Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serius dan tidak asyik
Masih Pov Fiona
"Mau ke mana kamu malam - malam begini?" ulangnya lagi.
Paman Arif berjalan menghampiriku yang masih membeku. Untung saja, Gio masih berada di dalam kamar. Dia belum keluar saat aku keluar lebih dulu.
Dengan langkah yang terus mendekat padaku, arah mata Paman Arif tertuju pada pintu kamarku yang terbuka. Aku ikut menoleh ke sana. Tidak ada sosok Gio di sana.
Entah, berada di mana pria itu sekarang. Cepat sekali dia menghilang.
"Fio, kamu belum menjawab pertanyaan Paman," tegur Paman Arif lagi.
Aku tersentak dan menjawab dengan sedikit gagap. "Hm .. Fio ..."
Sepertinya, Paman Arif menangkap kegagapan ku. Apalagi, mataku juga kerap tertuju ke dalam kamar, membuat Paman Arif curiga. Seharusnya, aku biasa saja. Aku tenang dan tidak beri kode dengan gestur tubuhku ini. Tapi, tidak bisa. Aku terlalu takut. Takut, kalau Paman Arif mengetahui keberadaan Gio dan pria itu dijebloskan ke penjara.
Tidak.
Kepalaku menggeleng. Entah, mengapa aku jadi takut kalau pria itu masuk penjara dan aku tak bertemu lagi dengannya.
"Fio! Apa - Apan kamu ini!" sentak ku pada diriku sendiri dalam hati.
"Fio mau ke mini market di depan yang dua puluh empat jam, sebentar. Kebetulan, Fio datang bulan dan kehabisan stok pembalut. Jadi ..."
"Ya sudah," potong Paman Arif kemudian. "Penjelasan mu kepanjangan."
Dia berbalik badan dan kembali bicara. "Setelah itu, cepat pulang."
Aku langsung mengangguk cepat. "Baik, Paman."
Aku berdiri cukup lama di depan kamarku sendiri. Aku sengaja menunggu Paman Arif yang lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah berjalan kembali ke kamarnya, Paman Arif tidak langsung masuk ke dalam. Dia menoleh lagi ke arahku dan berkata, "Kenapa kamu malah diam di situ? Kalau mau keluar, sana!"
"Iya, Paman. Fio sedang merogoh kantong celana. Ternyata lupa membawa dompet."
Beruntung, dia paling bisa merangkai kata untuk sebuah alasan. Arif pun tak curiga. Pria paruh baya yang merupakan kakak dari ayahku itu kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu sempurna.
Memastikan Paman Arif sudah tenang di sana, aku menarik tangan Gio. Kami bergegas berlari menuju garasi.
"Non Fio mau keluar!"
Lagi - lagi, aku dikejutkan dengan suara Pak Budi, keamanan rumah ini.
"Eh, Pak Budi. Iya, mau ke mini market depan."
"Oh."
Pak Budi juga tampak curiga. Matanya tertuju pada bagian dalam mobilku. Sepertinya, Gio sudah berada di sana sekarang. Aku langsung masuk ke dalam mobilku dan memerintah Pak Budi.
"Pak, tolong pintu gerbangnya dibuka ya!"
"Siap, Non."
akhirnya, aku berhasil mengeluarkan Gio dari rumah paman. Sesampainya di depan mini market dan memarkirkan mobilku sempurna, aku langsung menarik panjang nafasku sembari menyandarkan tubuhku pada punggung kursi kemudi.
"Lain kali jangan seperti ini. Jangan jadikan aku manusia pembohong! Karena aku tidak suka, mengerti!"
Gio menatapku. Sedari tadi memang begitu. Sejak mobil ini berlalu dan menjauh dari kediaman Paman, tatapannya tidak lepas padaku.
"Denger ga?" tanyaku kesal.
Gio malah tersenyum.
"Tapi, kebohonganmu tadi terdengar lancar. Apa kamu sering berbohong?"
Pertanyaan itu membuat aku kesal. "Enak aja. jelas ngga lah. Ini karena urgent. Darurat. Kalau sampai tadi Paman nemuin kamu, dia bakal jebloskan kamu ke penjara dengan tuduhan menerobos rumah orang dan mengganggu kenyamanan. Apa kamu mau?"
"Sepertinya, kamu yang tidak mau aku dipenjara. Apa takut rindu?"
"Gio!" nadaku sedikit meninggi.
Sungguh, aku dibuat kesal terus olehnya. Setiap kali bertemu Gio, sepertinya energiku terkuras habis. Aku pun membentaknya lagi.
"Turun! Setelah ini, jangan peduli padaku!"
Gio menurut. Dia membuka pintu mobilku dan keluar.
"Jangan minta aku untuk tidak peduli padamu! Karena sekarang, aku tidak akan menurut."
Bruk
Setelah mengatakan itu, Gio menutup pintu mobilku lagi.
Dahiku mengernyit. Dulu, aku memang pernah mengatakan itu padanya. Dulu, aku memang benar - benar tidak ingin diganggu. Terlebih oleh pria seperti Gio. Bukan karena tidak suka dengannya tapi karena kehadirannya sungguh menggangu hati dan pikiranku.
Dret
Dret
Dret
Bunyi ponsel di sampingku meluruskan pikiranku lagi. Nama Gala tertera di layar.
Tidak, aku tidak boleh terlena dengan Gio karena ada Gala yang akan menjadi suamiku nanti. Seperti kata Paman, Gala pria terbaik untukku dan aku pernah sangat menyukainya dulu.
***
“Sayang, aku tunggu kamu di depan.”
“Iya, sebentar.”
Sekarang, aku sudah meninggalkan dunia per-intel-an. Kini, aku kembali fokus di rumah sakit. Lagi – lagi, Paman Arif yang mengatur semuanya. Katanya, sebentar lagi aku akan menikah jadi tidak perlu tugas di tempat berat, cukup berdedikasi saja di rumah sakit ini, karena nantinya rumah sakit ini akan menjadi milikku setelah aku resmi menjadi istri Manggala.
Aku melepaskan jaket putihku dan segala atribut yang menjadi pelengkapku bertugas sehari – hari. Dengan sedikit berlari, aku bergegas sampai di lobby. Namun, setibanya di sana dan membuka pintu penumpang depan, tampak perempuan bernama Vania duduk di sana.
“Fio, maaf. Gala yang menyuruhku duduk di sini. Aku pindah saja.”
Gala menahan tangan Vania. “Tidak perlu. Calon istriku bukan orang pencemburu. Fio tidak marah hanya karena kamu duduk di situ. Iya kan, Sayang?”
Gala menatapku. Aku terpaku, diam membisu. Apa yang dia katakan memang benar. Aku tidak pernah cemburu padanya. Lagi pula, selama aku dekat dengan Gala, baru kali ini aku melihatnya dekat dengan wanita dan itu pun sepupunya.
“Tidak apa. Aku duduk di belakang saja,” jawabku, kemudian langsung menarik pintu belakang dan duduk di belakang mereka.
“Sayang, aku antar Vania ke apartemennya dulu. Kebetulan, searah.”
Aku mengangguk. “Ya.”
Vania menoleh ke arahku. “Maaf ya, Fio. Tadi, Gala melihatku sedang menunggu taksi online. Aku bilang, aku bisa pulang sendiri tapi dia tetap bersikeras untuk mengantarku.”
Bibirku memaksa untuk tersenyum. Lalu, menatap Gala yang juga menatapku melalui kaca spion dalam. “It’s oke. Lagi pula, aku tahu kalau Gala itu tidak bisa membiarkan perempuan diluar sendirian. Iya kan?’
Gala tersenyum lebar dan langsung menarik tanganku, kemudian menciumnya. “Mmuaaahhhh … kamu memang calon istri idaman. Aku beruntung mendapatkan mu.”
Aku tersenyum.
Sepanjang perjalanan, mereka bercengkerama. Terkadang, aku dilibatkan dan lebih banyak tidak. Aku memilih diam. Banyak kejanggalan antara dua orang yang katanya sepupu-an ini.
“Fio, kenapa diam saja?” tiba – tiba, Vania bertanya.
Aku ingin menjawab, tapi Gala menjawabnya lebih dulu. “Fio itu orangnya serius, ga asyik kaya kamu.”
Jleb
Apa iya aku seperti itu? Serius dan tidak asyik?
Sepuluh menit berlalu, mobil Gala tiba di apartemen Vania. Aku baru tahu kalau sepupu Gala ini tinggal tidak jauh dari rumah sakit tempatku bertugas.
“Fio, Gala, ayo mampir!” tawarnya.
Gala langsung menggeleng. “Tidak, Van. Malam ini, aku udah reserve tempat untuk candle light dinner sama Fio. Lain kali ya.”
Vania tampak cemberut. Bibirnya merengut karena tawarannya tidak ditolak. Atau cemberut karena hal lain?
“Lain kali, kami pasti mampir,” jawabku menyela.
“Yah, benar.” Gala mengangguk dan kembali tersenyum padaku.
Akhirnya, Vania menyerah lalu pergi. Aku melihat tatapan Gala yang terus tertuju padanya hingga Vania menoleh lai pada kamu. Atau lebih tepatnya menoleh ke arah Gala. Ada sesuatu yang membuatku menatap keduanya bergantian.
“Sayang, pindah ke depan,” pinta Gala kemudian.
Gala kembali meluruskan posisinya dan memintaku dengan mata yang terarah dari kaca spion dalam.
“Sudah nyaman di sini. Udah, langsung jalan aja.”
“Sayang, aku bukan supir kamu.”
“Calon suamiku bukan tipe pemarah kan? Jadi, jangan dibesar – besarkan!”
Gala mengeratkan pegangannya pada setir kemudi. “Aku ulang sekali lagi, pindah ke depan atau …?”
“Atau apa? Tidak jadi makan malam. Oke! Ga masalah. Aku turun di sini saja.”
Aku hendak membuka pintu mobil. Namun, Gala menahan.
“Hei, apa – apaan sih?” Gala memegang tanganku dari tempat duduknya. “Apa kamu cemburu?”
Aku melihat tatapan Gala tadi pada Vania. Berbeda. Dan aku balik bertanya. “Apa kamu dan Vania punya hubungan?”