Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda tangan kontrak
Setelah kejadian semalam. Pagi ini semua kembali berjalan seperti biasa. Aurelia berada di kantor, ia sedang duduk di ruangan kerja ditemani Tyana, wanita itu tetap memaksa bekerja meskipun dengan perban di dahi. Luka itu mengundang banyak perhatian banyak orang. Tapi Tyana hanya memberi klarifikasi bahwa dirinya mengalami kecelakaan mobil semalam. Alasan itu cukup untuk menghentikan pertanyaan yang terus muncul.
Tangan Aurelia sibuk membalik halaman selanjutnya dari satu surat perjanjian kontrak yang akan ia tandatangani. Kepalanya sedikit miring, rambut panjangnya yang bergelombang menjuntai didepan pundak sebelah kanan. Matanya sesekali menyipit, berusaha mencerna isi dari beberapa kalimat yang tertulis.
Tangannya berhenti bergerak. Ia meraih bolpoin dihadapannya, kemudian mulai menulis tanda tangan itu diatas materai.
"Kontrak sudah aku tandatangani." Ia menatap Tyana yang duduk dihadapannya, tepatnya di meja tempatnya yang sengaja satu ruangan dengan Aurelia. Lalu Tyana membalas tatapan itu dan mengangguk pelan. Tangannya berhenti bergerak di huruf-huruf yang tertera di laptop.
"baik, nona."
Aurelia menutup proposal kontrak itu, "siapkan jadwal pertemuan hari ini juga." tubuhnya masih diam, lalu beberapa detik kemudian ia menyandarkannya di kursi.
"kalau tuan Nathaniel tidak bisa bagaimana, nona?" Tyana menjeda pergerakannya terlebih dahulu. Ia harus fokus untuk mengurus jadwal Aurelia yang tidak akan bisa di ganggu gugat.
Aurelia mengangkat bahu. Ia mulai memainkan ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja. "Bilang padanya, kalau aku tidak punya banyak waktu. Kalau tidak hari ini, maka tidak ada pertemuan berikutnya." ia enggan menatap Tyana, matanya masih fokus memandangi beberapa foto yang dikirim beberapa rekan bisnis.
Terlihat Tyana yang hanya bisa menahan napas. Wanita itu harus membuat alasan yang tepat agar kliennya tidak merasa dipaksa karena jadwal pertemuan yang hanya ditentukan oleh satu pihak saja. Jika sebelumnya Tyana selalu berhasil, ia tidak begitu yakin kali ini. bagaimanapun juga, seorang Nathaniel Alister bukan pria yang terbiasa mengikuti permintaan siapapun.
Tangannya mulai bergerak mengetikkan sesuatu di laptop. Ia akan mengirimkan pesan kepada asisten pribadi Nathaniel. Jemarinya menari cepat di atas keyboard. Sesekali ia membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. Setelah pesan selesai disusun, Tyana menarik napas lega sebelum mengirimkannya.
Ia bernapas lega setelah menyelesaikan pesan yang akan dikirim pada kliennya. Dengan rapih, jelas, dan dengan alasan yang masuk akal. Seraya menunggu jawaban, Tyana kembali mengerjakan beberapa pekerjaan.
Lalu Aurelia meletakkan ponselnya. Ia menegakkan tubuh, kedua tangannya bergerak merapihkan rambut dengan telaten. Ia beranjak dari kursinya, kakinya berjalan kearah lemari es yang tersedia. Ia membuka dan mengambil satu minuman dingin. lalu ia berjalan ke mejanya, tubuhnya ia senderkan di meja. Tangannya bergerak membuka tutup minuman, kemudian meneguknya perlahan hingga tenggorokannya tidak lagi terasa kering.
"Tuan Nathaniel setuju, nona."
Suara Tyana mengalihkan perhatiannya.
"Jadwal akan dilangsungkan nanti siang pukul dua, di restaurant Cempaka."
Aurelia mengangguk, ia tersenyum tipis. Kejadian semalam tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya. Ia diantar oleh Nathaniel dan Attar, mobil mereka mengikuti dibelakang mobilnya. Setelah sampai, Attar yang mengantar sampai halaman rumah dan langsung berpamitan padanya.
Kepalanya sedikit pusing, matanya juga terasa berat. Ia hanya tidur tiga jam tadi pagi, lalu berangkat ke kantor pukul sembilan. Tapi ini adalah hal biasa, wanita itu tidak pernah tidur lebih dari lima jam dalam satu hari. Bahkan tidurnya jauh dari kata nyenyak. Kapan terakhir kali ia dapat tertidur nyenyak? Aurelia juga tidak ingat, mungkin.... saat Mamanya masih hidup.
...****************...
"Anda langsung menyetujui jadwal pertemuan dengan investor. Lalu bagaimana jadwal pertemuan dengan tuan Joandi, tuan?" Attar berdiri dihadapan Nathaniel yang duduk di kursinya. Pria itu sedang mendatatangani beberapa proposal.
Matanya beralih menatap pada Attar, tangannya berhenti bergerak. "pindahkan ke jadwal berikutnya." nada bicara terkesan tidak memberi ruang untuk dibantah. Tatapan itu terlalu tajam, tubuhnya duduk tegap dengan punggung lebarnya. Lalu tangannya bergerak menutup proposal.
Attar mengangguk, "baik tuan." Ia membalikkan badan dan kembali ke mejanya. Ia akan merevisi beberapa jadwal pertemuan, lalu menyiapkannya proposal yang akan mereka butuhkan nanti siang.
Setelah beberapa jam berlalu. Nathaniel sudah berada di mobil, Attar mengemudikan mobil menuju Restaurant Cempaka. Tidak ada obrolan di dalam mobil. Nathaniel duduk di kursi belakang dengan kaki bersilang, tubuhnya tegap, lalu tangannya sedang sibuk bergerak menggeser layar iPad.
"Sampai tuan." mobil berhenti. Nathaniel meletakkan Ipad-nya, matanya bergerak menatap keluar jendela. pintu mobil dibuka oleh Attar. Sebelum keluar, tangan Nathaniel bergerak melonggarkan dasinya. Ia juga membenarkan letak jam tangan dengan hati-hati.
Lalu turun dari mobil dan berjalan dengan Attar yang mengikuti dari belakang. Langkah kakinya lebar, aroma parfumnya tercium terbawa angin. Beberapa pengunjung restaurant mengalihkan pandangan mereka dan menjadikan Nathaniel sebagai pusat perhatian.
Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang akan ia temui. Perempuan yang sudah duduk berdampingan dengan asisten pribadinya. Ia duduk dengan wibawa yang selalu hadir, senyuman itu terlihat tipis tapi terlihat indah, rambutnya terurai dan bergelombang.
Langkah Nathaniel mendadak terhenti. Tatapannya bertahan beberapa detik pada sosok Aurelia yang tengah duduk anggun di balik meja.
"Ada apa, tuan?"Attar ikut menghentikan langkahnya.
Nathaniel memberikan isyarat dengan tangan. Attar langsung mengerti dan maju satu langkah. Setelah mendengarkan beberapa kalimat, Attar mengangguk menyetujui. Ia bergegas berjalan menuju penjaga keamanan di sudut ruangan. sedangkan Nathaniel masih berdiri di sana.
Hanya sebentar, lalu Attar kembali menghampiri Nathaniel. Lalu mereka kembali berjalan menghampiri meja yang sudah dipesan.
Aurelia dan Tyana melihat kehadiran mereka.
"Apa kita terlambat?" Attar datang dengan senyum lebar. Tangannya bergerak memundurkan kursi untuk Nathaniel.
Tyana dengan cepat menggeleng. "Tidak sama sekali. Kami memang datang lebih awal. Kebetulan ada urusan di sekitar sini." Tangannya mempersilahkan Attar untuk duduk.
Aurelia tersenyum tipis. Ia menatap Nathaniel, lalu meletakkan ponsel yang sedari tadi ia mainkan "selamat datang tuan Nathaniel. Kita bertemu untuk yang kesekian kali." tatapan itu datar, lalu ia menggeser proposal kearahnya.
Nathaniel mengangkat bibirnya, ia tersenyum begitu tipis sehingga siapapun tidak akan mengira bahwa ia sedang tersenyum, termasuk rekan dua perempuannya yang sedang duduk dihadapannya.
"Saya harap, pertemuan ini memberi kabar baik." Kedua tangannya ia letakkan di atas meja.
Aurelia mengangkat secangkir teh hangat. Ia meneguknya satu kali lalu menatap Nathaniel. "Tentu, dari awal keputusan tergantung anda. Jika saja sejak awal anda menyetujui persyaratan, maka pertemuan ini akan lebih cepat." Ia meletakkan kembalian cangkirnya dengan hati-hati.
Lalu Tyana mulai membuka pertemuan mereka dengan membacakan surat perjanjian kontrak kerjasama kedua perusahaan. Mereka mendengarnya dengan seksama. Nathaniel menyenderkan punggungnya di kursi. Tangan kirinya bertumpu diatas meja, lalu tangan kanannya memutar bolpoin secara perlahan. Tatapannya tetap tertuju pada Aurelia.
"Apa ada pertanyaan, tuan?" Tyana meletakkan kembali proposal ke atas meja. Ia menatap Nathaniel dan Attar secara bergantian. Atmosfer disini terlalu dingin dan canggung. Ini adalah kali pertama Aurelia merasakan suasana yang bukan dalam jangkauannya.
"Tidak ada." Nathaniel melirik Tyana sekilas, lalu pandangan matanya menatap lurus keluar jendela.
Attar menerima proposal dari Tyana. Ia akan membaca isinya dengan teliti. Lalu Aurelia memilih diam, wanita itu kehilangan ritme, tubuhnya terasa sungkan untuk bergerak, apalagi ketika menerima tatapan dari Nathaniel.
"semuanya sudah saya pelajari. Anda bisa tandatangan sekarang, tuan." Attar menyerahkan proposal kehadapan Nathaniel.
Pria itu mengangguk, lalu mentandatangani kontrak itu tanpa mengkhawatirkan apapun. Attar menarik proposal itu kembali setelah Nathaniel selesai. Ia menutup proposal dan menatap Aurelia.
"Kerja sama sudah dimulai, nona. Proyek akan kita laksanakan dalam dua hari kedepan dengan jangka waktu yang sudah ditentukan. Mereka beranjak berdiri, Aurelia bergerak menjabat tangan Nathaniel. Telapak tangan mereka bertemu, Aurelia merasakan telapak tangan Nathaniel yang sedikit kasar tapi memberi kehangatan.
Telapak tangan mereka baru saja terpisah ketika suara tepukan tangan menggema di seluruh restoran.
"Bagus."
Semua kepala spontan menoleh.
"Perselingkuhan macam apa ini?"