Demi menyelamatkan kembarannya dari pernikahan dengan pemimpin Yakuza yang paling ditakuti, Stella Rossi nekat menyamar menjadi Luna dan berjalan ke altar.
Takeo Akira, Kumicho berdarah dingin, memilih Luna karena mengira perempuan lembut itu paling mudah dikendalikan. Pernikahan ini hanyalah langkah pertama dari balas dendamnya pada keluarga Lombardi, dan begitu pewarisnya lahir, istrinya tak lagi berguna.
Tapi malam pertama membongkar penyamaran itu. Dan perempuan yang terbaring di ranjangnya sama sekali bukan bidak penurut yang dia bayangkan.
Satu dikurung dalam gelap. Satu bersumpah tak akan pernah menunduk.
Antara dendam yang membara dan debar yang tak mau padam, siapa yang sebenarnya sedang memerangkap siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Benteng
Stella
Aku terus memandang keluar lewat jendela kecil pesawat. Di luar, malam menelan segalanya. Cahaya kota-kota lenyap perlahan, digantikan kekosongan gelap yang luas. Aneh. Untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, tak ada yang mengawasiku selain dia.
Meski tak menatapnya, aku merasakan mata Takeo tertuju padaku. Beratnya pandangan itu seperti menyentuh kulitku, tapi aku menolak menoleh. Kupura-pura tak peduli. Wajahku kubuat datar, seakan kehadirannya tak berpengaruh apa pun.
Keheningan di dalam kabin nyaris mencekik.
Ketegangan sepanjang hari akhirnya menagih bayarannya. Tubuhku sakit, kepalaku berat, dan kelopak mataku terus memaksa menutup. Aku mencoba tetap terjaga, tapi kalah melawan kelelahan.
Kusandarkan kepala di sandaran kursi dan, tanpa sadar, aku tertidur.
Entah sudah berapa jam berlalu.
Aku bangun perlahan, masih linglung. Kukedipkan mata beberapa kali sebelum paham di mana aku berada. Dengung turbin yang tak putus-putus memenuhi kabin.
Kuputar wajahku diam-diam dan kulihat Takeo sudah terjaga. Dia berbicara pelan dengan pria yang hadir di pernikahan. Suara mereka rendah dan serius, seperti sedang membahas sesuatu yang penting.
Aku tak mengerti sepatah kata pun.
Aku tetap diam tak bergerak, berpura-pura masih mengantuk sambil mengamati keduanya dari sudut mata. Mungkin, kalau mereka mengira aku masih tidur, mereka akan membocorkan sesuatu yang berguna.
Jantungku berdegup lebih cepat.
Aku menuju negeri asing, menikah dengan pria yang nyaris tak kukenal... dan dikelilingi orang-orang yang berbicara dalam bahasa yang tak sepenuhnya bisa kupahami.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan, kenyataan menghantamku dengan seluruh kekuatannya.
Aku benar-benar sendirian.
Tapi aku tak membiarkan diriku menunjukkan kelemahan.
Aku menarik napas dalam-dalam dan kembali memandang jendela.
Kegelapan malam sudah tertinggal. Langit kini diwarnai jingga dan emas, saat matahari terbit di cakrawala. Awan-awan tampak seperti lautan bercahaya, begitu tenang sampai sulit dipercaya hidupku berubah total hanya dalam sehari.
Terasa guncangan kecil.
Pesawat mulai turun. Raungan turbin yang konstan menurun pelan-pelan, dan perutku mengerut oleh penurunan itu.
Lalu kulihat kota itu.
Gedung-gedung raksasa, jalan-jalan raya tak berujung, dan deretan bangunan tak terhitung muncul di bawah kami. Semuanya tampak terlalu tertata, terlalu jauh dari Italia... jauh dari keluargaku.
Aku menelan ludah.
Ini nyata.
Aku ada di Jepang.
Roda pesawat menyentuh landasan dengan benturan halus. Pesawat meluncur di atas aspal sambil mengurangi kecepatan. Kupegang erat sandaran kursi, menjaga wajahku tetap tenang meski jantungku berpacu.
Apa pun ketakutan yang kurasakan, aku tak akan pernah memberi Takeo Akira kepuasan melihatnya tercetak di wajahku.
Pesawat akhirnya berhenti.
Selama beberapa detik, tak ada yang bergerak. Keheningan di kabin hanya dipecah oleh mesin yang mati perlahan.
Takeo yang pertama berdiri.
Dengan ketenangan yang sama seperti biasa, dia merapikan jasnya yang hitam dan melemparkan lirikan singkat ke arahku.
"Kita sampai."
Suaranya mantap, dalam, dan sama sekali tanpa emosi.
Aku hanya mengangguk dan berdiri tak lama kemudian. Kuluruskan gaunku diam-diam, menolak menunjukkan tanda kegugupan sekecil apa pun.
Pintu kabin dibuka.
Embusan udara segar menyerbu masuk.
Takeo berjalan di depan. Pria yang tadi berbicara dengannya selama penerbangan menyusul di belakang. Aku mengikuti mereka dalam diam.
Begitu turun dari tangga pesawat, mataku terbelalak sesaat.
Ada barisan pria berjas hitam rapi. Semuanya tak bergerak, membentuk lorong menuju sebuah limusin hitam panjang. Tak seorang pun mengalihkan pandangan. Tak seorang pun berani bersuara.
Mereka hanya menunggu.
Saat Takeo menjejak tanah, semuanya membungkuk serentak dalam sikap hormat.
"Kumicho."
Satu kata itu menggema dengan keserempakan sempurna.
Jantungku berdebar.
Aku tahu dia berkuasa. Tapi melihat puluhan pria membungkuk seperti itu membuat skala kekuasaan Takeo Akira jadi jauh lebih nyata.
Dia bahkan tak melirik mereka. Dia terus berjalan, seolah penghormatan seperti itu hal paling biasa di dunia.
Aku tetap di sisinya, kepala tegak.
Kalau semua mata tertuju padaku, aku tak akan memberi mereka tontonan perempuan ketakutan.
Sambil kami berjalan menuju mobil, kurasakan tatapan-tatapan penasaran tertuju padaku. Kurasa semuanya sedang berusaha mengerti siapa perempuan asing yang turun bersama sang Kumicho.
Takeo membuka pintu limusin dan, untuk pertama kalinya sejak kami menikah, memberi isyarat tangan agar aku masuk lebih dulu.
Tanpa sepatah kata, aku duduk di jok kulit. Dia masuk tak lama kemudian, lalu pintu ditutup.
Limusin mulai bergerak.
Tak ada jalan kembali.
Jepang kini adalah penjara baruku.
Dan aku harus menyempurnakan pernikahan ini, supaya akhirnya bisa mendapat ketenangan...
Aku diam sepanjang perjalanan.
Pandanganku terpaku pada jendela limusin, menyerap setiap detail kota. Jepang persis seperti yang kubayangkan... dan sekaligus sama sekali berbeda.
Jalan-jalannya bersih tanpa cela. Gedung kaca memantulkan sinar matahari, sementara papan reklame raksasa penuh warna menerangi fasad bangunan. Orang-orang berjalan tergesa di trotoar, sama sekali tak peduli pada kehadiranku. Mobil-mobil lewat dalam keteraturan sempurna, tanpa klakson atau kekacauan.
Kota yang indah.
Sesaat, aku lupa bahwa aku tawanan di dalam mobil itu.
Limusin menyusuri jalan-jalan hingga mencapai pusat kota yang ramai. Gedung pencakar langit menjulang di segala penjuru, memadukan arsitektur modern dengan bangunan tradisional yang muncul di sana-sini.
Beberapa menit kemudian, kami meninggalkan keramaian dan memasuki sebuah jalan lebar yang diapit pepohonan tertata rapi.
Lalu aku melihatnya.
Sebuah bangunan raksasa menjulang di hadapan kami.
Napasku terhenti sesaat.
Seperti istana.
Tembok tinggi mengelilingi seluruh properti, dijaga gerbang besi hitam yang besar. Arsitekturnya memadukan tradisi Jepang dengan sentuhan modern yang mewah, membuat tempat itu makin megah.
Tapi yang benar-benar menarik perhatianku adalah pengamanannya.
Kamera mengikuti setiap meter tembok. Sensor-sensor tersamar tersebar di pintu masuk, dan pria-pria bersenjata mengawasi tempat itu dengan kewaspadaan penuh.
Begitu limusin mendekat, sebuah sistem elektronik mengenali kendaraan kami.
Gerbang-gerbang besar mulai terbuka sendiri, tanpa ada yang perlu keluar untuk mengizinkannya.
Kami masuk.
Saat mobil menyusuri jalan batu yang panjang diapit taman-taman terawat, aku mengerti bahwa ini bukan sekadar rumah mewah.
Ini benteng.
Dan mulai hari ini... di sinilah aku akan tinggal, di samping pria paling berbahaya yang pernah kukenal.