NovelToon NovelToon
The Nick'S Life

The Nick'S Life

Status: tamat
Genre:Cinta Murni / Tamat
Popularitas:635.7k
Nilai: 5
Nama Author: D'Adrianz

Nick, usia 24 tahun. Memiliki wajah tampan, otak encer dan karir cemerlang. Namun semua itu tak membuat hidupnya bahagia. Hidupnya mulai terasa indah ketika bertemu dengan seorang gadis bernama Azizah.

Bersama Azizah dia merasakan artinya cinta. Namun sayang, orang tua Azizah tak merestui hubungan mereka. Demi bisa bersama, keduanya nekad melakukan hal terlarang yang berbuah petaka.

Nick dan Azizah berpisah dengan cara tak terduga. Kecelakaan tragis yang menimpa dirinya juga Azizah telah mengubah hidup pria itu seratus delapan puluh derajat.

Mampukah Nick menata hidupnya kembali? Apakah dia akan bersatu kembali dengan Azizah atau menemukan tambatan hati yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Adrianz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

To The Point

Nick mengajak Iza masuk ke cafe The Castle, cafe tempat Sevia bekerja. Temannya itu sudah menyiapkan tempat untuknya di bagian rooftop. Iza cukup terkagum dengan interior cafe yang unik. Gadis itu terus mengikuti langkah Nick menapaki anak tangga. Keduanya tiba di rooftop, penataan di ruang atap ini ternyata lebih bagus lagi.

Nick menuju salah spot lesehan. Tempat duduk dibuat bentuk persegi dengan model panggung tinggi 30 cm. Di atas panggung tersebut terletak meja di tengahnya. Untuk tempat duduknya disediakan bantal duduk yang terisi bulu angsa.

Seorang pelayan datang memberikan buku menu. Iza menyerahkan pada Nick menu apa yang akan dipesan. Setelah pelayan mencatat pesanan dan berlalu, Iza mengeluarkan note book beserta buku yang tadi dibelinya. Nick menggeser duduknya lebih dekat dengan gadis itu.

“Kamu pake jenis penelitian kuantitatif?”

“Iya.”

“Hubungan atau pengaruh?”

“Hubungan. Ini, mau baca dulu?”

Iza menyorongkan note book ke dekat Nick. Tangan Nick meraih benda persegi tersebut kemudian membaca bab satu yang telah direvisi oleh Iza. Selesai membaca, dia kembali fokus pada gadis di sampingnya.

“Jadinya nantinya teknik samplingnya pake accidental sampling ya.”

“Iya. Rencananya aku mau nebar angket pas event aja.”

“Kamu penelitian di kantor Arnav kan?”

“Kamu kenal pak Arnav?”

“Dia temanku. Kan kita pernah ketemu di sana.”

“Oh iya.”

“Dua minggu lagi, mereka bakal luncurin produk baru. Nah kamu tebar angketnya pas acara itu aja. Nanti aku sama Arnav bakal bantuin, gimana?”

“Aduh aku ngga enak, takut nyusahin.”

“Ngga kok. Yang susah itu ketemu kamu lagi.”

Iza mengulum senyum lalu menundukkan kepalanya. Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Iza bernafas lega karena terselamatkan dari suasana canggung ini. Dia melihat makanan yang tertata di meja lalu menoleh ke arah Nick.

“Kenapa? Kamu ngga suka makanan pilihanku?”

“Suka kok. Kaget aja pesanan kamu pas banget. Ini makanan kesukaanku.”

“Hmm.. bagus dong. Ayo dimakan.”

Iza mengangguk, dia mulai memotong chicken cordon bleu yang ada di piringnya. Nick tersenyum tipis, informasi yang didapatnya dari Topan benar-benar akurat. Sepertinya lelaki itu cocok jika berprofesi sebagai detektiv.

Selama makan Nick tak berhenti mencuri pandang pada Iza. Rasanya seperti mimpi bisa makan bersama dengan gadis cantik yang berhasil mencuri hatinya sejak pertama melihatnya. Sambil makan, mereka berbincang banyak hal, termasuk soal skripsi Iza.

“Aku ngga nyangka loh bisa ketemu kamu lagi.”

“Iya, udah tiga kali kita ketemu di tempat berbeda.”

“Empat kali.”

“Empat? Bukannya tiga ya? Pertama waktu di kantor pak Arnav, kedua pas di hotel, ketiga sekarang.”

“Kantor Arnav pertemuan kedua kita. Pertemuan pertama di lampu merah.”

“Lampu merah?”

Nick mengangguk seraya tersenyum lebar. Iza terdiam, mencoba mengingat kapan pernah bertemu Nick di lampu merah. Namun sekuat apapun gadis itu mengingatnya, dia tak menemukan jawabannya.

“Kamu inget ngga, ada mobil yang hampir nabrak kamu pas lagi nyebrang.”

“Oh iya pas aku nyebrang, ada mobil yang terus jalan padahal udah lampu merah.”

“Iya.. sorry ya, waktu itu aku lagi telponan sama temen jadi kurang konsentrasi.”

“Jadi itu kamu?”

“Hmm..”

Iza tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Rasanya tak percaya ternyata dirinya sudah berkali-kali bertemu dengan pria di sebelahnya. Pria tampan yang sempat mengusik pikirannya akhir-akhir ini.

“Oh iya, aku lupa bawa sapu tangan kamu.”

“Simpen aja buat kenang-kenangan. Kalau kamu kangen aku, lihat aja sapu tangan itu.”

“Ish apaan sih.”

Nick terkekeh melihat Iza tampak malu mendengar ucapannya. Pipinya yang kemerahan membuat hati Nick tak karuan.

“Kamu udah punya pacar?”

“Ngga punya.”

“Bener?”

“Huum.”

“Yang di hotel waktu itu bukan pacar kamu?”

“Bukan. Dia seniorku, lagian dia udah nikah.”

“Terus kamu nangis waktu itu kenapa?”

“Gara-gara permen.”

“Permen?”

Iza mengangguk pelan. Nick yang ingin kembali bertanya mengurungkan niatnya saat melihat kedatangan pelayan yang mengantarkan pesanan dessert. Setelah meletakkan dua buah panacota di atas meja, pelayan wanita itu segera berlalu. Nick melanjutkan misinya mengenal Iza lebih dekat.

“Masa gara-gara permen nangis, kaya anak kecil.”

“Ini permen spesial. Bukan cuma manis, tapi punya cita rasa tinggi, dikemas dengan baik dan harus inden buat dapetinnya. Eh giliran stok ready malah dibeli orang, gondok ngga tuh.”

Nick tersenyum tipis, ada sedikit kecemburuan dalam hatinya mendengar Iza membicarakan lelaki yang sangat disukainya. Permen hanyalah analogi yang digunakan untuk menggambarkan sosok lelaki tersebut.

“Masih ada permen lain yang ngga kalah manis dan dikemas dengan baik juga. Untuk dapetinnya kamu ngga perlu inden. Tinggal bilang iya, kamu pasti dapet permen itu. Walau gampang dapetinnya bukan berarti permen itu murahan ya. Permen itu punya cita rasa yang baik dan berkualitas tinggi.”

Iza tersenyum mendengarnya. Entah mengapa dia merasa pria di sampingnya ini tengah mempromosikan dirinya sendiri. Diliriknya Nick yang sedari tadi tak melepaskan pandangan darinya, membuat Iza sedikit canggung. Belum pernah ada pria yang menatapnya intens seperti ini sebelumnya. Semua pria yang dikenalnya senantiasa menjaga pandangannya.

“Kamu sendiri udah punya pacar?”

“Aku jomblo dari lahir.”

“Masa? Aku ngga percaya, cowok ganteng kaya kamu jomblo.”

“Itu kenyataannya. Wait.. berarti kamu mengakui kegantenganku dong.”

“Iya ganteng kaya sekoteng.”

Iza terkikik geli, Nick semakin gemas dibuatnya. Andai gadis itu adalah boneka, mungkin sudah dipeluk dan diciuminya sepuas hati.

“Kenapa ngga mau pacaran?” suara Iza mengembalikan kesadaran Nick yang melanglang buana melihat kecantikannya.

“Kemarin-kemarin belum nemu perempuan yang kata smash bikin hati aku cenat-cenut.”

“Hmm.. perempuan seperti apa yang bisa bikin kamu cenat-cenut?”

“Seperti kamu.”

BLUSH

Wajah Iza langsung merona mendengarnya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi kegugupannya.

“By the way, gimana jadi ngga mau sebar angket pas event yang aku bilang tadi?”

“Hmm.. pengen sih. Tapi aku belum bikin angketnya.”

“Mau aku bantuin? Kirim file bab 1 ke aku, nanti aku bantu nyusun angketnya. Gimana?”

“Beneran? Kok kamu baik banget mau bantuin aku. Kita kan baru kenal, ngga ada udang dibalik batu kan?”

“Tenang aja, paling ada udang dibalik bakwan aja,” Nick terkekeh.

“Eh aku beneran ngga enak. Atau gini aja deh, kamu minta bayaran apa udah bantuin aku?”

“Gimana kalau minta nomer wa kamu plus makan malam sesudah survey.”

“Itu aja?”

“Ya kalau mau dibonusin foto kamu boleh juga.”

“Ish.. becanda mulu dari tadi.”

“Masukin nomer kamu.”

Nick menyodorkan ponsel di tangannya. Iza meraih ponsel tersebut kemudian memasukkan sederet angka yang menjadi nomer ponselnya. Gadis itu memberikan kembali ponsel pada sang empu.

“Mau disimpan pake nama apa nih?”

“Apa aja.”

“Honey boleh?”

“Aku bukan madu.”

“Sweety deh.”

“Bukan diaperrs juga.”

“Ya udah, cinta gimana?”

“Emang kamu Rangga?”

Nick tergelak, ternyata gadis di sampingnya ini bisa bercanda juga. Iza tersenyum, sebenarnya hatinya bingung, belum pernah dia berinteraksi dengan laki-laki sebebas saat ini. Biasanya dia selalu menjaga jarak dan menjaga ucapannya. Selalu dilanda takut dan cemas kalau sikap dan perkataannya dinilai tak pantas. Tapi bersama Nick, semua mengalir begitu saja, Iza seperti menjadi dirinya sendiri.

“Kalau ini gimana?”

Nick menunjukkan nama yang disematkan untuk nomer ponsel gadis pujaannya. Pria itu menulis nama My Zi ditambah dengan emot cinta tiga buah. Pipi Iza kembali merona, Nick senang sekali membuatnya salah tingkah. Kemudian dia dikejutkan dengan bunyi ponselnya, sebuah nomor tak dikenal memanggilnya.

“Itu nomerku, disave ya.”

“Mau disimpan pake nama apa?”

Tanpa menjawab Nick mengambil ponsel Iza kemudian mengetikkan sebuah nama di nomor kontaknya. Setelah selesai dia mengembalikan ponsel ke empunya. Mata Iza membulat melihat Nick menamai dirinya dengan sebutan My Beloved Nick. Iza yang bermaksud menggantinya langsung dilarang oleh pria itu.

“Jangan diganti! Itu bayaran buat bantuin skripsi kamu.”

“Ehem!! Tapi begitu selesai skripsi, boleh diganti ya.”

“Hmm.. oke.”

Nick tersenyum penuh makna. Dirinya sudah bertekad untuk mendapatkan Iza bagaimana pun caranya. Dia akan memastikan Iza tak akan pernah mengganti namanya di daftar kontaknya.

“Udah dzuhur, aku mau shalat dulu. Di sini ada mushola?”

“Ada di bawah.”

“Ok. Kamu mau ikut sholat?”

“No.”

“Kamu non muslim?”

“Kalau di KTP aku muslim kok. Cuma untuk saat ini, aku belum ada niat lagi buat shalat. Kamu keberatan?”

“Ngga. Itu kan hak kamu. Bukan ranah aku juga buat maksa kamu. Aku shalat dulu.”

Iza mengambil mukena dari dalam tasnya kemudian turun ke bawah. Nick sendiri memilih menunggu di tempatnya. Sebenarnya bisa saja dia berpura-pura ikut shalat untuk mengambil hati Iza. Tapi pria itu tak mau menjadi sosok munafik demi mendapatkan hati gadis yang disukainya. Iza harus tahu dan menerima dirinya apa adanya.

Sepuluh menit berselang, Iza kembali. Wajah gadis itu semakin terlihat bercahaya dan berseri setelah terkena air wudhu. Lagi, Nick dibuat terpana oleh kecantikan gadis itu yang terlihat alami. Dadanya berdesir ketika melihat senyum manisnya.

“Aku pulang ya, janji sama abi ngga lama perginya.”

“Aku antar.”

Nick bangkit dari duduknya lalu beranjak turun. Dia menuju meja kasir untuk membayar tagihan kemudian keluar dari cafe. Ingin rasanya Nick merangkul bahu Iza dan menariknya dalam pelukannya. Hatinya panas melihat beberapa pengunjung laki-laki yang terus melayangkan pandangan pada gadis di sebelahnya.

Nick dapat bernafas lega setelah mereka masuk ke dalam mobil. Tak ada lagi tatapan lapar para lelaki pada Iza. Nick melajukan kendaraannya dengan lambat meninggalkan area cafe.

“Rumah kamu di mana?”

“Tanah kusir.”

“Bukan di kuburannya kan?”

“Emangnya aku kunti yang suka nangkring di pohon.”

Nick tergelak, tangannya gatal ingin mengusak puncak kepala Iza namun tak bisa dilakukannya. Entah mengapa dia begitu menghormati gadis di sampingnya. Ada rasa enggan untuk menyentuh, justru ingin menjaganya. Iza ibarat guci langka yang harus dijaga agar tidak jatuh dan pecah akibat sentuhannya.

Nick menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia tak ingin momen kebersamaannya cepat berakhir. Nick berharap ada si komo lewat hingga menimbulkan kemacetan panjang dan lama.

Mobil yang dikendarai Nick akhirnya memasuki daerah tanah kusir. Dia membelokkan kendaraannya memasuki daerah perumahan yang berada di wilayah Jakarta Selatan. Mobilnya terus melaju mengikuti arahan Iza melewati rel kereta api.

“Berhenti di depan sekolah aja.”

“Emang rumah kamu yang mana?”

“Di belakang sekolah.”

“Ya udah aku antar aja sampai ke depan rumah.”

“Jangan. Abi aku galak, nanti kamu diinterogasi macem-macem. Aku turun di situ aja.”

Nick tak membantah, dia menyalakan lampu sen kanannya kemudian berhenti di depan sekolah menengah negeri atas yang cukup terkenal.

“Jangan lupa kirim file skripsi kamu biar aku bantu buat angketnya.”

“Ok. Makasih sebelumnya, makasih juga buat makan siangnya.”

“Sama-sama.”

Iza tersenyum pada Nick kemudian membuka pintu mobil. Nick menurunkan kaca mobil. Matanya terus memperhatikan Iza berjalan mengitari bangunan sekolah. Rumah gadis itu memang terletak di belakang gedung sekolah. Setelah keberadaan Iza sudah tak terlihat lagi, Nick menjalankan kendaraannya. Senyum puas tercetak di wajahnya. Tangannya bergerak menyalakan audio mobilnya. Terdengar siulannya mengiringi lagu yang mengalun.

🍂🍂🍂

Nick to the point banget ya, kaya pake kereta ekspress ya biar cepet sampe ke tujuan.

1
Kas Mi
d rendang thor😄🤣🤭
Kas Mi
apalagi aku thor g mungkin..nope bu diah aj aku g punya😄🤣
Kas Mi
/Good//Good//Good/
Kas Mi
kan g d ksih sodium nick mnis.y🤣😄
Kas Mi
aku baru engeh klw bca kisah bpk.y zayn..thor aku lp klw arnav bpk.y siapa?
Kas Mi
buseet dah jadwal mma.y kya dokter praktek aj thor🤣😄
sri murlini
kpn bikin karya lg tor
🅵🆉🆁 αժɾíαղ: Cek akun Ichageul. aku banyak bikin karya di akun itu
total 1 replies
🌸ReeN🌸
bener2 bagus bgt ceritanya, sahabat sejati yg bener2 setia apapun yg terjadi, recomended bgt
🌸ReeN🌸
aku kira namanya jarvis, bukan anak pertama meta sama ridho namanya jarvis ya
Oky Uchy
aku baru baca novel ini krna penasaran dg kisah cinta org tuanya attar,zayn dan kawan2 ternyata seru ya kak....
Intan Pakpahan
The Ramadhan😁
Intan Pakpahan
ohhh disini awal ktmu keluarga Ramadhan yach...
Intan Pakpahan
mampir sini abis dr Azzam, lannjjottt Nick😁
Euis Sri
ada,.jadi kangen ama Rizal Poppy Sarah Regan
Nabila hasir
akhirnya arnav souldout juga.
Nabila hasir
author sedihnya itu nick ma iza kenapa nyesek banget.
padahal nabila cuman baca.padahal cuman crita.
sampek anakku nanya di sampingku.
emak nangisi apa.nangis kenapa??
ini baca crita online.
heheheheh
Nabila hasir
di antara sahabat nick.hanya arnav yg gak sejodoh ma pasangannya.arnav ma meta berpisah
Nabila hasir
kok sedih ma arnav
Nabila hasir
ternyata meta ma ridho.
arnav kasik jodoh pasangan juga donk .
Nabila hasir
author piye iki.
nbila nangis trus bacanya ini.
😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!