NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tidak semudah itu bu sinta

Kantor Baswara Living ada di lantai sepuluh sebuah gedung di kawasan Sudirman, jauh lebih formal dibanding ruang rapat santai Ruang Gaya. Alya dan Dimas disambut resepsionis yang mengarahkan mereka ke ruang tunggu selama sepuluh menit—waktu yang terasa lebih panjang dari biasanya, cukup untuk membuat Alya berkali-kali mengecek ponselnya tanpa benar-benar membaca apa yang ada di layar.

Yang menyambut mereka bukan pemilik Baswara seperti biasa, melainkan Kepala Divisi Marketing mereka, seorang pria bernama Pak Handoko, didampingi dua orang stafnya—susunan yang lebih formal dari pertemuan-pertemuan sebelumnya, dan Dimas langsung menangkap sinyal itu begitu mereka duduk.

"Terima kasih udah mau ketemu cepat," kata Pak Handoko, nadanya sopan tapi berjarak. "Kami baca artikel yang beredar. Sebelum masuk ke pembahasan kontrak kuartal depan, kami perlu klarifikasi langsung."

Alya mengangguk, mengulang cerita yang sama seperti ke Bu Sinta—Werkstatt, Reza, NDA, settlement diam-diam delapan tahun lalu. Kali ini suaranya lebih stabil, sudah terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat yang tadinya terasa seperti membuka luka lama.

Pak Handoko mendengarkan sampai selesai, mencatat beberapa poin di notesnya, ekspresinya tetap datar sepanjang penjelasan.

"Saya apresiasi kejujuran Anda," katanya setelah Alya selesai. "Tapi saya juga harus jujur balik—ini bukan keputusan yang bisa saya ambil sendiri. Baswara itu perusahaan keluarga, tapi kami baru aja terima suntikan modal dari investor baru enam bulan lalu, dan salah satu klausul kesepakatan kami adalah due diligence ketat untuk setiap mitra bisnis, termasuk vendor kreatif. Kalau ada 'dugaan sengketa hukum' yang tercatat di media, itu otomatis masuk radar due diligence investor kami, terlepas benar atau nggak substansinya."

Dimas mencondongkan badan. "Jadi ini bukan soal percaya atau nggak percaya ke Alya?"

"Sebagian iya, sebagian nggak," jawab Pak Handoko jujur. "Secara personal, saya percaya cerita Alya. Tapi secara prosedural, saya terikat kebijakan yang nggak sepenuhnya di tangan saya. Saya perlu bawa ini ke rapat direksi minggu depan, dan jujur, saya nggak bisa janji hasilnya bakal seperti yang kalian harapkan."

Salah satu staf yang mendampingi, seorang perempuan muda yang sejak tadi diam, akhirnya bicara pelan. "Pak, kalau boleh saya tambahkan—" Ia melirik atasannya sebelum melanjutkan, "—dari sisi campaign yang udah jalan bareng Alinea setahun ini, engagement kita naik konsisten. Kalau kita putus kontrak cuma karena artikel yang bahkan nggak ada nomor perkaranya, itu keputusan yang lebih didorong ketakutan daripada data."

Pak Handoko menatap stafnya sesaat, lalu mengangguk pelan, meski tak memberi jawaban pasti. "Itu poin yang valid, dan bakal saya bawa juga ke rapat. Tapi keputusan akhir tetap bukan di tangan saya sendirian."

Di lift turun, Alya menghela napas panjang, bersandar ke dinding lift yang dingin. "Nggak semudah Bu Sinta," katanya pelan.

"Belum tentu ditolak juga," kata Dimas, meski nadanya sendiri tak sepenuhnya yakin. "Tadi ada yang bela kita, kan. Staf yang ngomong soal data engagement itu."

"Satu suara di antara rapat direksi yang nggak kita kenal orangnya," kata alya. "Aku nggak bisa kontrol itu,dimas beda sama bu sinta yang bisa mutusin sendiri karena itu bisnisnya sendiri. Baswara sekarang punya investor yang bikin keputusan mereka nggak lagi cuma soal percaya sama kita."

Ponsel dimas bergetar di sakunya,ia melihat layar, dan raut wajahnya berubah sebelum sempat mengucapkan apa pun.

"Apa?" tanya alya, menangkap perubahan itu.

"Rani," kata dimas, menyerahkan ponselnya. "Kanaya Studio mereka batalin jadwal ketemu sore ini. Alasannya cuma 'perlu waktu evaluasi internal'."

Alya membaca pesan itu, rahangnya mengeras. "Itu bahasa halus buat 'kita lagi mikir mau lanjut apa nggak sama kalian'."

Pintu lift terbuka di lobi, tapi baik Alya maupun Dimas tak langsung melangkah keluar, masing-masing menimbang berat situasi yang baru saja terasa jauh lebih genting dari yang mereka duga pagi tadi.

"Kita kehilangan momentum," kata Alya akhirnya, suara pelan tapi tegas. "Reza nggak perlu menang semuanya sekaligus. Dia cuma perlu bikin cukup banyak keraguan, dan klien-klien kita yang punya sistem lebih besar di atas mereka—kayak Baswara dengan investor barunya—bakal pilih jalan paling aman: jauhin apa pun yang kelihatan berisiko, terlepas kita salah atau nggak."

Dimas menatapnya, mencoba mencari kalimat yang bisa menenangkan, tapi kali ini bahkan ia sendiri kesulitan menemukannya.

"Jadi apa langkah kita sekarang?" tanyanya akhirnya, lebih ke arah mengajak Alya berpikir bersama daripada benar-benar tahu jawabannya.

Alya diam sesaat, matanya menerawang ke arah pintu kaca lobi, ke jalanan Sudirman yang ramai di luar sana.

"Kalau Reza main di level yang lebih besar dari sekadar bisnis satu-lawan-satu," katanya pelan, "mungkin kita juga harus mikir lebih besar dari sekadar bertahan klien satu-satu." Ia menoleh ke Dimas. "Aku ada ide. Tapi ini bakal butuh sesuatu yang belum pernah kita coba sebelumnya."

"Apa?"

"Bikin ini publik," kata Alya, "tapi dengan cara kita sendiri, bukan lewat 'sumber anonim' kayak yang Reza pakai. Aku mau tulis cerita ini sendiri, versi lengkap, dan publish di akun Alinea langsung. Bukan buat serang balik Reza secara personal. Tapi buat kasih tau semua orang, termasuk klien yang belum kita temuin, cerita yang sebenernya—sebelum mereka dengar versi yang udah dipelintir duluan."

Dimas menatapnya lama, mempertimbangkan risiko yang jauh lebih besar dari sekadar bicara empat mata dengan satu-dua klien.

"Itu berisiko, Alya," katanya. "Begitu kamu publish itu, nggak ada jalan mundur. Semua orang bakal tau, bukan cuma klien-klien kita."

"Aku tau," kata Alya, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, suaranya terdengar benar-benar mantap, bukan sekadar berusaha terlihat kuat. "Tapi aku juga capek biarin orang lain yang kontrol narasi soal hidup aku sendiri, Dimas. Kalau aku harus jatuh, biar aku jatuh karena cerita aku yang jujur, bukan karena bisikan yang Reza sebar diam-diam."

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!