NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke Taman Belakang

Beberapa minggu berlalu.

Rutinitas di rumah Dirgantara masih berjalan seperti biasa. Tidak banyak yang berubah, kecuali satu hal—Aretha kini sudah berusia tiga bulan.

Bayi mungil itu tumbuh semakin sehat dan menggemaskan. Berat badannya bertambah, pipinya mulai berisi, dan ia semakin sering mengeluarkan suara-suara kecil setiap kali diajak berbicara.

Adira masih menjadi orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersamanya. Mulai dari menyusui, memandikan, mengganti popok, hingga menemaninya tidur.

Sementara itu, Soraya dan Bayu harus kembali ke luar negeri.

Bisnis mereka di Singapura membutuhkan perhatian secara langsung sehingga mereka tidak bisa terus menemani putra dan cucu mereka di Jakarta.

Pagi itu, koper-koper sudah tersusun di dekat pintu utama.

Soraya memeluk Areksa sebelum berpamitan. "Mama sama Papa ke Singapura dulu, ya. Kamu baik-baik di sini. Sering-sering kirimin video Aretha."

"Iya, Ma."

Soraya menepuk lembut lengan putranya. "Dan jangan sedih terus ya, Nak."

Areksa hanya tersenyum tipis.

Namun, kalimat berikutnya langsung membuat senyumnya menghilang.

"Kamu masih muda. Kamu bisa kok cari pengganti Aruna."

"Ma, please."

Soraya menghela napas. Ia sudah beberapa kali membicarakan hal tersebut dengan putranya. Bukan karena ingin Areksa melupakan Aruna, apalagi menggantikan posisi Aruna di hatinya.

Soraya tau, tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan Aruna. Namun, Areksa masih muda. Dan yang paling ia pikirkan adalah Aretha.

Putrinya masih begitu kecil dan suatu hari nanti akan membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

Tetapi seperti sebelumnya, Areksa selalu menolak.

"Mama cuma mau kamu memikirkan masa depanmu juga."

"Aku tau, Ma. Tapi sekarang aku belum bisa memikirkan itu."

Soraya akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Mama gak akan memaksa."

Tatapan Soraya kemudian beralih kepada Adira yang berdiri tidak jauh dari mereka sambil menggendong Aretha. "Adira, saya pamit, ya."

"Iya, Nyonya."

"Terima kasih sudah menjaga Aretha. Lihat sekarang cucu saya jadi gemoy dan sehat begini."

Adira tersenyum. "Itu memang tugas saya, Nyonya. Non Aretha juga pintar sekali menyusunya."

Soraya langsung mendekati Aretha dan mengusap pipi cucunya. "Cucu Oma... Oma pergi dulu ya sama Opa. Gak lama kok."

Adira yang mendengar itu tiba-tiba menirukan suara bayi dengan nada menggemaskan. "Iya, Omaaa..."

Soraya dan Areksa langsung tertawa kecil.

"Ya ampun, Adira," ujar Soraya sambil terkekeh. "Kamu ini."

Bayu yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya ikut mendekat.

Ia mencium kening Aretha. "Opa pergi dulu, ya, Cantik."

Setelah berpamitan dengan cucunya, Bayu kemudian menepuk bahu Areksa. "Kamu juga jaga diri baik-baik."

"Iya, Pa."

Bayu berjalan beberapa langkah, tetapi kemudian kembali mendekati Areksa.

Ia mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga putranya.

"Kamu duda."

Areksa mengernyit.

"Adira janda."

Mata Areksa langsung membesar. "Pa..."

Bayu menahan tawanya. "Kamu jangan coba-coba berbuat macam-macam selama Mama sama Papa gak ada."

"Ya ampun, Pa! Please, deh!"

Bayu langsung terkekeh puas. "Apa? Papa cuma mengingatkan."

"Papa ini!"

Soraya yang mendengar percakapan mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Sudah, Mas. Jangan ganggu anakmu."

Bayu masih tertawa ketika berjalan mengikuti Soraya menuju pintu.

Areksa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. "Orang tua zaman sekarang..."

Adira yang masih menggendong Aretha hanya menahan senyum.

Ia tidak menyangka keluarga Dirgantara bisa sehangat itu.

Namun, tanpa disadari siapa pun, kepergian Soraya dan Bayu hari itu juga membuat rumah besar tersebut terasa sedikit berbeda.

Kini hanya ada Areksa, Adira, dan Aretha. Juga ada beberapa ART di rumah itu.

***

Di dalam mobil, Soraya dan Bayu melanjutkan perjalanan menuju bandara.

Suasana sempat hening. Soraya menyandarkan tubuhnya pada jok sambil menatap pemandangan di luar jendela. Namun, beberapa saat kemudian, ia melirik suaminya yang duduk di sebelahnya.

"Mas..."

"Hm?"

"Menurut kamu, Areksa bakal kepincut gak, ya, sama Adira?"

Bayu langsung menoleh dengan ekspresi heran. "Kamu ini ada-ada saja pertanyaannya."

"Aku serius, Mas."

Soraya kembali menatap ke luar jendela.

"Adira itu memang sederhana, tapi cantik sekali. Terus dia juga sangat keibuan. Aku selalu memperhatikan bagaimana dia mengurus Aretha. Cara dia menggendong, menenangkan, menyusui, bahkan ketika Aretha rewel tengah malam."

Soraya tersenyum kecil. "Kelihatan banget kalau dia sayang sama cucu kita."

Bayu menghela napas pelan. "Tapi kamu tau sendiri, Areksa hanya mencintai Aruna sejak dulu."

Soraya terdiam.

"Sejak mereka masih kecil, dia cuma punya satu nama di hatinya. Gadis kecil yang bernama baby, yaitu Aruna."

Bayu tersenyum tipis mengingat masa lalu putranya. "Dan setelah bertahun-tahun terpisah, mereka akhirnya bertemu kembali. Menikah, punya Aretha... lalu sekarang Aruna pergi untuk selamanya."

Bayu menggeleng pelan. "Menurutku, akan sulit bagi Reksa untuk melupakan Aruna dan memulai kehidupan baru dengan wanita lain."

"Iya sih, Mas." Soraya mengangguk.

"Tapi aku juga merasa Felicia mengincar Reksa."

Bayu mengernyit. "Felicia?"

"Iya. Sisil pernah beberapa kali ingin menjodohkan mereka. Aku tau itu."

Soraya menghela napas. "Tapi aku gak mungkin mengatakan itu kepada Reksa. Aku takut dia malah merasa terbebani."

Bayu diam mendengarkan.

"Aku cuma ingin Areksa menjalani hidupnya lagi, Mas. Dia masih muda. Masa depannya masih panjang."

Soraya menatap suaminya. "Dia berhak bahagia lagi."

Bayu meraih tangan istrinya dan menggenggamnya lembut. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan."

Ia tersenyum menenangkan. "Masih ada waktu untuk semuanya. Biarkan Areksa menentukan jalannya sendiri."

"Menurutmu dia akan menemukan orang yang tepat?"

"Entahlah." Bayu mengangkat bahu.

"Tapi Areksa sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang terbaik untuk dirinya."

Soraya mengangguk pelan. "Semoga saja."

Bayu kemudian tersenyum kecil. "Dan soal Adira..."

Soraya langsung menoleh. "Kenapa?"

"Kita lihat saja nanti."

Soraya ikut tersenyum. "Berarti Mas juga kepikiran?"

Bayu terkekeh. "Aku cuma bilang, kita lihat nanti. Jangan mulai menjodoh-jodohkan anak kita."

Soraya tertawa kecil. "Iya, iya."

Namun jauh di dalam hatinya, Soraya tetap berharap satu hal.

Semoga suatu hari nanti, Areksa bisa kembali membuka hatinya. Bukan untuk menggantikan Aruna. Melainkan untuk menemukan kebahagiaan yang baru.

***

"Nah, di sini nyaman, kan, Cantik?"

Adira mendorong stroller Aretha menuju taman belakang rumah Dirgantara.

Selama tinggal di rumah mewah itu, baru kali ini Adira memberanikan diri keluar lebih jauh dari area rumah. Ia bahkan tidak menyangka ternyata di belakang mansion tersebut terdapat taman yang begitu luas.

Berbagai macam tanaman tumbuh dengan rapi di sana. Pepohonan rindang menaungi beberapa sudut taman, sementara bunga-bunga dengan beragam warna menghiasi sepanjang jalan setapak.

Angin sore yang sejuk berembus pelan, membuat suasana terasa begitu tenang.

Aretha yang berada di dalam stroller tampak menikmati udara sore itu. Kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak kecil, sesekali disertai suara celotehan yang tidak jelas.

Adira tersenyum melihatnya. "Kamu senang?"

Aretha kembali menggerakkan kedua kakinya.

"Berarti kamu suka, ya?"

Adira kemudian menoleh ke sekeliling. "Lihat, di sini ada bunga kamboja, kenanga, melati..."

Langkahnya terhenti ketika melihat sekelompok bunga mawar yang tumbuh di salah satu sisi taman.

"Dan... mawar."

Adira tersenyum lebih lebar. Ia mendekati bunga-bunga tersebut, lalu membungkuk sedikit untuk menghirup aromanya.

"Ini bunga yang aku suka banget, Retha."

Tangannya hampir menyentuh kelopak bunga itu, tetapi ia mengurungkan niatnya.

"Aku suka sekali bunga mawar."

"Kenapa?"

Adira terkejut mendengar suara dari belakang.

Ia segera menoleh.

Areksa ternyata sudah berdiri beberapa meter dari mereka.

Sejak tadi laki-laki itu mencari Aretha yang tidak berada di kamar ataupun ruang keluarga. Ia akhirnya menemukan putrinya di taman bersama Adira.

"Ternyata kalian di sini."

Adira sedikit gugup. "Eh, Tuan. Maaf kalau saya membawa Non Aretha ke sini. Saya cuma ingin mengajaknya melihat taman."

"Gak apa-apa."

Areksa menghampiri mereka. "Tadi saya hanya mencarinya."

Tatapannya kemudian beralih kepada Aretha yang tampak begitu antusias menikmati udara sore.

"Sepertinya dia senang." Areksa mengangkat putrinya dari stroller.

"Mungkin dia merasa lebih bebas setelah sekian lama hanya berada di dalam rumah dan kamarnya."

"Sepertinya begitu, Tuan."

Areksa mengangguk.

Namun, bukannya langsung kembali ke rumah, pandangannya justru tertuju kepada Adira.

Wanita itu masih memperhatikan bunga mawar di hadapannya.

"Kamu suka bunga mawar?"

Adira menoleh. "Sangat suka."

Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa ragu.

Areksa tiba-tiba mengerutkan kening. Entah kenapa, jawaban sederhana itu membuat sesuatu dalam ingatannya bergerak.

Sangat suka.

Kalimat itu... Persis seperti jawaban seorang gadis kecil yang pernah ia kenal bertahun-tahun lalu.

Seorang gadis kecil yang dulu selalu bermain bersamanya.

Seorang gadis yang pernah mengatakan kepadanya bahwa bunga mawar adalah bunga kesukaannya.

Areksa menatap Adira lebih lama. "Kenapa kamu suka mawar?"

Adira tersenyum kecil. "Karena mawar itu cantik, tapi bukan cuma itu."

Ia memandang bunga di hadapannya. "Di balik keindahannya, ada duri. Menurut saya, itu mengajarkan sesuatu."

"Apa?"

"Kalau sesuatu yang indah gak selalu mudah untuk dijaga."

Adira terdiam sejenak. "Dan menurut saya, mawar juga seperti manusia. Bisa terlihat kuat karena punya duri, tapi tetap bisa terluka kalau diperlakukan dengan kasar."

Areksa tidak menjawab.

Adira kemudian tersenyum tipis. "Saya juga suka karena mawar tetap bisa tumbuh meskipun pernah dipotong atau dirusak. Selama akarnya masih ada, dia bisa tumbuh lagi."

Areksa semakin terdiam. Entah mengapa, kalimat terakhir itu terasa begitu familiar.

Sangat suka. Bunga mawar.

Selama akarnya masih ada, dia bisa tumbuh lagi.

Areksa menatap wajah Adira.

Ada sesuatu dalam diri wanita itu yang terus membuatnya merasa pernah mengenalnya.

Dan sebuah pertanyaan yang selama ini hanya berputar di kepalanya terasa semakin kuat.

Kenapa jawaban Adira sama persis seperti gadis kecil itu...?

Areksa menatap mata Adira. Mata yang sejak pertama kali bertemu selalu terasa begitu tidak asing.

Sementara Adira sama sekali tidak menyadari bahwa jawaban sederhananya baru saja membuka kembali sebuah kenangan yang selama bertahun-tahun terkubur dalam ingatan Areksa.

"Adira, boleh saya bertanya sesuatu?"

Adira yang masih berdiri di dekat bunga mawar menoleh kepada Areksa. "Silakan, Tuan."

Areksa terdiam sejenak. Ia tampak ragu sebelum akhirnya bertanya. "Mengapa kamu bisa berpisah dengan mantan suami kamu?"

1
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
Lisa
ya benar Kak..Areksa menyukai Adira 😊
Syti Sarah
bilang aja klau kamu menyukai Adira 🤭🤭
Lisa
Areksa mulai suka sama Adira tuh 😊
sunaryati jarum
Mungkin Aruna sudah tahu rencana ibu tiri dan adik tirinya
sunaryati jarum
Felicia kamu pelaku meninggalnya Aruna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!