Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.
Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.
Follow IG Author : @hanania442 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
“Nara, kamu akhir-akhir ini terlihat sangat bersemangat. Apa hubunganmu dengan Ferdian ada kemajuan?” tanya Mira
“Sudah berapa kali aku katakan, kami hanya sebatas teman dan harus kamu ingat aku sudah memiliki suami.”
“Tapi, kalian dulu memiliki hubungan serius dan semua itu hancur karena perjodohanmu itu.”
“Sudah jangan katakan itu disembarang tempat. Jika sampai keluarga suamiku mendengar ini, mereka akan semakin membenciku.”
Mengingat kegiatan kami semalam aku jadi malu dan senyum-senyum sendiri. Aku tidak bisa melupakan hal terindah yang terjadi tadi malam. Dia sungguh membuat aku melayang keawan.
Aku sangat lelah sekali hari ini karena begitu padat jadwal perkuliahanku. Namun, aku sempatkan untuk membuat makanan kesukaan Revan di bantu oleh beberapa maid tentunya.
“Nyonya, sepertinya anda sangat bahagia hari ini?”
“Apakah itu terlihat diwajahku?”
“Tentu, selama anda tinggal disini saya baru kali ini melihat anda sangat bersemangat dan tersenyum bahagia.”
“Terima kasih, kalian sudah membantuku. Kalian boleh pergi.”
Semua yang aku rencanakan sia-sia. Malam itu Revan tidak kembali ke rumah. Aku tertidur di meja makan dan saat menjelang pagi aku terbangun saat seorang maid membangunkanku. Mereka mengatakan bahwa Revan baru saja datang.
Aku membuka pintu kamar terlihat Revan sedang sedang berdiri di balkon. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku saat aku berjalan ke arahnya. Aku memeluknya dari belakang dan dia terkejut. Sangat menggemaskan ekspresi wajahnya itu. Dia melepaskan pelukanku dan kami kini berhadapan.
“Kamu tidak pulang semalaman padahal aku sudah menunggu untuk makan malam.” aku mengerucutkan ujung bibirku
“Sejak kapan aku menyuruhmu menungguku saat makan malam. Sudah pernah aku katakan aku sering pulang terlambat.”
“Tapi aku sudah memberitahu kamu bahwa aku ingin makan malam bersama.”
“Aku sibuk,” ucapnya singkat
“Begitukah? Bukankah kamu bosnya jadi tidak masalah pulang cepat satu kali saja.”
“Kau pikir semudah itu. Jika aku selalu menuruti keinginan konyolmu itu, apa kau pikir kau bisa hidup dengan fasilitas yang mewah dan keluargamu bisa makan enak dan tidak jadi gelandangan.”
“Kenapa kamu bicara seperti itu Revan. Kata-katamu sangat menyakiti hatiku.”
Revan kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang aku mengikutnya dan meminta penjelasan atas sikapnya.
“Revan apa kamu tidak menyesal mengatakan itu padaku?”
“Memang itu kenyataannya bukan.”
“Ya, aku memang menumpang hidup denganmu bahkan seluruh keluargamku kamu yang memberi mereka makan. Tapi bisakah kau tidak selalu mengungkit hal itu.”
“Sudahlah aku lelah. Jangan membuat masalahku menjadi rumit.”
“Aku tidak mengerti denganmu Revan, malam itu kamu sangat manis dan hangat padaku. Lalu kau pergi dan tidak kembali dan kini sikapmu kembali dingin padaku.”
“Bagiku malam itu tidak ada artinya. Jangan berharap setelah malam itu kehidupanmu akan berubah menjadi happy ending. Bukankah kamu yang menginginkan itu, aku hanya mengabulkan keinginanmu. Aku rasa kau juga tahu malam itu kita lakukan karena terbawa suasana saja.”
Tubuhku terasa lemas mendengar semua ini. Aku terduduk di sampingnya dan mengutkan hatiku.
“Apa kamu memiliki wanita lain di luar sana? Sehingga aku sangat sulit untuk membuka hatimu.”
“Iya atau tidak, bukan menjadi urusanmu! Sejak awal sudah aku tegaskan bahwa pernikahan ini hanya sebatas di atas kertas. Jangan melewati batasanmu, Nara."
“Aku tahu dan sangat mengerti mengapa sampai sekarang kamu tidak menceraikan aku padahal kamu sangat membenciku.”
“Ya, itu karena keinginan ayahku agar aku menikahimu dan mempercayakan seluruh asetnya padaku.”
“Jika itu alasannya mama sudah memberitahu itu sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di rumahmu.”
Revan menatapku dengan penuh tanda tanya dan meminta penjelasan lebih dari pernyataanku.
“Aku tahu apa yang kamu bicarakan dengan mama saat di ruang kerja beberapa hari yang lalu.”
“Ck! Kau semakin lupa akan posisimu.”
“Kau berencana menceraikan aku setelah ayahmu mengalihkan seluruh asetnya atas namamu dan kalian ingin menjadikan keluargaku sebagai pelayan kalian selamanya. Satu hal lagi yang aku dengar mamamu ingin menjualku pada rekan bisnisnya sebagai ganti karena kalian sudah membiayai pendidikanku.”
Revan terbelalak seakan ingin segera menghapus semua kenyataan yang telah aku ketahui dari kepalaku.
“Aku berusaha untuk melupakan semua itu. Aku berusaha menolak semua kenyataan yang aku hadapi. Malam itu bagiku sangat berarti dimana suamiku yang pertama kali menyentuhku buka rekan bisnis mamamu. Kau tahu selama ini mamamu memintaku untuk ke butiknya bukan untuk membantunya tapi untuk menemani pria brengsek itu. Aku mati-matian menjaga tubuhku hanya untukmu.”
Aku tidak pernah mengatakan itu pada Revan karena itu akan semakin membuat dia membenciku karena dia tidak mungkin memepercayaiku.
“Kau pikir aku percaya. Kau mengatakan ini karena kau sakit hati dengan mama.”
“Tapi itu kenyataan. Mamamu sama saja menjualku. Aku menutupi semua keburukannya karena masih memikirkan perasaanmu, Revan. Tapi aku rasa itu tidak perlu lagi sekarang.”
Revan beranjak dari ranjang dan menamparku lalu menarik rambutku dengan kuat sehingga aku mendongak keatas.
“Jaga mulutmu jalang! atau aku akan merobeknya sekarang juga!”
“Jika aku jalang maka sebutan apa yang pantas untuk mamamu!”
Revan menghempaskan tubuhku di ranjang dan menamparku untuk kedua kalinya kini dia mencekik leherku.
“Dasar perempuan jalang! Setelah apa yang aku lakukan untuk keluargamu. Ini balasanmu!” Revan mengatupkan giginya dengan wajah memerah menahan amarah.
Aku berusaha melepaskan diri meronta-ronta dan memukul tubuhnya. Namun, dia menindihku dan mencengkram kedua tanganku meletakkan diatas kepalaku dan tangan kanannya tetap mencekikku.
Aku menatap kedua matanya dengan air mata yang terus mengalir mengharap pertolongan.
Dia menatap tajam kearahku mata itu dipenuhi dengan amarah dan kebencian. Aku sangat sulit bernapas. Dia benar-benar akan membunuhku.
Aku meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Revan. Tapi percuma tubuhku semakin lemas bahkan perlawananku tidak berarti apa - apa untuknya.
Melintas bayangan kedua orang tuaku dipelupuk mataku. Bagaimana nasib mereka jika aku tiada. Akulah harapan mereka satu - satunya.
Pandanganku berubah menjadi gelap dan sekejap aku tak merasakan apapun.
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...