CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 (Perang Kembali Antara Ibu Tiri Dan Anak Sambung)
Andre pulang pukul tujuh malam.
Seperti biasa, ia masuk ke dalam rumahnya lewat pintu dapur jika tak membawa kendaraan.
Warti, sang ART sudah faham pada sikap anak juragannya yang satu itu. Makanya ia senantiasa stand bye membukakan pintu dapur di jam-jam pulang Andre Wiguna Darma ke rumah.
"Siapa, Bi?" tanya Andre pada Warti ketika telinganya menangkap suara gaduh para wanita cekikikan.
"Teman-temannya Nyonya, Den!"
"Hm!"
Andre langsung menaiki anak tangga rumahnya yang memang posisinya tidak jauh dari ruang dapur sehingga tak harus terlihat oleh gerombolan siberat pasukan ibu tirinya itu.
Pukul sembilan malam, lantai dasar masih terdengar ramai. Riuh rendah suara para wanita serta tawa sengau yang memekakkan telinga membuat Andre jengah juga.
Ia turun mencoba mengintip. Selain niat dasarnya adalah untuk mengambil makan dan minum.
Namun tiba-tiba Andre berpapasan dengan salah seorang teman ibu tirinya.
"Kamu... pasti anaknya Shernita ya?" tanyanya menyapa.
Seorang wanita bertubuh tinggi semampai dengan kulit sawo matangnya yang eksotik dan warna bola mata yang indah karena samaran lensa yang ia pakai terlihat menyapu keseluruhan visual Andre dari atas sampai bawah.
Andre tak menjawab. Ia berlalu seolah tak mendengar pertanyaan teman ibu tirinya yang dianggapnya selevel rendah attitudenya dengan Shernita.
"Wah, badboy juga kamu ya?! Hehehe..."
Andre hanya menoleh. Kini ia yang balik menatap seraya membalas wanita itu dengan tatapan yang sama. Memandang dari atas wajah hingga ujung kaki.
"Sayang sekali, wanita bersuami! Tapi gayanya seperti abege lenje' yang gatal minta digaruk!"
Pucat seketika wajah wanita itu.
Andre mengambil sebotol minuman dari kulkas tiga pintunya. Mengambil kotak box berisi makanan kesukaannya.
"Hei! Pantesan Shernita sering curhat kalau dia sangat benci kamu! Ternyata kamu beneran anak songong ya?"
Andre merasa ditantang setelah sebelah tangannya ditarik dengan paksa oleh wanita berumur sekitar empat puluhan itu.
"Kamu akan merasakan apa itu artinya kesepian diusia tiga puluh limaan keatas, dan butuh sekali mainan supaya kau tetap fight tinggal di dunia ini!" katanya tegas dan agaj pedas.
"Mainan? Supaya tetap fight? Waw! Pemikiran Anda luar biasa sekali!"
"Apa maksudmu, Anak Tampan?"
"Ck ck ck...! Suami Nyonya sedang bekerja keras membanting tulang demi menafkahi dan memenuhi gaya hidup Anda, sementara Anda bilang butuh mainan demi bisa fight! Anda menyakiti hati para wanita lain diluaran sana. Yang juga memiliki suami, tetapi tetap setia dan bertahan meski ujian hidup perekonomian yang lemah, suami yang suka judi dan mabuk-mabukan, main perempuan dan nyawer biduan kampung!"
"Kamu... tidak tahu suamiku!"
"Buat apa juga aku tahu suami Anda!?"
"Dia punya tiga selir diluaran sana! Wajar saja aku bertingkah. Masih mending daripada aku mengobrak-abrik harga dirinya dengan berkoar-koar di media dan nongkrong di club malam setiap harinya, khan?"
"Hehehe...! Itu pilihanmu Nyonya!"
Andre menaiki anak tangga. Meninggalkan wanita itu dengan tatapan gemasnya.
"Hei, Shernita!"
"Apa?"
"Kenapa bukan anak sambungmu saja yang kau jadikan tawanan tumbal kita bulan depan?"
"What? Gila kau, Cil! Emoh aku ikutin saranmu! Lagipula si Andre itu baru 17 tahun!"
"Aku berani bayar arisan dua kali lipat jika aku bisa bercinta dengan anak itu!"
"Hahaha...!" Dua orang wanita tertawa ngakak. Meledek wanita yang bernama Cecilia itu dengan julukan pedophilia karena ingin bercinta dengan anak sekolah yang masih dibawah umur.
"Kamu pasti tadi ketemu anak itu di dapur ya?" tanya Shernita pada temannya.
Cecilia mengangguk.
"Aku gak mungkin mengambil putra mas Jaya Wiguna sebagai tumbal. Kecuali..., aku siap jadi jandanya dan punya ban serep lain yang lebih tajir! Baru aku berani!" tutur Shernita.
"Hahaha... Ternyata kau penakut juga Sher!"
"Bukan penakut! Tapi aku cari aman untuk masa depanku juga! Dan aku... ga mau sembarangan ambil langkah yang membahayakan!"
"Hahaha..."
Ck ck ck... Ternyata seperti itu kelakuan para istri orang kelas atas aslinya. Sangat tidak berkelas seperti tampilan luarnya! Cih! Menyebalkan!
Andre yang mengintip setelah turun perlahan mengekor teman sang mama tiri, kini semakin melihat kedok para wanita dewasa yang menjijikkan kelakuannya.
.............
Malam berlalu dan pagi menjelang.
Kini Andre harus kembali siapkan mental menunggu Shernita keluar dari kamar, memberinya uang saku sekolah.
"Bi! Tolong panggilkan Nyonya!" pintanya dengan sopan.
Hari ini sedang malas berdebat. Entah kenapa sejak semalam moodnya anjlok. Bahkan hapenya ia matikan sejak melihat kelakuan dan perkataan Shernita semalam.
Entah apakah Wirda atau Bianca akan kelimpungan mengetahui ponselnya mati, Andre tak peduli.
Ia memikirkan ucapan mama tirinya yang sangat tak berperikemanusiaan. Hanya mengeruk keuntungan demi kebahagiaan diri sendiri saja. Andre jadi terluka.
Andre melamunkan kesedihan sang papa jika mengetahui wajah asli istrinya yang sekarang ini. Penuh bopeng dan tipu muslihat kepalsuan.
Meskipun sudah berjalan nyaris belasan tahun dan memiliki satu keturunan yang sebelas dua belas dengan biangnya, ternyata watak Shernita masih tetap sama. Tak berubah. Hanya seorang wanita penghamba uang.
Hhh...
"Mana Nyonya?" tanya Andre pada Warti. Memastikan kalau Warti sudah memanggil Nyonya besarnya.
"Warti sudah bangunin dari tadi, Den... Tapi,"
"Ck! Kebiasaan!!!" umpatnya kesal.
Andre bangkit dari duduknya. Memaki dengan gumaman sembari menggedor paksa pintu kamar Shernita.
Papanya masih diluar kota. Entah akan berapa lama lagi sampai urusan kerjaannya selesai.
Dor dor dor
Dor dor dor
"Buka pintuuu!!!"
"Buka pintuuu!!!"
"Apa sih? Berisik banget!" Shernita membuka pintunya dengan wajah polos seolah tanpa dosa.
"Hhh... Jangan berlagak bodoh, meskipun kau memang bodoh!"
"Anak kunyuk! Mau apa kau?"
Andre menerobos masuk. Menghampiri meja rias Shernita dan mengambil dompet mahal milik ibu tirinya itu.
"Hei!!!"
Andre mengambil uang seratus ribuan segepok.
"Andre!!! Itu sepuluh juta!!!"
"Jadi kau ga perlu repot-repot terganggu tidurnya karena aku minta uang saku! Kau bisa tidur sepuasmu, bila perlu...tidur selamanya!"
"Andre, sinikan! Itu bukan uangku!!!"
Keduanya saling tarik menarik tangan.
"Uang arisan orang, itu!" teriak Shernita berkali-kali. Tangannya berusaha menggapai kepalan tangan Andre yang kiri yang memegang uang sepuluh juta milik Shernita.
Bahkan meskipun Shernita berusaha sekuat tenaga, ia tetap tak bisa mengalahkan Andre yang jauh lebih kuat dan lebih tinggi darinya.
Hingga tanpa sadar tubuhnya sangat rapat menempel ditubuh anak sambungnya itu.
"Hiks, Andreee!!!"
Terlambat. Andre sudah melesat dengan membawa kabur uang sepuluh juta yang diambil dari tas hermes milik Shernita.
"Anak sialaaan!!!"
Seketika suara teriakan Shernita membuat Warti hanya bisa menarik nafas panjang.
Sepertinya perang antara ibu tiri dan anak sambung akan kembali dimulai.
...BERSAMBUNG...