Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10 - Bertemu Mutiara
“Istri yang merelakan suaminya untuk berpoligami. Bukankah itu sangat aneh?”
Wirra melajukan kendaraannya. Cibiran Meyta terhadap Anna, terus terngiang-ngiang di benaknya.
Dia harus secepatnya membicarakan perihal Meyta pada Anna, agar istrinya itu dapat mengatakan langsung pada Meyta, jika dirinya memang menginginkan untuk dipoligami.
“Mas ... kok sudah pulang?” tanya Anna heran. Pasalnya sang suami tiba di rumah lebih awal dari biasanya. Wirra hanya menjawabnya dengan tersenyum tipis.
“Mas sehat kan?”
“Aku tidak apa-apa, An. Aku pulang karena ada hal yang ingin aku bicarakan.”
Anna terdiam sejenak. Hal penting apa yang akan dibicarakan oleh Wirra hingga pria itu harus pulang kerja tiga jam lebih awal?
Wirra melangkah kakinya menuju kamar, diikuti oleh Anna yang penuh rasa penasaran.
Sebentar lagi adalah hari ulang tahun Anna. Beberapa bulan lalu, mereka memang merencanakan sebuah perjalanan di hari istimewa itu.
Apa sang suami akan mendiskusikan mengenai tempat mana yang akan mereka kunjungi?
Anna tak berhenti tersenyum membayangkannya. Bibir wanita itu terus merekah. Kali ini, dia akan mengajak sang suami berlibur ke Labuan Bajo. Menikmati keindahan laut dari atas kapal selama beberapa hari, pastilah sangat romantis. Dia akan terus bergelayut manja pada pria kaku itu selama menginap di kapal phinisi.
Begitulah pikir Anna.
Namun, segala apa yang dipikirkan oleh Anna buyar seketika, kala Wirra menanyakan perihal poligami.
“Kamu masih menginginkan Mas untuk menikah lagi kan?”
Begitulah pertanyaan yang dilontarkan oleh Wirra saat mereka berdua tengah duduk di tepi ranjang. Pria itu bahkan menggenggam jemari Anna dan menatapnya lekat. Seolah Wirra benar-benar berharap jika Anna tak merubah pikirannya. Berharap jika Anna masih menginginkan untuk dipoligami. Karena dirinya telah siap dan menyiapkan calon madu untuk istrinya itu.
Anna tertegun.
Padahal dirinya sudah membayangkan jika sang suami akan mengajaknya merayakan ulang tahun dengan kembali melakukan perjalanan romantis.
Padahal hari ulang tahun dirinya tinggal beberapa minggu lagi. Anna sudah memikirkan tujuan perjalanan mereka. Wanita itu bahkan sudah mencari info sejak beberapa hari yang lalu.
Tapi sayang, itu semua hanya angan Anna belaka.
Wirra yang beberapa bulan lalu menolak untuk menikah lagi, kini menanyakan perihal poligami.
Apakah pria itu sudah menemukan wanita yang ingin dinikahinya? Ataukah Wirra didesak oleh keluarganya?
Anna mengembuskan napas perlahan.
Ya ... Bisa saja sang suami didesak oleh orang tua ataupun anggota keluarganya yang lain. Karena pria itu bahkan menolak saat dikenalkan dengan gadis muda yang begitu anggun dan cantik. Sudah pasti pria itu didesak. Begitulah benak Anna.
“Kamu mau menikah lagi, Mas?” tanya Anna beberapa saat kemudian.
“Ya ... Kalau kamu mengizinkan.”
Anna tersenyum lembut pada sang suami. Wanita itu pun membalas genggaman tangan Wirra.
“Boleh aku tau siapa dia?”
“Dia seorang janda beranak satu. Namanya Meyta,” jawab Wirra.
Sengaja pria itu tak menyeritakan pada Anna betapa dia sangat mencintai Meyta. Dia tak mau Anna merasa patah hati, nantinya.
Anna sempat tertegun mendengar ucapan Wirra. Wanita itu tidak menyangka jika Wirra mau menikahi seorang janda. Jika tadi dia berpikir kalau Wirra ingin menikah lagi karena desakan keluarga, kini, tidak lagi.
Sang suami pastilah ingin membantu janda beranak satu itu. Mengurusi seorang anak yang sudah tak lagi memiliki ayah. Betapa sang suami memiliki hati yang mulia. Begitulah pikir Anna.
“Kalau Mas sudah yakin dengan dia, ya menikah saja. Nanti aku bantu urus semua hal untuk persiapan pernikahan kalian,” ujar Anna sumringah.
Tak hanya Anna, Wirra pun begitu sumringah mendengarnya. Kini dia hanya tinggal mengenalkan Anna dengan Meyta. Setelah itu, pernikahan yang dia impikan akan segera terwujud.
“Tapi, ada satu masalah, An.”
“Masalah?” tanya Anna heran. “Masalah apa, Mas? Ibu dan Bapak tidak setuju karena Mas akan menikah kembali, tapi dengan seorang janda?”
Wirra menggelengkan kepalanya. “Ibu dan Bapak bahkan belum tau mengenai hal ini. Ini ... perihal Meyta.”
“Kenapa dengan dia?” tanya Anna.
“Dia tidak percaya kalau kamu rela dipoligami. Dia takut tertuduh sebagai pelakor jika menikah denganku,” jelas Wirra.
Anna tersenyum lembut, “besok, Mas ajak dia ke sini. Aku akan katakan dengan lantang padanya, kalau aku sangat senang sekali jika Mas mau menikahi dia.”
Wirra mengangguk setuju.
...----------------...
Keesokan harinya, saat jam makan siang, Wirra kembali mendatangi kantor Meyta. Kali ini wanita itu belum terlihat keluar dari kantornya. Karena sepertinya jam istirahat makan siang baru saja dimulai.
Namun, setelah 15 menit berlalu, Meyta masih belum terlihat di sana. Terpaksa Wirra menghampiri wanita itu. Menanyakan kepada resepsionis, akhirnya Wirra tau di mana ruang kerja Meyta.
“Wirra?!” ucap Meyta heran saat melihat mantan kekasihnya itu sudah berada di hadapannya. Pria itu hanya menanggapinya dengan tersenyum lembut.
“Belum waktunya istirahat?” tanya Wirra.
“Mau apa kamu ke sini lagi?!” ketus Meyta.
Wirra hanya tersenyum. Pria itu tak peduli dengan sikap ketus Meyta padanya. Yang dia inginkan hanyalah membawa Meyta segera bertemu Anna.
“Bukannya seharusnya ini jam makan siang?”
Meyta merasa kesal karena pertanyaan yang dia lontarkan dibalas dengan pertanyaan lainnya oleh Wirra. Meyta pun melangkah pergi meninggalkan pria itu.
“Mey ... Bagaimana kalau makan siang di rumahku. Anna menunggumu,” ujar Wirra seraya menyejajarkan langkah dengan Meyta yang terlihat sedikit terburu-buru.
Meyta tentu saja menghentikan langkahnya seketika saat mendengar ucapan Wirra.
Istri pria itu menunggunya?
“Kita ke rumahku sekarang?”
“Aku mau menjemput anakku. Lagian, aku membawa bekal makananku sendiri,” ujar Meyta.
“Kita bisa ajak Rara. Kita semua berkumpul dan makan bersama. Anna pastinya akan senang sekali jika Rara turut serta.”
Meyta hanya menatap pria itu dengan dahi berkerut. Wanita itu lantas menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali berjalan mendahului Wirra.
Sebenarnya Wirra ingin melangkah sembari menggenggam jemari Meyta, tapi tentu saja wanita itu tak membiarkannya. Terpaksa Wirra hanya menyejajarkan langkahnya dengan Meyta.
“Ayo,” ajak Wirra seraya membukakan pintu mobil.
“Maaf, aku terbiasa berjalan kaki,” tolak Meyta. Wanita itu bahkan kembali meninggalkan Wirra.
Dan Meyta mengembuskan napas panjang saat melihat mobil Wirra melaju meninggalkan dirinya.
Dia pikir Wirra menyerah untuk membujuknya dan pergi dari sana. Nyatanya, saat Meyta tiba di sekolah sang anak, Wirra sudah berada di sana bersama Mutiara dan gurunya.
“Mamaaa,” teriak Mutiara.
Seperti biasa, gadis kecil itu selalu berlari menghampiri Meyta kemudian mereka berpelukan erat.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada guru yang selalu menemani Mutiara, Meyta dan Mutiara pun kembali melakukan ritual yang hampir setiap hari mereka lakukan.
Berjalan ke taman yang ada di sekitar sekolah, dan menyantap makan siang bersama. Meyta bahkan membawa alas untuk mereka duduk di bawa pepohonan yang rindang.
“Om, boleh bergabung kan, Ra?” tanya Wirra.
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus