Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menerobos masuk melalui celah gorden kamar atas, membawa serta aroma tanah basah sisa hujan semalam yang terasa begitu menyegarkan. Aurel menggeliat kecil di atas tempat tidur, mengerjapkan matanya yang kini sudah benar-benar segar dan tidak lagi sembap. Di luar, suara kicau burung gereja berbaur manis dengan sayup-sayup denting spatula dari arah dapur bawah.
Setelah membasuh muka dan merapikan piama satinnya, Aurel melangkah turun menuruni anak tangga kayu menuju ruang makan. Di sana, suasana hangat khas keluarga sudah menyambutnya. Papa Crish sedang duduk santai membaca berita di tabletnya, sementara Mama Olivia sedang menata mangkuk-mangkuk di atas meja makan.
"Eh, anak gadis Mama sudah bangun. Sini, Rel, langsung duduk. Pas bener ini nasi goreng gila kesukaan kamu baru matang," sapa Mama Olivia riang sembari menyendokkan nasi goreng yang mengepulkan uap harum ke atas meja.
"Pagi, Mama, Papa," sapa Aurel dengan senyum cerianya yang telah kembali sepenuhnya.
"Pagi, Anak Cantik. Sini duduk sebelah Papa," sahut Papa Crish, langsung melipat tabletnya dan menepuk kursi kosong di sampingnya—persis seperti kebiasaannya yang selalu memanjakan Aurel. "Gimana tidurnya semalam? Nyenyak, kan? Kamar atas nggak dingin?"
"Nyenyak banget, Pa. Malah hampir kesiangan tadi kalau nggak dengar suara masak Mama," jawab Aurel jenaka, membuat Papa Crish tertawa renyah.
Tepat saat Aurel hendak menyendok nasi gorengnya, Bang Edward muncul dari arah koridor belakang dengan rambut yang masih agak acak-acakan khas orang baru bangun tidur. Senior itu langsung mendaratkan bokongnya di kursi seberang Aurel sambil menguap pelan.
"Pagi, Dek. Matanya udah aman, kan? Nggak usah pasang skenario polusi ganda lagi ya hari ini," goda Bang Edward dengan cengiran khasnya, langsung mengingatkan Aurel pada insiden panik semalam.
Aurel refleks mendelik ketus, namun di dalam hatinya ia merasakan kehangatan yang luar biasa. Tatapan mata Bang Edward pagi ini, pelukan hangat dari Mama Olivia, dan perhatian penuh dari Papa Crish seolah menjadi benteng kokoh yang menyembuhkan luka kecil di hatinya akibat cinta sepihak kemarin. Aurel tersenyum tipis. Ia sadar, tidak memiliki hati Bang Edward sebagai seorang wanita bukanlah akhir dari segalanya, karena di rumah ini, ia selalu dicintai dengan porsi yang teramat besar sebagai bagian dari dinasti keluarga mereka.
"Aman, Bang! Udah siap dengerin kultum lo lagi hari ini," balas Aurel tidak mau kalah, memicu tawa dari Papa Crish dan Mama Olivia yang mulai menyendokkan makanan untuk anak sulung mereka.
Tepat saat suasana meja makan kembali riuh oleh perdebatan kecil kakak-beradik itu, ponsel Aurel yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar sekali. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk dari nomor Reyhan.
Reyhan: Pagi, Partner. Hari ini jam sembilan gue tunggu di depan gerbang perumahan Bang Edward, ya. Kita bareng ke kampus buat cetak draf tugas bab dua.
Seketika itu juga, suapan nasi goreng Aurel terhenti di udara. Jantungnya mendadak bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, membawa sebuah debaran baru yang semakin nyata menggantikan rasa getirnya yang perlahan memudar.
Aurel buru-buru membalikkan layar ponselnya ke bawah, berusaha bersikap senormal mungkin di depan tiga pasang mata yang ada di meja makan. Ia mengunyah sisa nasi gorengnya dengan cepat, lalu meneguk air putihnya sampai kandas.
"Papa, Mama, Aurel pamit langsung berangkat ke kampus sekarang, ya? Soalnya draf tugasnya harus dicetak sebelum kelas Pak Baskoro dimulai," pamit Aurel sembari bangkit berdiri dan meraih tas ranselnya dari sandaran kursi.
Papa Crish mengernyitkan dahi, melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. "Lho, pagi sekali, Nak? Biasanya kan kamu berangkat bareng Edward jam setengah sembilan lewat? Naik motor sendiri?"
"Eh... enggak, Pa. Aurel... bareng sama teman kelompok Aurel. Dia udah nungguin di depan gerbang perumahan," jawab Aurel terbata-bata, berusaha menghindari kontak mata dengan abangnya.
Mendengar kata 'teman kelompok' dan 'nungguin di gerbang', gerakan sendok Bang Edward seketika terhenti di udara. Senior itu langsung mendongak, matanya menyipit tajam menatap Aurel penuh selidik.
"Bentar, bentar," sela Bang Edward, menaruh sendoknya dengan bunyi klak yang cukup keras ke piring. "Teman kelompok lo yang mana nih? Si Reyhan, maksud lo?"
Aurel refleks menggigit bibir bawahnya, merutuki mulutnya sendiri yang kurang taktis menyusun alasan. "I-iya... si Reyhan. Dia sekalian lewat katanya, Bang."
"Nggak bisa! Langkah tuh maba denim bener-bener agresif, ya!" pekik Bang Edward langsung bangkit berdiri, radar protektif abang siaga satu miliknya seketika menyala di level maksimal. Ia menunjuk ke arah pintu luar dengan ekspresi defensif yang dibuat-buat namun sarat akan kecemburuan seorang kakak. "Kemarin modus netesin obat mata, semalam modus nanyain tidur, sekarang pagi-pagi udah nongkrong di gerbang kompleks mau jemput lo? Nggak ada! Nggak boleh! Biar gue yang anterin lo ke kampus sekarang, Rel!"
Mama Olivia hanya bisa menepuk jidatnya melihat tingkah protektif anak sulungnya yang mulai kambuh, sementara Papa Crish justru terkekeh renyah melihat Edward yang mendadak kebakaran jenggot.
"Edward, sudah ah. Biarin saja Aurel berangkat sama Reyhan. Reyhan kan keponakannya Anita, anak baik-baik itu," sela Papa Crish menenangkan, sembari menarik tangan Aurel untuk mendekat. Pria paruh baya itu mengusap puncak kepala Aurel dengan penuh kasih sayang khas seorang ayah yang selalu memanjakannya. "Ya sudah, Aurel Cantik, kamu hati-hati di jalan, ya. Kalau si Reyhan bawa motornya ngebut, telinga dia kamu jewer aja. Ini uang jajan tambahan buat kamu dari Papa."
Papa Crish menyelipkan selembar uang seratus ribu rupiah ke dalam saku jaket Aurel, membuat mata gadis itu langsung berbinar cerah.
"Asyik! Makasih banyak, Papa kesayangan! Aurel pamit, ya!" seru Aurel kegirangan, langsung menyalami tangan Papa Crish dan Mama Olivia dengan takzim. Sebelum Bang Edward sempat menyambar kunci motornya untuk mengejar, Aurel sudah lebih dulu mengambil langkah seribu, berlari keluar melewati pintu utama sambil tertawa puas meninggalkan abangnya yang masih menggerutu kesal di ruang makan.
Di balik rasa puasnya menjahili Bang Edward pagi ini, jantung Aurel mulai berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat. Setiap langkah kakinya yang semakin dekat menuju gerbang perumahan terasa dipenuhi oleh debaran baru yang hangat—sebuah debaran yang perlahan tapi pasti, mulai menuntunnya keluar dari jalan buntu yang selama ini menjebak hatinya.
Aurel berjalan setengah berlari menyusuri trotoar kompleks perumahan yang masih menyisakan embun pagi. Senyum kemenangan akibat berhasil meloloskan diri dari hadangan Bang Edward masih terpatri jelas di bibirnya. Langkah kakinya terasa begitu ringan, berirama dengan detak jantungnya yang entah mengapa berdegup lebih bersemangat dari biasanya.
Begitu mendekati gerbang utama berpagar hitam tinggi, pandangan Aurel langsung terkunci pada sosok cowok jangkung yang sedang bersandar santai di atas motor matik besar miliknya. Reyhan ada di sana, masih setia dengan jaket denim andalannya dan sebuah helm fullface yang dicantolkan di spion.
Aurel melangkah mendekat tanpa menyadari bahwa senyumnya sedari tadi belum juga luntur.
Reyhan yang sedang fokus menatap layar ponselnya mendadak mendongak saat menangkap derap langkah kaki mendekat. Ia memasukkan ponselnya ke saku jaket, lalu menegakkan punggung. Sepasang matanya yang teduh menatap lekat-lekat pada wajah Aurel yang berjalan menghampirinya sambil senyam-senyum sendiri.
"Pagi, Partner," sapa Reyhan dengan suara berat khasnya yang selalu berhasil membuat Aurel terenyak sejenak. Cowok itu menaikkan sebelah alisnya, menatap Aurel penuh selidik namun dengan binar jenaka. "Baru jam delapan lewat, tapi senyum lo udah selebar itu. Habis dapat durian runtuh atau habis nemu rumus rahasia dari Pak Baskoro?"
Aurel seketika menghentikan langkahnya tepat di depan motor Reyhan. Ia refleks meraba pipinya yang terasa hangat, baru sadar kalau dirinya sejak tadi bertingkah mencurigakan.
"Eh? Enggak kok! Siapa juga yang senyam-senyum," kilah Aurel cepat, mencoba memasang wajah ketus andalannya yang sayangnya kali ini gagal total karena rona merah di pipinya tidak bisa diajak bekerja sama. "Ini tuh senyum kepuasan karena gue berhasil lolos dari zona siaga satu Abang gue yang protektifnya minta ampun!"
Reyhan terkekeh pelan—sebuah tawa pendek dan renyah yang mendadak membuat dada Aurel terasa sedikit berdesir. Cowok itu meraih helm half-face cadangan berwarna putih yang tergantung di jok belakang, lalu mengulurkannya ke arah Aurel.
"Oh, jadi Bang Edward ngamuk lagi karena lo mau berangkat bareng gue?" tebak Reyhan sangat tepat sasaran. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan. "Bagus deh kalau lolos. Soalnya kalau sampai kapten kesebelasan lo itu ikut ngejar ke sini, draf tugas bab dua kita bisa berubah jadi draf sidang pelanggaran hak asuh adik."
"Hahaha! Bener bener! Tadi dia udah mau nyamber kunci motor tahu nggak buat ngejar gue," sahut Aurel sambil memakai helmnya, tawanya pecah sepenuhnya melupakan rasa salah tingkahnya yang sempat mampir.
Reyhan memperhatikan gerakan Aurel yang sedang mengancingkan tali helmnya. Tanpa suara, tangan jangkung Reyhan terulur ke depan, membantu merapikan rambut depan Aurel yang sedikit terjepit di bagian pelipis helm dengan gerakan yang sangat lembut.
Sentuhan singkat itu seketika membuat Aurel membeku di tempatnya berdiri, menahan napas dengan jantung yang kembali berpacu cepat.
"Udah pas. Yuk naik, keburu tempat fotokopi di kampus penuh antrean maba," ucap Reyhan santai seolah tindakan manisnya barusan adalah hal yang biasa, sembari menyalakan mesin motornya yang menderu halus.
Aurel menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya, lalu perlahan naik ke jok belakang motor Reyhan. Di balik hawa sejuk angin pagi perjalanan mereka menuju kampus, Aurel tersenyum tipis di belakang punggung tegap Reyhan. Ia perlahan menyadari bahwa langkah kakinya keluar dari gerbang perumahan tadi benar-benar telah menuntunnya menuju sebuah awal yang baru—sebuah jalan yang perlahan menyembuhkan sisa getir di hatinya.
Motor matik besar yang dikendarai Reyhan akhirnya membelas pelataran parkir area kampus yang mulai dipadati oleh kendaraan mahasiswa. Begitu mesin motor dimatikan tepat di bawah pohon rindang dekat koridor utama, Aurel segera turun dan melepas helm putihnya, berusaha merapikan rambutnya yang sedikit mencuat ke samping.
Belum juga mereka melangkah sejauh tiga meter menuju kios fotokopi kejujuran kampus, sebuah lengkingan suara yang sangat familier dan bernada tinggi langsung memecah riuhnya suasana pagi itu.
"Ciyeeeee! Uhuy! Pagi-pagi bener nih penjemputan dari dinasti maba denim!" sorak Gino lantang. Cowok itu sudah berdiri di depan mesin fotokopi sembari melambaikan kertas tugasnya dengan heboh, memicu perhatian beberapa mahasiswa lain yang sedang mengantre.
Shirin yang berdiri di sebelah Gino ikut bersedekap dada. Alisnya terangkat sebelah, menatap Aurel dengan senyuman penuh kemenangan dan kedipan mata menggoda yang tertangkap jelas. "Nah, bener kan kata gue semalam, Rel? Berangkat bareng mah emang cara paling efisien buat menghemat energi dan... mempercepat getaran di dada."
Wajah Aurel seketika berubah menjadi merah padam dalam hitungan detik. Sifat aslinya yang galak langsung menyala demi menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa. "Gino! Shirin! Mulut lo berdua bisa diem enggak, sih?! Ini tempat umum, woi!" semprot Aurel dengan suara tertahan sambil melangkah cepat menghampiri mereka.
Reyhan yang berjalan santai di belakang Aurel hanya terkekeh renyah sembari menyampirkan tas ranselnya ke satu bahu. "Santai, Gin. Jangan disorakin terus, kasihan itu mukanya udah selevel sama kepiting rebus bumbu padang," timpal Reyhan tenang tanpa beban, yang justru membuat Aurel refleks berbalik dan memukul lengan tegap cowok itu menggunakan helm putih di tangannya.
"Reyhan! Lo malah ikutan lagi!" gerutu Aurel kesal, meskipun sudut bibirnya tidak bisa berbohong kalau ia juga menahan senyum geli.
Gino langsung meledak dalam tawa sampai harus bertumpu pada pundak Shirin. "Hahaha! Ampun, Bos! Pawang barunya ternyata langsung bisa membaca indikator warna pipi. Keren lo, Rey! Langkah lo emang senyap tapi mematikan."
Shirin menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib teman-temannya, lalu menyodorkan lembar draf tugas milik kelompoknya ke arah Aurel. "Udah, udah, jangan ribut di depan tukang fotokopi. Ini punya gue sama Gino udah beres dicetak. Buruan draf lo sama Reyhan masukin ke folder biar kita bisa langsung meluncur ke kelas Pak Baskoro sebelum bel masuk bunyi."
Aurel menarik napas panjang untuk meredakan debaran di dadanya yang sejak tadi pagi berpacu cepat. Sembari menunggu Reyhan menyerahkan file tugas mereka ke petugas kios, Aurel melirik ke arah koridor menuju ruang kelas. Rasa cemas dan luka getir akibat cinta sepihak kepada Bang Edward kemarin kini benar-benar telah sirna sepenuhnya dari pikirannya, tergantikan oleh riuhnya tawa para sahabat dan kehadiran hangat dari cowok di sebelahnya yang perlahan membuka lembaran baru di hidupnya.
Tepat setelah Shirin menyuruh mereka merapikan folder tugas, suara raungan mesin motor sport yang sangat familier tiba-tiba memecah keriuhan area parkir. Otomatis, perhatian empat maba itu teralih ke arah jalan masuk.
Motor sport hitam itu berhenti tepat di bawah pohon peneduh, hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Begitu mesin dimatikan, sosok Bang Edward turun lebih dulu, lalu dengan penuh perhatian memegangi lengan Kak Anita agar kekasihnya itu bisa turun dari jok belakang dengan nyaman. Bang Edward bahkan dengan telaten membantu melepaskan kancing helm Kak Anita, disusul dengan tawa renyah di antara keduanya yang terlihat begitu serasi.
Melihat pemandangan romantis yang tersaji secara nyata di depan matanya, senyum Aurel yang tadinya merekah akibat candaan Gino langsung surut seketika. Dadanya mendadak kembali terasa sesak, seolah dihantam oleh kenyataan pahit yang belum sepenuhnya bisa ia terima.
Rasa cemburu yang teramat besar dan rasa sakit yang menusuk kembali bergejolak di dalam hatinya. Pandangan matanya meredup, menatap kosong ke arah sepasang kekasih itu. Kenapa setiap melihat mereka berdua, rasanya sesakit ini? batin Aurel pilu. Ia kembali diingatkan pada batas tak kasatmata yang kejam; bahwa perhatian manis Bang Edward pagi tadi di meja makan murni hanya karena statusnya sebagai adik tingkat sekaligus adik kecil yang menumpang kasih sayang di rumahnya, bukan sebagai seorang wanita yang dicintai.
Gino dan Shirin yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah Aurel seketika menghentikan tawa mereka. Suasana di depan kios fotokopi mendadak berubah canggung.
Namun, sebelum Bang Edward sempat menoleh dan menangkap basah tatapan terluka itu, Reyhan bergerak dengan sangat taktis. Cowok berjaket denim itu sengaja melangkah satu blok ke depan, menggeser tubuh jangkungnya tepat di jalur pandang Aurel hingga sosok Bang Edward dan Kak Anita tertutup sepenuhnya dari penglihatan gadis itu.
Reyhan menundukkan kepalanya sedikit, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aurel dengan binar yang begitu teduh dan dalam.
"Folder tugasnya udah beres diikat rapi, Rel," ucap Reyhan dengan nada suara yang sengaja direndahkan, mengalihkan seluruh fokus Aurel kembali kepadanya. Tanpa suara, tangan jangkung Reyhan terulur untuk mengambil helm putih dari genggaman Aurel yang sejak tadi diremasnya dengan kencang. "Daripada lo ngelihatin parkiran yang makin penuh galian polusi, mending kita langsung masuk ke gedung kuliah sekarang. Kelas Pak Baskoro lima menit lagi dimulai."
Aurel tersentak pelan, menatap wajah tenang Reyhan yang kini berdiri begitu dekat sebagai tameng pelindungnya dari rasa sakit hati. Udara dingin dari sisa hujan semalam seolah kalah hangat dengan perhatian sunyi yang diberikan cowok spek dewa di hadapannya ini.
Aurel menelan ludahnya yang terasa tercekat, lalu mengangguk lirih sembari mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Iya, Rey. Yuk, langsung ke kelas aja."
Di belakang mereka, Shirin mengembuskan napas lega sambil menepuk pundak Gino pelan, memberi kode agar mereka segera mengekor di belakang untuk mendampingi sahabatnya yang sedang berjuang menata hati di lembaran hidup yang baru.
Belum sempat Aurel membalikkan badan untuk melangkah menuju gedung kuliah, sebuah teriakan lantang yang menggelegar dari ujung parkiran seketika menggagalkan rencana pelarian senyap mereka.
"Aureeeel! Oiii, Bocil! Tunggu dulu!"
Panggilan cempreng nan berwibawa dari Bang Edward itu sukses membuat langkah kaki Aurel membeku di tempat. Shirin dan Gino refleks menepuk jidat mereka secara bergantian, sementara Reyhan hanya bisa mengembuskan napas pendek sembari menaikkan sebelah alisnya. Radar protektif dari sang "Kapten Kesebelasan" ternyata memiliki jangkauan yang luar biasa luas.
Bang Edward melangkah lebar-lebar membelah barisan motor, mengekor di belakangnya Kak Anita yang berjalan cepat dengan wajah menahan tawa. Begitu sampai di depan gerombolan maba itu, Bang Edward langsung berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah Reyhan, seolah-olah sepupu kekasihnya itu baru saja melakukan pelanggaran lalu lintas berat.
"Wah, bener-bener ya lo, Rey! Gerakan lo senyap kayak intel, tapi modusnya kelihatan jelas di radar gue!" todong Bang Edward dengan volume suara yang sengaja ditinggikan. Ia lalu beralih menatap adiknya dengan mata melotot jenaka. "Lo juga, Rel! Tadi di meja makan pamitnya mau cetak tugas buru-buru, pas gue cek ke gerbang kompleks, lo udah boncengan mesra di motor matik besarnya si Reyhan. Mana jalan pintasnya lancar jaya bener!"
Wajah Aurel yang tadinya sempat meredup karena cemburu, seketika langsung berubah menjadi merah padam akibat malu yang luar biasa karena dituduh di depan umum. "Bang Edward! Mulut lo bisa disaring dikit nggak, sih?! Siapa juga yang boncengan mesra, orang cuma tebengan efisiensi waktu!"
"Alasan! Efisiensi waktu atau efisiensi pendekatan?" goda Bang Edward tidak mau kalah. Ia melirik stoples kecil di kantong jaket denim Reyhan, lalu menunjuknya dengan telunjuk. "Itu lagi, helm putih cadangan lo wangi parfum laundry baru, kan? Pasti udah lo siapin dari semalam buat modusin adek gue, iya kan, Rey?"
Reyhan yang diserang bertubi-tubi tetap memasang wajah luar biasa lempeng tanpa dosa. Ia merapikan letak folder tugas di tangannya dengan santai. "Gue cuma menjalankan fungsi sosial sebagai mahasiswa yang searah jalan, Bang. Biar draf tugas bab dua kelompok kami selamat sampai tujuan tanpa hambatan protokol."
Gino yang sejak tadi menahan tawa di sebelah Shirin langsung meledak sepenuhnya. "Hahaha! Ampun, Bang Edward! Pawang barunya ternyata punya pembelaan berbasis sosiologi perkuliahan. Susah ditembus itu benteng argumennya!"
Kak Anita yang sudah tidak tahan melihat kekasihnya bertingkah terlalu posesif, langsung menjewer pelan telinga Bang Edward dari belakang. "Sudah ah, Edward! Kamu ini memalukan banget dilihatin maba-maba lain. Orang adekmu berangkat selamat sampai kampus kok malah diinterogasi kayak buronan. Yuk, masuk kelas kita sendiri, keburu dosennya datang!"
"Aduh, aduh! Iya, Sayang, ampun! Lepas dulu jewerannya, entar wibawa gue sebagai kating turun drastis," ringis Bang Edward manja, langsung merubah mode sangarnya menjadi mode penurut di depan Kak Anita. Sebelum diseret menjauh oleh kekasihnya, Bang Edward masih sempat melotot ke arah Reyhan dan Aurel. "Awas ya lo berdua! Jarak satu meter di kelas Pak Baskoro tetap berlaku! Fokus kuliah!"
"Iya, Bang! Cerewet bener kayak mak-mak katering!" teriak Aurel ketus ke arah punggung abangnya yang mulai menjauh diseret Kak Anita.
Begitu sosok Bang Edward benar-benar menghilang di balik belokan koridor, Aurel mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Di balik kekesalannya akibat konfrontasi kocak barusan, rasa sesak dan cemburu yang sempat menghantap hatinya di parkiran tadi kini benar-benar telah buyar dan menguap sepenuhnya. Kehadiran abangnya yang super ajaib dan perhatian tersembunyi dari Reyhan yang berdiri kokoh di sebelahnya terbukti menjadi kombinasi terbaik yang perlahan menyembuhkan sisa getir di hatinya
Suasana di dalam ruang kuliah mendadak senyap begitu langkah kaki tegap Pak Baskoro memasuki ruangan. Dosen senior berwajah tegas itu meletakkan tas kulitnya di atas meja dosen, lalu membetulkan posisi kacamatanya sembari menatap ke sekeliling kelas dengan pandangan yang mengintimidasi.
"Selamat pagi semuanya. Sesuai kesepakatan minggu lalu, hari ini adalah jadwal pengumpulan dan presentasi silabus draf tugas bab dua," suara berat Pak Baskoro menggema, membuat beberapa mahasiswa refleks menelan ludah gugup. "Saya tidak suka membuang waktu. Kelompok pertama yang saya panggil harus langsung maju ke depan. Kelompok Aurel dan Reyhan, silakan."
Mendengar nama mereka dipanggil sebagai urutan pertama, jantung Aurel seketika berdegup dua kali lebih cepat. Rasa gugup mendadak menyerangnya, membuat tangannya yang memegang folder tugas sedikit gemetar.
Namun, sebelum rasa panik menguasai dirinya, sebuah tepukan pelan mendarat di bahunya. Reyhan sudah bangkit berdiri di sebelahnya dengan ekspresi yang luar biasa tenang. Cowok berjaket denim itu menatap Aurel lekat-lekat, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat teduh.
"Tenang, Partner. Bagian pembukaan sama teori biar gue yang pegang. Lo tinggal fokus di bagian kesimpulan data sekunder yang udah kita rapihin semalam," bisik Reyhan dengan nada suara yang sangat rendah, namun sanggup mengalirkan rasa aman yang instan ke dalam dada Aurel.
Aurel menarik napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya, lalu mengangguk mantap. "Oke, Rey."
Di barisan kursi tengah, Gino dan Shirin kompak mengepalkan tangan ke udara, memberikan kode semacam dukungan mental terselubung untuk sahabat mereka.
Begitu berada di depan kelas, Reyhan langsung mengambil alih kendali. Ia membuka laptop, menghubungkannya ke proyektor, dan memulai presentasi dengan gaya penyampaian yang sangat tenang, cerdas, dan tertata rapi. Cara Reyhan membedah metodologi komparatif kualitatif mereka terdengar begitu memukau, membuat Pak Baskoro yang biasanya hobi memotong pembicaraan mahasiswa kali ini justru manggut-manggut puas.
Saat giliran Aurel berbicara, rasa gugupnya perlahan menguap. Melihat bagaimana Reyhan berdiri kokoh di sampingnya—siap membantu jika ia mendadak buntu—membuat Aurel mampu memaparkan bagian kesimpulan data dengan sangat lancar dan penuh percaya diri.
"Sekian presentasi dari kelompok kami. Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan," tutup Aurel dengan senyum cerianya yang telah kembali sepenuhnya.
Pak Baskoro melepaskan kacamatanya, lalu memberikan ketukan bolpoin yang ritmis ke atas meja. "Struktur analisis yang sangat rapi untuk ukuran mahasiswa baru. Pembagian tugasnya seimbang, metodenya taktis, dan datanya tajam. Sempurna. Saya harap kelompok lain bisa mencontoh hasil kerja kelompok ini."
Seketika itu juga, seisi kelas langsung riuh oleh tepuk tangan meriah. Gino bahkan nekat bersiul heboh dari kursinya sampai dihadiahi lirikan tajam dari Pak Baskoro, membuat Shirin buru-buru menyenggol lengan cowok itu agar diam.
Aurel berjalan kembali ke bangkunya dengan perasaan lega yang membuncah luar biasa di dalam dada. Saat mereka berdua kembali duduk berdampingan, Aurel melirik ke arah Reyhan yang sedang menutup layar laptopnya. Di tengah riuhnya tepuk tangan kelas pagi ini, Aurel perlahan menyadari sesuatu; bahwa kehadiran Reyhan yang selalu pasang badan menjaganya—baik dari amukan abangnya, rasa patah hatinya, hingga urusan kuliah—telah benar-benar menuntun hatinya keluar dari jalan buntu masa lalu menuju sebuah lembaran baru yang jauh lebih indah.
Begitu Pak Baskoro melangkah keluar dari ruang kuliah dan menutup pintu rapat-rapat, keheningan kelas langsung pecah oleh riuhnya suara mahasiswa. Di barisan tengah, Gino tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung melompat dari kursinya, menyampirkan tas ransel di satu bahu, dan melesat menghampiri meja Aurel dan Reyhan dengan kehebohan tingkat tinggi.
"Gila! Gila! Gila! Spek dewa emang kelompok lo berdua!" seru Gino dengan suara melengking, langsung menepuk meja kaca di depan Reyhan hingga menimbulkan bunyi denting yang cukup keras.
Shirin mengekor di belakang Gino sembari tersenyum lebar, ikut mengacungkan jempol andalannya ke arah Aurel. "Sumpah, Rel, Rey! Keren banget tadi. Seumur-umur gue kuliah semester ini, baru kali ini gue lihat Pak Baskoro manggut-manggut kayak pajangan mobil tanpa motong presentasi anak orang."
Aurel yang baru selesai memasukkan pulpen merah ke dalam tasnya langsung mendongak, menyengir bangga. "Siapa dulu dong partnernya? Aurel gitu, lho!"
"Eits, jangan lupa, itu ada andil besar dari Pangeran Denim sebelah lo yang otaknya kayak komputer berjalan," timpal Gino cepat, sepasang matanya langsung berbinar jenaka menatap Reyhan yang sedang santai merapikan kabel laptop. Gino mencondongkan tubuhnya ke depan, memasang mode menodong paling meyakinkan. "Nah, berhubung kelompok lo berdua dapat predikat 'sempurna' dan berhasil menyelamatkan muka angkatan kita di depan Pak Baskoro, fiks ya! Jam istirahat ini, Reyhan harus traktir kita bertiga makan bakso premium di kantin seberang! Setuju nggak, Rin?"
"Setuju banget!" sahut Shirin bersemangat, ikut kompor. "Jarang-jarang kan ada momen bersejarah Pak Baskoro memuji maba. Anggap aja ini pajak kesuksesan bab dua, Rey."
Aurel refleks tertawa terbahak-bahak melihat tingkah heboh kedua sahabatnya yang urat malunya seperti sudah putus sejak awal semester. Ia melirik ke samping, menanti bagaimana respons dari cowok denim di sebelahnya.
Reyhan yang ditodong secara mendadak hanya menghentikan jemarinya sejenak di atas tas laptop. Ia menatap Gino dan Shirin bergantian dengan ekspresi wajahnya yang—seperti biasa—luar biasa lempeng dan tenang. Bukannya keberatan, sudut bibir cowok itu justru terangkat tipis membentuk senyuman teduh.
"Boleh," jawab Reyhan singkat nan santai, sembari menyampirkan tas ranselnya ke bahu tegapnya. "Bakso premium beserta es jeruk gajahnya sekalian. Tapi ada satu syarat."
Gino langsung menaikkan sebelah alisnya, waspada. "Wah, pakai syarat segala? Apaan tuh?"
Reyhan melirik lambat ke arah Aurel yang duduk di sampingnya, membuat jantung gadis itu mendadak bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat. "Syaratnya, jalannya jangan jauh-jauh dari satu meter di sekitar Aurel. Biar kalau radar proteksi abangnya tiba-tiba bunyi dari parkiran, kita bisa langsung pasang barikade pertahanan kelompok."
Seketika itu juga, tawa Gino dan Shirin kembali meledak memenuhi ruang kelas yang mulai sepi. Wajah Aurel yang tadinya sudah normal, dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam akibat salah tingkah diserang gombalan taktis berbasis sosiologi perkelompokan dari Reyhan.
"Reyhaaan! Lo lama-lama ketularan virus buayanya si Gino, ya!" seru Aurel ketus sembari refleks memukul pelan lengan Reyhan dengan folder tugasnya, memicu tawa riang dari para sahabatnya yang perlahan tapi pasti, berhasil membawa hatinya melangkah keluar sepenuhnya dari jalan buntu masa lalu.