NovelToon NovelToon
Because I Love You

Because I Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka July

"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.

'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.

"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.

Hening sesaat.

'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 Terkabul

Hermawan melangkahkan kaki memasuki ruangan kerja yang di dominasi warna putih dan biru mudah, serta beberapa pot bunga dan sebuah aquarium yang sengaja di letakan di sudut ruangan untuk memberikan suasana nyaman dan sejuk. Beberapa tumpukan kertas berjejer rapi diatas meja, ia kembali sibuk dengan semua pekerjaan kantornya.

Hendra segera masuk ke ruangan sahabatnya untuk mengajaknya makan siang bersama.

“Her, ayo ke kantin.”

“Maaf aku tidak bisa, aku akan makan di rumah,” Hermawan segera merapikan berkasnya.

“Kamu akan menyesal, ada staf baru pindahan dari kantor cabang, ia sangat cantik, sumpah aku naksir padanya.” Hermawan hanya tersenyum mendengarnya. Ya diantara sahabatnya Rio dan Hendra masih lajang hanya Beny yang sudah menikah, dan termasuk dirinya sekarang.

“Aku tidak bisa Hen, aku harus pulang.” Hermawan menolak sambil tersenyum, ia segera melangkakan kaki keluar dari ruangannya di ikuti Hendra, langkahnya terhenti saat menatap sosok yang yang sudah lama tidak ia temui.

“Aulia.” Gumamnya. Wanita itu juga tampak terkejut melihat laki-laki yang menatapnya.

“Hai Her, apa kabar?” sapa Aulian sambil tersenyum lembar.

Seketika jantung Hermawan berdetak kencang, ya ia masih memiliki rasa cinta yang dalam terhadap wanita itu, wanita yang di tunggunya selama sepuluh tahun belakangan ini.

****

“Jadi kalian sudah saling kenal?” Hendra membuka pembicaraan di meja kantin.

“Ya, kami teman SMA.” Aulia menjelaskan

“Tepatnya mantan kekasih,” Hermawan menekankan, matanya tiada henti menatap Aulia, tidak ada yang berubah dari wanita itu masih sama, cantik dan manis, serta sikapnya yang mudah sekali akrab dengan banyak orang, Aulia selalu bisa menempatkan dirinya.

Aulia bahkan selalu tersenyum pada lawan bicaranya, senyum yang sangat tulus, cukup membuat jantung Hermawan berdetak cepat ingin melompat dari dadanya saat ini.

Hermawan berusaha sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak menyerang Aulia, karena rasa rindunya yang teramat dalam. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk Hermawan menahan rasa rindunya untuk bertemu pujaan hatinya ini, beberapa kali Hermawan mencari keberadaan Aulia tapi hasilnya nihil Aulia seakan sengaja bersembunyi darinya.

Kini wanita itu sudah berada di hadapanya bahkan tersenyum padanya, ingin sekali Hermawan membawanya ke dalam pelukanya untuk melepaskan rasa rindunya, tapi ia sadar mereka hanya mantan kekasih sekarang.

`“Itu sudah lama sekali Her,” Aulia tertawa di ikuti Hendra.

“Ceritakan padaku bagaimana kamu bisa di pindahkan kesini?” Hendra bertanya setelah tertawa cukup keras, ia bisa melihat raut tidak suka dari rekan kerjanya Hermawan.

“Aku juga tidak tahu, kemarin ketua devisi menelpon dan menyuruhku pindah kesini.” Aulia menjelaskan jujur.

“Setahuku kantor pusat tidak akan pernah mengambil staf kantor cabang,” gumam Hendra yang tampak bingung.

Hermawan menatap Aulia dengan lekat, ia masih tidak percaya dengan pertemuan ini. Seketika lamunanya terhenti saat sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel pintarnya.

From +62819*******

Bibi hari ini datang membawakanku banyak makanan,

tidak usah pulang siang ini nikmati pekerjaanmu.

Dean.

“Siapa? Pacarmu?” Hermawan hanya tersenyum kaku, saat Aulia bertanya perihal pesan singkat itu. Ia binggung harus menjelaskan tentang Dean padanya, mengapa semua menjadi rumit sekarang ini.

”Bu bukan siapa-siapa.” Hermawan terbata-bata.

“Kamu tenang saja, Hermawan tidak mempunyai pacar, ia masih sendiri.” Hendra menjelaskan sambil mengejek sahabatnya, membuat Aulia tertawa.

“Jadi aku masih mempunyai kesempatan nih?” wanita itu mengodanya, membuat Hermawan tersenyum tipis pikiranya masih sibuk dengan banyak kemungkinan.

‘Apa Aulia masih ingin aku kembali padaku? tentu saja aku mempunyai peluang besar karena aku akan memilihmu menjadi istriku. Istri?, tapi Dean bagaimana nanti?’

***

“Bibi aku sudah sembuh, Bibi tidak usah repot-repot seperti ini!”

“Dean kamu itu anakku, Bibi ini sangat menyayangimu, jadi habiskan semua ini, Bibi telah memasak dengan susah paya.” Anisa mengoceh karena dari tadi Dean menolak memakan masakanya, Dean hanya melihatnya dengan wajah datar yang tidak di mengerti Anisa maksudnya.

“Bibi aku sudah sembuh, kemarin Wawan mengantarku kontrol dan dokter mengatakan aku baik-baik saja aku juga sudah boleh memakan nasi lembek selain bubur.”

”Syukurlah kalau begitu, Paman akan senang mendengarnya. Maafkan pamammu, dia harus menemui Ahmad untuk melihat perkembangan perusahaanmu.” Anisa menjelaskan kondisi suaminya yang sangat sibuk akhir-akhir ini.

“Ya, tidak apa-apa, Pamam dan Om pasti sangat lelah mengurusi kantor.”

Dean ingat, Om Ahmad adalah orang yang mengurus semua perkerjaan kantor setelah Edmom meninggal, Ahmad adalah kakak kandung dari Sifa ibunya Dean, sesekali Ahmad memberikan laporan pada Dean, sejak empat tahun lalu Dean secara tidak langsung ikut memimpin perusahaan walau ia tidak pernah ke kantor, tapi untuk semua kontrak atau kesepatan harus melalui persetujuan Dean karena ia pewaris tunggal perusahaan milik ayahnya, terlebih setelah Edmom meninggal.

***

“Hermawan!” sapa seorang wanita yang bernama Yuni teman sekantornya, laki-laki itu hanya menoleh sesaat, ia tahu suasan seperti ini, ia sudah sangat bosan.

“Tunggu ini untukmu,” Yuni menyodorkan sekotak coklat.

“Terimakasih.” laki-laki itu mengambil kotak itu kemudian pergi, hal seperti itu biasa terjadi padanya, hampir setiap hari ia mendapat coklat dari para wanita di kantor itu, tapi tidak satupun yang ia makan. Semua coklatnya selalu ia berikan pada Beny, Rio atau Hendra. Para wanita itu akan marah jika coklatnya tidak di ambil.

Perna sekali Hermawan menolak coklat pemberian salah seorang pengemarnya yang merupakan salah satu staf di bagian pemasaran, perngemar itu langsung mencaci makinya dan menjerit histeris lalu pingsan, ia sempat di panggil kepala devisi karena menyebabkan kekacauan. Sejak hari itu Hermawan selalu menerima coklat pemberian pengemarnya.

“Wah, kamu dapat coklat?” Suara Aulia mengejutkanya.

“Oh, ini, ambilah jika kamu mau.” Hermawan menyodorkan kotak coklat itu, “Tidak, itu untukmu,” Aulia menolak. “Nanti pulang kerja kamu bisa mengantarku tidak?”

“Tentu saja.” ini adalah kesempatan langkah dalam hidupnya, mengantar Aulia pulang adalah mimpi baginya setelah sekian lama tidak bertemu.

***

Hermawan melajukan mobilnya dengan hati berbunga-bunga, dari tadi ia mencuri pandang pada wanita di sampingnya, perasaan gugup menyelimuti hatinya karena berdekatakan dengan Aulia.

“Her, terimakasih ya sudah mengantarku pulang,” Aulia berucap saat mereka sampai di depan pagar rumah Aulia yang cukup besar. Aulia sendiri terlahir dari keluarga berada, ayahnya seorang pengusaha sepatu di Surabaya, yang sudah cukup terkenal di dalam negeri serta ibunya adalah seorang dosen di salah satu kampus negeri di Jakarta, di tambah lagi Aulia adalah anak tunggal satu-satunya, keluarganya sangat menyayanginya dan mengabulkan semua keinginannya.

”Sama-sama, masuklah.”

“Ini untukmu,” Aulia menyodorkan sekotak coklat untuknya, laki-laki itu menautkan kedua alisnya pertanda binggung. “Tadi aku dan Yuni membeli coklat bersamaan, ia juga cerita kalau kamu selalu menerima coklat pemberian setiap wanita, karena itu aku ingin mencobahnya.” Aulia menjelaskan.

“Terimakasih, aku akan memakanya.” Hermawan segera meraih kotak coklat itu dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata dia terlalu bahagia dengan apa yang terjadi hari ini.

***

“Bibi pulang dulu ya, sayang,”

“Hati-hati Bi, maaf tidak bisa mengantar pulang, salam untuk Pamam ya Bi.”

Dean memeluk Bibinya yang sudah dianggap sebagai ibu, sebenarnya Dean ingin kembali tinggal di rumah Anisa tapi ia sudah menikah, Dean tidak mau bersikap egois dengan meninggalkan suaminya disini, bagaimanapun ia akan berusaha jadi istri yang baik untuk Hermawan walau jelas laki-laki itu sangat membencinya.

“Tidak apa-apa sayang,” Anisa menuju pintu apartemen, seketika pintu terbuka.

“Bibi, apa kabar? mari Bi duduk dulu,” Hermawan menyapa Bibi Aniasa, ia sudah tahu bahwa bibinya datang ke apartemenya melalui pesan singkat yang di sampaikan Dean tadi, tapi ia tidak tahu jika Anisa masih berada di sana sampai saat ini.

“Tidak usa nak, Bibi sudah mau pulang, lagi pula dari tadi siang Bibi di sini kasihan Paman di rumah.” Anisa lalu mengelus bahu Hermawan.

Laki-laki itu ingat masa lalu, bagaimana terakhir ibunya mengelus tubuhnya jika ia sakit atau jika setiap Hermawan kecil mendapat nilai bagus karena rasa bangga mereka. Kedua orang tuanya selalu menyayanginya dengan penuh kasih sayang. Sampai hari itu tiba, bus yang mereka tumpangi menuju kebun binatang terbalik dan menyebabkan kedua orang tuanya tewas.

Hermawan sediri mengalami cedera ringan, saat itu ia sebatang kara, tidak ada keluarga yang datang menjenguknya, karena hanya keluarganya yang kurang mampu diantara sanak saudaranya, ayah hanya seorang guru honor sekolah dasar dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa, walau hidup mereka jauh dari kata mewah, tapi kebahagiaan terus terpancar dari keluarganya. Hermawan kecil hanya bisa menangis saat itu ia tidak tahu harus berbuat apa.

***

“Hati-hati Bi, biar aku antar keparkiran.” Hermawan dan Anisa berjalan memasuki left.

“Dean, anak yang manja, terkadang dia keras kepala, tapi dia sangat baik, ia akan selalu berkorban untuk orang yang dia cintai,” Anisa membuka suara, “Bibi harap kamu bisa menjaga dia dengan baik, jangan biarkan dia menangis, sudah cukup dua tahun ini dia menangis.” tambah Anisa.

“Maksud Bibi?” Pertanyaan Hermawan terhenti saat left terbuka, menandakan mereka telah dampai di lantai yang mereka tujuh.

“Bibi pulang dulu.” Anisa tersenyum lembut, Hermawan segera mencium tangan wanita paru baya itu.

Hermawan sangat menghormati Anisa, sudah lama ia tidak merasakan sedekat ini dengan seorang wanita yang berumur yang dianggapnya sebagai ibunya sendiri, walau Zulfar suami Anisa sangat membenci Hermawan, laki-laki itu tidak perduli cukup Anisa yang menganggapnya sebagai anak itu sudah membuatnya sangat bahagia.

“Hati-hati di jalan Bi, salam untuk Paman.”

1
Katherina Ajawaila
waaaauuu, kejadian yg aneh aja 🙂
Wahyuni Yuni
Luar biasa
ICA
Menurut aku si hermawan nya ngg SEkejam itu sma si DEANNYA karna dean pun apa apa ngg bisa terkecuali si hermawan ada maki2 si deannya baru itu kejam flasback sma kejadian sebelum nya aja cara mereka ketemu smpai menikah kurasa masij normal aja nma jga orang yg ngg kita kenal tiba ajak nikah gimana perasaan klian ngg mingkin dong langsung akrab gitu aja
Hanifah Henny
paragrafnya buat sakit mata gk ada spasinya
Agle
Luar biasa
PANJUL MAN
suka skali ceritanya walaupun bacanya sambil kesal liat tulisannya tapi bikin penasaran
Nancy Bondan
Luar biasa
Fafaaa
👍🏻👍🏻👍🏻
Gita Risnawati
ko sakit yaa
Gita Risnawati
harus banget kya gitu ya dean??
Gita Risnawati
haduuhhh si wawan
Gita Risnawati
ko mau ya wawan masakin, nikahnya kan d jebak
Gita Risnawati
apa wawan gx penasaran sma dean sebenernya siapa yaa??
Gita Risnawati
gemes banget ama dean
Gita Risnawati
dean dean,...
Gita Risnawati
dean²,....
Gita Risnawati
haduh ada² aja dean
Gita Risnawati
baru baca 1 bab, kayaknya seru, jdi penasaran
FUZEIN
Dah tahu yg dtolong masa lalu...masih juga lupa dengan masa depan...wawannn ni..ishhh
Dewi Kurniawati
bagus walau akhirnya membosankan...🙇‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!