Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : DARAH DI ATAS SAJADAH KEPASRAHAN
Bab 10: Darah di Atas Sajadah Kepasrahan
Asap merah dari flare merayap pekat di lorong lantai dua, membawa aroma belerang yang menusuk hidung dan membakar tenggorokan. Cahaya kemerahan yang memantul di dinding-dinding marmer membuat kediaman Pratama yang megah tak ubahnya ruang penyiksaan. Namun, dingin yang paling membekukan tidak berasal dari pendingin udara yang mati total, melainkan dari paras wanita yang berdiri anggun di puncak tangga.
"Tidak mungkin..." Suara Aris bergetar hebat. Moncong senjata api di tangannya gemetar, sebuah pemandangan yang belum pernah dilihat Kirana sepanjang ia mengenal suaminya. Pria tegap yang selalu menjadi tembok kokoh itu mendadak tampak ringkih, seolah fondasi hidupnya baru saja diruntuhkan oleh sebuah bayangan dari masa lalu.
"Mengapa tidak mungkin, Mas Aris?" Wanita bergaun hitam itu melangkah pelan, membiarkan cincin zamrud tua di jemarinya memantulkan pendar merah yang kelam. Ukiran luka bakar halus di pipi kirinya justru menegaskan guratan kejam di paras cantiknya. "Apakah kamu terlalu sibuk mendekap tubuh hangat wanita muda ini hingga lupa bagaimana rasanya mendekap sosok yang pernah melahirkan Leo dan Maya?"
Kirana menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa nyeri yang merambat ke rahimnya. Ibu kandung Leo dan Maya? Pikiran Kirana berputar liar. Bukankah Shinta—mantan istri Aris yang dipenjara karena skandal manipulasi saham dan percobaan pembunuhan—saat ini masih mendekam di sel isolasi? Siapa wanita ini? Mengapa garis wajah, lekuk bibir, dan sorot mata dingin itu menyerupai sosok Shinta, namun dengan aura kegelapan yang jauh lebih pekat?
"Kau bukan Shinta," pangkas Aris, mencoba merebut kembali kendali suaranya meski ketakutan melingkupi matanya. "Shinta tidak memiliki luka bakar di wajahnya. Dan Shinta sedang berada di pengawasan pihak kepolisian!"
"Ah, Shinta si bodoh itu?" Wanita itu tertawa melengking, suara yang telah diubah secara elektronik tadi siang kini terdengar murni—dingin, tajam, dan penuh celaan. "Adik kembarku yang malang itu hanyalah pion tak berguna yang kamu manfaatkan untuk menutupi kejahatan Kakek Hendra. Dialah yang membusuk di penjara menggantikanku, Aris! Namaku Sheila. Aku adalah wanita yang benar-benar kamu nikahi di luar negeri dua belas tahun lalu, wanita yang rahimnya kamu perah untuk melahirkan ahli waris Pratama Group!"
Seketika, kepingan puzzle yang selama ini tersembunyi berhamburan di benak Kirana. Saudara kembar. Penipuan identitas yang melibatkan sanatorium, akun rekening almarhumah ibu Aris, dan dokumen medis yang dipalsukan—semuanya mengakar pada satu kebohongan raksasa yang sengaja dipelihara oleh mendiang Kakek Hendra.
"Bohong!" teriak Kirana, menembus keheningan yang mencekam. Sebagai wanita muda berusia dua puluh empat tahun yang telah mengorbankan air mata, harga diri, dan nalurinya untuk memeluk Leo dan Maya, Kirana tidak akan membiarkan ketakutan melumpuhkannya. Ia melangkah maju, memasang tubuhnya tepat di samping Aris, menatap lurus ke dalam manik mata Sheila yang sarat akan racun kedengkian.
"Jika kamu memang ibu mereka," ujar Kirana dengan suara bergetar namun tegas, "mengapa kamu menggunakan anak-anakmu sendiri sebagai ancaman? Ibu macam apa yang menyuruh anak buahnya menempelkan pisau di leher buah hatinya sendiri demi membalas dendam?!"
Sheila menghentikan langkahnya. Matanya menyipit penuh penghinaan, menatap Kirana dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Jaga mulutmu, Wanita Simpanan! Kamu hanya budak berwajah polos yang dibeli Aris untuk menjadi pengasuh gratis! Kamu pikir kata 'Ibu Kirana' yang diucapkan Maya pagi tadi membuatmu setara denganku? Kamu hanyalah tempat sampah tempat Aris membuang rasa bersalahnya!"
Sindiran itu menghantam dada Kirana bagaikan pukulan godam. Air mata panas merembes di sudut matanya, membasahi pipinya yang pucat. Ya, di awal pernikahan ini, Kirana memang merasa seperti tempat pembuangan rasa bersalah. Ia diingat hanya saat anak-anak menangis, dicurigai saat menyentuh brankas, dan dipandang sebelah mata oleh seluruh keluarga besar sebagai wanita pelakor yang mengincar harta duda kaya. Perjuangan berdarah-darah saat ia menangis sesenggukan di sudut kamar mandi—menatap telapak tangannya yang lecet akibat membersihkan pecahan piring yang dilempar Leo—kembali membayang jelas.
Namun, Kirana yang berdiri malam ini bukan lagi Kirana yang lemah.
"Mungkin awal kedatanganku ke rumah ini adalah sebuah kesalahan, Sheila," balas Kirana seraya mengusap air matanya secara kasar. "Aku memang memasuki neraka ini dengan ketidaktahuan. Tapi ketulusan yang kubagikan untuk Leo dan Maya tidak pernah berbohong! Aku yang mengompres demam Maya saat kamu tidak ada! Aku yang memeluk Leo saat dia berteriak ketakutan dalam mimpi buruknya! Kamu mungkin pemilik rahim yang melahirkan mereka, tapi kamu tidak pernah menjadi ibu bagi jiwa mereka!"
"Tutup mulutmu!" jerit Sheila murka. Wajah cantiknya bertransformasi menjadi monster yang mengerikan. Ia memberi isyarat tangan kepada dua pria berbadan tegap di belakangnya. "Seret wanita ini! Biar dia tahu bagaimana rasanya kehilangan bayi di dalam rahimnya!"
"Jangan sentuh istriku!" Aris meraung, mengarahkan pemicu senjata api.
Namun sebelum Aris sempat menarik pelatuk, suara benturan keras bergemuruh dari lorong sebelah kiri. Door! Pintu kamar anak terpental terbuka. Leo, anak laki-laki berusia delapan tahun itu, menerobos keluar sambil memegang sebuah pemadam api portabel. Dengan keberanian luar biasa yang mewarisi darah ayahnya, Leo menyemprotkan busa putih pemadam api tepat ke wajah salah satu pria kekar yang menjaga pintu!
"Lepaskan Bik Sumi! Jangan sentuh Ibu Kirana!" teriak Leo histeris.
"Leo! Kembali ke kamar!" jerit Aris panik.
Suasana seketika kacau balau. Asap busa pemadam api bercampur dengan asap merah suar, menciptakan kegelapan yang makin buta. Sheila melompat maju, berniat meraih leher Kirana. Aris bereaksi cepat, menerjang tubuh pria kekar yang mencoba meraih senjatanya. Letusan senjata api terdengar membahana membelah malam—BANG!—memantul di langit-langit marmer dan membuat kaca-kaca jendela bergetar keras.
Kirana memanfaatkan kekacauan itu untuk berlari menerobos asap. Rasa sakit yang memilin di perut bawahnya dibaikan sepenuhnya. Pikiran dan jiwanya hanya tertuju pada satu titik: menyelamatkan anak-anak.
"Maya! Leo!" teriak Kirana di tengah kepulan asap yang mengepul pekat.
Ia melihat Maya berdiri terpaku di sudut lorong, menangis histeris seraya memeluk gambar keluarga bermakota kecil yang dibuatnya pagi tadi. Di depannya, pria kekar lainnya berusaha merenggut tubuh kecil itu.
"Jangan sentuh anakku!" Kirana melompat tanpa berpikir panjang. Dengan seluruh sisa tenaga dan naluri keibuannya, Kirana menjatuhkan dirinya, menjadikan tubuhnya sebagai perisai manusia untuk menutupi Maya.
Bugh!
Pukulan keras dari siku pria itu menghantam punggung Kirana, membuatnya tersungkur keras ke lantai marmer yang dingin. Rasa amis darah meluap di mulutnya, dan rasa nyeri yang luar biasa menjalar tajam dari pinggang bawah menuju rahimnya. Kirana merintih sakit, namun jemarinya meremas erat tubuh Maya, memeluk anak kecil itu di dalam dadanya.
"Ibu Kirana! Ibu!" Maya menjerit, air matanya membasahi gaun Kirana. "Ibu bleeding! Ada darah di kaki Ibu!"
Kirana melirik ke bawah dengan pandangan yang mulai kabur. Di atas lantai marmer putih yang dingin, tampak aliran darah merah segar mengalir pelan dari balik gaun malamnya. Bayiku... batin Kirana menjerit pilu. Ya Tuhan... jangan ambil bayiku...
"Kirana!" Aris berteriak histeris dari balik asap. Pria itu telah melumpuhkan penyerangnya dan berlari bagaikan kesetanan melihat darah yang membasa di sekitar tubuh istrinya. Aris menerjang pria kekar di atas Kirana dengan amarah yang menghancurkan, menghantamkan tinjunya berkali-kali hingga pria itu tak berkutik.
Di saat yang sama, deru sirine mobil polisi dan pengawal tambahan yang dipanggil Pak Wijaya meraung-raung dari arah halaman depan. Lampu-lampu sorot dari kendaraan operasional menembus kaca-kaca besar kediaman Pratama.
Sheila yang menyadari posisinya terdesak menatap Kirana dan Aris dengan tatapan penuh dendam yang belum tuntas. "Ini belum selesai, Aris! Kamu dan wanita mudamu akan membayar setiap tetes darah yang terbuang malam ini!" jeritnya sebelum menghilang ke dalam kegelapan balkon belakang, melompati teralis menuju jalur evakuasi yang telah disiapkannya.
Atmosfer rumah sakit privat di pusat kota terasa begitu menyayat hati. Bau karbol yang menyengat dan ketukan langkah kaki para medis melengkapi kesunyian koridor lantai tiga. Lampu merah di atas ruang operasi Emergency C-Section masih menyala terang.
Aris duduk berlutut di atas lantai dingin di luar ruang operasi. Kemeja putih yang dikenakannya masih berhiaskan bercak darah kering milik Kirana—darah dari wanita yang dahulu ia ragukan, darah dari wanita yang kini menjadi pusat dari seluruh dunianya. Di sampingnya, Leo dan Maya duduk tertunduk di kursi tunggu. Maya tak berhenti meremas gambar keluarga yang telah ternoda sedikit bercak darah, sementara Leo mengepalkan tangannya dengan mata sembap.
"Papa..." bisik Leo pelan, suaranya pecah oleh penyesalan yang mendalam. "Apakah Ibu Kirana akan pergi meninggalkan kita seperti Mama Shinta?"
Aris menengadahkan wajahnya yang kacau. Air mata tak berhenti menetes dari pelupuk matanya. Ia merengkuh kedua anaknya ke dalam pelukannya, memeluk mereka dengan erat.
"Tidak, Leo... Tidak, Maya..." kata Aris dengan suara parau yang tercekik. "Ibu Kirana tidak akan pergi. Ibu Kirana adalah wanita terkuat yang pernah Papa temui. Dia... dia sedang berjuang untuk adik kalian."
Kata-kata itu terucap bagaikan doa yang dipanjatkan dari kedalaman jiwa seorang suami yang menyadari betapa sengsaranya hidup tanpa wanita tersebut. Aris mengingat kembali momentum beberapa bulan lalu, saat ia dengan dingin melempar dokumen perjanjian pra-nikah di hadapan Kirana. Ia mengingat betapa angkuhnya ia menyindir Kirana sebagai wanita muda yang hanya menginginkan gelar Nyonya Pratama. Dan kini, takdir menampar wajahnya dengan kenyataan yang paling telanjang: Kirana justru mempertaruhkan nyawanya dan nyawa calon buah hati mereka hanya demi melindungi anak-anak dari pria yang pernah melukainya.
Takdir sungguh sedang tertawa, menyindir betapa butanya Aris selama ini oleh prasangka.
Pintu ruang operasi akhirnya terbuka dengan bunyi klik yang teratur. Dokter spesialis kandungan keluar dengan wajah lelah, melepas masker medisnya.
Aris langsung meloncat berdiri, mencengkeram lengan dokter itu. "Dokter! Bagaimana istri saya?! Bagaimana dengan anak kami?!"
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Aris dengan pendar rasa simpati yang mendalam. "Pak Aris, benturan keras di punggung dan pendarahan hebat tadi malam menciptakan trauma skala besar pada rahim Nyonya Kirana."
Jantung Aris seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak hening tanpa suara.
"Tapi..." lanjut sang dokter dengan senyum tipis yang memancarkan keajaiban, "Tuhan mendengarkan doa Anda. Mukjizat terjadi malam ini. Kami berhasil menghentikan pendarahan dan mengamankan posisi janin. Bayi Anda selamat, meski Nyonya Kirana harus menjalani bed rest total selama beberapa bulan ke depan. Saat ini, Nyonya Kirana sudah sadarkan diri di ruang pemulihan."
Aris mendesah lega secara ekstrem. Lututnya menempel ke lantai, ia bersujud di atas lantai rumah sakit, memanjatkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta. Air mata kebahagiaan menyapu habis sisa-sisa ketakutan yang mencekik dadanya.
Ruang perawatan VIP itu dipenuhi wangi harum bunga krisan putih. Cahaya matahari pagi menembus celah tirai, memberikan nuansa hangat yang menenangkan. Kirana berbaring lemah di atas ranjang medis, wajahnya masih pucat pasi dengan selang infus terpasang di punggung tangannya.
Di samping ranjang, Aris duduk menggenggam erat jemari Kirana, menempelkan jemari itu ke pipinya tanpa berniat melepaskannya sedikit pun. Di sisi lain ranjang, Leo dan Maya tertidur lelap dengan kepala bersandar di tepi kasur, memegang kaki Kirana dengan posesif.
"Mas..." bisik Kirana halus, suaranya masih sangat lemah.
Aris mendongak cepat, mengecup jemari Kirana berkali-kali dengan ketulusan yang meluap. "Aku di sini, Sayang. Aku di sini. Jangan banyak bergerak dulu, ya? Bayi kita selamat, Kirana... Anak kita selamat."
Kirana tersenyum tipis. Airmata keharuan menetes pelan mengaliri pipinya. Ia mengelus lembut perutnya yang masih berada di dalam perlindungan. Rasa sakit yang semalam mencabik tubuhnya berganti menjadi sensasi hangat yang begitu syahdu.
"Mas Aris..." ujar Kirana seraya menatap dalam-dalam ke manik mata suaminya. "Kemarin malam... saat aku merasa berada di ambang kematian, aku menyadari sesuatu."
"Apa itu, Kirana?" tanya Aris lembut, mengusap anak rambut yang menutupi dahi istrinya.
"Pernikahan kita memang berawal dari takdir yang penuh sindiran," tutur Kirana lirih namun sarat akan makna kehidupan. "Aku masuk ke rumahmu sebagai ibu tiri yang dicurigai dan dihina. Kamu memelukku dengan benteng trauma yang dingin. Kita saling melawan, saling melukai dengan prasangka, dan bergelut dalam pertempuran emosi yang menguras air mata..."
Kirana menghentikan kalimatnya sejenak, melirik ke arah Leo dan Maya yang tertidur pulas di dekatnya.
"Tapi di tengah cucuran darah dan air mata semalam, aku tiba-tiba sadar..." Kirana menatap Aris kembali dengan pendar cinta yang murni. "Takdir tidak sedang menghancurkan kita, Mas. Takdir sedang menempah kita. Rumah tangga ini bukanlah panggung sandiwara atau tempat penumbalan harta, melainkan tempat di mana Tuhan mengajarkan kita arti ketulusan cinta yang sebenarnya. Semua penderitaan itu... adalah harga yang harus kita bayar untuk menemukan kedamaian hari ini."
Aris menundukkan kepalanya, membenamkan wajahnya di telapak tangan Kirana. Bahunya bergetar saat ia kembali menangis—bukan lagi karena duka, melainkan karena keharuan yang membuncah atas keagungan jiwa wanita yang berada di hadapannya. Pria yang dahulunya dingin bagaikan es itu kini telah sepenuhnya ditaklukkan oleh kehangatan cinta ibu tiri berusia dua puluh empat tahun tersebut.
"Terima kasih, Kirana..." bisik Aris di antara isak tangisnya. "Terima kasih karena tidak menyerah padaku... Terima kasih karena telah menjadi ibu sejati bagi anak-anakku, dan menjadi penyelamat bagi jiwaku yang cacat ini."
Tiba-tiba, Pintu ruang perawatan diketuk pelan. Pak Wijaya melangkah masuk dengan raut wajah yang sangat tegang, membawa sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rahasia negara.
"Maaf mengganggu momen Anda, Pak Aris, Nyonya Kirana," ujar Pak Wijaya dengan suara berbisik agar tidak membangunkan anak-anak. "Pihak kepolisian baru saja mengirimkan hasil penyelidikan lanjutan terkait pelarian Sheila."
Aris bangkit dari duduknya, mengusap air matanya dan berdiri melindungi Kirana. "Apa yang ditemukan polisi, Pak Wijaya?"
Pak Wijaya membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa salinan dokumen rahasia serta rekaman CCTV lama dari sanatorium.
"Sheila tidak bergerak sendiri," ungkap Pak Wijaya tegas. "Seseorang yang membiayai pelariannya dan menyediakan senjata api semalam adalah orang yang selama ini berada di dalam lingkaran terdekat Pratama Group. Dan yang lebih mengejutkan... Kakek Hendra yang menghilang dari sanatorium ternyata tidak diculik oleh Sheila."
Kirana mengernyitkan alisnya dengan jantung kembali berdebar kencang. "Lalu di mana Kakek Hendra, Pak Wijaya?"
Pak Wijaya menatap Kirana dan Aris secara bergantian sebelum membocorkan kebenaran yang paling mengerikan:
"Kakek Hendra... dialah otak yang mengendalikan Sheila dari balik layar selama ini. Dan saat ini, Kakek Hendra telah mengambil alih seluruh aset utama Pratama Group di Singapura untuk menghancurkan pernikahan Anda berdua dari akar terdalamnya!"
Ruangan itu seketika kembali diselimuti aura tegang yang mencekam. Bayangan rahasia masa lalu ternyata belum sepenuhnya musnah, melainkan baru saja membuka babak pertempuran baru yang jauh lebih berbahaya.
Apakah Kakek Hendra benar-benar tega menghancurkan cucu kandungnya sendiri demi mempertahankan kebohongan masa lalu Pratama Group? Bagaimanakah cara Aris dan Kirana mempertahankan ikatan cinta serta keselamatan janin mereka dari ancaman sang penguasa tertinggi keluarga? Dan rahasia terlarang apa yang sebenarnya disimpan oleh Sheila terkait asal-usul rahim yang melahirkan Leo dan Maya?