"PERJODOHAN" adalah kata yang tidak jamannya lagi tapi itulah yang karina alamai sekarang.
orang tua karin mendojodohkannya dengan duda anak satu, banyak hal yang terjadi dalam hidup karin setelah menerima perjodohan itu.
"alisya sayang Bunda".
kata yang selalu membuat karin merasa bahagia dan bertahan dengan pernikahan perjodohan itu.
masalah silih berganti dalam rumah tangganya, kesabaran, keikhlasan dan setiaan karin di uji.
seiring berjalannya waktu, karin bisa mencintai suami dan anaknya dengan tulus. kasih sayang yang karin berikan pada alisya melebihi dari apapun.
suatu ketika saat karin melahirkan anak, hal yang tidak terduga terjadi yaitu anaknya meninggal karena dalam keadaan prematur.
kehidupan karin seketika runtuh dan hatinya sakit melihat anaknya pergi untuk selamanya. separuh dari nyawa karin hilang begitu saja.
karin bisa bangkit dari kesedihannya karena dukungan suami, anak dan keluarganya. mereka semua yang membuat karin bisa lebih baik dan semangat lagi dalam menjalankan kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Memei Melita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
"non terlihat bahagia". ucap bibi nina yang berada di sampingku.
"lihatlah mereka bi, betapa bahagianya mereka saat bermain bersama". jawabku
"iya non, semenjak non Grace Meninggal. tuan jarang sekali ada waktu bermain buat non alisya. tuan selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja".
"itulah alasanku, kenapa aku harus berhenti bekerja bi. karena aku ingin punya waktu banyak untuk alisya, walaupun dia bukan Putri kandungku tapi aku sangat menyayanginya. aku tidak ingin masa kecil alisya terbuang sia-sia begitu saja tanpa kasih sayang orang tua". jawabku
"terima kasih non, sudah hadir dalam kehidupan tuan dan non alisya. bibi merasa tenang, karena sudah ada non yang akan merawat mereka berdua".
"aku yang berterima kasih pada bibi, karena sudah menjaga mereka dengan baik sampai aku datang". jawab ku dengan senyum bahagia.
"iyaa non". ucap bi nina.
aku sendiri tidak menyangka, jika kehadiranku bisa membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
pandanganku masih tidak bisa lepas dari mas bram dan alisya, mereka begitu luar biasa buat ku.
"non, ini handphonenya ada yang nelpon". bi nina memberikan handphonenya padaku.
"ohh iyaa bi, terima kasih".
"ibu? apa ibu tau kalau aku lagi di rawat? apa mas bram memberitahukan pada ibu?".
dengan cepat aku mengangkat telpon dari ibu.
"hmm hmm..... hallo ibu! ada apa ?".
"loh, ibunya nelpon kok malah tanya ada apa? ya sudah pasti ibunya rindu".
"hehehe maaf ibu, bagaimana keadaan ibu dan ayah? baik-baik saja kan?".
"ibu dan ayah baik-baik saja, bagaimana kabar kamu karin?".
"aku Juga baik-baik saja bu".
"hhufft syukurlah, sepertinya ibu tidak tau keadaan ku sekarang".
"kapan kalian main kerumah ibu? ibu kangen sama kalian ,sudah lama ibu tidak lihat kalian".
"iyaa ibu, maaf kalau karin jarang banget kasih kabar ke ibu. nanti karin omongin sama mas bram, kapan mas bram ada waktunya?".
"iya dong, harus itu. setiap hari ayah kamu tanyain, kapan kalian main kemari? ayah kamu kangen alisya katanya".
"kemarin alisya juga bilang kangen ayah, tapi belum ada waktu yang tepat untuk kami mengunjungi ayah dan ibu".
"ya sudah, tidak apa-apa. ibu cuma pengen tau kabar kalian saja. ya sudah ya, ibu mau masak dulu. nanti keburu ayah kamu pulang".
"iya ibu, jaga kesehatan ayah dan ibu ya. I Love you bu".
sebenarnya, aku merasa kasihan dengan ayah dan ibu. setelah aku menikah, mereka merasa kesepian karena harus tinggal berdua di rumah. tapi mau gimana lagi, cuma aku satu-satunya anak ayah dan ibu, jadi tidak ada yang menemani mereka.
"siapa yang nelpon? kamu kok kelihatan sedih gitu". ucap mas bram dengan suara ngos-ngosan.
"ahh itu ibu yang nelpon mas, dia cuma nanyain kabar kita aja". jawabku sambil mengelap keringat bram.
"kamu bilang ke ibu, kalau kamu lagi di rawat?".
"gak mas, aku gak berani kasih tau ibu".
"syukur deh, aku takut nanti ibu benci aku karna telah membuat anak kesayangannya masuk rumah sakit".
"iihh apaan sih mas". aku mencubit pinggang mas bram.
"aduhhh... ampun ampun sayang, sakit".
"biarin aja... oya mas, ibu minta kita main kerumah".
"ya udah boleh, ayo kita kerumah ibu". jawab mas bram dengan cepat tanpa memikirkannya lagi.
"emang kamu gak sibuk mas?".
"buat keluarga ku, buat istri tercintaku. tidak ada kata sibuk".
"ihhh apaan sih, sok mau ngegombalin aku".
"hehehehee". mas bram langsung memelukku.
"papa, jangan peluk bunda,bunda lagi sakit". ucap alisya dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"hahahaha iya sayang, maaf papa lupa". mas bram mencubit kedua pipi alisya.
"kapan aku bisa pulang mas? aku udah gak betah disini". tanyaku.
"sabar sayang, besok kita akan pulang ".
"apa gak bisa sekarang mas".
"kamu mau sekarang?". tanya mas bram padaku.
aku hanya menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalaku di depannya.
mas bram mengusap lembut kepalaku dengan tangannya.
"baiklah, aku akan bicara dengan dokter terlebih dahulu".
"alisya, sini sayang". panggil mas bram
dengan sigap alisya menghampiri mas bram.
"iya papa". jawab alisya dengan suara lembutnya.
"jagain bunda ya. papa mau ketemu dokter dulu".
"baik pa". alisya langsung duduk disebelahku.
"anak pintar". mas bram mencium kening alisya.
"sebentar ya sayang, aku ke ruang dokter dulu".
"baik mas". jawabku.
ketika aku melihat handphone, jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. tidak terasa waktu begitu cepat berputar dan sudah 1 tahun lebih aku menjadi ibu bagi alisya.
"hooamm, alisya ngantuk bunda". jawab alisya dengan suara pelan.
"sini sayang, tidur dekat bunda". aku menawarkan lenganku untuk alisya.
"iyaa bunda". alisya tersenyum dan langsung merebahkan kepalanya di lenganku.
"mau bunda ceritakan sesuatu?". tanyaku.
"mau.. mau bunda".
"dulu, waktu bunda seusia alisya. bunda selalu di ajak kakek pergi jalan-jalan ketaman, di taman itu selalu ramai oleh anak-anak yang bermain. tapi bunda tidak bisa bermain dengan bebas seperti mereka".
"kenapa bunda?". tanya alisya penasaran.
"karena kakek takut kalau bunda terluka, jadi kakek selalu ngawasi bunda Setiap saat. bunda jadi gak bisa main bareng temen-temen sepuasnya".
"alisya gak mau kayak gitu bunda". alisya menatapku
"tidak sayang, maka dari itu bunda gak pernah ngelarang alisya untuk bermain. yang penting alisya ingat waktu saat bermain".
"iyaa bunda". alisya tersenyum dengan wajah setengah ngantuknya.
"hahahha anak bunda ngantuk banget ya".
alisya hanya menganggukkan kepalanya.
aku memeluk erat tubuhnya yang mungil dan membisikan di telinganya.
"selamat tidur anak bunda".
alisya langsung menutup matanya dan tertidur dengan pulasnya.
selang beberapa lama, mas bram kembali setelah menemui dokter.
"sayang.... ". teriak mas bram.
"sssstt... alisya tidur mas".
mas bram langsung menutup mulutnya.
"ahh maaf sayang".
mas bram berjalan pelan-pelan mendekatiku dan berbisik di telingaku.
"kita bisa pulang hari ini". bisik mas bram.
"beneran mas... ". seketika wajahku berubah ceria.
"iyaa sayang, aku beresi barang-barang dulu. aku juga sudah telpon pak Ahmad agar datang menjemput kita".
"iyaa mas".
"kemana bibi nina, sayang". tanya mas bram.
"sudah aku suruh pulang mas, kasian seharian jagain alisya, pasti capek". jawab ku.
"apa hanya ini saja barang-barang kamu sayang?".
"iya mas". jawab ku yang tengah sibuk membereskan rambut.
tokk.. tok... tokkk
terdengar suara ketukan pintu.
"permisi tuan, apa sudah selesai". pak Ahmad supir pribadi mas bram.
"ohhh iya pak, ini barang-barangnya".
"baik pak". dengan cepat pak Ahmad membawa barang-barang ke mobil.
"cantik banget anak bunda kalau tidur". aku mengusap wajah alisya.
"biar aku saja yang gendong alisya".
"iya mas, ayo kita pulang".
kami keluar ruangan untuk segera pulang, tapi kaki ku masih sedikit sakit akibat luka semalam.
"pelan-pelan sayang jalannya". mas bram memperhatikan langkahku yang sedikit pincang.
"iya mas, aku baik-baik aja". jawab ku.
"apa perlu aku gendong juga". canda mas bram.
"ihhh apaan sih mas". aku merasa malu mendengar perkataan mas bram.
langkah demi langkah, aku pelan-pelan berjalan agar tidak membuat luka di kakiku semakin tidak parah.
"silakan non". pak ahmad membukakan pintu mobil untukku.
"terima kasih pak".
di perjalanan pulang, alisya masih tertidur di pangkuan mas bram.
"apa kamu ingin makan sesuatu?". tanya mas bram.
"tidak mas, kita langsung pulang saja ya".
"baiklah".
beberapa saat, kami tiba di rumah. bibi nina menyambut kami dengan wajah bahagia.
"selamat datang non". sambut bibi nina.
"iyaa bi". jawabku
ku langkahkan kaki ku masuk ke dalam rumah dan aku memejamkan mataku.
"susana sana rumah ini, aku merindukannya. baru sehari aku di rumah sakit tapi sudah seperti bertahun-tahun".
"non, mau makan malam apa? biar saya buatkan ". bi nina yang datang mengejutkanku.
"gak usah bi, nanti aja ".
"baik non".
aku melanjutkan langkah kakiku menelusuri setiap anak tangga yang ku naiki.
"sayang". panggil mas bram
"iya mas. alisya mana?".
"sudah aku bawa kekamarnya. kamu mandi terus istirahat ya". ucap mas bram.
"kamu mau kemana mas?".
"aku akan ke ruang kerja sebentar". jawab mas bram
mendengar ucapan mas bram, aku merasa kecewa dan memanyunkan bibirku.
mas bram mendekatiku dan mengusap lembut kepalaku.
"sebentar aja sayang, gak lama kok".
"hmmm". aku hanya menghela nafas.
ckreekkk....
aku membuka pintu kamarku dan langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang.
"ranjang ini terasa hangat. aku jadi malas untuk mandi". ku tarik bantal dan memeluknya.
"waktu berjalan begitu cepat, sudah hampir 1 tahun aku menjadi istri mas bram. tapi kami belum benar-benar melakukan hubungan s*ks seperti pasangan lainnya". aku memainkan cincin yg ada di jariku.
"dan kami hanya sebatas berciuman saja. hhaaahhhh.... ". aku menghela nafas sangat panjang.
"apa kamu lelah? kenapa menghela nafas panjang begitu". ucapan mas bram yang mengejutkanku.
"astaga... mas bram. kenapa suka banget sih buat istrinya terkejut". aku mengelus dadaku yang masih deg-degan.
mas bram berjalan menuju kearah ku.
"kamu aja yang mikiri entah apa-apa, sampai gak sadar kalau aku datang".
"aku gak mikiri apa-apa kok". jawabku sedikit malu.
"dia gak dengarkan, kalau sampai dia dengar apa yang aku bicarakan tadi, aduhh... matilah aku. malu banget... ". aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku.
"tadi bilang mau mandi... ".
langsung bangkit dari ranjang mendengar ucapan mas bram.
"iyaa.. ini juga mau mandi".
tanpa pikir panjang, aku langsung berjalan ke kamar mandi dan menutup rapat pintu kamar mandi.
"cepetan mandinya ya". teriak mas bram
"iihh apaan sih mas bram itu, bawel banget". jawabku.
setelah selesai mandi, tanpa aku sadari aku tidak membawa handuk ke kamar mandi dan membuat ku sangat frustasi.
"iihh... gara-gara mas bram ini, aku jadi lupa bawa handuk. bagaimana aku keluar dari sini?".
"sayang, sudah hampir satu jam kamu mandi tidak selesai-selesai". mas bram meneriakiku.
"mas... bisa tolongi aku". jawab ku.
"ada apa sayang?kamu kenapa? ". mas bram sedikit panik.
"ahh itu mas, aku lupa bawa handuk".
"ppppfffttt... hahahahaa kamu ada-ada sih sayang. oke baik, akan aku ambilkan".
tokk.. tokk... tokk...
"sayang, ini handuknya".
aku membuka sedikit pintu untuk mengambil handuk yang di berikan mas bram.
tapi dengan kelicikannya, mas bram malah mendobrak pintu kamar mandi dan langsung memelukku.
"mas.. apaan sih. mas... ". aku berusaha untuk melepaskan diri dari mas bram.
"maaf sayang, maafkan aku karena terlambat". ucap mas bram
"maksud mas apa...".
tubuh ku terasa panas, anehnya aku tidak menolak yang mas bram lakukan. mungkin ini yang ku harapkan dari dulu.
mas bram menggendongku dan meletakkan ku di atas ranjang.
"maaf sayang, aku tidak bisa menahannya lagi".
mas bram melepaskan semua baju dan celananya, mas bram yang terlihat dingin dan cuek tapi malam ini dia terlihat sangat agresif.
"ahh.. sakit mas". teriakku.
tak ada ucapan apapun dari mas bram, dia sangat menikmatinya. malam ini, merupakan malam yang Indah bagiku. dimana aku dan mas bram menjadi satu.
"apa kamu menikmatinya sayang".
aku hanya menganggukkan kepala ku dengan menggigit bibirku menahan rasa sakit.
***
keesokan paginya...
cahaya matahari menerpa wajahku di pagi hari, ini pertama kalinya aku telat bangun. ku lihat di samping ku ada mas bram yang masih terlelap.
"begitu melelahkan". ucapku sambil mengelus wajah mas bram.
aku ingin beranjak bangun dari ranjang tapi mas bram menarik tanganku hingga aku terjatuh di atas tubuhnya.
"mas... ". ucapku dengan wajah terkejut.
"kamu mau kemana?". ucap mas bram dengan mata terpejam.
"aku mau buat sarapan mas". alasanku.
"ada bi nina, ini hari libur sayang. kamu harus istirahat di hari libur ".
"aku ini ibu rumah tangga mas, gak ada istilah libur". aku menarik hidung mas bram.
"aduhh....". mas bram memegang hidungnya.
aku bangun dan menarik selimut yang menutupi tubuh mas bram.
"mas juga harus bangun".
aku berjalan menuju kamar mandi dengan selimut.
brakkk...aku menutup pintu kamar mandi.
"wahh..kenapa aku jadi canggung gini ya. aku merasa malu dan aneh setelah kejadian semalam"
"mungkin ini pertama kalinya aku melakukan itu, perasaanku jadi gak karuan". ku memandangi wajahku di kaca kamar mandi.
selesai aku mengganti baju, aku melihat mas bram masih terbaring di tempat tidur.
"mas, ayo bangun. kita hari ini akan pergi ke rumah ibu". aku sambil menyisir rambutku.
"sebentar lagi sayang". suara mas bram terdengar sarau.
"buruan bangun mas, aku tunggu di bawah ya, kita sarapan bareng". aku langsung pergi menuju lantai bawah.
aku melihat alisya sudah bermain di ruang tivi sendirian, aku merasa bersalah karena telat bangun untuk menaninya.
"pagi non". ucap bi nina yang menyiapkan sarapan pagi.
"pagi juga bi, maaf ya bi. aku telat jadi gak bantui bibi buat sarapan".
"gak apa-apa non".
"alisya sudah mandi bi?".
"sudah non, tadi bangun tidur langsung bibi ajak mandi".
"ohh terima kasih ya bi".
aku berjalan mendekati alisya yang tengah asik bermain dengan bonekanya.
"sayang, anak bunda". aku memeluk alisya dari belakang.
"bunda". alisya menolehkan kepalanya.
"anak bunda lagi asik main ya".
"bunda bunda lihat itu, itu boneka yang di kasih sama kakek". alisya menunjukkan kumpulan bonekanya.
"wahh... cantik banget bonekanya, sama kayak anak bunda".
"sayang, ayo kita sarapan. hari ini kita mau kerumah kakek".
"beneran bunda, hore... asikk". alisya kegirangan.
"ya uda, beresi dulu mainannya, kita sarapan terus berangkat ke rumah kakek".
.
balik mampir dukungan kk