Judul novel [My wife the farming transmigrasi]
Fu lichen saat ini hanya merasa perutnya mual, seakan mau muntah, dia melihat sekeliling merasa bahwa tempat itu sangat asing.
Tiba-tiba kepalanya sangat sakit, ingatan yang tidak dia miliki muncul secara tiba-tiba.
Pergi ke zaman kuno?
Secara tiba tiba mendapat istri dan anak?
Bagaimana kelanjutan cerita tersebut? jangan lupa like, komen, and vote😘
teer.id/onedea_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen 1003, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10(selai anggur)
Bangun pagi Fu Lichen pun langsung melanjutkan rutinitas paginya, memasak, beres-beres rumah dll. Ia pun mulai memasak tumis babi dan keluarga itu pun mulai memakan dengan nikmat.
Ia pun langsung teringat dengan anggurnya.
Kalau anggurnya dibiarkan saja selama 3 hari takutnya akan tidak segar lagi dan membusuk, jadi Fu Lichen mau membuat selai dari anggur, pembuatannya pun simpel, bahannya cuma anggur dan gula batu.
Tapi karena Fu Lichen kekurangan gula jadi ia membeli gula yang lumayan banyak dipabrik didesa tersebut, karena Fu Lichen membelinya agak banyak pemiliknya pun memberinya diskon 5% dari harga dipasaran.
Fu Lichen membawa gula itu dan langsung mengucapkan terima kasih, setelah dirumah ia langsung menuju kedapur diambilnya anggur yang lumayan banyak lalu ia mencucinya, lalu ia masukkan anggur itu ke dalam kuali yang cukup besar.
Ditambahinya sedikit air agar memudahkan memasaknya, lalu ia menambahkan gula batu secukupnya dan ditutup kuali itu.
Setelah beberapa saat, tercium lah bau yang sangat harum, hingga Su Lingyu bertanya.
"Itu apa? harum sekali, bolehkah aku memakannya?" kata Su Lingyu.
"Tunggu sebentar akan aku ambilkan"
Su Lingyu yang mendengar itu pun langsung berbinar matanya, Fu Lichen yang melihat itu pun langsung terkekeh.
"Dasar foddie"
"Ini coba apakah enak?" menyerahkan semangkuk selai ke Su Lingyu .
"Sangat enak, sangat manis" sambil mencicipi selai itu dan langsung saja matanya berbinar.
"Baguslah kalau kamu suka"
Tanpa menjawab Fu Lichen ia pun langsung memakannya, tapi karena Fu Lichen yang tidak mau Su Lingyu sakit gigi ia pun menghentikannya, Su Lingyu yang mendengar itu pun menekan ketidakpuasannya ke Fu Lichen.
Lagian kan makanan enak buat dimakan, masalah gigi? bodo amat.
"Lichen bagaimana kalau benda ini kita jual?"
"Selai namanya" Kata Fu Lichen .
"Ah ya maksudku selai, bagaimana
kalau menjualnya lagian rasanya juga sangat enak, pasti orang-orang pada suka"
"Oke.."
"Tapi... Bagaimana kita menjual ini?"
"Tinggal meminta paman Fu Zuang untuk membuat toples"
Su Lingyu yang mendengar itu pun langsung berbinar.
"Ide yang bagus"
"Pasti selai ini laku"
"Pasti" sambung Fu Lichen.
Keduanya pun tersenyum dalam diam.
"Lichen" panggil Su lingyu tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Apa kamu ...tidak mau sekolah lagi? Karena keluarga kita ..sudah lumayan punya uang, jadi bisa digunakan untuk sekolah lagi"
Fu Lichen pun merenungkan kembali, sebenarnya ia tidak ingin sekolah karena dia hanya ingin berbisnis, tapi ia teringat dengan kata orang tua pemilik asli bahwa ia harus sekolah.
Jadi, ia langsung memutuskan untuk pergi ke sekolah tapi setelah dirasa ia lulus, ia tidak akan melanjutkan sekolah tapi ia mau melanjutkan menjadi pedagang dan hanya bisa menerima uang setoran dari bawahannya.
Karena ia tidak mau, kalau ia menjadi pejabat, bukannya dia narsis ataupun apa, tapi ia mempunyai otak yang cerdas mudah mengingat sesuatu.
Jadi langsung saja ia menjawab Su Lingyu.
"Iya.. tapi aku tidak memikirkannya untuk saat ini, pasti suatu saat pasti akan ada kesempatan"
"Oke.." Su Lingyu mengangguk menyetujui Fu Lichen.
Sebenarnya dia agak egois, bagaimana kalau suaminya suatu saat sukses dan didambakan wanita lain, apabila seorang suami yang menjadi pejabat pasti akan memiliki selir, ia tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi.
Jika memang itu terjadi ia lebih memilih menjadi seorang petani daripada seorang pejabat, tapi ia tidak ingin menghentikan bakat suaminya itu.
Lagipula ia hanya seorang wanita yang di belinya, ia sudah cukup bersyukur suaminya saat ini bisa begitu baik kepadanya dan menerima putrinya.
Kalau saja ia bisa lebih pintar, lebih kaya, lebih sempurna lagi mungkin ia bisa bersanding dengan suaminya dengan nyaman, tanpa memikirkan kasta di antara mereka.
Apabila ia sekarang masih seorang budak, jadi ia hanya bisa putus asa.
.
Kenapa su lingyu berkata kalau ia masih budak? Karena saat ini aktanya masih ditangan Fu Lichen, satu-satunya cara agar ia bisa melepaskan status budaknya yaitu dengan pergi ke yamen untuk mengurus berkas-berkasnya.
Itu pun agak sulit dilakukan tapi kalau ada uang bisa lumayan mudah dan cepat.
Tapi apakah Fu Lichen mau atau tidak tergantung dia, walaupun Fu Lichen saat ini sudah baik padanya, tapi apakah ia rela mengeluarkan beberapa perak? Bukannya ia tidak percaya kepada suaminya.
Tapi karena pengalaman sendiri ia jadi ragu, ragu apakah kebaikan yang di berikan kepadanya hanyalah kepalsuan semata.
Tapi walaupun itu hanya sebuah kepalsuan ia tetap akan menerimanya asalkan bersama suaminya.
Fu lichen tidak tau kalau imajinasi istrinya sudah berada di tahap yang mencengangkan, mungkin kalau dia mendengarkan pasti langsung di bantah olehnya, tapi sayang ini hanya bisa di simpan dalam dalam.
.
Setelah percakapan itu Fu Lichen langsung kerumah Fu Zuang lagi, dan langsung permintaan diterima, karena ukurannya yang kecil jadi waktunya sebentar cuma dua setengah hari, dan Fu Lichen memesan lumayan banyak.
Dan sekarang Fu Lichen dirumah hanya bisa bersantai, karena tidak ada lagi pekerjaan yang menunggunya, rumah sudah beres, selai sudah, tong membuat anggur + toples tinggal nunggu.
Jadi ia berfikir bagaimana kalau pergi ke sungai, karena dulu Fu Lichen sangat menyukai yang namanya ikan, pasti ikan disini besar besar, apalagi dizaman ini masakan berbahan ikan sangat jarang karena tidak ada yang bisa mengolahnya.
Apalagi bau amis dari ikan membuat kebanyakan orang tidak menyukainya, kecuali orang yang benar benar miskin terpaksa harus memakannya.
Jadi, ia langsung saja pergi ke sungai, sesampainya di sungai ia pun mencari tempat yang menurutnya tidak terlalu ramai, tapi walaupun begitu masih ada orang yang mencibir kedatangan Fu Lichen.
Fu Lichen pun langsung masuk kedalam air, tapi sebelum ia masuk kedalam air ia pun menggulung celananya dan lengan bajunya, agar tidak basah.
Seketika Fu Lichen melihat ikan yang besar sekitar lengan tangannya Fu Lichen pun menangkapnya, beberapa menit kemudian ia pun menangkap 3 ikan.
Di rasa cukup ia pun pulang, diperjalanan ada orang yang menghina Fu Lichen pasalnya Fu Lichen mengambil ikan hanya bisa di makan orang miskin.
"Astaga lihat deh, ikan pun dimakan, miskin amat" cibirnya, orang itu adalah salah satu orang yang membenci Fu Lichen.
"Sudahlah ayo pergi, minggir orang miskin jangan menghalangi jalan" cerca orang itu sambil berjalan pergi.
Tapi Fu Lichen yang dihina tetap tenang, toh itu tidak ada hubungannya dengan orang itu.
Buat apa repot-repot.
Sesampainya di rumah sekali lagi Su Lingyu dikejutkan oleh suami yang membawa ikan tapi ia tetap diam sampai suaminya berjalan ke dapur, ia hanya bisa menekan rasa penasarannya untuk saat ini.
Fu Lichen mengambil satu ikan dan membersihkannya, ia berfikir ikan ini akan di masak apa, jadi ia pun memasak ikan kukus asam manis.
Ikan pun matang, lalu ia langsung mengambilnya dan langsung menyuruh Su Lingyu untuk mencobanya.
"Uh uh sangat enak, bagaimana ikan bisa seenak ini? ngga amis sama sekali"
"Tinggal kasih jahe buat menghilangkan bau amisnya"
"Yang pedas itu? benarkah?"
"Iya ... Jika kamu suka aku akan selalu membuatkannya untuk mu"
"Benarkah? Awas kalau bohong kamu udah berjanji padaku"
"Iya sayang" dengan senyum menawan.