok, kualitasnya terjamin."

"Nggak deh!" Nabila kembali menolak dengan menggeleng keras. Bukan apa-apa, tapi Nabila tahu jelas berapa tarif uang yang harus dia keluarkan untuk mendapat porsi makanan di kantin. Yang jelas menghabiskan jatah jajan nya dua minggu ke depan.

"Ih ayo, kamu nolak terus aku marah lho!" Ancam Anisa yang menarik paksa tangan Nabila, terpaksa gadis itu menurut. Tangannya masih sempat menarik kotak bekal di atas meja sebelum benar-benar ditarik oleh Anisa.

Suasana kantin terdengar riuh, siswa-siswi berseliweran memadati kantin dengan lebar hampir setengah lapangan bola ini. Nabila mengedarkan pandangan, melihat satu persatu gerombolan siswa yang tengah menghabiskan makanannya dimeja.

Nabila meringis perih saat melihat makanan yang mereka makan, serasa di restoran mewah bintang lima saja.

Anisa kembali menarik tangan Nabila, melewati beberapa meja panjang yang semua terisi penuh. Entah hanya perasaan saja atau bagaimana, tapi Nabila merasa orang-orang sejak tadi memperhatikannya. Lebih tepatnya memperhatikan kotak bekal di tangan Nabila.

Melintasi sebuah meja, Nabila bisa mendengar bisikan-bisikan yang terdengar menyakitkan.

Nabila menoleh, menatap para gadis dengan pakaian seragam yang ketat dan pendek tidak lupa make-up tebal yang menghias wajah mereka.

"Hello, ini udah zaman for point zero dan masih ada yang bawa bekal ke sekolah?!" Celetuk salah seroang gadis yang duduk dengan kaki tertekuk memperlihatkan paha putihnya.

Nabila meneruskan langkah, tidak berniat mendengar kalimat sindiran pedas itu. Duduk di kursi paling ujung, Nabila dan Anisa segera ke stand makanan yang ingin mereka beli.

"Lo mau beli apa Bila? Ada sea food, Chinese food, European food, Japanese food, masih banyak lagi. Lo mau pesan apa?"

Oh astaga! Makanan apa yang tadi di absen oleh Anisa? Sangat terdengar asing di telinga Nabila, semakin membuatnya meringis karena membayangkan betapa mahal makanan itu.

"Emm, aku ... aku..,"

Nabila bingung sendiri, insting nya memerintahkan untuk mengikuti langkah Anisa yang sedang berputar mencari makanan yang ingin di pesannya.

Astaga! Jus jeruk harga nya tiga puluh ribu?! Di tempat bu Desi cuma sepuluh ribu! Nabila mematung melihat papan menu yang terpampang jelas dihadapannya.

Bakso empat puluh ribu?! Di tempat bu Desi cuma lima belas ribu! Melengos lagi.

Ini apa-apaan sih? Kenapa mahal banget, ya ampun. Mereka buatnya pakai emas apa? Makanan kok jualnya mahal banget, nggak sesuai dong dengan saku pelajar!

Perotes Nabila keras, lebih tepatnya sih karena tidak sesuai dengan saku nya sendiri.

Nabila menimbang, melihat air mineral kecil dengan harga sepuluh ribu. Jika uang sepuluh ribu itu dia gunakan hari ini, maka otomatis uang jajannya besok hangus. Jatah uang jajannya kan hanya lima ribu sehari.

"Bu saya pesan air mineralnya satu yah!" Ucap Nabila pada seorang wanita paruh baya penjaga kantin.

"Siap neng, ini!" Nabila segera memberikan dua lembar pecagan lima ribu, setelahnya berbalik untuk kembali ke meja makan.

Namun sialnya! Nabila menginjak tali sepatu seorang gadis yang melintas tepat dihadapannya. Gadis tinggi yang sedang membawa makannya itu terjerembab ke lantai dengan makanan yang menyiram tubuhnya.

"Oh God! Ramen gue," suara nyaring nya terdengar. Membuat perhatian orang-orang tertuju pada rombongan mereka.

"Ya ampyun, oh my God. Mamiiiii baju Angel kotor!" Rengek nya tidak jelas pada siapa, Nabila yang gelagapan segera membantu gadis itu berdiri. Namun cepat di hempaskan oleh gadis yang bernama Angel itu.

"Maaf, aku ... aku nggak sengaja kak. Maaf," ucap Nabila mengulurkan tangannya lagi membantu Angel berdiri.

"Heh bebek, seenak jidat aja lo minta maaf. Temen gue sampe jatoh gitu!" Seorang gadis mendorong bahu Nabila dengan telunjuknya.

"Maaf kak," lirih Nabila tertahan, ia tidak tahu apakah mereka kakak kelas atau adik kelas. Yang jelas Nabila hanya bersikap sopan atas kesalahannya.

Angel berdiri, dengan baju seragam sudah bersimbah kuah ramen. Oh tidak, seragam mahal yang Nabila dapatkan dengan gaji tiga bulan bekerja itu sekarang tersimbah kuah ramen.

Nabila menatap nanar seragam milik Angel, sudah bisa di pastikan Angel akan meminta ganti rugi padanya.

"Maaf kak, sini aku bantu bersihin baju nya." Nabila mengelap baju Angel dengan tangannya, namun tubuhnya terhunyung saat Angel mendorongnya kasar.

"Pantat lo bersihin! Oh amsyoong bebih, ini si kutu rambut ini kenapa bisa ada di kantin sih? Sejak kapan sekolah kita punya siswi kaya gini?" Semprot Angel tajam, menuding dahi Nabila dengan jari telunjuk.

"Ganti baju gue, harganya dua juta! Catet rekening gue. Transfer sekarang!" Perintah Angel kejam.

Ini! Ini yang paling di takutkan Nabila, perkara ganti rugi. "Aku bisa bersihin baju kakak kok, itu cuma kena kuah. Kakak kasih aja baju nya ke aku, nanti aku cuci sampai bersih."

Hahahahha. Nabila bisa mendengar tawa dari seluruh makhluk kantin ini, seolah ada yang lucu dari kalimatnya tadi.

"Lo orang miskin ya? Baju kaya gini masih mau di cuci dan di pakai?" Tanya Angel menunjuk baju yang melekat di tubuhnya.

Nabila menunduk dalam, rasa takut semakin menyerangnya. Gadis itu memilin pelan ujung rok yang dia kenakan.

Anisaaaa.. Nabila melirih memanggil Anisa, berharap Anisa mampu menyelamatkannya dari situasi ini.

"Babang Zein, Aa' Kevin, Titoooo," teriakan para gadis terdengar saat rombongan 'The Eagles' menapakkan kakinya di kantin.

Zein dan Tito tidak sengaja melihat Nabila yang sedang di kerumuni geng ratu julid sekolah ini.

"Cari perkara!" Gumam Zein dan Tito bersamaan, melihat Nabila yang menunduk dalam dan Angel yang berdiri menantang dihadapannya.

Zein, Tito dan rombongannya memutuskan untuk tidak peduli. Memilih berjalan ke meja favorite mereka untuk makan.

"Cepet ganti, catet nomer rekening gue!" Perintah Angel lagi, sedangkan Nabila hanya menunduk dalam. Nabila menatap ujung sepatunya yang basah karena tetesan air. Jelas tetesan air matanya sendiri.

"Ada apa ini?" Suara seseorang mengalihkan perhatian mereka, termasuk Nabila yang terkejut dan menoleh pada sumber suara.

🌺

🌺

🌺

1
Rizka Ajah
yaiyalah harus berakhir,, cantik tp gatau diri
Naylatul Maufiroh
mantap ceritanya bagus
Naylatul Maufiroh
😂😂seru seru
gah ara
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
gah ara
😂😂😂
gah ara
,kagak ada ponsel kasihan
gah ara
😂😂😂😂
gah ara
🤭🤭🤭🤭😂😂
yuhuuuu
keren karya² mu Thor...
Yanti
aku udah baca dua kali 🥰
mau tanya Thor , novel kisahnya anaknya si Zein ada gak ☺️
Grizelle
Om somplak ye😂🤣🤣
Grizelle
🤣😂😂😂 si Kevin emang bikin mood naik sih, nggak pernah gagal bikin ngakak
Grizelle
🤣😂😂😂😂 asli ni temen pada somplak, tapi bener juga sih kurang umur dekat dengan kematian
Grizelle
Masya Allah, jazakillah khairan katsiira untuk authornya
Apalagi ada cerita tentang nabi
Grizelle
Padahal yg nyari kesempatan malah dia sendiri 😂🤣 dasar Kevin
Grizelle
Makanya jangan terlalu percaya diri dan punya ekspektasi tinggi. Kalo kenyataan nggak sesuai harapan kan yg sakit juga diri sendiri, akhirnya kecewa
Grizelle
🤣😂😂
Grizelle
Udah omes ya
Grizelle
Emang curhat sama temen somplak mah gitu ye
Grizelle
Bisa-bisanya ya nanya gitu🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!