Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.
Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai
Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Lelaki Di Lobi
Naya membeku di depan pintu lift.
Arka.
Tujuh tahun. Tujuh tahun ia tidak melihat laki-laki itu secara langsung. Hanya sesekali melihat namanya lewat di berita bisnis: _Arka Wijaya, CEO termuda yang mengakuisisi startup unicorn._
Dulu Arka hanyalah kakak kelas yang kurus, berkacamata, yang selalu membawakan bekal lebih untuk Naya karena tahu Naya sering tidak sarapan.
Sekarang? Kacamata itu sudah hilang, diganti sorot mata tajam. Tubuhnya tegap. Kemeja putihnya rapi, jam di tangannya berkilau. Aura-nya... mahal. Sangat mahal.
"Nay?" Arka tersenyum. Senyum yang dulu membuat Naya salah tingkah seharian di kelas.
Naya tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat.
Justru Adam, ayahnya, yang lebih dulu bereaksi. Adam maju selangkah, matanya membelalak.
"Arka? Ya Allah, Arka Wijaya? Kamu... kamu sudah besar sekali, Nak!"
Arka menunduk sopan dan mencium tangan Adam. "Apa kabar, Om Adam? Maaf saya datang tanpa izin."
"Gak apa-apa, gak apa-apa!" Adam yang tadinya keras dan kolot, tiba-tiba berubah jadi ramah sekali. Tentu saja. Adam sangat hafal siapa keluarga Wijaya. Keluarga terpandang, kaya raya, yang dulu pernah ingin melamar Naya tapi ditolak karena Naya lebih memilih Bimo.
Raka yang berdiri di belakang Naya langsung merasa seperti nyamuk. Kecil, tidak terlihat, dan mengganggu.
Ia berdehem keras. "Naya, jadi... ini siapa?"
Naya tersadar. "Oh, iya... Rak, ini Arka. Teman SMA aku dulu. Ka, ini Raka, sahabat aku... yang nolongin aku semalam."
Arka menatap Raka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan menilai. Tatapan sesama laki-laki yang langsung tahu mereka sedang memperebutkan wilayah yang sama.
Arka mengulurkan tangan. "Arka. Makasih udah jagain Naya semalam. Gue denger ceritanya dari satpam."
Raka menjabat tangan itu. Jabatannya keras, penuh gengsi. "Raka. Udah kewajiban gue jagain sahabat gue."
Suasana di lobi lantai 18 itu langsung tegang. Dua laki-laki dengan tipe yang sangat berbeda, berdiri mengapit Naya.
Satu, Raka. Hangat, sederhana, selalu ada di saat susah. Jaket jeans-nya basah karena hujan, sepatunya kotor karena banjir.
Satu lagi, Arka. Dingin, mapan, datang membawa solusi. Kunci mobil baru di genggamannya berkilauan.
Naya terjepit di tengah, bingung harus bagaimana.
"Udah, kita turun ke lobi aja," potong Naya cepat. "Gak enak ngobrol di sini. Apartemen masih berantakan."
Di lobi bawah yang mewah, mereka duduk di sofa lounge. Adam sengaja duduk agak jauh, memberi ruang, tapi matanya terus mengawasi sambil pura-pura main HP. Sebenarnya ia sedang menelepon istrinya, Rahayu.
"Yu, kamu tau gak siapa yang ada di sini? Arka! Anaknya Pak Wijaya! Iya, yang dulu... Iya, dia balik! Bawa mobil buat Naya!"
Naya pura-pura tidak mendengar telepon ayahnya.
Arka mendorong paper bag coklat itu ke arah Naya.
"Gue serius, Nay. Pake aja. Apartemen Senopati itu kosong, gue jarang tempatin. Keamanan 24 jam, ada CCTV. Bimo gak akan berani kesana. Mobilnya juga pake aja dulu. Gue tau lo gak mau ngerepotin Raka terus."
Naya menggeleng cepat. "Gak bisa, Ka. Ini kebanyakan. Aku gak bisa terima. Kita udah lama gak ketemu, tiba-tiba kamu kasih mobil..."
"Anggap aja gue investasi," potong Arka santai. "Investasi ke pengacara perceraian paling pinter yang pernah gue kenal. Lo kan dulu ranking satu terus. Gue butuh pengacara pinter kayak lo nanti buat urus perusahaan gue. Jadi lo harus aman dulu, baru bisa kerja buat gue."
Alasan yang dibuat-buat, tapi sangat Arka. Selalu punya alasan logis untuk menutupi kepeduliannya.
Raka tidak bisa diam lagi. "Maaf, Bro Arka. Naya itu udah punya banyak beban. Jangan ditambahin hutang budi. Naya bisa di rumahnya aja, aman kok sama gue."
Arka menatap Raka dan tersenyum tipis. Senyum yang meremehkan.
"Rumah di pinggiran kota yang pagarnya pendek dan kemarin digedor Bimo pagi-pagi? Aman dari mana, Bro? Bimo itu nekat. Gue udah cari tau orangnya. Dia punya utang pinjol 80 juta buat modal nikah sama kakaknya Naya. Orang kayak gitu bakal ngelakuin apa aja."
Naya terkejut. "Utang pinjol? Darimana kamu tau?"
"Gue punya orang buat cari tau, Nay." Arka menatap Naya dalam. "Gue gak akan biarin lo disakitin lagi. Dulu gue telat. Gue nyesel 7 tahun. Sekarang gue gak mau telat lagi."
_DEG!_
Jantung Naya berdegup sangat kencang. Kata-kata itu... kata-kata yang dulu sangat ia inginkan dari Bimo, tapi tidak pernah ia dapatkan.
Raka mengepalkan tangan di bawah meja. Ia kalah telak soal materi dan informasi. Tapi ia tidak mau kalah soal ketulusan.
"Nay," kata Raka pelan, hanya untuk Naya. "Lo gak perlu mobil mewah buat aman. Lo cuma butuh orang yang bener-bener ada di samping lo. Bukan yang tiba-tiba muncul setelah 7 tahun hilang."
Ucapannya menusuk.
Arka tidak terpancing. Ia hanya menatap Naya.
"Gue ngerti lo bingung, Nay. Gue gak maksa lo terima sekarang. Kunci dan alamat apartemennya ada di situ. Kalau lo butuh, lo tinggal dateng. Kalau gak, buang aja kuncinya ke selokan. Gue gak akan marah."
Ia berdiri, merapikan jasnya. Ia tahu kapan harus mundur untuk menang.
"Gue harus ke kantor. Sidang cerai lo kapan? Gue mau anterin, kalo lo izinin."
"Besok... mediasi pertama di Pengadilan Agama," jawab Naya lirih.
"Gue akan ada di sana. Di luar ruang sidang. Lo gak akan sendirian."
Arka lalu menatap Adam dan mengangguk. "Om, saya pamit dulu. Titip Naya ya, Om."
Setelah Arka pergi, meninggalkan wangi parfum mahal yang masih tertinggal di sofa, Naya masih terpaku memegang kunci mobil itu.
Raka berdiri.
"Gue ke mobil dulu, Nay. Nunggu di parkiran."
"Rak..."
"Gak apa-apa," Raka tersenyum, tapi senyumnya sakit. "Lo pikirin aja baik-baik. Gue cuma sahabat, Nay. Gue gak bisa kasih lo apartemen di Senopati atau mobil baru. Gue cuma bisa kasih lo tumpangan motor butut gue yang mogok kalo kena banjir."
Naya ingin mengejar Raka, tapi ayahnya menahan lengannya.
"Naya," bisik Adam dengan mata berbinar. "Dengerin Ayah. Laki-laki seperti Arka itu... gak datang dua kali. Bimo itu sampah. Raka itu baik, tapi dia cuma sopir... eh, sahabat. Masa depan kamu ada sama Arka. Ayah restui!"
Naya menepis tangan ayahnya.
"Ayah! Sampai kapan Ayah jodoh-jodohin aku? Dulu Ayah jodohin aku sama Bimo karena Bimo keliatan alim! Sekarang Ayah jodohin aku sama Arka karena dia kaya! Ayah pernah gak tanya aku maunya apa?"
Ia mengambil paper bag itu dan berlari mengejar Raka ke parkiran.
Di parkiran basement yang gelap, ia menemukan Raka sedang duduk di kap mobilnya, menatap kosong.
"Rak, maaf..."
Raka menatap kunci mobil di tangan Naya.
"Lo ambil, Nay. Ambil aja. Itu lebih aman buat lo."
"Gue gak mau mobilnya, Rak! Gue mau lo tetep di samping gue! Jangan pergi!"
Raka menatap Naya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Naya menangis bukan karena Bimo, tapi karena takut kehilangan dirinya.
Dan di lantai atas, dari balik kaca lobi, Arka masih berdiri mengawasi mereka berdua. Ia tidak benar-benar pergi. Ia menatap Raka dengan tatapan dingin.
_Game baru saja dimulai,_ batin Arka.
Tiba-tiba, HP Naya berdering lagi. Nomor Bimo.
Naya angkat dengan speaker.
"Naya, kamu di mana? Kamu pikir kamu menang? Apartemen Senopati? Mobil baru? Kamu pikir Arka bisa lindungi kamu? Aku tau semuanya! Kamu tunggu, aku akan datang ke sidang besok sama Diandra! Kita lihat siapa yang malu!"
Telepon dimatikan.
Naya dan Raka saling tatap. Darah mereka berdesir.
Bagaimana Bimo bisa tahu tentang apartemen Senopati dan mobil dari Arka? Padahal baru 10 menit yang lalu Arka memberikannya!
Artinya... ada yang membocorkan. Dan orang itu ada di dekat mereka saat ini.
Naya perlahan menoleh ke arah lobi, ke arah bayangan ayahnya yang masih menelepon seseorang di pojok.
semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
jgn nyerah ya nay...
salam kenal