NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 RODA yang Terus Berputar

Fajar menyingsing di atas cakrawala kota universitas dengan warna semburat keemasan yang tenang. Pagi itu, gang sempit di depan Kos Bu Broto mendadak berubah menjadi tontonan teatrikal paling mewah sepanjang sejarah kelurahan. Sebuah mobil limosin Mercedes-Maybach S-Class berwarna hitam mengilat dengan pelat nomor khusus kepresidenan berhenti tepat di depan pagar hijau yang mengelupas. Kaca mobilnya yang super gelap memantulkan bayangan rumah-rumah petak di sekitarnya.

Di samping pintu penumpang yang terbuka, Pak Handoko berdiri tegak dengan setelan jas hitam formal penjahit Prancis, sarung tangan kain putih, dan posisi tubuh yang sangat takzim. Di belakangnya, dua orang pria berbadan tegap berpakaian safari hitam tampak berjaga dengan pandangan mata yang waspada, memancarkan aura keamanan kelas VIP nasional.

Bu Broto, Rian, Dono, dan beberapa anak kos lain sudah berdiri berkumpul di teras lantai satu, menatap kendaraan mewah tersebut dengan kombinasi rasa syok kultural dan rasa sungkan yang amat sangat. Rian berkali-kali membetulkan kacamatanya yang ditempeli selotip, merasa jiwanya bergetar melihat mobil yang harganya bisa buat membeli seluruh ruko di kecamatan mereka.

KRETEK.

Pintu kamar nomor 2B di lantai atas terbuka. Gavin Dewantara melangkah keluar, meniti anak tangga semen dengan langkah kaki yang santai dan ugal-ugalan seperti biasanya. Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pangeran mahkota yang siap menjemput takhta triliunan rupiah. Ia mengenakan kaos oblong hitam polos favoritnya yang sudah pudar, celana jins robek di lutut, dan jaket denim lusuh lamanya yang tersampir malas di pundak kanan. Di tangan kirinya, ia menjinjing tas ransel kanvas hijaunya yang bolong di sudut, sementara tangan kanannya memegang sebuah benda kunci besi: kunci motor Astrea Grand.

Gavin berjalan melewati limosin mewah tersebut tanpa meliriknya sedikit pun. Ia melangkah lurus menuju ke sudut halaman kosan, di bawah pohon mangga tempat motor Astrea Grand tahun 1995 miliknya terparkir rapi.

Pak Handoko yang melihat hal itu langsung terkesiap panik. Ia buru-buru melangkah maju dan membungkuk hormat sedalam sembilan puluh derajat. "M-Mohon maaf, Tuan Muda Gavin... kereta mewah Anda sudah siap. Bapak Baskoro dan jajaran direksi Dewantara Group sudah menunggu kehadiran Anda di gedung pusat Jakarta pukul sepuluh siang ini. Barang-barang Anda biar dipindahkan oleh pengawal ke dalam bagasi limosin."

Gavin menghentikan langkahnya tepat di samping motor bebek tuanya. Ia menoleh ke arah Pak Handoko, lalu melempar senyum miring khasnya yang penuh dengan nyali jalanan yang merdeka.

"Pak Han, tolong bawain ransel kanvas saya ini aja di dalam mobil mewah Papa," kata Gavin santai, melemparkan tas ransel hijaunya secara kasar tepat ke arah dada Pak Handoko yang reflek menangkapnya dengan bingung. "Kalau soal saya... mohon maaf banget, Pak Han. Saya naik motor bebek tua ini aja pulang ke Jakarta. Lewat jalur pantura lebih seru, anginnya lebih jujur, dan knalpot bobokan saya ini butuh penyegaran aspal antar-provinsi biar gak ngadat semester depan."

"Tapi Tuan Muda! Perjalanan pantura dengan motor tua itu sangat berbahaya dan melelahkan untuk ukuran Anda!" protes Pak Handoko dengan wajah panik setengah mati.

"Halah, kulit saya kulit badak, Pak Han! Gak bakal lecet cuma karena debu pantura!" sahut Gavin ugal-ugalan.

Gavin berjalan mendekati pagar teras, menghampiri Rian, Dono, dan Bu Broto yang masih melongo. Ia merangkul pundak Rian dan Dono secara bersamaan dengan sentakan kasar yang akrab. "Woy! Muka lu berdua biasa aja dong! Gak usah kayak orang abis ngeliat bansos salah sasaran gitu! Inget ya, semester depan kas kosan gue tetep kudu didiskon lima puluh ribu! Awas aja kalau talangan mi instan gue ditagih pake bunga korporat!"

Rian tertawa lepas, matanya berkaca-kaca sambil memukul dada Gavin pelan. "Sialan lu, Gav! Hati-hati di jalan pantura! Jangan sampai lu ditilang polisi gara-gara knalpot lu merusak ketertiban umum!"

"Aman, Yan! Surat-surat gue lengkap!" balas Gavin sambil terkekeh renyah.

Pandangan Gavin perlahan bergeser, mendarat tepat pada sosok Kirana Putri yang berdiri paling belakang di dekat pintu utama. Gadis itu menatapnya dengan sepasang mata yang jernih, memancarkan senyuman manis paling tulus dan penuh keyakinan emosional yang mendalam. Tidak ada kata-kata perpisahan yang keluar dari bibir Kirana; ia hanya mengangguk pelan, sebuah isyarat rahasia yang mengonfirmasi janji kelingking mereka di warkop semalam. Gavin membalas anggukan itu dengan kedipan sebelah mata yang sangat ugal-ugalan dan penuh percaya diri.

Gavin berjalan kembali ke motornya, melompat naik ke atas jok kulitnya yang agak robek, lalu melakukan sentakan kaki yang kuat pada tuas selahan motor tuanya.

BREEEEM! POP! POP! BREEEEMMM!

Mesin Astrea Grand tua itu langsung hidup dengan suara cempreng, pecah, dan meledak-ledak yang luar biasa bising, mengeluarkan kepulan asap putih tipis yang langsung mengotori kebersihan bodi mobil limosin Maybach di sebelahnya. Dua orang pengawal bersafari hitam reflek terbatuk-batuk menahan asap knalpot, sementara Gavin hanya tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan mereka.

Gavin memakai helm cetok murahannya tanpa kaca, menarik tuas gasnya sedalam mungkin, dan melesat maju membelah gerbang Kos Bu Broto, meninggalkan iring-iringan mobil mewah pelayan pribadinya jauh di belakang.

Roda dua motor tua itu terus berputar cepat di atas aspal jalanan raya antar-kota, membelah hembusan angin panas dan debu jalur pantura yang menyengat wajahnya. Gavin Dewantara tahu dengan sangat pasti, di ujung jalan sana, sebuah dunia kemewahan yang kaku, intrik kekuasaan korporasi, dan setelan jas formal yang mencekik dari tahta Dewantara Group sedang menantinya untuk diambil. Namun, selama mesin Astrea tua ini masih menderu di bawah kendali kedua tangannya, dan selama prinsip kesetiaan kawan serta nyali jalanan masih terpatri kokoh di balik dadanya, Gavin tidak akan pernah bisa dijinakkan oleh harta sepeser pun. Ia adalah pangeran mahkota triliuner yang memilih kebebasan roda dua, dan ia akan selalu kembali ke tempat di mana ia dihormati sebagai manusia merdeka sejati.

________________________________________

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!