NovelToon NovelToon
Only 200 Days Mr.Mafia

Only 200 Days Mr.Mafia

Status: tamat
Genre:Tamat / Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama / Keluarga / Romansa / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:5.3M
Nilai: 4.6
Nama Author: Four

Bagiamana jika kehidupan seorang mafia yang terkenal akan ganas, angkuh atau Monster ternyata memiliki kisah yang sungguh menyedihkan?

Bagaimana seorang wanita yang hanyalah penulis buku anak-anak bisa merubah total kehidupan gelap dari seorang mafia yang mendapat julukan Monster? Bagai kegelapan bertemu dengan cahaya terang, begitulah kisah Maxi Ed Tommaso dan Nadine Chysara yang di pertemukan tanpa kesengajaan.

~~~~~~~~~~~
✨MOHON DUKUNGANNYA ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

O200DMM – BAB 10

PRIA MENJIJIKKAN

Nadine menatap dirinya lewat pantulan kaca. Betapa lusuh dan berantakannya, Nadine membasuh wajahnya, menghilangkan jejak merah di tangan serta leher dan pipi, lalu mengganti pakaian yang sudah pelayan siapkan.

“Ayo Nadine, kamu bukan wanita lemah.” Menepuk kedua pipinya sambil mengangguk yakin.

Gadis itu mulai menggelung rambutnya, lalu membasahi lehernya sekali lagi hingga kesegaran menyentuh kulitnya yang gerah. Karena terlalu menikmati kesegaran di kulit lehernya, tanpa sadar sosok pria tengah berdiri menikmati pemandangan yang cukup indah.

Maxi memperhatikan keseluruhannya, senyuman kecil, leher basah nan jenjang, dia sangat cantik bagai bidadari hingga gadis itu mulai kaget melihat keberadaannya dan mulai marah-marah lagi.

“Dasar tidak sopan.”

Maxi kembali ke mode tegasnya, ketika dia harus berhadapan dengan wanita biasa seperti Nadine saat ini.

“Kamu tidak menutup pintu dengan benar.” Ucapnya santai tanpa dosa.

Nadine mengepalkan tangannya, menatap penuh emosi. “Kamu tahu ada wanita di sini, kenapa kamu sengaja masuk dan tidak sopan memperhatikan dengan mata telanjang mu.” Tegur Nadine seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

Kini dia hanya mengenakan kaos coklat putih bergaris, lengan panjang dengan celana jins hitam. Untung saja pakaian yang ia kenakan sedikit longgar sehingga lekuk tubuhnya tak sepenuhnya menonjol.

Tidak ada yang salah dengan teguran Nadine. Toh Maxi mengakui bahwa dia juga menikmatinya, namun pria itu memilih diam dan mengelaknya ke pembicaraan lain.

“Kita tidak punya banyak waktu.” Ucapnya langsung berjalan pergi.

Nadine memutar malas bola matanya, lalu ikut bergerak di belakangnya dengan malas.

.

.

.

Sebuah pesawat jet pribadi sudah siap menunggu pemiliknya tiba. Beberapa penjaga juga ada di sana dengan sebuah pistol panjang di tangannya serta kacamata hitam.

Nadine terkesima melihat besarnya pesawat tersebut apalagi itu milik pribadi. Wah!

“Semuanya sudah siap Tuan.” Ucap satu penjaga pesawat kepada Maxi yang baru saja melepaskan kacamatanya dan mengangguk sebagai jawaban.

Setelah mereka masuk. pesawat mulai terbang, Nadine memilih duduk berjauhan di kursi lain dan enggan berdekatan dengan pria yang saat itu terus menatapnya. Ingin rasanya Nadine mencolok kedua mata indah itu.

“Zero!” Panggil Maxi. Zero yang sudah paham mengerti maksud keinginan bos nya, hanya membalas dengan anggukan. Nadine menatap kedua pria tadi dengan penuh kecurigaan.

Tak berselang lama, seorang wanita cantik rambut ungu pendek dengan pakaian minim hingga lekuk tubuhnya yang sangat seksi itu terlihat jelas. Wanita itu berjalan lenggak-lenggok ke arah Maxi, dan Nadine langsung menatapnya dengan muak dan jijik ketika tangan lentiknya mulai mengelus lembut pipi Maxi hingga turun ke dada dan Juniornya.

Tatapan Nadine menjadi penuh kecurigaan saat mereka saling beradu pandang sampai wanita seksi tadi mulai membuka pembicaraan. “Adesso signore? (sekarang tuan)?” dalam bahasa latin yang mana Nadine tidak mengerti artinya. Namun gadis itu cukup faham apa yang akan dua orang menjijikan itu lakukan.

Wanita cantik nan seksi tadi mulai berjongkok dan memulai pekerjaannya. Nadine merona serta malu ketika dia tahu apa yang terjadi.

Maxi hanya tersenyum menatap ke arah Nadine dengan wajah garang bercampur kenikmatan. “Benar-benar menjijikan.” Gumam Nadine berpaling dan berpindah ke kursi belakang sambil menatap ke luar jendela, seakan dia tidak mau melihat dan mengetahui kejadian gila di pesawat.

Tangan Maxi mulai menjambak kuat rambut wanita seksi tadi, lalu menahannya dan mendorongnya kedepan untuk pelepasan mayonaise miliknya.

Sebuah penghargaan jika wanita tersebut bisa menyentuh ataupun menikmati salah satu tubuh Maxi, bajak untuk menyentuh kulitnya pun adalah sebuah berkah. Karena dia cukup mahal.

“Pergilah.” Ucapnya ketika dia sudah lebih relaks. Ia kembali menatap wanitanya yang sedang sibuk melihat jendela. Padahal dia tahu Nadine sangat risih dengan suara erangan tadi.

Bagi Nadine itu pertama kalinya dia mengetahui secara live. Namun untuk Maxi itu sudah sering terjadi jika dia melakukan perjalanan bisnis ataupun setelah membunuh seseorang.

“Bagaimana pertunjukan tadi?” Nadine tersentak kaget ketika pria menjijikkan tadi pindah duduk di sampingnya.

“Jangan mendekatiku, dasar menjijikan.” Ketus Nadine terus mengusap lehernya yang serasa panas dan sesak karena rasa gelisah.

“Aku harus banyak pemanasan sebelum aku menikmati mu!” mata Nadine membelalak kaget. Maxi menoleh ke arahnya sambil menyadarkan kepalanya dan tersenyum penuh godaan.

“Bersiaplah.” Ancamnya lalu pergi.

Gosokan di leher Nadine semakin memanas ketika perasaan gelisah yang bertambah ia rasakan.

...***...

New York City — Mansion ErEd

Mobil berhenti. Sebentar lagi mungkin subuh akan datang. Rasa kantuk Nadine hilang ketika dia mulai melihat sekelilingnya, halaman yang sanga luas bak lapangan sepak bola. Dua rumah mewah berdiri sama megahnya, yang sebelah kiri terlihat bercahaya Karena memang ada orangnya di dalam sana. Sedangkan rumah yang satunya terlihat redup dan tidak banyak cahaya.

Nadine bingung melihat dua rumah yang sama besarnya. kenapa ada dua? Halaman ini cukup luas untuk satu rumah besar dengan satu keluarga besar di dalamnya dan kehangatan bersama.

“Rumahku bagus kan?!” Nadine kaget ketika Maxi mengatakannya tepat di telinganya hingga nafas panasnya berasa di cuping Nadine.

“Tidak juga.” Balasnya bohong.

Tak lama pria tua berambut putih namun masih terlihat gagah dengan setelan jas cokelat berjalan mendekati Maxi serta memberikan sapaan. Dia adalah Ericsson Scott (57th), sosok paman yang selalu mengingatkan kepada Maxi bahwa dia adalah seorang mafia, pembunuh dan monster. Begitulah yang dia ajarkan kepada Maxi sejak umur 9 tahun hingga kini menjadi pria matang.

Nadine masih diam memerhatikan kedua pria berbeda usia itu saling berbincang.

“Aku pikir kamu tidak pulang.” Ucap pria tua berkumis putih yang sama seperti rambutnya.

Nadine dapat melihat bahwa Maxi seperti tidak begitu suka dengan pamannya, apalagi melakukan perbincangan. Saat Ericsson asik berbicara sorot matanya mulai menemukan keberadaan Nadine yang ada di samping Maxi sedikit ke belakang.

“Siapa dia?” tanya Ericsson karena baru pertama kali Maxi kembali membawa seorang wanita setelah wanita itu.

Sejenak Maxi menoleh ke samping. Nadine masih diam terpaku seperti bingung harus berkata apa ketika sorot Ericsson begitu marah seperti tidak menyukai kehadirannya.

“Bukan siapa-siapa. Dia tidak ada ikut campur dengan kita.” Peringatan dari Maxi.

Ericsson cukup curiga akan kehadiran Nadine di sana, dan Nadine sendiri cukup bingung dengan kebohongan Maxi barusan. kenapa pria itu mengatakan hal yang berbeda kepada pamannya?

Ericsson mengangguk berulang kali, meski wajahnya masih tak percaya namun dia juga tidak ingin membuat monster di diri Maxi berkobar.

“Dia ada di ruangan rumahmu. Cepat selesaikan sebelum semuanya terlambat.” Pinta Ericsson.

Kedua alis Nadine berkerut penasaran dengan apa yang mereka katakan? Siapa yang mereka maksud? Dan mau apa? Apakah mereka akan membunuh orang lagi? Crazy!

...°°°...

Hai guyysss. Saya kembali dan saya akan beritahu jangan lupa tinggalkan jejak kalian agar saya semakin bersemangat menulis next bab(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)

1
Hamimah Jamal
dah brp bln Maxi puasa
Four.: berbulan-bulan.... 😁
total 1 replies
Hamimah Jamal
siapa lagi yg ngeganggu
Four.: siapa hayooo??
total 1 replies
Hamimah Jamal
jangan terlalu abai pada Nadin Maxi
Hamimah Jamal
bagaimana perasaan Maxi saat ini dan kecewanya ke nadin
Four.: sangat kecewa
total 1 replies
Hamimah Jamal
masih sempet"nya nyaplok bibir Nadin maxi
Four.: selagi masih bisa dan sanggup 😅
total 1 replies
Hamimah Jamal
ngbayanginnya saja aku dah syock
Four.: awas jantungan 😁
total 1 replies
Hamimah Jamal
muuuaaayak othor Iki Yo tiwas aku Brebes Mili 🥺😯 Gusti lindungi jantung hamba 😂
Four.: hahaha.... iya, awas jantungan banyak jebakan Batman 😅😁
total 1 replies
Hamimah Jamal
itu tirich kah
Hamimah Jamal
tdk mungkin kan Nadin kamu sekejam itu
Four.: tidaklah
total 1 replies
Hamimah Jamal
Nadin🥺🥺
Hamimah Jamal
kok ina gitu sih asal ngutuk Maxi sembarangan
Four.: dia kebawak emosi lohhh /Grimace/
total 1 replies
Hamimah Jamal
astagah tirich kau keji sekali
Four.: sangat kejiii
total 1 replies
Hamimah Jamal
masih kecebong ya maxi
Hamimah Jamal
erricson ada udang dibalik rempeyek
Four.: batu atuhh /Facepalm/
total 1 replies
Hamimah Jamal
keknya akar dari semua tragedi dan masalah dari erricson dan aku ikut bahagia atas kehamilan Nadin tdk sia" Maxi menggempurkan rudalnya secara bertubi"tdk kenal lelah dan waktu👍🔥
Four.: bisa aja
total 1 replies
Hamimah Jamal
musnahkan akarnya Maxi sblm terjadi sesuatu pada benihmu
Four.: betul tuh
total 1 replies
Hamimah Jamal
Nadin hamilkah
Four.: yupppp!!
total 1 replies
Hamimah Jamal
adegan ranjang yg bikin berdebar🤭
Four.: membara 🔥
total 1 replies
Hamimah Jamal
ternyata kau tirich dalang dibalik pusing kepalaku😄
Hamimah Jamal
benarkah tirich masih hidup
Four.: mungkin aja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!