Seorang gadis desa yang di jerumuskan oleh ayah tirinya sampai harus bekerja di rumah bordill. Camelia, 16 tahun benar-benar merasa muak bekerja di rumah bordill itu, dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pada gadis muda yang bekerja di sana karena paksaan seperti dirinya. Camelia ingin merubah aturan kehidupan di desa Muara itu. Dia tidak ingin lagi melihat ada wanita yang nasibnya sama dengannya. Dia ingin menutup semua rumah bordill di desa itu, bahkan di desa-desa yang lain. Meski tidak mudah, tapi Camelia tidak akan pernah menyerah sampai nafas terakhirnya untuk mengangkat derajat kaum wanita di desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Laila terlihat sangat terkejut, Arini jatuh dan entah darimana, terlihat genangan darahh di bawah kepala Arini yang terjatuh ke tanah dengan pakai tengkurap itu.
Camelia juga melihatnya, genangan berwarna merah kentall itu, dia menjatuhkan sekop yang dia gunakan untuk memukul Arini. Dan tangannya terlihat gemetaran. Camelia terduduk lemas di tumpukan jerami dengan mata berair dan wajah pucat.
Camelia lantas melihat ke ke dua telapak tangan yang dia angkat sebatas wajahnya.
"Aku membunuhnya... aku menjadi pembunuhh... aku seorang pembunuhh..."
Laila yang terkejut, semakin panik melihat reaksi Camelia. Ini benar-benar mengagetkan mereka berdua, Camelia juga tidak menyangka kalau dia akan menghabisi Arini. Dia tadi hanya berniat menghentikannya menemui dan mengadu pada Gandara.
Tak di sangka karena pukulannya itu, membuat Arini langsung tak bergerak bahkan tak bernafas.
Laila bangun dan mendekati Camelia.
"Camelia, Camelia dengar.. jangan panik, ini sudah hampir lagi. Semua orang akan bangun, Erma akan Berkeliling membuka pintu kamar para kembang yang mendapatkan tamu tadi malam. Dengar... kita harus singkirkan mayat Arini" kata Laila yang tentu saja tidak mau ada masalah lagi untuk mereka.
"Menyingkirkan mayat Arini?" tanya Camelia.
Laila mengangguk, dia menyeka air mata Camelia dan menarik tangannya.
"Kamu lanjutkan mengubur uangnya, aku akan panggil Iwan, dia masih di kamar Hani, cepatlah Camelia" kata Laila yang langsung berlari dari ruang bawah tanah itu.
Camelia masih melihat mayat Arini, air matanya masih terus mengalir. Dia ingin menggunakan tangannya itu untuk menyelamatkan orang, bukan menghabisi orang. Tapi kenyataan di depan matanya, dia sudah menghabisi Arini.
Wanita tua yang sudah tergeletak di depannya itu, yang sudah tidak lagi bernyawa itu memang bukan orang baik. Tapi Camelia benar-benar merasa sangat menyesal sudah menghabisinya. Dia sama sekali tidak berniat untuk melakukan itu tadinya.
Tapi semakin Camelia menangis, dia merasa dia sudah banyak membuang waktu. Camelia pun menghampiri mayat Arini dan bicara di dekat mayat Arini itu.
"Arini, maafkan aku. Aku sungguh tidak berniat menghabisi mu, aku minta maaf. Aku tahu kamu di kampung punya seorang adik. Aku akan mengirimkan uang untuknya setiap tiga bulan sekali. Sekali lagi maafkan aku" kata Camelia yang kemudian memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam.
Dia harus melupakan hal ini, dia tidak boleh lemah. Masih banyak lagi rintangan dan entah apa lagi yang akan ada di depannya nanti. Darah dan air mata akan menjadi hal yang sering dia temui kedepannya. Karena dia juga berhadapan dengan orang yang tak segan menghabisi nyawa orang bahkan dengan cara yang mengerikan dan sangat menyakitkan.
Camelia berbalik dan kembali menguburkan hartanya. Setelah selesai menutupinya dengan jerami. Camelia menyimpan sekop yang dia gunakan untuk menggali lubang dan memukul Arini tadi di tempat yang aman.
Terdengar suara langkah kaki yang banyak, rupanya Laila datang bersama Hani dan Iwan.
"Hah, Arini kenapa?" tanya Hani.
"Jangan banyak bertanya. Iwan, singkirkan mayat Arini, bisa kan?" tanya Laila.
"Baiklah, aku akan lemparkan dia di jurang yang biasa di gunakan tuan Cokrodima membuang mayat para pekerja yang tewas..."
"Pekerja apa?" tanya Camelia yang baru mendengar tentang hal itu.
"Camelia, nanti dulu tanyanya, sudah hampir lagi. Erma akan segera berkeliling. Ayo cepat singkirkan mayat Arini" kata Laila yang memang paling dewasa daripada Camelia dan Hani.
Iwan mengangkat tubuh Arini yang sudah di masukkan ke dalam karung goni yang besar. Sementara Camelia dan Hani mengawasi Iwan supaya keluar dengan aman dari lentera malam.
Lalu Laila membersihkan semua genangan darahh di ruang bawah tanah.
Laila pun meminta Camelia dan Hani mengambil semua barang-barang Arini dan menyembunyikannya di di ruang bawah tanah. Selain itu, Laila juga membayar seorang penduduk desa untuk mengatakan kalau dia melihat sebuah motor Astrea lewat di depan rumahnya, di motor itu ada seorang wanita yang sudah berumur dan seorang pria berjenggot lebat.
Semua sudah di rencanakan, di buat seolah Arini pergi dengan seorang pria dan melarikan diri dari lentera malam dengan membawa seluruh barang-barang berharganya.
Telat jam 5 pagi, semua selesai. Camelia masih duduk di tepi ranjangnya. Dia berusaha melupakan kejadian semalam itu, tapi tidak bisa. Tangannya masih gemetaran.
Ceklek
"Sudah jam lima... loh, mana tamu kamu Camelia?" tanya Erma.
Camelia memejamkan matanya sekilas dan menghela nafas dalam-dalam. Camelia lalu berdiri dan bersikap genit juga sombong seperti pembawaannya biasanya.
"Hais Erma, dengan uang yang murah begitu, haruskah aku bermain dengannya sampai pagi. Aku sudah mengusirnya, dia hanya boleh meremass bagian atas saja dong dengan uang segitu" kata Camelia seperti dirinya yang biasanya.
Erma tersenyum miring mendengar apa yang di katakan oleh kembang paling sombong di lentera malam itu.
"Heh, sombong sekali. Makanya lain kali jangan mainkan permainan konyol begitu! Lempar selendang permainan apa itu? buatlah permainan lempar uang, itu akan lebih menguntungkan" kata Erma yang lantas keluar dari kamar Camelia.
Camelia kembali duduk di tepi ranjang, sebenarnya dia tidak kuat berdiri lama-lama. Dia masih sangat gemetaran.
Beberapa jam kemudian, teriakan Gandara membuat semua kembang juga pengawal keluar dari tempat mereka dan berkumpul di aula lentera malam.
"Aku sudah mencarinya nyonya, dia tidak ada di manapun" kata Erma.
"Aku sudah bertanya pada semua pengawal, tidak ada yang melihat Arini, nyonya" kata Bagong, kepala pengawal Gandara.
Gandara menggenggam erat pegangan kursinya.
"Mustahil, Arini adalah orangku yang paling setia. Tidak mungkin dia pergi tanpa ijin" kata Gandara meyakini akan hal itu.
Laila menggenggam erat tangan Camelia yang terasa dingin.
"Dengar Camelia, setiap perjuangan butuh pengorbanan. Ke depannya mungkin akan lebih banyak darahh yang kamu lihat, untuk bertahan kita mungkin harus menyingkirkan seseorang. Jangan sampai gugup dan ketahuan Gandara" kata Laila.
Camelia menghela nafas panjang, dia menelan salivanya beberapa kali sebelum bisa menatap Gandara seperti biasanya.
"Nyonya, semua barang di kamar kak Arini tidak ada" kata pelayan Gandara lainnya.
Mata Gandara mulai melotot kesal. Saat datang lagi seseorang dari arah luar.
"Nyonya, ada yang melihat Arini pergi jam dua pagi dari lentera malam bersama seorang pria berjenggot" kata pengawalnya yang lain.
Gandara terlihat sangat kesal.
"Arini!" pekiknya marah.
Bagaimana tidak marah, Arini tahu banyak hal tentang lentera malam juga dimana harta Gandara berada.
"Erma, periksa ruang penyimpanan" kata Gandara yang takut uangnya di bawa lari Arini.
"Baik nyonya" kata Erma.
Dari tempatnya berdiri, Laila bicara pada Camelia.
"Lihat! semua baik-baik saja, rencana kita berhasil" kata Laila.
***
Bersambung...
semangaaat camelia aq yakin kamu pasti pemenangnya💪💪💪👍👍👍