ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMOGA JODOH
"Cantik." Mata Adam memandangnya dengan lekat.
Alda hanya membalas dengan senyum samar. "Terima kasih."
Sesaat keduanya hanya terdiam. Saling melempar tatapan satu sama lain. Hampir sepuluh menit lamanya, hingga wanita cantik itu mengangkat suara.
"Kak."
Adam memperbaiki posisi menjadi terlentang. "Iya."
Ada sepercik keraguan sebelum ia mengungkapkan isi kepalanya yang sedari tadi terus menuntut untuk segera dituntaskan. "Maaf jika menyinggung ...."
Adam mengerutkan kening. "Ada apa? Katakan saja," tukasnya.
"Mm ... mengapa bercerai dengan istri pertamanya?" Alda menahan napas saat mengucapkan.
Pria itu terkekeh. "Kenapa wajah calon istriku tegang begitu?"
Alda dengan cepat menggeleng. "Tidak." Dia mencoba mengelak.
"Yah ... sebenarnya aku tidak ingin membahas hal ini. Tapi, karna calon istriku bertanya, maka aku harus menjawabnya."
Wanita cantik itu menyimak dengan baik. Tidak mencela pembicaraan agar semuanya terdengar jelas.
"2 tahun lalu Soraya melayangkan gugatan ke pengadilan agama diusia pernikahan kami menginjak 13 tahun. Antara aku dan dia sudah tidak ada yang bisa dipertahankan lagi. Aku pun sudah mengatakan padanya untuk memikirkan dengan baik-baik. Tapi wanita itu tetap kukuh dengan keputusannya."
Adam mulai menceritakan segala yang dipertanyakan oleh wanita yang sebentar lagi menyandang status sebagai istrinya. Meski tak segamblang yang diinginkan.
Adam menghela napas. "Itu hanya masa laluku yang harus kamu terima di luar bagaimana hal itu bisa terjadi," ucap pria itu.
Sesaat kemudian anggukan kecil nampak dari Alda.
*****
Keesokan hari, seorang wanita paruh baya dengan jilbab pasang berwarna toska membalut kepalanya. Ia turun dari angkutan umum kota tersebut. Tampak ia menenteng sebuah tas berukuran besar dan melangkahkan kaki masuk ke dalam pekarangan rumah minimalis.
Ia menyeka keringat yang mulai bergulir di wajahnya. Memang, siang itu terik matahari cukup membakar menghasilkan gerah dan penat yang mendominasi.
Wanita paruh baya itu mengeluarkan kunci dari saku dan membuka pintu.
Tak ada yang berbeda dari isi rumahnya. Semua masih sama saat ia meninggalkannya puluhan hari yang lalu.
Meski debu sedikit menempel pada beberapa perabotan, tapi ia memaklumi dalam hati. Karena memang, anak semata wayangnya tak memiliki waktu untuk membersihkan. Jika hari libur, ia memilih untuk beristirahat total atau pun keluar bertemu dengan rekannya.
Wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya menuju dapur. Terlihat wajan kecil yang bertakhta di atas kompor, bekas penggorengan.
"Ibnu ... Ibnu."
Bu Hilda tersenyum. Ia mengingat putra semata wayangnya yang tak pernah bermasalah dengan apa yang ia santap. Meski hanya sebutir telur ditambah kecap ABC.
Pikir Bu Hilda, beruntung istrinya kelak. Putranya adalah tipe yang tak pernah mau merepotkan orang lain.
*****
"Ibu pulang tidak telepon. 'Kan bisa dijemput di terminal." protes Ibnu saat mendapati ibunya sepulang ia kerja.
"Banyak angkot."
Ibnu menciumi tangan ibunya lalu beralih ke pucuk kepala wanita paruh baya itu. Sungguh perlakuan yang manis.
"Urusannya lancar, Bu?"
Bu Hilda mengangguk. “Alhamdulillah ... dilancarkan."
Wanita paruh baya itu melerai dan mengeluarkan barang-barang dari dalam tas. Beberapa mika yang berisi kue-kue kering menjadi buah tangannya.
Ibnu yang melihat segera berjalan mendudukkan diri di kursi.
"Ibu beli banyak. Bisa buat keluarga Nana atau pun teman-teman kantormu," seraya menumpukkan sekitar 10 mika berukuran sedang di atas meja.
Ibnu mengangguk.
"Siapa tahu Ibu sudah punya calon mantu. Bisa sekalian."
Pria tampan itu hanya mampu terkekeh. Mendengar ucapan Sang Ibu seperti kode keras yang tentu ditujukan untuknya.
"Ibu sudah siap melamar?"
Bu Hilda menatap Sang putra. "Dari dulu 'kan Ibu sudah bilang, Nu, untuk segera mencari kandidat. Berarti Ibu sudah sangat siap," tukas wanita paruh baya itu.
Ibnu menipiskan bibir.
"Memang siapa?" Alis Bu Hilda terangkat.
"Ibnu masih dalam masa pendekatan. Yah ... kali ini, semoga jodoh."
Bu Hilda memegang pundak putranya. Dia menepuk-nepuk beberapa kali. "Tidak perlu pacaran terlalu lama, Nak. Kalau memang ada niat serius, coba tunjukkan pada Ibu. Bawa dia kemari."
"Aku yakin. Ibu pasti suka." Jelas terdengar nada keyakinan seorang Ibnu Rajab.
"Aamiin ... ibu percaya."
.
.
.
.
.
Semoga teman-teman dalam keadaan sehat wal Afiat🙏
Igeh : asriainunhasyim
Salam
AAH♥️
smg ibnu jg bisa mncintai nana