NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang yang Dipercepat

Malam itu, Naya hampir tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjangnya, menatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari Kak Wisnu berulang-ulang, seolah berharap kata-kata di dalamnya akan berubah jika ia membacanya cukup banyak kali.

Pukul sebelas malam, ia akhirnya memberanikan diri mengirim pesan kepada Raka dan Adit di grup obrolan kecil yang mereka buat khusus bertiga.

Naya: Sidang cerai orang tuaku besok jam 9. Mendadak banget. Aku takut.

Balasan datang hampir bersamaan dari kedua sahabatnya.

Adit: Mau kita temenin ke sana?

Raka: Kita bisa bolos sebentar, kok. Ini penting.

Air mata Naya jatuh membaca kedua balasan itu, merasa lega bahwa di tengah kekacauan keluarganya, setidaknya ada dua orang yang tidak akan pernah membiarkannya menghadapi semua sendirian.

Keesokan paginya, meski liburan sekolah sedang berlangsung sehingga tidak perlu izin bolos, Raka dan Adit tetap meminta izin kepada orang tua masing-masing untuk menemani Naya ke pengadilan—sesuatu yang tidak mudah dijelaskan kepada orang dewasa yang belum sepenuhnya mengerti betapa pentingnya kehadiran sahabat di momen serapuh itu.

Di depan gedung pengadilan negeri Ciandara, Naya berdiri gemetar, mengenakan pakaian paling rapi yang ia punya, menatap gedung besar berwarna abu-abu itu dengan tatapan takut yang tak berusaha ia sembunyikan lagi di depan kedua sahabatnya.

"Aku nggak tau harus ngomong apa nanti kalau hakim tanya aku mau ikut siapa," bisiknya, suaranya bergetar.

Raka menggenggam satu tangannya, sementara Adit menggenggam tangan yang lain—sebuah gestur sederhana namun penuh makna, seolah menyalurkan kekuatan yang Naya butuhkan untuk melangkah masuk.

"Jawab aja apa yang beneran kamu rasain," kata Raka pelan. "Nggak usah mikirin siapa yang bakal kecewa. Ini hidupmu."

"Lagian," tambah Adit, berusaha mencairkan ketegangan seperti biasa, "apa pun keputusannya, rumah Raka sama rumahku juga selalu kebuka buat kamu, kok. Anggap aja itu rumah cadangan."

Naya tertawa kecil di tengah air mata yang mulai menggenang, merasa sedikit lebih ringan menghadapi apa yang akan terjadi di dalam ruangan sidang itu.

Sidang berlangsung selama hampir dua jam, dan Raka bersama Adit menunggu dengan gelisah di bangku tunggu koridor pengadilan, sesekali saling melempar pandangan cemas setiap kali ada suara dari dalam ruangan sidang.

Ketika akhirnya Naya keluar, wajahnya basah oleh air mata namun matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda—bukan lagi ketakutan, melainkan semacam kelegaan yang bercampur kesedihan.

"Gimana?" tanya Raka dan Adit hampir bersamaan, bergegas menghampirinya.

Naya menghela napas panjang. "Hak asuh jatuh ke Ibu. Tapi aku boleh sering ketemu Ayah, katanya. Hakim... hakim tanya aku mau tinggal sama siapa, dan aku bilang sama Ibu, soalnya... soalnya Ibu yang selama ini paling banyak korban demi aku."

Ia menatap kedua sahabatnya, tersenyum tipis di tengah kesedihan yang masih terasa berat. "Tapi yang paling penting, aku masih tetep di Ciandara. Nggak pindah ke luar kota kayak yang aku takutin."

Kelegaan tampak jelas di wajah Raka dan Adit mendengar kabar itu—karena ketakutan terbesar mereka bertiga sebenarnya bukan soal siapa yang akan Naya pilih, melainkan kemungkinan bahwa perceraian itu akan memaksa Naya pindah jauh dari Ciandara, jauh dari mereka berdua.

"Syukurlah," gumam Adit lega, memeluk Naya sekilas sebagai bentuk dukungan, sebuah pelukan singkat yang wajar antar sahabat, namun membuat Raka—entah kenapa—merasakan sedikit ketidaknyamanan yang asing di dadanya.

Sepulang dari pengadilan, ketiganya kembali duduk di bawah pohon beringin, tempat yang selalu menjadi pelabuhan mereka setiap kali dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian.

"Makasih ya, udah nemenin aku hari ini," kata Naya, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Raka yang duduk di sebelahnya, sebuah gestur polos tanpa maksud lebih, namun cukup untuk membuat jantung Raka berdegup lebih kencang dari biasanya.

Adit, yang duduk di seberang mereka, memperhatikan momen itu dengan seulas senyum yang dipaksakan—senyum yang menyembunyikan rasa sakit kecil yang mulai tumbuh di dalam hatinya, meski ia belum siap mengakuinya bahkan pada dirinya sendiri.

Malam harinya, saat Adit pulang sendirian ke rumahnya yang sepi seperti biasa—ayahnya masih belum pulang dari "kota sebelah", ibunya masih sibuk bekerja hingga larut—ia duduk sendirian di kamar, menuliskan sesuatu di buku hariannya yang selama ini ia sembunyikan dari siapa pun, termasuk dari kedua sahabat terdekatnya:

"Aku tahu ini salah. Tapi kenapa setiap kali Raka deket sama Naya, rasanya kayak ada yang dicuri dariku? Aku nggak mau jadi orang jahat yang ngerusak persahabatan kita. Tapi aku juga nggak tau harus gimana nyimpen perasaan ini terus-terusan."

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!