Cahaya tidak menerangi hidup seorang wanita yang terjebak dalam gelapnya kehidupan. Mati rasa mendeskripsikan kisah hidupnya.
Cahaya Jelita Jaharah harus hidup dipenuhi masalah demi masalah. Perjodohannya dengan putra bungsu keluarga Reynold menjadi satu-satunya jalan untuk mengungkapkan kematian sang ayah.
Berhari-hari ia harus hidup bersama jenazah ayahnya yang perlahan membusuk, memberikan bau menyengat.
"Ah~ inilah bau kematian." Itulah ucapan terakhir kali saat melihat ayahnya berada di dunia.
Sang ibu yang berselingkuh dengan tetua Raynold semakin menambah beban pada kehidupan Cahaya.
Zaydan Reynold seorang direktur di perusahaan Reynold adalah pria yang menjadi suaminya.
Mereka hidup bersama tanpa ada perasaan apa-apa, sampai kebenaran terungkap.
Keberadaan Fiona Ganezha yang merupakan tunangan Zaydan pun menjadi pelengkap cerita keduanya.
Bagaimana Cahaya mengungkapkan semuanya? Bisakah mereka jatuh cinta dan menghilangkan mati rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 10
Deru mesin mobil menemani diamnya pasangan suami istri itu. Sedari keberangkatannya sejak sepuluh menit lalu, Cahaya maupun Zaydan bungkam seribu bahasa.
Mereka fokus dengan pikiran masing-masing enggan untuk mengucapkan sepatah kata. Senja menari indah di atas cakrawala memberikan lukisan Allah yang sangat memanjakan mata.
Manik karamel Cahaya menembus kaca mobil memperhatikan pemandangan di depan. Ia diam tanpa ada niatan membuka suara dan mengunci mulut rapat, sedangkan Zaydan sedari tadi curi-curi pandang pada wanita di sebelah.
Ini pertama kali ia melihat Cahaya dengan penampilan berbeda. Karena kurang lebih lima bulan bersama, istrinya selalu berpenampilan sederhana, jauh dari kesan mewah.
Bahkan di hari pernikahannya, wanita itu tidak menggunakan jasa riasan apa pun dan hanya tampil apa adanya. Ikatan yang digelar begitu sederhana hanya memberikan janji suci di hadapan Tuhan semata.
Malam ini sosok Cahaya benar-benar berbeda, Zaydan tidak bisa membayangkan jika masa lalu sang istri begitu suram. Ia memendam kekaguman itu di dalam diam dan mengutuk diri sendiri sudah berpikiran ngelantur ke mana-mana.
"Apa yang diinginkan Tuan besar dengan mengadakan jamuan makan malam? Apa aku benar-benar harus datang?" tanya Cahaya mengejutkan Zaydan yang masih memperhatikannya.
Ia kelimpungan dan berpura-pura fokus menyetir.
"A-ah, iya mungkin ayah ingin melihat menantu barunya. Bukankah di pernikahan kita dia tidak datang?"
Zaydan berdecak dan meletakkan sebelah sikut sebelah kiri di jendela memikirkan hari di mana mereka mengucap janji, tanpa dihadiri sang ayah yang notabene sebagai pelaku perjodohan keduanya.
"Benar-benar pria tua itu... dia yang menjodohkan kita, dia juga yang tidak datang? Beruntung aku seorang pria tidak membutuhkan wali pernikahan, berbeda dengan wanita di mana ayah kandung-" Zaydan menghentikan ucapannya dan merutuki bibir rombeng itu yang selalu berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.
Ia menoleh ke samping di mana Cahaya seperti biasa, berwajah datar tidak peduli pada apa pun.
Seketika itu juga keheningan kembali mengambil alih. Zaydan tidak melanjutkan ucapannya dan terus fokus menyetir dengan sedikit perasaan bersalah melanda.
Kurang lebih satu jam kemudian, mereka tiba di rumah utama. Zaydan melihat ada sekitar tiga mobil mewah di tempat parkir. Ia hanya menyeringai singkat menyaksikan hal itu.
Ia dan Cahaya pun keluar lalu berjalan bersama menuju pekarangan belakang di mana tempat makan malam berada.
Sesampainya di sana Zaydan menangkap kakak tertua Zabran Reynold duduk berdampingan dengan istrinya bernama Aluna, serta kakak keduanya Zayyan Reynold di hadapan mereka tengah mengembangkan senyum hangat.
Kedatangan Zaydan dan Cahaya disambut hangat oleh Naura yang baru saja datang dari arah berlawanan sembari membawa nampan berisi makanan.
"Oh, kalian sudah datang? Ayo duduk!" titahnya.
Zaydan dan Cahaya mengiyakan lalu mendudukkan diri di kursi kosong tepat dekat sang tetua, Naufal. Pria tua itu memandangi putra bungsu dan menantu barunya, lekat.
Bola mata sayu nya terus mengikuti ke mana mereka pergi. Sampai pasangan suami istri muda tersebut mendudukkan diri. Tidak ada yang berubah Zaydan rasakan, nuansa, keadaan sekitar, sampai makanan tersaji di meja tetap sama, seperti hari-hari lalu.
"Senang rasanya kita bisa berkumpul bersama seperti ini lagi, iya kan Mas?" tanya Naura pada sang kakak mencoba mencairkan suasana.
Naufal hanya berdehem pelan sembari meneguk minuman berwarna keunguan dari gelas berkaki panjangnya.
Melihat minuman berwarna emas dan keunguan tersebar di meja makan, membuat Cahaya tidak bergeming sedikitpun.
Ia teringat akan perkataan mendiang ayahnya yang selalu mengutamakan kepercayaan di atas segalanya. Namun, sekarang Cahaya dihadapkan dengan keluarga yang mungkin jauh dari aturan tersebut.
Nuansa di meja makan itu begitu hidup dengan obrolan-obrolan ringan. Zayyan, pria yang selalu ceria sering berhasil membuat keadaan di sekitar menjadi hangat.
Ia memberikan celotehan demi celotehan yang membangun gelak tawa. Ia juga mengajak Cahaya bercanda berkali-kali membuat adik iparnya itu hanya memberikan senyum sebagai balasan.
"Eyy... setidaknya ketampanan ku bisa membuatmu tersenyum," ucap Zayyan pada Cahaya, penuh percaya diri.
Lagi dan lagi adik iparnya itu hanya mengangguk seraya mengulas senyum simpul.
"Apa kamu tidak akan minum?"
Pertanyaan yang datang dari kakak pertama Zaydan, Zabran mengundang atensi kala tidak mendapati sang adik ipar menyentuh minumannya. Seketika Cahaya langsung melihat tepat ke kakak ipar pertama.
"Saya tidak bisa minum minuman beralkohol," jelasnya kemudian.
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya?" Kali ini pertanyaan datang dari Zayyan, kakak ipar kedua.
Cahaya menganggukkan kepala singkat.
"Di samping tidak suka... minuman itu juga tidak diperbolehkan dalam kepercayaan yang saya anut."
Sontak penjelasan Cahaya barusan membuat Zaydan tersedak minuman. Ia menoleh pada sang istri menyaksikan wajah datar itu lagi.
Mimik muka Zaydan seolah mengatakan, "bagaimana bisa dia mengatakan itu dengan wajah dinginnya? Ah~ benar juga... diakan wanita berhijab."
"Kamu memang berbanding terbalik dengan ibumu."
Perkataan yang tercetus dari tetua Raynold seketika membuat keadaan canggung. Atmosfer di antara mereka sekejap mata langsung hening, tidak melakukan pergerakan apa pun lagi.
Bola mata bulan Cahaya bergulir kembali pada ayah mertua, mendapati sorot mata sendu. Ia membaca dalam diam ekspresi apa yang sedang menempati wajah tuanya itu.
"Apa Anda mengenal ibu saya dengan baik?" tanya Cahaya kemudian.
"Ah, itu sudah jelas... kalian sudah bersama selama tiga tahun," lanjutnya lagi.
Senyum yang terpendar di wajah ayu Cahaya mengundang kengerian pada Naura. Wanita yang selama ini membantunya, membatu di tempat.
Naura tidak menduga jika mereka akan membahas hal yang sudah dua tahun berlalu. Namun, meskipun begitu kejadian itu seolah baru terjadi kemarin sore Cahaya rasakan.
Pernyataan yang Cahaya cetuskan beberapa saat lalu masih mengambang di udara. Semua anggota keluarga Raynold tidak ada yang bersuara.
Mereka kompak membungkam mulut rapat dan sesekali melirik sang tetua. Naufal juga diam seribu bahasa sambil menggenggam erat garpu dan pisau untuk daging steak.
Tidak lama setelah itu suara tawa darinya menggema seketika. Semua orang kecuali Cahaya terkejut mendapati nada murka.
"Sungguh tidak terduga, apa kamu tidak punya sopan santun? Kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Raynold, seharusnya... kamu tahu posisimu seperti apa."
Naufal menghela napas kasar dan meletakkan siku di atas meja sambil menautkan jari jemari. Dengan wajah berseri, ia memandangi menantu barunya lagi.
"Cahaya-Cahaya... ternyata kamu dan ibumu jauh berbeda. Apa ayahmu tidak pernah mengajarkan sopan santun? Bahkan... ibumu yang seperti pel*cur tahu harus bersikap seperti apa. Sampai tidak segan-segan merangkak di bawah kaki ku!"
Pernyataan yang tidak tahu malu itu keluar dari celah bibir tipis Naufal. Dengan kedua sudut mulut melengkung sempurna ia begitu puas mengatakannya.
Mendengar hal tersebut membuat Cahaya naik pitam. Bayangan yang tidak ingin diingat lagi secepat kilat menerjang memori.
Ia menutup mata rapat sembari mengepal kedua tangan kuat di atas meja. Hingga sedetik kemudian ia bangkit dari duduk, sampai membuat kursi terjungkal ke belakang.
Cahaya tidak bisa mengatakan apa pun, semua kata-kata yang hendak diucapkan tercekat di tenggorokan. Dadanya naik turun dengan napas memburu hebat.
Tanpa menunda lagi, Cahaya melangkahkan kaki dari hadapan mereka. Naufal mendengus kasar dan menyeringai lebar.
Zaydan yang menyaksikan luka tak kasat mata dalam sorot istrinya pun seketika terperanjat. Ia menyusul Cahaya pergi tanpa mengindahkan keberadaan keluarganya lagi yang tengah menatapnya.
"Cahaya! Tunggu Cahaya!"
Seberapa kali pun Zaydan memanggil istrinya, sang empunya nama sama sekali tidak menggubris sedikitpun. Cahaya terus melangkahkan kaki cepat meninggalkan pekarangan mansion Raynold.
Sampai tidak lama setelah itu Zaydan berhasil menyusul Cahaya dan menggenggam lengan sebelah kiri.
Sontak cengkraman itu mengejutkan Cahaya yang seketika terpekik kesakitan. Mendapati hal tersebut Zaydan mengerutkan dahi, tidak mengerti. Ada yang tidak beres, pikirnya.
lanjut thor /Ok//Ok//Good//Good/