NovelToon NovelToon
BERMUKA DUA

BERMUKA DUA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:807.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.

Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memori

Inez menggandeng tangan Mama Olive yang sedang mendorong kursi roda menuju kamar Papa. Awalnya Inez hanya memiliki setengah keyakinan dapat melewati semua masalah ini, namun dengan support dan dukungan Mama maka keyakinannya menjadi bulat.

Inez membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Mamanya masuk lebih dahulu. Terlihat Papa sudah bangun dari tidurnya dan sedang menonton televisi.

"Papa..." Inez memeluk Papanya tersayang dengan erat.

"Kah..mu... udahh dahtang?" tanya Papa Willy.

"Iya, Pa. Tadi Inez abis ngurus administrasi kepulangan Papa. Sekarang Papa udah boleh pulang ke rumah lagi deh." kata Inez dengan bahagia.

Papa tersenyum. Papa Willy memang sudah tidak betah berlama-lama di Rumah Sakit. Ia ingin segera pulang ke rumah.

"Mm... tapi Pa.... Ada yang mau Mama omongin sama Papa." Mama memutuskan membicarakan semuanya sekarang di Rumah Sakit. Agar jika terjadi apa-apa dengan Papa mudah mendapatkan pertolongan pertama karena Papa masih dalam pengawasan dokter. Ia takut Papa shock kalau diberitahu rumahnya akan dijual.

"Ahpah?" Papa Willy sudah menyadari bahwa ada masalah yang terjadi. Ia pun mempersiapkan diri menerima keputusan terburuk sekalipun.

"Intinya kita bertiga akan menghadapi semua ini bersama-sama ya Pa." kata Inez menguatkan Papa.

"Ihya." Papa pun mengangguk.

"Mmm... Seperti yang Papa duga, biaya rumah sakit sangat besar dan asuransi Papa tidak sepenuhnya mengcover semua biayanya. Dan mengenai masalah yang menimpa Inez. Tadi Mama dan Inez sudah mendiskusikannya dan kami berdua sudah mencapai jalan keluarnya. Ini yang terbaik untuk kita semua Pa." kata mama Olive.

"Jahlan...kehluar ahpah?" tanya Papa Willy masih dengan terbata-bata.

"Inez memutuskan tetap kuliah dan melanjutkan hidupnya tanpa meminta pertanggung jawaban cowok itu. Biarkan ya Pa. Daripada kita memaksa Inez menikah dengan cowok yang tidak Ia cintai malah akan membuat Inez makin menderita. Papa setuju tidak?"

Papa menghela nafas berat. Ia pun mengangguk. "Pahpah... setuhjuh... ahsal kahmu bahagiah..."

Air mata Inez tak kuasa terbendung dan akhirnya lolos. Inez memeluk kembali Papa tersayangnya tersebut. "Makasih ya Pa. Inez janji gak akan kecewain Papa lagi."

Papa mengangguk dan mengusap lembut punggung Inez. "Lahlu ada apah lagih?"

Papa seakan bisa membaca kalau akan ada hal buruk yang terjadi dan memerlukan jalan keluar yang mengharuskannya mengorbankan sesuatu. Saat istrinya mengatakan ada sesuatu yang mau diomongin, maka saat itu pula Ia harus siap menerima kenyataan pahit.

"Mama sama Inez memutuskan untuk menjual rumah kita, Pa." Mama Olive diam sejenak. Menunggu respon suaminya. Setelah dipikirnya Papa Willy bisa menerimanya Mama pun melanjutkan lagi perkataannya.

"Papa harus diterapi agar Papa bisa kembali lagi seperti dulu. Biaya terapi sangat besar, Pa. Sementara uang tabungan kita sudah berkurang drastis untuk membayar biaya rumah sakit. Mama dan inez berencana membeli rumah di pinggir kota dan sisa uang penjualan rumah untuk biaya terapi Papa. Mama juga sudah meminta ijin Papa untuk tidak masuk kerja sementara waktu. Seperti yang Papa tahu, ijin kerja tidak mendapat gaji bulanan. Mama tau Papa masih mau bekerja setelah sembuh nanti, karena itu Mama gak ngajuin pensiun dini untuk Papa. Bagaimana Pa? Papa setuju atau tidak dengan keputusan Mama dan Inez?" Mama Olive memegang tangan suaminya dan menggenggamnya, memberikan dukungannya sebagai seorang istri yang amat mencintai suaminya.

"Kahlian jahdi susah kahrenah Pahpah...." ucap Papa Willy dengan suara sedih yang amat mengiris hati siapapun yang mendengarnya.

"Enggak, Pa. Papa jangan bicara seperti itu. Jangan menyalahkan diri Papa. Seharusnya Inez yang disalahkan, Pa. Semuanya karena Inez. Papa sampai sakit juga karena Inez." tangis Inez dengan penuh penyesalan.

"Pahpah tihdak menyahlahkan kahmu. Suhdahlah, Nez. Jahngan nahngis." dengan suara terbata-bata Papa masih berusaha membela dan menghibur Inez.

"Iya sudah ya Inez. Kan kita udah janji akan menghadapi semuanya bersama-sama. Ayo gak ada lagi ya yang menangis dan saling salah-salahan!" ujar Mama Olive menengahi.

Inez menghapus air matanya dan menghentikan tangisnya. Mama benar. Semua bisa kami hadapi. "Iya, Ma. Maafin Inez."

"Nah gitu dong. Jadi gimana nih sama Papa? Papa setuju atau ada ide lain?" tanya Mama Olive.

"Pahpah...sehtujuh sajah. Kahlian pastih suhdah memikirkan sehmuanya. Pahpah ikut kahlian sahjah."

Mama Olive pun tersenyum. Inilah bedanya keluarga Inez dengan keluarga lain termasuk dengan keluarga Rara. Semuanya dibicarakan baik-baik dan dicari jalan keluar yang terbaik. Tidak mengambil keputusan sepihak dan dengan emosi.

Mama dan Inez lalu bersiap-siap membawa Papa pulang.

*******

Keesokan harinya Mama Olive menghubungi pihak agen properti untuk menjual rumah. Mama juga minta dicarikan rumah lain dengan harga yang lebih murah.

Proses jual beli rumah tidak berlangsung lama. Bisa dibilang sangat cepat. Rumah Inez memang terletak di daerah yang strategis. Lingkungannya keluarga berada dan memang sudah banyak yang menawarkan dengan harga tinggi untuk membeli rumah di kawasan perumahan Inez dan Rara.

Sementara Papa Willy sedang berjemur di halaman rumah, Inez dan Mama Olive sedang mempacking barang-barang untuk pindahan rumah.

"Nez, coba kamu ke rumah Rara. Lihat apakah Tante Vio ada di rumah atau tidak." perintah Mama Olive.

"Untuk apa, Ma?"

"Mama mau berpamitan dengan Vio. Bagaimanapun Violet dan Mama sudah berteman sejak lama. Dan kita bertetangga juga sudah lebih dari 10 tahun. Mama mau berpamitan sebelum kita pergi." Mama Olive terlihat masih sibuk dengan packingan barang. Inez pun menuruti perintah Mamanya. Ia tahu Mama sangat sibuk. Waktu amat berharga bagi Mama sekarang. Walau hanya sekedar menengok apakah Tante Vio ada atau tidak itu sudah memakan waktu Mama. Mama bisa mengerjakan pekerjaan lain dalam waktu sebentar itu.

"Baiklah, Ma. Inez ke rumah Tante Vio dulu ya." Inez menaruh kardus yang Ia pulang lalu pergi ke sebelah rumahnya.

Inez mengetuk pintu rumah Rara. Ia tahu Rara sudah kembali ke asramanya. Inez sebenarnya malas ke rumah Rara lagi. Kalau saja waktu itu Rara tidak membocorkan semuanya ke Papa, mungkin saat ini Papa masih segar bugar dan mereka tidak perlu menjual rumah mereka hanya untuk biaya terapi Papa. Inez kecewa bahkan sampai terakhir liburan di sini, Rara tak juga menjenguk Papanya walau sekedar untuk berbasa-basi saja.

Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat dan Tante Vio pun membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Inez? Ada apa Sayang?" tanya Tante Vio.

"Emm... Inez disuruh Mama, Tante. Memastikan Tante Vio ada dirumah apa enggak."

"Tante Vio lagi gak kerja Sayang. Semalam Tante baru sampai rumah jam 2 pagi. Jadi Tante libur hari ini. Memangnya ada apa? kenapa bukan Mama kamu sendiri yang kesini?" tanya Tante Vio heran.

Tante Vio memang sangat sibuk. Pekerjaannya sebagai wanita karir dengan pekerjaan yang super sibuk membuatnya jarang berada di rumah. Tante Vio termasuk wanita yang sukses dalam karirnya. Karena itu pula Ia jarang memperhatikan Rara dan sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

Walau super sibuk tapi Tante Vio menyempatkan diri menjenguk Papa Willy di Rumah Sakit. Tentunya seorang diri tanpa Rara yang beralasan sedang tidak enak badan.

"Tunggu sebentar ya, Tante. Inez panggil Mama dulu. Mama lagi packing, Tante." Inez pun pulang kembali ke rumahnya. Inez melirik sekilas Papanya yang berjemur sampai tertidur di bangku teras. Kasihan Papa, rumah masih berantakan dan banyak debu lebih baik Papa di teras saja dulu.

"Ma... Ma... Tante Vio ada di rumah tuh. Sekarang Tante Vio nungguin Mama di depan rumahnya." beritahu Inez.

"Ayo kita kesana. Temani Mama pamitan." ajak Mama Olive yang langsung menggandeng tangan Inez agar menemaninya.

Inez dan Mama Olive pun ke rumah Tante Vio. "Ada apa sih Liv sampai nyuruh Inez ngecek gue ada di rumah apa enggak?" tanya Tante Vio pada Mama. Mereka memang sudah berteman sejak lama karena itu mereka saling memanggil gue elo saking akrabnya.

"Gue lagi sibuk packing. Harus cepet-cepet. Kasihan suami gue nunggu di luar karena rumah berdebu." alasan Mama Olive.

"Packing? Kalian mau kemana memangnya?" tanya Tante Vio heran. Jarang ada di rumah membuatnya tidak tahu keadaan tetangganya yang sudah menjual rumahnya.

"Kami mau pindah, Vio." Mama Olive mengikuti langkah Tante Vio ke dalam rumahnya dan duduk di ruang tamu.

"Pindah? Pindah kemana? Kenapa kalian pindah?"

"Kami sudah menjual rumah dan beli rumah di daerah M. Ya mau bagaimana lagi, Vio. Gue butuh biaya buat pengobatan Willy. Sekarang kan Willy enggak kerja karena cuti sakit, otomatis gue gak ada pemasukan. Mau kerja lagi juga gak mungkin, nanti siapa yang ngerawat Willy? Karena itu gue terpaksa jual rumah untuk biaya pengobatan Willy." kata Mama menjelaskan.

"Ya ampun, Liv. Kok lo gak bilang sih sama gue kalo lo butuh biaya? Gue bisa bantuin lo. Jadi gak usah ya sampai pindah rumah segala." ujar Tante Vio dengan tulus. Tante Vio memang tegas dan disiplin, namun dibalik sifatnya yang keras tersebut hatinya amat baik. Ia tidak segan-segan menolong Mama Olive karena Ia sadar sejak dulu yang membantu merawat anaknya Rara karena Ia sibuk bekerja adalah Mama Olive. Sekarang Ia amat sedih karena tetangga sekaligus sahabat terbaiknya akan pindah rumah.

"Gak usah, Vio. Makasih. Ini udah keputusan gue dan keluarga gue. Kita gak mau nyusahin orang lagi." tolak Mama Olive dengan halus agar tidak menyinggung perasaan Tante Vio yang memang berniat baik untuk menolong.

"Ih gue sedih deh gak ada kalian di samping rumah gue. Ya walau gue jarang di rumah kan gue seneng liat keluarga kalian yang akur dan harmonis."

"Tenang aja, Vio. Nanti kan kita masih bisa ketemuan. Lo bisa main ke rumah gue dan nanti kita juga masih bisa main ke rumah lo juga. Gak jauh kok rumah kita yang baru nanti dari sini. Paling hanya sejam aja kalau macet." hibur Mama Olive.

"Tetep aja kalian gak jadi tetangga gue lagi. Makin kesepian deh gue, Rara di asrama dan kalian udah pindah." kata Tante Vio dengan sedih.

"Sebentar lagi kan Rara udah selesai kuliah Tante. Jadi bisa nemenin Tante Vio di rumah." Inez pun ikut menghibur Tante Vio.

"Bisa aja kamu hibur Tante, Nez. Oh iya Tante ada cardigan warna hitam masih baru banget. Kemarin Tante beliin buat kamu. Ambil di kamar Tante ya. Ada di dalam Paper Bag Kate Spade."

"Yang bener Tante? Buat Inez?" mata Inez langsung bling-bling mendengar akan dikasih cardigan bermerk terkenal dan mahal pastinya dari Tante Vio.

"Iya, bener. Tante beli dua. Buat kamu warna hitam dan buat Rara warna kuning. Rara suka warna kuning soalnya. Ambil sendiri sana. Tante mau ngobrol sama Mama kamu dulu sebelum Mama kamu pindah." ujar Tante Vio.

"Oke, Tante. Makasih banyak ya." Inez pun menuju kamar Tante Vio.

Kamar Tante Vio terletak di lantai atas, bersebelahan dengan kamar Rara. Kamar Tante Vio amat luas. Banyak barang branded milik Tante Vio yang tertata dengan rapi. Mulai dari koleksi sepatu, jam tangan dan tas. Semuanya mahal.

Inez melihat sebuah paper bag yang terletak diatas tempat tidur. Ada dua buah cardigan seperti yang Tante Vio katakan. Cardigan warna hitam dengan motif kotak-kotak hitam putih itu miliknya. Satu lagi cardigan warna kuning polos dengan motif bunga-bunga yang amat cantik untuk Rara.

Inez mengambil cardigan miliknya dan hendak keluar dari kamar Tante Vio. Tatapan matanya tertuju pada lemari kayu milik Tante Vio yang sudah lama ada di kamar Tante Vio. Inez mendekat dan melihat lubang di lemari tersebut.

Inez teringat kejadian saat Ia kecil. Waktu itu Ia sedang bermain petak umpet bersama Rara.

Inez sedang tugas mencari Rara yang bersembunyi. Inez sampai ke depan kamar Tante Vio dan melihat Om David sedang mencekik leher Tante Vio. Tante Vio terlihat kesulitan bernafas.

"Om... lepasin Tante, Om...." pinta Inez kecil.

Om David yang melihat Inez menyaksikan perbuatannya pun menurunkan tangannya dari leher Tante Vio. Dengan kesal Om David meninju lemari kayu sehingga membuat lubang kecil. Ia pun pergi meninggalkan rumah.

Tante Vio terlihat masih terbatuk-batuk bekas cekikakan di lehernya. "Tante... Tante gak apa-apa?" tanya Inez kecil khawatir.

"Tante gak apa-apa. Mana Rara?" tanya Tante Olive.

"Rara lagi ngumpet di kamarnya Tante." jawab Inez jujur.

"Tolong Tante. Jangan sampai Rara melihat semuanya." pinta Tante Olive.

Inez pun mengangguk dan berlari menuju kamar Rara. Inez berpapasan dengan seorang wanita cantik berusia masih remaja. Wanita tersebut berpakaian amat seksi dan sambil menghembuskan rokok dari mulutnya.

Inez pun masuk ke dalam kamar Rara dan menguncinya. Inez menyembunyikan kunci kamar dari Rara.

"Pokoknya lo harus menandatangani surat cerai! Gue mau kita cerai!" suara Om David terdengar menggelegar sampai membuat Rara yang bersembunyi pun keluar dari tempat persembunyiannya.

"Nez, itu Papa aku ya?" tanya Rara. Sudah lama Ia tidak melihat Papanya berada di rumah. Kedatangan Papanya memang diam-diam. Om David membawa surat cerai dan memaksa Tante Olive menandatanganinya.

"Nez jawab aku!" teriak Rara. Inez hanya diam dengan penuh ketakutan.

1
Ran Aulia
ceritanya bagus banget, sudah pasti ada momen terharu lah ya bikin mewek

terima kasih ya kak 😍😍😍😍
Evayanti Sagala
Luar biasa
dream
baik
Susivira Wati97
hampir semua karyanya aq baca thot suka alur cerita ringan
L2h
Kecewa
Mari Anah
akhir y selesai jg,makasih ya thor udh buat novel yg superrrr keren🤗🤗sukses trs bwt karya2 y ya thor😍😍🤩🤩
Mari Anah
emang ya si rara itu hati y busuk bgt,secara g langsung dy yg udh bikin papah willy meninggal
Mari Anah
nah loh kaget kan rio🙄
Mari Anah
gara2 salah faham inez jdi elffil deh sma rio,udh balikan lgi ajah sma andrew nez,hati rio msh ska goyah😁lanjut thor
Mari Anah
si rara murahn bgt ya🙄
Mari Anah
owh ternyata ky gtu toh cerita y,lanjut thor
Mari Anah
duuuuuhhh kpn sih rio cerita sbnr y k inez,ko aku yg jdi geregetan sndri ya🙄🙄🙄
Mari Anah
ada typo thor😁tante vio kli bkn tante video🤣
Mari Anah
idiiiiihh si rara g berubah2 ya msh ajah itu hati y julid,,klo aku mah ogah punya temen ky gtu,tmn bgt mending d tenggelam kan ajah🙄
Mari Anah
ky y inez lbh cocok sma rio deh,klo andrew trllu sempit cara pemikiran y
Mari Anah
Luar biasa
Mari Anah
cocok lah visual rara,ky judes2 julid gtu muka y
Mari Anah
aku hadir thor,ko aku tkt ya kl inez mau ngenalin k andrew,g tkt apa kl andrew hati y pindah haluan🤔
Yosfi Sofianti
Luar biasa
Lusiana_Oct13
udah rara di jodohin sama mantan nya inez aja sama2 bermulut pedas 😂😂 klo aku suka inez sama rio
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!