Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Langkah yang Berani Diambil
Hari berikutnya saat mereka sedang menyusun properti sederhana di sudut panggung sekolah, langkah kaki terdengar mendekat dengan ragu. Semua orang menoleh dan melihat Laras berdiri di sana dengan tangan mengepal erat di samping rok, wajahnya tampak pucat dan penuh ketakutan.
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berjalan mendekat. Matanya menatap lurus ke arah Rara, berusaha sekuat tenaga agar tidak lari ketakutan.
"Ra..." panggilnya pelan. "Gue boleh ngomong sebentar sama lo?"
Rara berhenti merapikan kain di tangannya, menatap Laras dengan wajah datar tanpa senyum. "Ngomong aja. Kita lagi sibuk sih nyiapin ini," jawabnya singkat menggunakan kata ganti lo dan gue seperti biasa.
Laras menelan ludah gugup, lalu melanjutkan. "Gue... gue sebenernya udah liat latihan kalian dari kemarin. Gue juga udah baca sedikit naskahnya. Gue pengen banget ikut gabung sama kalian. Gue janji bakal bantu sekuat tenaga dan nggak bakal bikin masalah lagi."
Rara mendengus pelan sambil menyilangkan tangan di dada. "Gitu aja kok repot. Lo kan udah punya kelompok sama Citra, ngapain lagi ke sini cari kita? Bukannya kemarin lo sendiri yang bilang nggak mau ada urusan sama gue?"
"Bukan gitu Ra," potong Laras cepat, suaranya mulai meninggi karena panik. "Citra udah masuk kelompok tari, dan gue nggak dapat tempat. Gue sadar gue udah banyak salah sama lo, gue udah jahat, gue udah suka nuduh sembarangan. Tapi kali ini gue bener-bener pengen berubah, gue pengen belajar kayak di naskah itu: belajar ngerti perasaan orang lain."
"Gampang banget ya ngomongnya," sahut Rara tak mau kalah, matanya menatap tajam. "Kata maaf itu gampang diucapin, tapi buktinya mana? Gue udah berkali-kali disakitin sama lo, terus sekarang lo mau masuk seenaknya aja ke sini? Lo pikir hati gue itu kayak kertas yang bisa dilipat dan dibuka sesuka hati lo?"
Laras menunduk dalam, air matanya mulai menggenang. "Gue tau gue salah besar. Gue tau gue nggak berani minta dihargai sekarang. Tapi kasih gue kesempatan buat nunjukin kalau gue bisa berubah. Gue rela jadi siapa aja, jadi pembantu pun nggak apa-apa asal bisa ikut sama kalian," ucapnya lirih namun tegas.
Dimas, Aisyah, Arga, dan Bima saling berpandangan. Mereka tahu keputusan ada di tangan Rara.
Rara diam sejenak, melihat ketulusan di mata Laras yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia menghela napas panjang. "Oke gue kasih kesempatan. Tapi ingat ya Lar, ini cuma sekali aja. Kalau lo berani main-main atau bikin masalah lagi, gue usir lo tanpa ampun dari sini. Lo ngerti kan?"
Laras mengangguk cepat sambil menyeka air matanya. "Gue ngerti banget Ra. Makasih ya... makasih banyak."
"Jangan makasih dulu," potong Rara ketus. "Buktikan dulu lewat perbuatan. Udah sana bantu angkat bangku itu ke belakang, jangan cuma diam aja kayak patung."
Tanpa menunggu perintah kedua, Laras segera berlalu dengan senyum tipis yang mulai mengembang di wajahnya. Ia tahu jalan masih panjang, tapi setidaknya pintu yang dulu tertutup rapat kini terbuka sedikit demi langkahnya yang baru.
Suasana sejenak hening setelah Rara bicara. Laras berdiri kaku di tempatnya, tangannya gemetar menahan rasa lega sekaligus takut kalau-kalau Rara berubah pikiran lagi. Ia mengira akan ditolak mentah-mentah, tapi ternyata pintu itu masih terbuka sedikit buat dia.
Rara kembali merapikan tumpukan kain di atas meja, lalu menoleh sekilas ke arah Laras dengan tatapan masih dingin.
"Berhenti melamun kayak orang bengong! Lo pikir masuk ke sini cuma buat seneng-seneng doang?" tegur Rara tegas. "Kalau lo udah gabung di sini, lo harus nurut sama aturan kita. Nggak boleh main-main, nggak boleh curi-curi pandang ke orang lain pas latihan, dan yang paling penting: kerjain tugas lo sendiri dengan benar. Nggak ada yang bakal ngerjainin buat lo."
Laras segera mengangguk mantap, mendekat sedikit. "Siap Ra! Gue janji bakal nurut semua. Gue nggak bakal bikin kecewa lo atau yang lain. Gue siap bantu apa aja, dari angkat barang, nyapu panggung, sampe ngafalin naskah yang paling susah sekalipun."
"Omong kosong semua kalau nggak ada buktinya," sahut Rara cepat. "Dulu lo juga janji bakal berubah, tapi besoknya tetep aja sama. Gue nggak gampang percaya lagi sama janji manis lo, Lar."
"Iya gue tau gue udah sering bikin lo kecewa," suara Laras melembut, matanya menatap tulus. "Tapi kali ini beda. Gue udah mikir panjang. Gue capek bermusuhan sama lo, capek selalu merasa nggak tenang di kelas. Gue beneran mau belajar jadi teman yang baik."
Dimas melangkah maju di antara mereka, menepuk bahu Laras pelan. "Kita kasih kesempatan ini ya. Tapi ingat, kerja sama itu butuh saling percaya. Kalau lo udah berusaha, pasti lama-lama Rara juga bakal lihat usaha lo itu."
Laras menoleh ke arah Dimas, lalu kembali menatap Rara. "Makasih Dim, makasih semuanya. Gue nggak bakal nyia-nyia kesempatan ini."
"Udah jangan banyak ngomong," potong Rara lagi sambil menyodorkan tumpukan kertas. "Sini lo bantu lipat naskah ini bagiin ke teman-teman kelas yang lain. Terus itu kain latar belakang di pojok sana tolong dirapikan dan digantung yang bener. Jangan sampai melorot pas kita lagi latihan nanti."
"Oke Ra, langsung gue kerjain sekarang!" jawab Laras semangat. Ia langsung menyambar tumpukan kertas itu, lalu bergerak lincah menuju pojok ruangan.
Melihat Laras yang tak lagi menunggu disuruh dua kali, Aisyah mendekat ke samping Rara sambil berbisik pelan. "Kamu lihat nggak Ra? Kali ini sikapnya beda banget lho. Dia kelihatan serius banget."
Rara menatap punggung Laras yang sibuk bekerja, lalu menghela napas pelan. "Gue lihat kok. Tapi gue nggak mau seneng dulu. Biarin aja dia ngebuktiin dulu seharian ini. Kalau dia konsisten, baru gue percaya pelan-pelan."
Siang itu Laras benar-benar menunjukkan perubahannya. Ia tidak lagi berjalan pelan atau menunggu orang lain mengerjakan hal berat. Ia mengangkat bangku, menyusun kursi, membetulkan kabel lampu, bahkan menawarkan diri untuk membeli minum saat mereka beristirahat. Tidak ada keluhan, tidak ada alasan, dan tidak ada lagi tatapan sombong yang dulu sering ia tunjukkan.
Saat semua pekerjaan selesai, Laras mendekat lagi ke Rara dengan wajah sedikit berkeringat tapi berseri. "Ra... semua udah beres kok. Udah gue cek nggak ada yang kurang."
Rara menatap sekeliling ruangan yang kini tertata rapi, lalu menatap Laras sekilas. "Oke, lumayan. Belum sempurna sih, tapi setidaknya lo nggak cuma gaya doang kayak kemarin-kemarin. Baguslah kalau lo mau ngerjain tugas dengan bener."
Laras tersenyum lebar, senyum yang tulus tanpa kepura-puraan. "Makasih ya udah ngasih nilai gitu, Ra. Gue bakal berusaha lebih baik lagi besok."
Rara hanya mendengus pelan sambil tersenyum tipis yang tak disadari. Mungkin jalan mereka masih panjang, tapi setidaknya langkah pertama Laras hari ini sudah cukup baik untuk menjadi awal yang baru.
“Emang enak,” batin Rara yang mengerjainya Laras.