Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Keesokan paginya Farhan dan Karisa memutuskan untuk jalan-jalan menikmati keindahan desa itu dengan menggunakan sepeda. Memang di desa ini masih jarang terdapat kendaraan bermotor. Warga desa di sini masih mengutamakan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi demi menjaga keasrian lingkungan desa.
"Indah sekali ya mas." Ucap Karisa sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar, dalam posisi duduk di boncengan sepeda.
"Iya benar sangat indah, Kamu suka di sini?" Tanya Farhan sambil terus fokus menggoes sepedanya.
"Hemmm...aku suka."
Karisa memeluk tubuh Farhan dari belakang sambil menyandarkan pipinya di punggung Farhan.
"Mas itu ada warung gorengan beli yuk, nanti kita makan di dekat air terjun." Karisa menunjuk kearah sebuah warung kecil di pinggir jalan yang menjual aneka gorengan.
Farhan pun segera menggoes sepedanya menuju ke arah warung itu.
"Bu Siti beli gorengannya 20 ribu campur."
Kata Farhan sambil menyodorkan selembar uang kertas dua puluh ribuan.
"Eh, nak Farhan, kapan sampai? Udah lama nggak main ke kampung ini." Bu Siti tersenyum ramah sambil membungkuskan gorengan yang di beli oleh Farhan.
"Semalam Bu." Jawab Farhan.
"Ini istri kamu ya? Cantik sekali." Ucap Bu Siti kembali.
"Iya dong istri siapa dulu." Canda Farhan, sementara Karisa hanya tersenyum saja.
"Nak Farhan, Kapan sampai?" Kembali terdengar pertanyaan dari seorang ibu-ibu yang juga ingin membeli gorengan di warungnya Bu Siti.
"Semalam bu" Farhan kembali tersenyum kepada ibu-ibu yang baru saja tiba itu, namun senyumnya terlihat sedikit terpaksa dan membuat Karisa merasa heran.
"Berdua saja? Ibu-ibu itu lanjut bertanya.
"Ia Bu hanya berdua dengan istri saya." Masih tetap meladeni ibu-ibu itu walau sudah sedikit risih.
"Berarti belum punya momongan dong? Kalian kan sudah lumayan lama menikahnya kok belum punya momongan sih? Jangan di tunda-tunda entar Allah marah sekalian nggak di kasih momongan baru menyesal." Celetuk ibu-ibu itu dengan santainya.
"Maaf ya Bu, itu urusan saya dengan suami saya. Kami saja masih santai dan bahagia dengan hidup kami yang sekarang, kenapa ibu yang repot." Ucap Karisa ketus, dalam hati dia berfikir pantas sejak tadi wajah suaminya tidak enak di lihat semenjak kedatangan ibu ini.
"Saya kan cuma ngomong apa adanya, kenapa marah." Ibu itu masih melanjutkan omongannya tanpa rasa bersalah.
"Lagi pula coba dulu kamu mau sama Anisa sekarang kalian pasti sudah punya anak. Tapi karena kamu lebih memilih wanita kota yang sama sekali tidak mengerti kodrat seorang wanita ya beginilah jadinya."
"Maaf sebelumnya, bukannya saya ingin bersikap lancang. Tapi ibu sudah terlalu mencampuri urusan saya untuk masalah Anisa sejak awal sudah saya jelaskan kalau saya hanya menganggapnya sebagai adik jadi tolong jangan pernah di bahas lagi, untuk masalah istri saya ada atau pun tidak ada anak di antara kami saya akan tetap mencintainya seumur hidup saya. Permisi." Farhan langsung menarik tangan Karisa dan membawanya pergi dari warung itu.
"Kita lihat saja berapa lama kalian bisa saling mencintai tanpa seorang anak." Gerutu ibu-ibu itu setelah kepergian Karisa dan Farhan. Sementara Bu Siti hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan salah satu tetangganya itu.
Karisa duduk termenung menatap air terjun yang mengalir indah di depannya. Sudah hampir 15 menit dia duduk diam di situ dari mulai pertama tiba di air terjun ini. Farhan tau kalau saat ini Karisa sedang sedih jadi Farhan membiarkannya agar bisa menenangkan diri dan hanya memandangnya dalam diam pula.
"Mas apa kamu benar-benar tidak akan menyesal bersama dengan wanita yang tidak sempurna seperti aku ini." Karisa menoleh ke arah Farhan, setetes air mata mengalir di pipinya.
"Sayang kenapa bahas ini lagi sih?" Farhan mendekati Karisa lalu merengkuh tubuh Karisa yang terlihat sangat rapuh itu dan mengecup puncak kepalanya.
"Dengarkan aku baik-baik, hanya kamu istriku satu-satunya yang akan aku cintai seumur hidup ini bukan karena anak atau apapun juga tapi karena memang hanya kamu yang ingin aku cintai. Jadi tolong jangan bahas masalah ini lagi." Farhan menghapus air mata yang mengalir di pipi Karisa.
"Tapi apa ini pantas? Mas kamu itu anak laki-laki satu-satunya di keluargamu, Abi dan umi pasti sangat ingin memiliki cucu dari kamu untuk meneruskan garis keturunan mereka."
Rasa bersalah Karisa semakin besar jika mengingat betapa mertuanya sangat ingin memiliki cucu.
"Kamu bicara apasih sayang, garis keturunan apa? Dengar ya istriku yang cantik, suamimu ini hanya seorang lelaki biasa bukan seorang raja yang harus mementingkan garis keturunan, mengerti." Farhan terkekeh lalu menoel hidung Karisa.
"Kalau nanti kamu merasa sunyi dan ingin punya anak kita bisa mengadopsi beberapa anak dari panti asuhan, aku rasa itu juga lebih baik jadi aku tidak perlu melihat kamu menderita karena karena melahirkan. Jadi aku juga tidak perlu repot belajar cara merawat istri sehabis melahirkan."
"Apa kamu bilang mas? Benar-benar keterlaluan." Farhan langsung melesat pergi secepat kilat saat Karisa mengangkat tangannya ingin memukul Farhan.
"Jangan lari, sini kamu mas!!!" Karisa berlari mengejar Farhan. Akhirnya mereka pun tertawa bersama.
"Sudah hampir tengah hari ayo kita pulang nenek pasti sudah nungguin kita sejak tadi." Farhan.
"ayo." Karisa.
Farhan pun kembali menggoes sepedanya pulang menuju ke rumah nenek dan kakeknya.