Adhisti merupakan komplotan copet yang melakukan hal itu karena suatu alasan. Sedangkan Alsaki merupakan seorang yang terkenal. Pria ini benar-benar jenuh dengan keriuhan kehidupan yang selalu ramai akan fans yang memburunya. Hingga suatu saat, Al yang menyelinap ke ruang housekeeping tak sengaja bertemu dengan Adhisti, seorang housekeeping wanita di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
Al meminta tolong kepada Adhisti untuk diam dan tak memberitahu kepada orang-orang jika ia bersembunyi disana. Pria itu bahkan membuntuti Adhisti hingga kerumahnya yang reot.
Siapa sangka, benih-benih cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, saat keduanya sering di pertemukan dalam keadaan Adhisti yang tengah beroperasi mencopet.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Diputus
...🌻🌻🌻...
Al begitu menikmati makan malam dalam balutan nostalgia itu dengan perasaan senang. Sama sekali tiada menyangka jika akan bertemu dengan teman lamanya yang sejatinya nyaris hilang dalam ingatan, saking lamanya tak mendengar kabarnya.
Saat mereka asik bercengkerama, Luna mendadak mendapat telepon dari anak buahnya, dan membuat wanita itu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
" Emmm sory Al, Dho, aku harus balik dulu sekarang. Gapapa aku udah pesen taksi jadi kalian lanjut aja ngobrolnya!"
" Kau yakin Lun?" Tanya Idho yang menatap cemas ke arah Luna.
Luna tersenyum seraya mengangguk penuh ketenangan, " Ada trouble dikit di ruko sebelah barat. Aku harus kesana. Al, aku duluan ya. Taksiku udah nunggu di depan. Thanks for tonight. Dho, thanks for great food nya!"
Idho tersenyum penuh rasa senang saat Luna menepuk bahunya, sementara Al tersenyum wajar saat Luna berpamitan kepadanya.
Luna cantik, kaya, berpendidikan, seorang pengusaha yang sukses, namun tak satupun dari indikator cemerlang itu, yang mampu membuat Al merasa nyaman.
Definisi dari cinta itu tahu alamat.
" Kau masih sama saja dengan Al yang kukenal beberapa tahun yang lalu! Dingin dan cuek. Aku heran, jika wanita secantik dan sesempurna Luna aja gak bisa bikin elu jatuh hati, lantas cewek macam apa yang bisa menangin hati manusia cuek kayak elu Al."
Al hanya tersenyum saat menanggapi celoteh Idho soal Luna. Entahlah, yang jelas selama ini memang belum ada satupun wanita yang berhasil memikat hati dan cintanya.
Akhirnya mereka mengobrol hingga waktu yang cukup lama. Al yang merasa waktu telah berjalan begitu larut, memutuskan untuk pamit sebab ia besok harus bekerja keras kembali.
"Thank Dho buat semuanya. Good luck for you. Next time aku akan undang kamu. Pastikan datang!"
" Yoi bro. Tenang, aku sekarang sudah jadi anak baik dan gak akan lagi susah di cari!"
Mereka berdua berpamitan dengan gelak tawa yang renyah. Sungguh pertemuan yang begitu menyenangkan. Kini, Al terlihat mengenakan jaketnya kembali sembari berjalan ke arah luar.
Saat hendak membuka pintu mobilnya, Al yang sudah kembali mengenakan topi juga maskernya, tak sengaja melihat seseorang yang larut dalam cek cok.
" Siapa dia Ris? Kamu rela ninggalin aku demi dia?"
Al yang mendengar suara wanita dalam kobaran emosi itu seketika menutup pintu mobilnya, lalu menatap ke jarak yang tak begitu jauh. Matanya seperti melihat sosok yang ia kenal.
" Sory Dhis, bohong kalau dalam setiap hubungan itu tak memandang fisik. Selama ini aku udah kasih kesempatan buat kamu berbenah diri, tapi kamu sama sekali gak notice akan hal itu!"
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Dhisti menatap lemah Aris yang melontarkan kata-kata menyakitkan itu.
Lebih menyakitkan lagi, Dhisti melihat seorang wanita lain yang kini tersenyum licik ke arahnya.
" Sory Dhis, tapi aku udah gak bisa lagi sama kamu. Kita putus Dhis!"
" Apa?"
Dhisti tentu saja berhak terkejut akan hal itu. Bagaimana bisa, orang yang dulu pernah berjanji akan selalu bersama, kini malah memutuskan hubungan secara sepihak saat dia sudah memiliki pekerjaan. Bukankah itu brengsek?
" Kamu gak bisa seenaknya begini ke aku Ris!"
Aris terlihat tak mempedulikan Dhisti yang kalang kabut akibat di putus secara sepihak.
" Aris!"
Dhisti memukul-mukul kaca mobil Gabby yang kini di kendarai Aris seraya berlari. Wanita itu bahkan menangis dan dengan tidak tau malunya melintas di depan Al yang menatap tak percaya kejadian mengejutkan itu.
" Aris!"
Ia berteriak-teriak dan seketika terjatuh lalu bersimpuh di jalanan manakala mobil itu telah semakin menjauh dari pandangannya.
Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi kepadanya?
" Hah, seharusnya aku memvideokan aksimu barusan agar kau viral!"
DEG!
Dhisti yang tiba-tiba mendengar suara kurang ajar itu seketika tersadar dari keterpurukannya, lalu bangkit sembari menatap pria bermasker yang bersedekap menatapnya tajam.
" Siapa kau, kurang ajar sekali mulutmu!"
" Sekurang-kurangajarnya mulutku, lebih kurang ajar mulut pacarmu yang barusaja memutuskan pacar jeleknya tanpa belas kasihan!"
" Apa?"
Melihat Dhisti yang mulai terpancing emosi, Al seketika membuka maskernya dan membuat Dhisti terlolong tak percaya.
" Kau ?" Ucap Dhisti dengan wajah terkejut.
" Ya ini aku, kenapa? Apa kau sekarang sedang malu karena aku menjadi satu-satunya saksi kejadian aneh ini?" Seru Al dengan wajah malas.
Membuat Dhisti menatap sengit ke arah Al.
" Kenapa kau disini?"
Dhisti menatap curiga Al yang kenapa bisa berada di cafe milik bang Ridho dengan tampilan yang ciamik seperti itu. Bukankah dia pria miskin?
Membuat Al seketika gelagapan.
" Aku...aku, barusan mengantarkan saudaraku pergi!" Jawab Al sedikit kelimpungan.
Dhisti melirik seperti memastikan lokasi itu. Sedikit curiga karena tak ada siapapun disana selain mereka berdua.
" Maksudku.. kakak sepupuku sudah pergi!"
Dhisti hanya mencibir saat Al mengklarifikasi ucapannya. Merasa curiga kenapa pria itu bisa ada di lokasi dengan waktu yang tidak tepat.
" Begini saja, karena kau sudah pernah membantuku, aku akan membantumu untuk balas dendam. Bagaimana?"
Dhisti menatap aneh Al yang menaikturunkan kedua alisnya.
" Jangan curiga dulu. Anggap saja aku balas budi bagaimana?"
" Dengar, satu-satunya cara membalas dendam adalah dengan membuat mantan pacarmu itu menyesal, jadi...kau harus berubah menjadi cantik!"
" Jadi menurutmu aku jelek?" Sergah Dhisti cepat seraya melempar tatapan tajam. Membuat Al syok.
" CK, bukan begitu. Maksudku...kau harus mengganti gayamu. Aku punya teman yang bisa menolongmu!"
" Tenang saja, kau tidak akan membayar, aku baru dapat kiriman dari kedua orangtuaku. Bagaimana?"
Mendengar tawaran untuk balas dendam, hal itu membuat Dhisti tertarik. Ia kini menatap wajah Al yang masih setia menaikturunkan kedua alisnya seperti tukang kridit panci yang menawarkan dagangannya.
" Memangnya kapan?" Tanya Dhisti dengan wajah yang masih muram.
" Tahun depan. Ya sekarang lah! Lebih cepat lebih baik bukan?"
Membuat Dhisti seketika melengos demi mendengar jawaban kurang ajar itu.
.
.
.
.
novel ini yg sengaja belakangan dibaca.
Paragraf akhir yg bikin mata ku basah. Cm sm km aku pernah ngomong ttg sesuatu yg gak sanggup aku tulis sndr.
Gpp, ini sudah mewakili. Terima kasih ya mom.