menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HADIAH UNTUK YUKI
Tiga hari di Kyoto terasa begitu panjang bagi Yuki. Setiap kali kilatan kamera flash menyambar dirinya di atas panggung catwalk yang dingin atau di tengah lokasi pemotretan luar ruang yang membeku, pikiran Yuki selalu melayang kembali ke rumah baru mereka di Meguro. Ia tak bisa berhenti membayangkan sosok suami tampannya yang telah berjanji menyiapkan sebuah kejutan istimewa saat ia kembali kelak.
Sore itu, penerbangan cepat dari Kyoto akhirnya mendarat di Bandara Haneda, Tokyo. Yuki menolak secara halus tawaran dari manajernya yang ingin mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah. Yuki memilih untuk naik taksi sendiri. Di dalam taksi, ia memegang erat tali tas tangannya dengan jantung yang berdebar kencang, persis seperti seorang remaja yang hendak pergi menghadiri kencan pertamanya.
Begitu taksi berhenti di depan pagar rumah, sinar matahari sore yang berwarna keemasan menyiram bangunan minimalis dua lantai itu dengan sangat indah. Dedaunan dari pohon sakura di halaman depan gugur perlahan tertiup angin yang mulai mendingin.
Yuki melangkah turun, menarik kopernya dengan perasaan cemas sekaligus penasaran. Ia mengeluarkan kunci, memutarnya pelan, dan membuka pintu depan rumah mereka yang tenang.
"Aku pulang..." panggil Yuki dengan suara lembut yang sedikit bergetar.
Aroma masakan hangat langsung menyambut penciumannya—aroma sup miso, daging tumis yang gurih, serta keharuman bumbu buatan rumah yang sangat dihafalkannya. Di lorong masuk, sepasang sepatu kerja milik Akira sudah tertata rapi.
Sebelum Yuki sempat melangkah lebih jauh ke ruang tengah, Akira muncul dari arah dapur. Ia mengenakan kaus polos santai dan celemek kain yang melingkar di pinggangnya. Rambutnya sedikit acak-acakan, namun aura tampan dan dewasanya justru terpancar jauh lebih kuat dari biasanya.
Akira langsung menghentikan langkahnya saat melihat Yuki berdiri di dekat pintu. Senyuman hangat yang jarang sekali ia perlihatkan pada dunia luar terbit seketika di wajah sang Profesor.
"Selamat datang di rumah, Yuki," ucap Akira lembut.
Tanpa memedulikan koper di tangannya, Yuki langsung berlari kecil dan menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan Akira!
Akira tertawa pelan, menangkap tubuh istrinya dengan sigap. Ia merengkuh pinggang Yuki erat-erat dan memutarnya kecil sebelum mendaratkan kaki Yuki kembali ke atas lantai kayu. Yuki melingkarkan kedua lengannya di leher Akira, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya, serta menghirup dalam-dalam aroma tubuh Akira yang begitu menenangkan.
"Aku kangen banget..." bisik Yuki parau di balik bahu Akira.
"Aku juga sangat merindukanmu," balas Akira tulus, mengecup pelipis Yuki bertubi-tubi tanpa ragu. "Bagaimana pekerjaanmu di Kyoto? Semuanya berjalan lancar?"
"Lancar, tapi rasanya sepi sekali kalau malam hari tidak ada kamu di sampingku," sahut Yuki sembari mendongak dan memanyunkan bibirnya. Namun tiba-tiba, matanya membelalak teringat sesuatu. "Ah! Mana kejutannya? Kamu sudah berjanji ada kejutan begitu aku pulang dari Kyoto!"
Akira terkekeh melihat kepolosan dan rasa penasaran istrinya yang meledak-ledak. Ia melepaskan celemeknya, melipatnya rapi, lalu meraih jemari Yuki dan menautkan jari-jari mereka hingga cincin pernikahan emas mereka saling bersentuhan.
"Tutup matamu dulu," pimpin Akira lembut.
Yuki menurut tanpa membantah. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan Akira menuntun langkah kakinya menyusuri lorong rumah menuju arah belakang—area yang biasanya jarang mereka gunakan karena masih berupa ruangan kosong tanpa perabot.
"Jangan mengintip sedikit pun," bisik Akira tepat di telinga Yuki, membuat bulu kuduk Yuki berdiri karena geli.
"Iya, iya, Profesor! Aku tidak mengintip kok!" jawab Yuki sambil tersenyum lebar.
Akira menghentikan langkah mereka di depan sebuah pintu kayu ganda yang cukup tebal. Dengan satu tangan mendorong pintu perlahan, Akira berbisik hangat, "Buka matamu sekarang, Yuki."
Yuki perlahan membuka kelopak matanya—dan seketika itu pula, napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, memantulkan keindahan luar biasa dari ruangan di hadapannya.
Ruangan kosong di bagian belakang rumah mereka kini telah disulap sepenuhnya menjadi studio impian!
Satu sisi ruangan diubah menjadi walk-in closet dan studio rias pribadi yang sangat mewah: cermin besar berlampu hangat, rak-rak kayu elegan untuk menata koleksi gaun dan sepatu pemotretan Yuki, serta pencahayaan alami yang sempurna dari jendela kaca besar yang menghadap ke luar. Sementara di sisi lainnya, terdapat sebuah meja lukis dan sudut santai berkarpet bulu lembut dengan pemandangan langsung ke taman belakang yang asri dan hijau.
Di atas meja rias utama, tergeletak sebuah kotak perhiasan beludru hitam bersanding dengan dokumen sertifikat kepemilikan rumah atas nama mereka berdua.
"Akira... ini..." suara Yuki tercekat di tenggorokan. Tangannya menutupi mulutnya yang menganga. Air mata haru mulai menggenang di sudut matanya yang indah.
"Selama kamu di Kyoto, aku menyewa tim interior profesional untuk menyelesaikan ruangan ini secara cepat," jelas Akira sambil melangkah mendekat dari belakang. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Yuki dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. "Aku tahu betapa kerasnya kamu bekerja sebagai model ternama. Kamu sering merasa lelah karena harus merias diri atau bersiap-siap di tempat yang tidak nyaman saat ada acara dadakan."
Akira mengambil kotak beludru hitam di meja, membukanya perlahan, lalu mengeluarkan sebuah kalung platina dengan liontin berlian berbentuk mahkota kecil yang sangat anggun. Dengan telaten dan lembut, Akira memakaikan kalung mewah itu ke leher jenjang Yuki.
"Ini tempat pribadimu di rumah kita. Agar setiap kali kamu bersiap-siap untuk berangkat bekerja, kamu selalu ingat bahwa kamu adalah ratu di rumah ini," bisik Akira dengan suara dalam yang sarat akan pemujaan. "Hasil presentasi risetku kemarin di kementerian berjalan sukses besar dan mendapat pendanaan penuh. Jadi... anggap saja ini hadiah dari suamimu atas semua dukungan tulusmu selama ini."
Yuki berbalik di dalam pelukan hangat Akira. Air mata bahagianya menetes melewati pipinya yang merona merah, namun senyum paling indah terukir begitu sempurna di wajah cantiknya.
"Kamu ini... kenapa selalu tahu cara membuatku menangis bahagia sih?" gumam Yuki terisak pelan di dada suaminya.
Ia tidak peduli lagi pada gaun cantiknya atau riasan tipisnya yang mungkin akan luntur. Yuki menyangkutkan kedua tangannya di tengkuk Akira, berjinjit, dan langsung menarik suaminya ke dalam ciuman yang mendalam.
Ciuman itu dipenuhi dengan limpahan kerinduan tiga hari yang tertahan, rasa syukur yang mendalam, dan cinta yang kian tak bertepi. Akira membalas tautan bibir itu dengan lembut namun posesif, menekan tubuh Yuki makin rapat ke dadanya, menikmati setiap detik penyatuan rasa di antara mereka di dalam ruangan baru tersebut.
Ketika tautan bibir mereka akhirnya terlepas untuk meraup udara segar, dahi mereka masih saling menempel erat. Napas hangat mereka beradu di tengah udara sore yang mulai terasa mendingin.
"Terima kasih, Akira... Terima kasih banyak untuk semuanya," bisik Yuki penuh haru, mengelus rahang tegas suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Sama-sama, Istriku," balas Akira lembut. Ia menyapukan ibu jarinya untuk menghapus sisa air mata kebahagiaan di pipi Yuki, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sangat menawan. "Sekarang, mari kita nikmati makan malam buatan Profesor favoritmu ini sebelum seluruh makanannya menjadi dingin."
Yuki tertawa renyah, mengangguk cepat sambil menggenggam erat jemari Akira.
Mereka berdua melangkah keluar dari ruangan studio baru itu menuju meja makan di ruang tengah. Aroma masakan yang menguar semakin membangkitkan selera. Akira menarikkan kursi untuk Yuki dengan sikap ksatria yang selalu berhasil membuat hati Yuki meleleh, sebelum akhirnya ia duduk di samping istrinya.
Di atas meja, hidangan buatan Akira tertata rapi. Meskipun Akira seorang ilmuwan yang biasa berkutat dengan rumus dan sampel mikroskopis, kemampuan memasaknya yang diasah selama tinggal sendiri di Swiss terbukti tidak kalah dari koki restoran ternama.
Sambil menyantap makan malam, Yuki sibuk menceritakan petualangannya selama di Kyoto. Ia bercerita tentang keindahan lokasi pemotretan di kuil-kuil tua, betapa dinginnya angin sore di sana, hingga kerinduannya yang membuncah setiap kali melihat pasangan lain berjalan bersama. Akira mendengarkan setiap detail cerita itu dengan pendar mata yang begitu hangat dan penuh perhatian. Sesekali, Akira menyuapkan potongan daging ke mulut Yuki, yang disambut Yuki dengan gigitan kecil dan senyuman penuh kebahagiaan.
"Lalu, bagaimana dengan tim riset di laboratoriummu?" tanya Yuki penasaran setelah menelan makanannya. "Apakah mereka tidak kerepotan ditinggal kepalanya yang sibuk mengurus interior rumah?"
Akira tertawa kecil, menggeleng pelan. "Sato dan tim sudah sangat mandiri. Lagipula, mereka tahu betul kalau proyek interior ini adalah prioritas utamaku minggu ini. Tidak ada anggota tim yang berani mengganggu saat aku bilang ini untuk kebahagiaan istriku."
Pipi Yuki kembali merona mendengar jawaban gamblang dari suaminya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Akira, merasakan getaran dada suaminya saat terkekeh.
Setelah selesai makan malam dan membersihkan piring bersama di dapur—sebuah tradisi kecil yang selalu mereka nikmati berdua dengan tawa dan siraman air—mereka melangkah menuju ruang keluarga. Hujan gerimis mulai turun menetes di luar, menimbulkan suara rintik-rintik yang menenangkan saat mengetuk kaca jendela.
Akira menyalakan perapian buatan di sudut ruangan, menyebarkan rasa hangat ke seluruh penjuru ruang tengah. Ia lalu duduk di sofa empuk, menarik sebuah selimut tebal. Yuki tanpa diminta langsung menyusup ke dalam pelukan Akira, menyandarkan dada dan kepalanya di pangkuan hangat suaminya, sementara Akira melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh Yuki dan membelai lembut rambut panjang istrinya.
Di bawah naungan rumah baru mereka, diiringi suara gerimis malam kota Tokyo dan kehangatan perapian, tidak ada lagi kecemasan akan perpisahan. Masa-masa sulit LDR empat tahun yang menyiksa kini telah terbayar lunas dengan setiap detik kebersamaan yang manis ini.
"Akira..." gumam Yuki pelan, matanya mulai terasa berat oleh kantuk setelah perjalanan panjang dari Kyoto.
"Iya, Sayang?" bisik Akira tulus, mendaratkan ciuman lembut di puncak kepala istrinya.
"Aku sangat bahagia... Terima kasih sudah memilih untuk pulang ke Jepang dan menjadi suamiku."
Akira tersenyum sangat manis, mendekapkan tubuh Yuki semakin erat ke dalam pelukannya yang paling aman dan hangat di dunia.
"Akulah yang harus berterima kasih, Yuki. Karena di mana pun aku berada, rumahku yang sebenarnya adalah kamu. Selamat tidur, Istriku."
Dengan senyuman yang terukir indah di bibirnya dan rasa hangat yang memenuhi dadanya, Yuki pun tertutup matanya, tertidur pulas dan lelap di dalam pelukan sosok pria yang paling dicintainya, menyambut masa depan panjang mereka yang dipenuhi oleh cinta yang abadi.