Lintang Pertiwi hanya bisa diam, menyaksikan suaminya menikah kembali dengan cinta pertamanya. Ia gadis lugu, yang hanya berperan sebagai istri pajangan di mata masyarakat. Suaminya Dewa Hanggara adalah laki-laki penuh misteri, yang datang bila ia butuh sesuatu, dan pergi ketika telah berhasil mendapatkan keuntungan. Mereka menikah karena wasiat dari nyonya Rahayu Hanggara, ibunda Dewa juga merupakan ibu angkatnya. Karena bila Dewa menolak semua harta warisan,akan jatuh pada Lintang. Untuk memuluskan rencananya, Dewa terpaksa mau menerima perjodohan itu dan meninggalkan Haruna Wijaya kekasihnya yang sudah di pacari selama dua tahun.
Akankah Lintang bisa meluluhkan hati Dewa? Atau suaminya akan lebih memilih Haruna. Dan jangan lupa,ada seorang secret admire yang selalu ada bila Lintang bersedih.
Yuk! Pantengin terus kelanjutan dari cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yaya_tiiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Puas rasanya ngerjain Haruna,dia selalu saja ingin tau kegiatan ku" ungkap Lintang sambil melap tangannya dengan tisu basah.
"Tapi kue nya jadi berantakan gini, sayang banget padahal tadi kelihatan cantik sekali" keluh Rosa, sambil memandangi tart yang sudah belepotan creamnya.
"Biar aku ganti, dengan yang baru gimana?" tanya Zian menawarkan solusi.
"Enggak usah. Aku berterimakasih pada kalian, yang sudah mengingat tentang hari kelahiran ku."
"Lucu juga ya, kalo liat mukanya Haruna yang pergi dengan wajah semrawut"ujar Zian tersenyum samar, dengan bertopang dagu. "Apalagi banyak pengunjung, ikut-ikutan mencemooh dirinya."
"Iya ya, Tante jadi kasian liat dia yang di bully juga sama pengunjung. Tapi salah sendiri, ngelabrak orang di tempat umum" ucap Rosa ikut prihatin, dengan kejadian yang menimpa Haruna.
"Oo ya, Lintang hari ini Om masih harus ke kantor. Ada klien yang ingin bertemu. Dan mengenai sertifikat butik, itu bisa kamu tanyakan pada Rosa" Ahmad menginterupsi percakapan mereka, lalu melihat sekilas jam di pergelangan tangannya. Ia bangkit dari duduknya, kemudian mengajak bersalaman Lintang.
"Kalo gitu, aku juga ikut pamit." Zian buru-buru berdiri dari kursi. "Sekali lagi, happy birthday Lintang" sambungnya sambil menyalaminya.
"Makasih, udah ada buat aku. Kalian, selalu menjadi tameng di saat aku butuh" Lintang membalas genggaman tangan mereka, satu-persatu.
Setelah dua pria itu hilang dari pandangan, Lintang kembali mengarahkan tatapan matanya pada Tante Rosa.
"Tante, kenal dengan dokter Zian di mana?" tanya Lintang penasaran. "Kalian datang berbarengan, pastinya udah lama kenal."
Sebelum menjawab, Tante Rosa mencicipi kentang goreng pesanannya. "Hm, rasanya renyah dan garing..."
"Tan, please deh. Enggak mungkin Tante baru kenal Zian, kalo liat interaksi kalian" Lintang mengguncang-gunjang tangan Tante Rosa.
"Sabar dong, kalo nanya satu-satu" ucap Rosa pelan. "Sebenarnya, Zian itu keponakan Tante. Kita bikin kejutan juga atas inisiatif dia. Zian nanyain tanggal lahir kamu lalu menghubungi Ahmad juga Tante. So sweet, dia kan?!"
"Banget, Tan!"
"Kamu gak risih apa, satu atap dengan Haruna?"
"Ya, gimana lagi? Kak Dewa kelihatannya enjoy aja, melihat kita berantem terus di rumah."
"Dasar laki-laki gak punya pendirian, udah tau Haruna itu biang kerok masih terus di bela."
"Maksud Tante apa?"
"Haruna itu yang bikin usaha Dewa stuck di tempat, gak ada kemajuan. Sebentar-sebentar pengen liburan, dan harus selalu ada saat dia sedang melakukan pemotretan. Sementara pekerjaan Dewa, di handle orang kepercayaannya. Mana bisa perusahaan maju, kalo gak ada pengawasan dari pemiliknya." Tante Rosa bicara menggebu-gebu, dengan mimik yang terlihat kesal.
"Tante, tau dari siapa semua itu?"
"Tante dengar dari Ahmad, dia merasa kecewa dengan tingkah laku Dewa. Dan lebih kecewa lagi, ketika mendengar anak laki-laki Rahayu itu menikah kembali."
"Aku juga kecewa, Tan. Tetapi Lintang sadar, aku yang menjadi duri dalam hubungan ini."
"Seandainya kamu lelah, dan ingin berhenti melanjutkan pernikahan, Tante sarankan untuk menjauh, dan mengelola butik yang di wariskan orang tuamu."
"Oh ya Tan, mengenai sertifikat butik yang atas nama Lintang. Bagaimana ibu bisa menyembunyikan, sedemikian rapih sehingga hanya Tante yang tau?"
"Jadi begini ceritanya, sebelum Tante berangkat ke Ausie ibu mu menitipkan sertifikat ini. Butik itu, adalah peninggalan satu-satunya yang tersisa. Yang lainnya habis, untuk membiayai pengobatan orang tua mu yang mengalami koma."
"Kak Dewa tau, tentang butik ini?"
"Ibu mu menyembunyikan dari Dewa, karena toko itu murni milik mu."
"Kalo gitu, bisakah Tante antarkan aku ke tempat peristirahatan terakhir mereka?"
"Tentu sayang."
Lintang terpekur dengan perasaan yang mengharu biru, pipinya basah tanpa terasa. Angannya melayang lima belas tahun lalu, dimana ia di tinggalkan sendirian. Bila tidak ada nyonya Rahayu, entah nasibnya bagaimana kini.
****
Di tempat parkir cafe, Haruna duduk terdiam di dalam mobil. Ia memukul-mukul stir dengan kesal, wajahnya yang cantik berubah menjadi merah padam. Di bersihkan ke dua pipi lengketnya, dengan tisu basah. "Dasar manusia-manusia julid, selalu ikut campur urusan orang" Haruna mengomel seorang diri. Ia merasa terhina, ketika sekelompok gadis-gadis turut menghujatnya. "Mereka pikir, hanya aku saja yang bersalah di sini. Coba kalo mereka jadi aku, bagaimana sakitnya di permalukan di depan orang banyak."
Di lemparkan bekas tisu ke luar, dengan sembarangan. "Jangan buang sampah seenaknya, nona" terdengar suara nyaring, memasuki gendang telinga Haruna.
Secepat kilat gadis cantik itu, melihat kearah datangnya suara. Sosok tinggi seorang cowok, dengan jambang tipis menghiasi wajahnya. 'Tampan' bisik suara hati Haruna. Menatap wajah pendatang baru, yang kini berdiri menjulang di depan pintu kendaraan roda empatnya.
"Kenapa bengong? Terpesona dengan ketampanan ku, nona?" tanya cowok asing itu.
"Pede banget, bung!" jawab Haruna melirik acuh tak acuh.
"Ayolah Nona, mata mu tidak dapat berbohong" cowok itu, semakin senang menggoda Haruna. "Boleh kita kenalan?"
"Maaf, aku sudah bersuami."
"Sayang sekali. Untuk wanita secantik nona Haruna, hanya di jadikan istri siri sungguh mengenaskan..."
"Kamu mengenal ku?"
"Tentu, model dewasa dengan sejuta sensasi. Aku Frans, penggemar setia mu."
"Bulshit! Jangan ngaku-ngaku, ya" sentak Haruna kasar. Segera ia menstater mobil kesayangannya, malas berurusan dengan manusia gak jelas, lalu keluar dari tempat parkir. Sementara dari kaca spion, Haruna melihat bagaimana cowok asing itu, tertawa sambil melambaikan tangannya.
"Sinting!" teriaknya keras.
****
yg ad hidupx sendirian nnt x