Karena alasan cinta, Aisha mengubur cita-citanya dan menikah muda dengan Aarick. Namun sayang, ternyata cinta saja tidak mampu menjaga keutuhan rumah tangganya.
"Di mana dia menyentuhmu! Apa selama ini kau selingkuh di belakangku?" teriakan Aarick menggema di dalam kamar.
"Apa kau akan melepaskan aku jika aku menjawab iya?"
"Aisha!!"
Sejak pertengkaran itu Aarick semakin bersikap dingin, bahkan rasa cemburunya sudah menyakiti Aisha dan janin yang dikandung istrinya.
Bagiamana akhir rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MT2. Bab 9.
Aditya mengangkat kedua tangannya diudara, pertanda ia menyerah dan tidak mau cari masalah dengan kakaknya yang memang jago bela diri, berbanding terbalik dengannya yang belum menguasai ilmu bela diri, baginya labih baik mengejar wanita dari pada bergelud dengan sesuatu yang hanya bisa membuat tubuhnya pegal dan penuh memar.
"Slow respon, Kak ... Aisha pengecualian. Takdir kakak dan Aisha sudah dimulai tanpa ada aku di dalamnya, ayolah ... kita nggak akan mungkin terlibat kisah cinta segitiga."
Aditya tertawa tanpa perduli tatapan Aarick yang seperti ingin mengulitinya.
"Hanya ada Kakak dan Aisha ... aku tidak masuk di dalamnya." Aditya mendekati Aarick dan memeluk kakaknya dengan erat."Aku bahagia untuk kalian berdua..." bisiknya lirih.
Aarick tersenyum lega "Terima kasih, aku berjanji ini pilihan terakhirku," jawab Aarick tak kalah lirih.
Terkadang sifat keras kepala menimbulkan salah paham diantara keduanya, beruntung Aditya selalu bisa lebih dulu mencairkan suasana. Sehingga tidak sampai membuat masalah terlalu lama diantara Aarick dan Aditya.
***
Aisha gelisah di dalam kamar karena tidak menemukan ponselnya, padahal hari ini ia ada janji untuk merayakan kelulusan dengan membuat pesta kecil-kecilan di bukit indah, sebuah bukit tempat wisata yang selalu ramai di akhir pekan seperti ini.
Setelah memastikan penampilannya lebih fresh dengan sedikit sentuhan makeup dan lipstik warna peach di bibirnya, Aisha menemui Papa dan Mamanya untuk meminta ijin keluar rumah. Awalnya Papa Endi tidak mengijinkan Aisha keluar rumah, tetapi saat itu Oca dan anak-anak yang lain tiba-tiba datang dan meminta ijin untuk membawa Aisha pergi. Dengan berat hati dan beberapa syarat yang harus dipenuhi akhirnya Papa Endi mengijinkan Aisha keluar rumah.
"Naik motor?" Aisha terkejut saat melihat beberapa motor sport sudah berjejer rapi di halaman rumahnya, anak-anak lain tersenyum ramah menyapanya.
"Iyalah, namanya juga touring. Lebih seru daripada naik mobil." Oca memakaikan helem untuk Aisha. "Udah naik, keburu papamu berubah pikiran," titahnya.
Aisha mematung dan ragu saat melihat satu-satunya tempat kosong yang bisa didudukinya adalah motor sport hitam milik Yopi cowok populer di sekolah.
"Ayo naik, Sha ... jangan khawatir. Aku udah mahir naik motor. Kamu pasti aman diboncengan," ajak Yopi yang sudah mulai menghidupkan mesinnya.
Dengan menahan gugup Aisha naik ke atas motor Yopi. Beruntung ia memakai jens yang membuatnya leluasa bergerak.
"Pegangan Sha, nanti jatoh," ucap Yopi yang sudah melajukan motornya menyusul motor lain yang sudah mendahuluinya.
Kini iringan beberapa motor sport dengan berbagai macam warna itu sudah menyusuri jalan raya, membelah padatnya lalu lintas di siang hari yang cukup terik. Dengan ragu dan tidak punya pilihan lain Aisha mengencangkan pegangan dengan melingkarkan tangannya di pinggang Yopi teman satu kelasnya. Mereka cukup tertinggal jauh dibelakang anak-anak yang sudah lebih dulu berlalu melewati rambu lampu merah, sementara dirinya dan Yopi terjebak di sini.
Yopi membuka kaca helm dan mengajak Aisha bicara. "Rencananya kamu mau kuliah di mana, Sha?" tanya Yopi.
Aisha yang saat itu sedang melihat arah jam dua membuka kaca helm yang tadi menutup wajahnya dan menoleh kearah yang berlawanan. " Kamu tadi bilang apa? Nggak kedengeran!" tanya Aisha sedikit mengeraskan suaranya.
Yopi mengendurkan punggungnya sehingga wajah mereka semakin dekat, "kamu punya rencana mau kuliah di mana?" Bahkan hembusan napas Yopi menerpa wajah Aisha.
"Pengennya di luar negri. Kamu tau kan aku pengen jadi arsitek muda," jawab Aisha.
"Aku pikir kamu udah berubah pikiran, jadi guru, dokter, model atau apalah yang lebih feminim."
Aisha menepuk bahu Yopi. "Perkataan ini yang bisa mematahkan semangat orang, emang salah ya kalau perempuan jadi arsitek? Banyak kok yang udah berhasil mengembangkan kemampuannya, bisa jadi gedung kampus yang mau kamu tuju juga hasil design para wanita," jawab Aisha.
"Ok! Tapi masalahnya kamu tuh anak mami, emang dapat ijin kuliah di luar negri?" tanya Yopi.
"Ya kalau nggak dijinjkan tinggal kabur aja, gampang kan ... pokoknya nggak ada yang bisa menghalangi niatku, Yop," Aisha tidak mau lagi hidup seperti burung di dalam sangkar emas.
"Kalau nanti kamu kabur jangan lupa calling aku ya Sha, biar kamu nggak kesepian di negri orang, ada aku yang setia nemenin kamu," seloroh Yopi yang sudah mulai melajukan motornya.
"Itu sih maunya kamu," Aisha tertawa mendengar lelucon Yopi.
***
Dengan menggunakan motor sport miliknya yang hampir jarang dipakai, Aarick menyusuri jalan raya menuju rumah Aisha untuk mengembalikan handpone calon istrinya, ia yang saat itu mengemudikan motor dengan kecepatan sedang dikejutkan dengan beberapa motor ugal-ugalan mendahuluinya.
"Nggak sayang sama nyawa," gumam Aarick dibalik helmnya. Matanya tertuju pada laki-laki dan perempuan yang terlihat mesra di atas motor yang terakhir melintasinya.
Darah Aarick memanas saat mengenali wanita yang memakai swater rajut lengan panjang itu tengah mengobrol dan tertawa di lampu merah, bagaimana bisa calon istrinya terlihat begitu akrab dengan laki-laki lain?
"Siapa dia?" Aarick meliriknya seperti elang yang siap menerkam mangsanya.
Rasanya ingin sekali ia menarik dan membawa Aisha pergi, tetapi rambu lalu lintas yang sudah kembali normal menghentikan niatnya.
Aarick memacu motor dengan kencang untuk mengejar Aisha yang jaraknya hanya beberapa meter di depan, ntah berapa kendaraan yang sudah dilaluinya, rasa cemburu sudah hampir menghilangkan kewarasannya, ia tidak perduli makian dari pengendara lain yang terkejut dengan aksinya yang terkesan ingin menguasai jalan.
Saat ini tujuannya hanyalah membawa Aisha calon istrinya menjauh dari lelaki asing itu hingga ia berhasil melaluinya.
Ciiiitttttttttt!!!!
Dari jarak yang cukup jauh Yopi sudah mulai menghandle rem, ia terkejut saat melihat seorang laki-laki yang masih memakai helm melintangkan motornya seakan menghalangi jalannya, beruntung ia masih sempat menguasai diri hingga meminimalisir terjadinya kecelakaan.
"Ada apa sih?" tanya Aisha panik.
"Nggak tau, dia menghalangi jalan kita," jawab Yopi menunjuk seseorang yang sudah turun dari atas motor. "Kamu kenal sama dia, Sha?" tanyanya lagi.
"Dia..." Aisha tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Aarick yang baru saja membuka helm dan meletakkannya di atas tangki motor, dadanya seperti terasa sesak menahan getaran tubuh yang terasa gemetar.
"Pulang!" Aarick sudah berdiri tepat di samping Aisha, matanya beradu pandang dengan mata Aisha yang tampak terkejut melihatnya. Aarick memegang pergelangan tangannya saat gadis ini bergeming di tempatnya.
"Aku bilang pulang, ya pulang!" Aarick sudah menaikkan intonasi suaranya sampai membuat Aisha spontan sekilas memejamkan mata.
"Mas siapa? Jangan main paksa anak orang, dong!" Yopi memegang tangan Aarick tetapi Aarick menghempaskan tangannya.
"Kau tidak perlu tau siapa aku, yang pasti mulai hari ini jangan pernah dekati Aisha," ucap Aarick dengan suara bergetar.
Yopi dan Aisha sama-sama menelan ludah melihat wajah Aarick yang sudah semakin merah padam.