Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Dia menutup pintu kamar itu dengan pelan, karena dirinya tidak mengenakan Jilbab, setelah tahu jika Rayhan sudah menandatangani surat gugatan perceraian itu, dia merasa jika dirinya dan Rayhan bukan lagi pasangan dan mereka harus memiliki batasan.
Rayhan hanya bisa menatap pintu itu dengan menunduk, dia baru menyadari jika ternyata Arini selama ini sangat cantik jika berada dirumah dan dalam keadaan memakai pakaian tidur seperti itu, hal yang tidak pernah dia perhatikan selama mereka menikah.
Dia berjalan gontai kekamarnya, tapi saat akan melangkah masuk, handphonenya berdering dan nama Sahira yang berada didalam sana.
"Hallo sayang, bagaimana keadaan disana?, kamu sudah bicara dengan ayahmu?". Tanyanya pelan penuh penekanan dan tuntutan.
Rayhan yang mendengar itu mengepalkan tangannya, dia baru sadar setiap kali menelpon Sahira jarang menanyakan kabarnya dan hanya menyampaikan keinginannya saja tanpa melihat kondisi.
"Sudah kok, aku dan Arini sudah selesai tinggal pembebasan nya di pengadilan nanti, aku tidak akan datang biarkan saja pengadilan yang mengurusnya".
"Benarkah?, akhirnya". Ucapnya dengan keras.
Dia tidak menyadari jika perkataannya barusan memicu amarah dalam diri Rayhan entah karena apa.
"Mau apa menelpon, aku sedang ada pekerjaan, nanti saja telponnya jika tidak terlalu penting". Jawab Rayhan dengan dingin.
Entah mengapa dia merasa marah karena Sahira seperti sangat senang mendengar berita dia bercerai dari Arini, entah mengapa dia tidak terima akan hal itu.
Mendengar nada bicara Rayhan yang tiba-tiba dingin, Sahira langsung berusaha terdengar manis.
"Maaf sayang, aku hanya senang karena akhirnya kita bisa bersama, jika kamu dan Arini berpisah, kita bisa menikah secepatnya setelah kalian bercerai dan aku akan menjadi satu-satunya untuk kamu dan menantu keluargamu". Ucapnya dengan suara dilembutkan yang biasanya bisa meluluhkan hati Rayhan.
Mendengar hal itu dia menghela nafasnya dengan kasar, dia harus menyampaikan berita buruk itu pada Sahira karena dia sangat berharap bisa menjadi menantu keluarganya padahal mereka tidak akan pernah menerima dirinya apalagi dengan kasus ini
"Dengarkan aku baik-baik Sahira, kita tidak akan kembali ke keluargaku setelah kita menikah, mereka sudah mengancam aku untuk tidak membawamu kesana, mereka tidak bisa menerima kehadiran kamu disekitar mereka jadi maafkan aku, kita akan hidup berdua saja setelah ini".
Degh..
Mata Sahira nyaris melompat dari tempatnya, dia mengepalkan tangannya karena rencananya untuk menguasai harta keluarga Rayhan mulai gagal total karena kedua orangtuanya menolak kehadiran dirinya.
"Kok bisa?, bukankah bagus yah kamu hidup dengan gadis yang kamu cintai, kok orangtua kamu seperti itu sih?". Tanyanya dengan nada dibuat sesedih mungkin
Padahal dalam hatinya sangat dongkol dan mengumpat pelan.
"Dasar orangtua menyebalkan, tunggu saja jika aku sudah menikah Dnegan anak kalian dan Rayhan mendapatkan semua warisan itu, akan ku tendang kalian dari hidupnya dan kuambil semua harta kalian". Sungutnya dalam hati.
Mendengar suara Sahira yang sedih, Rayhan menghela nafasnya.
"Mereka memang sejak awal tidak menerima hubungan kita, ayah dan ibuku sangat mencintai Arini seperti anaknya sendiri jadi tidak apa-apa, aku masih sanggup memberikan semuanya padamu jika kita menikah nanti".
"Semuanya pala loh peyang". Sungut Sahira dalam hati
"Iya sayang, aku hanya sedih karena orangtuamu tidak menerima ku padahal aku ingin sekali merawat mereka diusia tua karena kamu hanya anak satu-satunya, tentu saja akulah yang akan membantu kamu mengurus mereka nanti". Ucapnya dengan manis.
Padahal saat dia mengucapkannya, dia bahkan ingin muntah.
"Tidak apa-apa sayang, untuk sementara mereka mungkin tidak menerimamu tapi nanti jika kita punya anak dan keluarga kecil yang bahagia aku yakin mereka akan menerima kita kembali". Ucapnya memberi dukungan
"Kalau begitu aku tutup yah, kamu istirahat, jangan lupa jemput aku besok yah".
"Iya sayang".
Rayhan hanya menggelengkan kepalanya pelan, dia sungguh tidak mengerti mengapa kedua orangtuanya begitu tidak menyukai Sahira padahal perempuan itu sangat baik dan memperhatikan mereka.
"Sudahlah biarkan saja dulu, nanti juga mereka akan menyukai Sahira
Rayhan tidak menyadari jika percakapannya dengan Sahira sejak tadi didengar oleh Arini, tadi dia ingin mengambil minum dan keluar dari kamarnya tapi langkahnya terhenti melihat Rayhan yang membelakangi dirinya dan mengobrol dengan Sahira tadi.
Hatinya teriris pilu karena Rayhan tidak pernah berkata lembut padanya seperti itu setelah mereka menikah.
"Aku memang tidak akan ada harganya jika dibandingkan dengan Sahira dalam hidup Ray, keputusan ku untuk melepaskan mu itu adalah yang terbaik". Cicitnya dalam hati.
Dia menggelengkan kepalanya pelan kemudian berjalan menuju dapur karena lelah dan haus, besok pagi dia akan pergi dari rumah ini karena dia akan kembali menempati rumah kedua orangtuanya.
Keesokan harinya, Arini menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, bahkan kopernya sudah bertengger rapi didepan pintu keluar rumah karena dia bersiap untuk pergi, dia hanya menunggu Rayhan untuk keluar karena ingin berpamitan.
Rayhan yang kini sudah siap dengan setelan kerjanya mengkerutkan keningnya melihat banyak sarapan dimeja makan bahkan bekal untuknya juga.
"Kamu memasak sarapan?". Tanyanya dengan heran.
Bukankah Arini sendiri yang berkata dia tidak ingin mengurusnya dan ini sekarang dia malah menyiapkan sarapan lezat dan bergizi bahkan lengkap dengan bekalnya.
"Duduklah, agar kita bisa sarapan pertama dan terakhir selama kita menikah karena setelah ini kita akan berpisah dan akan menjadi orang asing, aku hanya melakukan tugasku yang terakhir kalinya setelah kita bercerai".
Arini tidak memandang Rayhan dan berusaha menahan tangisnya, hatinya terasa lega karena melepaskan Rayhan tapi juga dia merasakan sedih karena rumah tangga yang begitu dia impikan berakhir seperti ini.
Rayhan mengangguk pelan kemudian duduk dimeja makan dan berhadapan langsung dengan Arini.
Wajah itu terlalu tenang tapi dia yakin menyimpan badai yang tidak bisa dia halangi.
"Apa aku perlu mengantarmu?". Tanya Rayhan dengan basa-basi.
Arini menggeleng pelan, dia menatap Rayhan dengan sendu.
"Terima kasih atas tawarannya, aku tidak berminat untuk diantar, aku hanya ingin berpamitan dan memiliki kenangan manis walau hanya sekali setelah menikah walau hanya sarapan saja seperti ini sebelum akhirnya kita benar-benar bercerai".
Rayhan menghela nafasnya lelah, dia merasa tidak enak kepada gadis didepannya ini atas semua sikapnya selama ini.
"Maafkan aku Arini, kamu berhak mendapatkan orang yang lebih baik dariku, kamu bisa mendapatkan orang yang mencintaimu dengan tulus setelah ini". Jawabnya pelan dan tidak enak.
Arini tersenyum tipis mendengar hal itu keluar dari mulut Rayhan.
"Kamu benar, aku saja yang bodoh menyia-nyiakan hidupku untuk orang sepertimu, terima kasih pelajarannya selama 6 tahun ini, aku berharap kamu tidak menyesali keputusanmu bersama Sahira nanti".
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.