Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan daur ulang
Minggu sore senja kembali ke rumah orang tuanya. Dia ingin mengambil beberapa pakaian dan juga keperluan yang lain, lagi pula dia tidak bisa menghindari panggilan ayahnya yang sejak kemarin memintanya untuk pulang.
Seminggu sudah dia tinggal di dunia itu. Dunia yang jauh dari alam nyata. Tampaknya dia lebih menikmati hari-harinya berada di lingkungan rumah sakit, dia tidak perlu lagi bertemu dengan keluarganya yang memang tidak menginginkannya.
Kedatangannya disambut oleh ayahnya yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga sembari menonton televisi. Terlihat suasana yang sepi yang menandakan bahwa Dinda tidak ada di rumah. Hal itu cukup bagus untuknya karena dia memang tidak ingin bertemu dengan wanita itu.
"Kau sudah tiba?" sapa ayahnya tersenyum.
Entah kenapa, perasaan Senja berbeda menerima senyuman itu. Dia ingat sosok ayahnya saat pria itu masih berada bersamanya. Tidak satu hari pun pria itu menghabiskan waktu dengannya, sibuk dengan pekerjaan dan juga ambisinya, walaupun mungkin semua hasil kerjanya terlihat nyata, ketika dia pergi untuk selamanya, pria itu meninggalkan banyak warisan untuk Senja.
Mendapati ayahnya begitu baik padanya di dunia novel ini membuat Senja berfikir, apakah mungkin dia juga diberi kesempatan untuk bisa dekat dengan ayahnya?
Senja ingat terakhir kali dia bicara dengan ayahnya sebelum pria itu meninggal adalah ketika pertengkaran mengenai dirinya yang memutus menolak untuk masuk jurusan kedokteran walau pada akhirnya demi ibunya dia menuruti permintaan ayahnya, lalu pria itu juga membahas mengenai Satria yang dilaporkan oleh pengawalnya, dan memberitahu bahwa Senja menjalin hubungan dengan Satria yang notabene saat itu tidak memiliki pekerjaan dan juga tidak kuliah. Ayah Senja tidak terima, dan memintanya untuk memutuskan Satria.
Kerinduan di hatinya tentu saja terobati saat kini dia bisa bertemu lagi dengan ayahnya, mengingat hubungan mereka yang renggang. Padahal Senja dulu begitu dekat dengan ayahnya saat masih kecil, dimanja dan selalu dipanggil dengan sebutan princess.
Ah, semua kenangan baik tentang ayahnya kini menghangatkan hatinya. Sampai kapanpun, ayah akan menjadi cinta pertama sang putri.
"Belakangan ini Papa lihat kamu sering sekali melamun. Kemarilah Din, temani papa duduk dulu sebentar," pinta Pak Heru menepuk tempat di sebelahnya.
"Bagaimana kuliahmu? Beberapa bulan lagi kau akan wisuda. Papa berharap kau mau bekerja di rumah sakit kita," ucapnya dengan nada lembut.
Senja seperti kehilangan kata-kata. Sudah lama dia tidak melihat tatapan penuh kasih dari ayahnya serta nada bicara yang begitu lembut.
"Kamu kenapa sih, memperhatikan Papa seperti itu? Papa berbuat salah padamu atau kamu masih marah karena papa lebih menyetujui Senja bersama Satria? Dengarkan papa, Sayang. Kamu adalah putri Papa yang paling papa sayangi, spesial di hati papa. Jadi papa ingin kamu fokus dengan kuliahmu, menyelesaikan dan mendapat gelar dokter.
Satria bukan pria yang baik lihat, saja dia lebih memilih menjalin hubungan dengan kakakmu, padahal dia mendekatimu. Papa juga tidak suka dia berhubungan dengan Senja, tapi papa malah ribut dengan Mama yang mendukung mereka. Papa sudah bicara kepada Senja, tapi dia tidak mau mendengar jadi lebih baik Papa tutup mulut saja," terang ayahnya.
Ini seperti pesan pada kertas itu yang mengatakan bahwa kejadian yang terjadi di dunia ini berbanding terbalik dengan kejadian yang sebenarnya. Kalau pada saat di dunia nyata papanya yang memegang kendali, tidak ada keputusannya yang bisa dibantah oleh siapapun, apalagi dirinya dan ibunya, di sini keadaannya terbalik justru ucapan ibunya yang tidak bisa terbantahkan.
Tidak mengapa, selama sisa hidupnya, Dinda sudah merasakan kasih sayang dari ibunya tapi tidak dengan ayahnya. Jadi kali ini dia akan menikmati kasih sayang ayahnya, walaupun mungkin ibunya tidak menyukainya.
"Aku nggak marah, Pa. Aku percaya apa yang Papa putuskan untukku adalah yang terbaik," jawab Dinda.
Hatinya tergerak untuk menurut tidak membantah seperti dirinya yang dulu. Dia ingin menikmati kebersamaannya dengan ayahnya di sini.
Mungkin dia memang benar diberi kesempatan agar bisa lebih dekat dengan ayahnya walaupun ini tidak di dunia nyata.
Keduanya pun asyik berbincang hingga orang yang tidak ingin ditemui tiba di rumah itu bersama dengan Satria.
Sudah lama Senja tidak bertemu dengan pria itu, terakhir kali yang dia ingat mereka merayakan keberhasilannya menulis naskah novel ini.
"Selamat sore Om, Din. Apa kabar?" Sapa Satria yang berada di belakang Dinda.
Senja ingin sekali menarik pria itu dan menghajarnya karena sudah berani mengkhianatinya bersama kakaknya, meskipun mungkin di dunia nyata Satria yang tidak akan seperti itu. Senja masih percaya kalau Satria pria yang baik, ini hanya dunia novel, jadi dia akan ikuti alurnya.
"Papa, aku pamit dulu ke atas mau mengambil barang-barangku. Setelahnya aku akan kembali ke mes," ucap Senja berdiri dari duduknya.
Tapi Dinda yang tidak terima dengan sikap cuek Senja yang merasa memandang mereka sebelah mata mengejar gadis itu dan tepat pada anak tangga pertama, Dinda menarik rambut Senja sehingga gadis itu mundur dua langkah ke belakang.
"Lo mau mati ya?!" umpat Dinda melepaskan rambut Senja.
Seharusnya Senja lah yang marah karena dia yang dijambak. Tanpa ada angin dan hujan, kakaknya menarik rambutnya begitu kuat dan menyakitkan seperti rambutnya ikut tertarik dari kulit kepalanya.
"Harusnya gue yang marah? kenapa sih lo?
Udah gila apa tiba-tiba aja menjambak rambut gue?" salak Senja menggosok rambutnya yang terasa sakit.
"Harusnya memang bukan cuman rambut lo yang gue jambak tapi juga gue cekik sekalian! Apa maksud lo bersikap seperti itu di depan Satria?"
Dinda yang tidak ingin kalah, dia jelas tersinggung dan tentu saja nanti Satria juga akan marah padanya karena sikap Senja.
"Mau lo apa? bukannya lo udah mendapatkan apa yang lo mau? Lo mau Satria, dan lo dapati dia, terus apa lagi mau apa lagi?"
"Gue minta lo sopan kalau dia datang ke sini. Lo sapa dengan baik. Kalau Lo bersikap kayak tadi, dia akan mengira kalau lo nggak ikhlas lepas dari dia dan itu akan membebani dia. Gue nggak mau ya, hubungan kami jadi rusak hanya gara-gara lo!" seru Dinda yang masih dengan nada yang sama.
"Sorry gue nggak bisa munafik, kalau gue nggak suka sama orang ya gue nggak suka dan lo nggak bisa maksa gue," jawab Senja ingin menaiki tangga lagi. Namun, Dinda menarik tangannya dan melemparkan tubuh Senja hingga gadis itu terjungkal dan hampir jatuh ke belakang. Dinda mendekati dan melayangkan tangannya ingin menamparnya tapi Senja menangkap tangan Dinda yang mengayun di udara.
"Jangan pernah lo berpikir untuk nampar gue lagi! Kalau dulu lo bisa menindas gue sebaiknya lo rubah cara lo memperlakukan gue! Gue nggak peduli apa yang lo kerjakan, gue juga mau ikut campur atas apa yang lakuin, jadi tolong lo juga jangan nyenggol gue!"