Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telat.
Rumah minimalis dua lantai milik Erica nampak lebih hangat dari biasanya. Kehadiran Zhafran sangat-sangat menghangatkan rumahnya. Terlepas dari Mona yang selalu membuat rumah ini memanas.
Kegiatan Erica hari ini menemani Zhafran berenang. Bocah itu sangat menyukai bermain air. Keberadaan kolam di rumah Erica membuat Zhafran betah disana. Tawa Zhafran yang begitu lepas dan ceria memecah keheningan diantara dua perempuan yang bersitegang. Mona yang duduk di kursi santai pinggir kolam hanya mengamati dari jauh Erica mengajari Zhafran berenang.
"Ri, Ada tamu." Mona berdiri di ujung kolam.
"Dari siapa mbak?"
"Ibu."
"Ibu?" Gumamnya pelan. "Mbak gantiin saya temani Zhafran ya."
Erica segera keluar dari kolam. Mendengar ibunya datang membuatnya bertanya-tanya. Tidak biasanya ibu bersedia datang ke rumahnya. Kalau ada penting atau ingin bertemu pun biasanya Ibu memintanya untuk datang ke rumah Ibu.
"Ibu?" Dengan tubuh basah dibalut handuk kimono, Erica menghampiri ibunya yang sudah duduk di ruang tamu. "Apa kabar bu?" Ia mencium tangan Ibu dengan takzim.
"Habis ngapain kamu basah begini?"
"Renang Bu, sama Zhafran."
"Anak tirimu itu?"
Erica mengangguk pelan, "Iya, Bu."
"Ganti pakaianmu dulu, nanti sakit."
Erica undur diri, pergi ke kamar untuk mandi dan mengganti pakaian. Setelah selesai, ia kembali menemui ibunya. Segelas teh hangat dan pisang goreng hangat kesukaan ibunya ia sajikan diatas piring.
"Ayah apa kabar, Bu?"
"Sehat." Ibu meminum teh hangat rendah gula buatan anak semata wayangnya itu. Diletakkannya gelas itu dengan lembut. Bahkan lebih lembut dari cara bicaranya kepada Erica. "Siapa perempuan itu?" ia mengedikkan dagu ke Mona yang baru beranjak dari kolam renang.
"Ibunya Zhafran, Bu."
"Ngapain dia disini?" Mata Ibu melotot. Suaranya meninggi. Terlihat ketidaksukaan Ibu atas kehadiran Mona di rumah Erica. Lagi pula, siapa yang akan suka melihat mantan istri bermain di rumah mantan suami yang sudah beristri?
Erica tak menyahut, ia menundukkan kepala menghindari tatapan Ibu penuh intimidasi. Sulit untuk menjelaskan keberadaan Mona yang tentu akan menambah murka ibu.
Cukup lama keduanya terdiam. Hingga tak lama kemudian Zhafran menginterupsi. Dengan pakaian rapi bersiap untuk pergi. Matanya berbinar melihat kehadiran Ibu, dengan cepat bocah itu melompat ke pangkuan perempuan yang dipanggilnya Oma.
"Cucu Oma mau kemana sudah rapi dan wangi begini?" tanya Ibu dengan senyum yang mengembang. Sorot matanya teduh menatap Zhafran. Tangannya tergerak mengelus kepala Zhafran dengan lembut.
"Zhaflan mau ke klinik, Oma mau ikut?" Zhafran melingkarkan tangannya di leher Ibu. Satu kecupan mendarat di pipi sebelah kiri, satu lagi menyusul di pipi sebelah kanan, lalu ditutup dengan kecupan di kening. "Zhaflan kangen Oma."
Mata Ibu Ani berkaca-kaca, tangannya segera tergerak untuk menyeka matanya agar air mata tidak terjun membasahi pipi. Zhafran selalu meluluhkan hati Ibu. Anak itu tidak berdosa jika harus ikut menanggung kebencian atas kesalahan yang dilakukan orangtuanya.
"Oma juga kangen, sayang."
"Oma bobok disini ya? Sama Zhalfan."
"Zhafran bobok disini?"
Zhafran mengangguk cepat. "Iya, Oma. Sekarang Zhaflan bobok disini sama Bubu, Papa, sama Mama juga."
Mata teduh itu hilang berganti nyalang. Tatapannya terhunus menatap Erica yang buru-buru menundukkan pandangannya.
"Zhaflan berangkat dulu ya, Oma." Zhafran kembali menghadiahi Ibu dengan kecupan sebelum pergi bersama Mona.
"Mana suamimu?"
"Mas Adam sedang asa seminar online di ruang kerja, Bu."
"Panggil!"
Perintah ibu mutlak, harus segera dilaksanakan. Erica menurut, ia beranjak ke ruang kerja Adam. Ia berdiri di depan pintu. Dengan ragu ia menyentuh gagang pintu. Mengingat pesan Adam yang minta jangan diganggu saat sedang ada seminar.
Tak lama kemudian pintu dibuka dari dalam.
"Ngapain, Ri?" tanya Adam ketika mendapati Erica berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
"Mas, ada ibu."
Alis Adam bertautan. "Ibu?"
Erica mengangguk pelan. "Mas dipanggil sama Ibu, dibawah."
Adam mengusap wajahnya. "Mas ada salah apa ya, Ri?"
"Hush! Samperin aja dulu, yuk. Siapa tahu Ibu cuma kangen." Erica mencoba mencairkan suasana. Mereka selalu tegang setiap kali berhadapan dengan Ibu.
Langkah Adam sedikit terhenti ketika mendapati ibu mertuanya tengah duduk sembari menatap ke arah kolam renang. Dengan sekali tarikan napas, Adam menghampiri Ibu. Diciumnya tangan ibu mertuanya itu dengan takzim.
"Ibu kenapa tidak menelepon, biar saya jemput ke stasiun," ujar Adam sesaat setelah memberi salam pada Ibu.
"Ibu bisa sendiri. Bukan hobi ibu merepotkan orang lain."
"Saya kan menantu ibu, bukan orang lain."
"Ibu mendapat kabar Adam menyerang salah satu mahasiswa di kampus." Ibu mengalihkan pembicaraan, mengutarakan tujuan utamanya datang jauh-jauh dari Yogyakarta ke rumah anak dan menantunya itu. Sifat Ibu yang tidak suka berbasa-basi membuat perempuan berusia empat puluh lima tahun itu nampak tidak bersahabat.
Tatapan Ibu mulai terfokus pada dua anak manusia yang duduk bersisian dengan jemari yang saling bertaut. Seolah menguatkan satu sama lain menghadapi ledakan bom yang siap meluluhlantakkan mereka.
"Kemarin ibu menelpon Adam, dia sedang berada di rumah sakit. Siapa yang kamu temani di rumah sakit itu, Adam?" Tatapan Ibu sepenuhnya terpusat pada Adam.
"Salah satu mahasiswa saya, Bu."
Erica menoleh kearah suaminya. Meminta penjelasan. Ia tidak tahu jika adam pergi ke rumah sakit.
"Saya mengantar Syafiq berobat."
"Kenapa dia?" tanya Ibu dengan tatapan yang masih tak bersahabat sejak Adam mengutarakan niatnya untuk memperistri anak semata wayangnya itu.
Adam menarik napas panjang lalu dihembuskannya pelan. "Saya terlibat perkelahian dengannya."
"Memalukan!" Ibu mendengus kesal. Jawaban Adam semakin membuat Ibu tak bersahabat.
"Lalu sekarang, ibu mendapati mantan istrimu tinggal disini. Ada apa ini sebenarnya?"
"Rumah mantan istri saya kebakaran. Jadi saya menampung dia karena saya ingin melindungi Zhafran." Adam mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sudah berapa lama?"
"Sekitar satu minggu."
"Kamu tahu, selama satu minggu itu kamu menyakiti anak saya?"
Adam terdiam. Sudut matanya melirik Erica yang memalingkan wajah. Mencoba menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mana janjimu yang katanya akan membahagiakan anak gadis saya?"
"Bu.." Erica berkata lirih, mencoba meredam amarah ibunya.
"Diam kamu!" Bentakan Ibu membuat Erica beringsut, mundur, lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Adam. Berlindung dibelakang tubuh suaminya.
"Mau sampai kapan kamu disakiti seperti ini? Mau seperti ibu? Mengalah sampai tua dan semuanya habis tak tersisa?" Ibu bersungut-sungut. Napasnya tak teratur menatap nyalang anak dan menantunya silih berganti.
***
"Ri, Mas menyakitimu ya?"
Erica tidak menyahut. Jemarinya sibuk memainkan rambut Adam yang tengah tiduran di atas pahanya. Sesekali ia membelai lembut kepala suaminya itu.
Tangan Adam tergerak meraih tangan Erica. "Apa Mas sangat menyakitimu sampai kamu tidak mau menjawab pertanyaan Mas?" Matanya menelisik wajah Erica.
"Ada uban di kepalamu, Mas." Erica mengalihkan pembicaraan. Matanya menyapu setiap helai rambut Adam yang sudah terdapat satu dua helai rambut yang memutih.
"Mas sudah tua, Ri."
"Memang," sahut Erica dengan senyum jahil dibibirnya.
"Kita menua bersama ya, Ri?"
"Waktu Mas muda nggak pengin ditemani, giliran Mas tua mau bareng-bareng. Licik." Telunjuk dan jempol tangan kiri Erica bergerak ke hidung Adam, mencubitnya habis sampai ke tulang hidung.
"Kan waktu Mas muda kamu masih orok, masih bocah. Mana tertarik mas sama bocah ingusan. Lagi pula mana boleh Mas jatuh cinta sama bocah, ntar dikira pedofil."
"Sekarepmu bae lah, Mas."
"Kamu beneran marah ya, Ri?" Adam menatap lekat wajah Erica dari bawah. Tidak biasanya Erica berbicara seperti itu. Seperti ada nada kesal dalam suaranya.
"Wajar kan Mas kalau aku marah?" Erica membalas tatapan Adam.
Adam terdiam. Kepalanya mengangguk pelan melihat bibir Erica merekah. Senyum lembut yang mampu meluluhkan hatinya sejak pertama kali bertemu di sebuah kegiatan kampus. Kini, dibalik senyum itu Erica menyembunyikan rasa sakit karena ulahnya.
"Mas.." panggil Erica.
"Hmm?"
"Mas nggak mau punya anak dari aku?"
"Mau lah, sayang." Adam tersenyum, membayangkan kehadiran anak hasil buah cintanya dengan Erica. "Tapi nggak sekarang."
Senyum Erica luntur. "Kenapa?"
"Kamu masih kecil, sayang. Kuliahmu jauh lebih penting. Zhafran juga masih kecil."
"Aku sudah dua puluh tahun, Mas.."
"Belum, beberapa bulan lagi," pungkas Adam.
"Mau nunggu aku umur berapa? Yang ada Mas makin tua."
"Laki-laki walaupun sudah tua tetap bisa membuahi, Ri. Tunggu satu sampai dua tahun lagi, Ri. Supaya tubuh kamu sudah siap benar."
Erica menghela napas sebelum berkata lirih. "Mas.."
"Apa sayangku?"
"Aku telat dua bulan."
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂