Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbagi dua
Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai tipis di kediaman privat milik Dila. Suasana rumah yang tenang dan cenderung sepi itu mendadak hangat saat sebuah mobil mewah berhenti di halaman depan.
Alfa melangkah masuk membawa sebuah kantong kertas beraroma harum. Pria itu sengaja mampir sebelum pergi ke kantor pusat Arghantara Group, membawakan bubur ayam langganan serta kue pastel hangat, makanan kesukaan Dila yang selalu berhasil mengukir senyum di wajah wanita itu sejak masa sekolah dulu.
Di dalam ruang tengah yang bernuansa serba putih, Dila sedang duduk menyandarkan punggungnya di sofa. Wajahnya masih tampak sedikit pucat, namun tatapan matanya langsung berpendar begitu melihat kehadiran Alfa.
"Mas Alfa?" Sapa Dila pelan, berusaha mengukir senyuman termanisnya.
"Kamu datang pagi-pagi sekali?"
Alfa berjalan mendekat, lalu meletakkan kantong kertas berisi makanan di atas meja kaca di hadapan Dila. Wajah tegap pria itu memancarkan raut penuh penyesalan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya duduk di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Dila.
"Maafkan aku, Dila" Ucap Alfa dengan suara serak, nada suaranya sarat akan kepedulian yang tulus.
"Kemarin aku benar-benar tidak bisa datang menjengukmu. Bahkan pesan-pesanmu baru sempat kubaca tadi malam."
Dila menatap Alfa dengan lembut, memiringkan kepalanya sedikit.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti kamu pasti sangat sibuk. Apalagi kalian baru saja kembali dari perjalanan bulan madu, kan?"
Alfa menggelengkan kepala pelan, merasa tidak enak hati karena harus membiarkan Dila menunggu tanpa kepastian sepanjang hari kemarin.
"Bukan cuma urusan pekerjaan, Dila" Ujar Alfa jujur, raut wajahnya mendadak berubah tegang saat mengenang kejadian kemarin.
"Kemarin Senja tiba-tiba pergi tanpa memberi tahu siapa pun. Ponselnya mati seharian dan dia hilang sampai malam. Aku... aku tidak bisa tenang dan menghabiskan sepanjang sore hingga malam untuk mencarinya."
Mendengar nama Senja terucap dari bibir Alfa dengan intonasi kecemasan yang begitu kental, dada Dila mendadak terasa dihantam kepalan tangan yang tak kasat mata. Ada denyut nyeri yang menyengat di relung hatinya, namun Dila dengan cepat menyembunyikan getaran emosi itu di balik sunggingan senyum tipis yang anggun.
Dila mengangguk pelan, jemarinya meremas kain gaun santainya dengan halus di bawah meja.
"Tidak apa-apa, Mas Alfa. Sungguh, tidak masalah kamu tidak datang kemarin" Tutur Dila dengan suara yang sangat tenang dan menyejukkan.
"Aku mengerti kok. Banyak hal yang harus kamu urus dan perhatikan, termasuk Senja. Dia kan istri kamu sekarang, sudah kewajiban kamu untuk mengkhawatirkannya."
"Terima kasih sudah mau mengerti, Dila" Balas Alfa, menghembuskan napas lega karena berpikir Dila tidak berkecil hati atas ketidakhadirannya. Pria itu kemudian mengambil mangkuk dan menyajikan bubur hangat yang dibawanya.
"Ini, aku bawakan bubur kesukaanmu. Kamu harus makan yang banyak supaya cepat pulih."
Alfa menyodorkan mangkuk itu dengan perhatian yang begitu telaten, persis seperti sosok Alfa yang selalu menjaganya selama bertahun-tahun.
Namun, di balik senyuman tipis dan raut wajahnya yang tampak menerima keadaan, hati Dila sebenarnya sedang menangis dalam keheningan.
Saat memperhatikan bagaimana jemari Alfa yang cekatan menyiapkan makanan untuknya, Dila menatap lurus ke dalam manik mata pria itu. Dila mengenal Alfa bukan baru sehari dua hari. Ia tahu betul setiap garis ekspresi dan pancaran mata pria yang sangat dicintainya itu.
Dalam hati, Dila membatin dengan rasa sesak yang kian membuncah.
"Mas Alfa... kamu memang masih begitu perhatian padaku. Kamu masih mengingat makanan kesukaanku, kamu masih menyempatkan diri datang membawakannya untukku... Tapi tanpa kamu sadari, sebenarnya perhatian dan pikiranmu sudah terbagi untuk Senja."
Dila menelan saliva dengan berat, merasakan tenggorokannya yang mendadak kering.
"Kamu mungkin tidak menyadarinya, Mas. Tapi aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Dari sorot matamu saat kamu menyebut nama Senja tadi, dari kepanikan yang tersisa di raut wajahmu, dan dari sikapmu beberapa hari ini... Kamu tidak lagi sepenuhnya ada di sini denganku. Pikiranmu sudah tertinggal pada wanita itu."
Rasa sakit itu menggerogoti dada Dila secara perlahan. Melihat pria yang dulu hanya berfokus padanya kini memiliki ruang khusus di hatinya untuk wanita lain, meski Alfa sendiri belum menyadari atau mengakui perasaan itu, adalah siksaan yang begitu halus namun mematikan bagi Dila.
Namun, Dila sadar betul akan posisinya. Ia tidak marah pada Alfa, dan ia tidak memiliki hak sedikit pun untuk meluapkan cemburu atau menuntut lebih.
"Aku tidak berhak marah Mas" Bisik Dila dalam benaknya seraya menundukkan kepala menatap mangkuk bubur di hadapannya.
"Aku sadar siapa diriku sekarang. Aku hanya wanita dari masa lalumu yang hadir kembali di tengah kehidupan barumu. Senja adalah istri sahmu yang memiliki hak penuh atas dirimu, sementara aku... aku hanyalah seseorang yang berdiri di pinggir jalan hidupmu, memandangi bayanganmu yang perlahan makin menjauh."
Dila menahan air mata yang mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya. Ia menyapu dada dengan jemarinya, menekan rasa nyeri yang teramat sangat atas kenyataan bahwa posisi yang dulu mutlak miliknya kini perlahan-lahan mulai digeser oleh kehadiran Senja di dalam hidup Alfa.
"Kenapa melamun, Dila? Ayo dimakan selagi hangat" Tegur Alfa lembut, memecah lamunan Dila.
Dila mendongak, kembali mengulas senyum manis yang rapi untuk menutupi hancurnya perasaan di dalam dada.
"Ah, iya, Mas. Terima kasih ya" Jawab Dila pelan, lalu menyendok bubur itu perlahan-lahan.
Di tengah kehangatan makanan dan perhatian yang diberikan Alfa pagi itu, Dila harus menelan kenyataan pahit dalam kesendirian, bahwa perhatian pria itu tak lagi utuh untuknya, dan ia hanya bisa menanggung rasa sakit itu sendirian tanpa ada tempat untuk mengadu.
ini memang sengaja malam hari kah,upnya!!Btw bayangin kalian berdua ini gimana ya!!Pintar dan kaya tanpa cela,tapi urusan hati..Kalian ini gak bisa mengungkapkan dan menangkap kode dr pasangan masing².Berarti manusia emang bener,kada ada yg sempurna ya?Baik di dunia novel maupun dunia nyata.
Tapi..aku bahagia buat kalian berdua,ke depan jangan lagi ada rahasia ya!!Diantara kita..ehhh salah??
senja dan alfa🤣😍😍😍