Alika adalah seorang anak perempuan yg sangat tangguh dan kuat.. Alika seorang anak hasil perkosaan dari sepupuan satu keluarga.. Ibunda alika adalah seorang wanita cantik bunga desa yang disukai oleh banyak pria.. Hanya saja nasib malang menimpanya saat malam disaat semuanya sedang pergi ke acara undangan pernikahan dirumah hanya tinggal seorang wanita dan pria berdua saja.. Ibunda alika bernama Ema Sodara sepupu Ema bernama Zhali Zhali sangat menyukai ema dari dulu.. Karena meraka hanya berdua saja dirumah zhali punya fikiran ingin memiliki ema.. Akhirnya malam yang cekam itupun membuat zhali khilaf telah memperkosa ema.. Setelah beberapa bulan perut ema semakin membesar tanpa dirinya sadari karna ema wanita yang sangat polos dan lugu hingga dia tidak tau dirinya sedang berbadan dua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERPISAHAN YUDI DAN ALIKA
Yudi mengetuk pintu kamar dengan nada kesal.
“Alikaa! Apa kamu sudah siap? Jangan lama-lama! Kita harus sampai rumah bos kamu jam delapan. Ini sudah jam tujuh!”
Dari dalam kamar terdengar suara Alika yang sama kesalnya.
“Iyaaa, sebentar!”
“Buruan, Alika! Taksi online sudah datang. Lama sekali! Apa saja yang kamu lakukan di dalam?”
“Duuuh, berisik sekali sih kamu! Sabar dong! Aku lagi beresin baju di koper! Kalau mau bantu, bantu aja—jangan berisik! Ayo buruan, nih bawa koperku!”
Kesal, Yudi menjitak kepala Alika pelan. Saat Alika hendak melangkah keluar, Yudi menarik tangannya.
“Alika!”
“Apa lagi?!”
Alika baru saja membalikkan badan ketika Yudi langsung mencium bibirnya—rakus, dalam, tanpa komando. Alika terkejut, namun tidak menolaknya. Tubuhnya justru merespons; pelukannya mengerat, napasnya pecah, dan untuk sesaat mereka larut dalam hasrat masing-masing.
Saat Yudi melepas ciuman itu, keduanya sama-sama berat berpisah.
Yudi menatapnya lama sebelum akhirnya bertanya dengan suara bergetar.
“Alika… aku mencintaimu. Mau kah kamu jadi kekasihku?”
Alika mengernyit.
“Yakin dengan ucapanmu itu?”
“Ya. Aku sangat yakin.”
“Tapi kamu akan pergi ke laut. Gimana hubungan kita? Gimana komunikasi kita? Kalau aku pindah kerja, kamu mencariku ke mana?”
“Usahakan kamu tetap di rumah bos kamu sampai aku pulang dari laut. Paham?”
“Baiklah… eh, sampai kapan kita di sini? Katanya harus sampai jam delapan?”
“Jawab dulu pertanyaanku, Alika!”
“Pertanyaan yang mana?”
Yudi mendesis. “Ya ampun ini anak… masih muda tapi udah pikun. Mau atau nggak jadi kekasihku?”
“Mmm… aku harus jawab apa ya?”
“Jawab aja mau atau tidak!”
“Ya mau!” Alika langsung melangkah pergi.
“Cuma begitu aja? Nggak ada ucapan yang lain?”
“Duhh, berisik banget sih dari tadi! Ayo buruan bawa koperku!”
“Alikaa! Tunggu!”
Alika tak peduli. Ia masuk ke dalam mobil sementara Yudi kerepotan menggotong koper besar itu. Setelah berpamitan dengan ibu kos, mereka pun berangkat. Perlahan, air mata Alika menetes tanpa ia sadari. Berat sekali rasanya harus berpisah.
Saat mobil berhenti mendadak, Alika panik.
“Kenapa berhenti?”
Namun Yudi justru turun dan berjalan cepat menuju sebuah toko handphone besar.
“Yudii! Tunggu! Aku mau ikut!”
Alika mengejar dengan langkah kecil. Yudi tetap terburu-buru.
“Silakan, ada yang bisa dibantu?” sapa pelayan toko.
“Mbak, saya mau beli handphone. Yang standar saja,” kata Yudi.
Pelayan menunjukkan tiga pilihan. Yudi menoleh.
“Alika, kamu suka yang mana?”
“Aku? Memangnya kamu beli buat siapa?”
“Alikaaa… kalau aku tanya, kamu jangan balas dengan pertanyaan lagi! Pilih aja!”
“Huh, biasa aja dong! Aku suka yang ini. Elegan.”
Yudi mengangguk. “Yang ini ya, Mbak. Sekalian dua kartu perdana, aktifkan, isi pulsa, paket internet, sama memorinya.”
Tak lama, semuanya selesai. Dalam perjalanan kembali, Yudi menyerahkan kotak itu pada Alika.
“Ini. Nomermu sudah kubuat. Nomorku sudah kusimpan juga. Kalau ada apa-apa hubungi aku lewat aplikasi ini. Kalau kuota habis, langsung ke konter pulsa, paham?”
Alika mengangguk. “Iya… aku paham.”
Lalu tanpa sadar, ia mengecup pipi Yudi.
“Cuup!”
Yudi terdiam, Alika langsung menutup wajahnya karena malu. Yudi tertawa kecil, menarik Alika ke pelukannya.
Sampai di gerbang rumah megah itu, mereka turun. Satpam menghampiri.
“Permisi, pak. Apa bosnya ada di rumah?” tanya Yudi.
Setelah dipersilakan masuk, mereka berjalan melewati halaman luas. Alika sibuk menoleh ke sana kemari, membuat Yudi gemas.
“BRUUK!”
“Aduuuh!”
Yudi menonyor kepalanya.
“Kalo jalan liat ke depan! Jangan kayak baling-baling Doraemon! Jaga sikap!”
“Iyaa, sakit tau!”
Mereka berhenti di depan pintu megah. Bel ditekan.
Setelah beberapa omelan dari ART bernama Inem, mereka akhirnya masuk dan diantar ke ruang keluarga. Bukan sambutan hangat yang mereka terima, melainkan tatapan tajam seorang pria berwibawa.
CEO Ibrahim.
“Dari mana saja kalian? Kenapa sampai jam segini baru datang?!” bentaknya.
Alika hendak bicara namun Yudi menggenggam tangannya, menahan.
Setelah Yudi menjelaskan, Ibrahim hanya mendengus.
“Jangan panggil aku ‘bapak’. Panggil Tuan Ibrahim. Mengerti?”
“Iya, Tuan Ibrahim…”
Tiba-tiba Alika nyeletuk, polos.
“Kami belum makan. Dan aku lapar sekali. Ada makanan, Tuan Ibrahim yang tampan?”
Yudi menutup wajah, malu.
Namun Ibrahim justru tersenyum kecil—sesuatu yang jarang sekali muncul.
“Kalau begitu, ayo makan.”
Di meja makan, Alika langsung duduk sembarangan dan mengangkat satu kakinya.
“Waaah enak banget ini… boleh aku habiskan semua?”
“Silakan,” jawab Ibrahim sambil menahan tawa.
“Alikaa! Turunkan kaki kamu!” hardik Yudi.
Alika cemberut dan mengikuti.
Setelah makan, Yudi pun pamit pergi ke pelabuhan untuk berlayar tiga bulan.
“Aku titip Alika, Tuan,” katanya. “Dia polos, manja, tapi anak baik. Tolong jangan dimarahi.”
“Aku akan menjaganya,” jawab Ibrahim. “Saat kamu kembali, dia sudah jadi wanita yang lembut seperti impianmu.”
Alika di lantai dua tidak tahu Yudi akan pergi. Saat ia keluar kamar dan tak melihat siapa pun, ia panik. Begitu melihat Yudi sudah di ujung gerbang, ia berlari.
“Yudi!!!”
Yudi menoleh. Alika langsung memeluknya erat sambil menangis.
“Kenapa pergi tanpa pamit?!”
“Aku harus berangkat sekarang, Alika…”
“Aku sayang sama kamu…” suaranya pecah.
Yudi memeluknya semakin erat, sama beratnya melepas.
“Sudah jangan nangis, nanti malu dilihat satpam dan bosmu.”
Setelah menenangkan Alika, Yudi mengusap kepalanya.
“Aku janji akan kembali. Kamu aman di sini. Dengar pesanku baik-baik. Jangan ceroboh, dan kalau berjalan lihat ke depan.”
Alika mengangguk dengan mata sembab.
“Baik… tapi kamu jangan lama-lama.”
Yudi tersenyum lembut.
“Iyaa… jaga diri ya.”
Lalu ia mencium kening Alika. “Cuup.”
Mereka berpisah. Yudi naik ojek dan berlambaian sampai sosoknya hilang di balik gelap malam.
Alika tetap berdiri di depan gerbang… menatap kosong arah kepergian Yudi, berharap waktu cepat berlalu agar mereka bisa bertemu lagi.
---
BERSAMBUNG…
YUDI
ALIKA
CEO IBRAHIM