"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.
Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.
Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.
Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Akan Datang
Keesokan harinya.
Waktu terus berjalan tanpa memberi kesempatan kepada siapapun untuk mengubah apa yang telah di tetapkan.
Sementara keluarga Pradipta mulai mempersiapkan pertemuan antara kedua keluarga, seseorang di tempat lain justru masih berusaha mempertahankan penolakannya.
Siang itu, jarum jam didinding ruang kerja Dirga Atmajaya telah menunjukkan pukul satu siang.
Seperti biasanya, suasana dilantai tiga puluh dua gedung Atmajaya Group di penuhi kesibukan. Para karyawan berlalu lalang membawa berkas dan tablet di tangan mereka, sementara beberapa orang tampak keluar masuk ruang rapat dengan berbagai rkspresi mereka.
Di balik pintu kaca bertuliskan President Director, Dirga masih sibuk menandatangani beberapa dokumen yang sejak pagi memenuhi meja kerjanya. Sesekali, ia membubuhkan tanda tangannya pada beberapa lembar laporan tanpa mengangkat pandangannya sedikit pun.
Tok... tok...
Ketukan pelan di pintu ruangannya membuat gerakan tangannya terhenti.
"Masuk."
Pintu itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Robi yang segera melangkah masuk dengan ekspresi yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Pak Dirga, ada tamu yang ingin menemui Anda."
Dirga meletakkan pulpen di atas meja sebelum menatap asistennya.
"Siapa?"
"Pengacara Tuan Atmajaya, kakek Anda. Beliau datang bersama dengan dua tim kuasa hukum lainnya."
Untuk sesaat, raut wajah Dirga berubah. Rahangnya tampak mengeras, seolah telah mengetahui alasan kedatangan mereka.
"Suruh mereka masuk."
"Baik, Pak."
Robi kembali keluar dari ruangan. Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka. Kali ini, ia masuk bersama seorang pria paruh baya yang telah cukup lama menjadi pengacara keluarga Atmajaya, di ikuti oleh dua orang lain di belakangnya.
"Selamat siang, Pak Dirga."
Dirga bangkit dari kursinya. Meski tidak menyukai situasi ini, ia tetap menyambut mereka dengan profesional.
"Selamat siang. Silahkan duduk."
Mereka pun berpindah ke area sofa tamu yang berada didekat jendela kaca besar. Dari sana, pemandangan ibu kota tampak begitu jelas, dengan deretan gedung pencakar langit yang menjulang di bawah langit siang yang cerah.
Dirga duduk dengan kedua tangan bertaut di atas sandaran tangan sofa.
"Ada keperluan apa sampai membawa Anda datang ke kantor saya?"
Sang pengacara menganggukkan kepalanya pelan sebelum membuka salah satu map yang di bawa tim nya.
"Kami sudah mendapatkan kabar dari Ayah anda bahwa Anda tetap menolak perjodohan yang diminta oleh mendiang kakek Anda."
"Hmm, benar. Saya memang tetap menolaknya." Dirga menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Lalu, apa masalahnya sekarang?"
Pria itu menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
"Baik. Sesuai dengan amanat yang tertulis dalam surat wasiat mendiang Tuan Atmajaya, apabila Anda menolak perjodohan tersebut, maka seluruh aset yang berada dibawah nama pewaris utama akan di cairkan dan di alihkan kepada yayasan serta beberapa pihak yang telah di tentukan."
Ruangan mendadak hening.
"Termasuk saham mayoritas Atmajaya Group, properti, rekening investasi, dan seluruh hak pengelolaan perusahaan yang saat ini berada di bawah wewenang Anda."
"Kalian bercanda?" tanya Dirga dengan kening berkerut, sementara jemarinya mengetuk pelan permukaan meja.
"Tidak, Pak Dirga." jawab sang pengacara dengan tenang.
Dirga tertawa kecil. Namun, tidak ada sedikit pun nada humor dalam tawanya. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Astaga..." gumamnya pelan. "Semua yang sudah susah payah aku bangun akan di ambil begitu saja?"
"Benar, Pak Dirga. Semuanya."
"Kalian mau menghancurkan semua ynag sudah aku bangun hanya karena pernikahan sialan itu?" ucap Dirga dengan nada yang mulai meninggi.
"Kami hanya menjalankan amanat yang ditinggalkan mendiang Tuan Atmajaya," jawab pria itu seraya mendorong beberapa dokumen ke hadapan Dirga.
"Jika Anda tetap menolak, maka kami meminta Anda untuk segera menandatangani berkas-berkas ini agar prosesnya dapat segera di lakukan."
Dirga tidak segera menjawab. Tatapannya jatuh pada beberapa map cokelat dihadapannya. Untuk sesaat, ruang kerja yang luas itu di penuhi keheningan.
Atmajaya Group bukan sekadar nama besar yang di wariskan kepadanya. Perusahaan itu tumbuh bersama kerja kerasnya selama bertahun-tahun, dan ribuan karyawan menggantungkan hidup mereka di sana.
"Pak..." panggil Robi pelan dari belakangnya.
Dirga menoleh sekilas.
"Bagaimana nasib semua karyawan Bapak nanti?" tanya pria itu hati-hati.
Pertanyaan sederhana itu seolah menghantamnya lebih keras daripada isi surat wasiat yang baru saja di dengarnya. Untuk pertama kalinya, Dirga benar-benar merasa terpojok. Ia bisa saja membangun perusahaan baru dari nol, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang selama ini mempercayainya?
Dirga menghembuskan napas panjang sebelum merogoh ponselnya dari saku jas. Jemarinya bergerak cepat mencari satu nama di layar dan berniat untuk menelponnya.
Ibu.
Tak lama kemudian, panggilan itu tersambung.
"Halo, Bu."
"Ya, Dirga? Ada apa menelepon Ibu?" sahut Laras dari seberang sana.
Dirga memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Kapan keluarga Pradipta ingin bertemu?"
Di seberang sana, Laras tampak terdiam selama beberapa detik.
"Eh... itu... harusnya nanti malam. Apa pengacara kakekmu sudah di kantormu?"
"Hmm, sudah."
"Ya sudah kalau begitu. Ibu mau telpon Ibunya Kanaya dulu, mau membatalkan semua rencana-..."
"Jangan," potong Dirga cepat.
Laras sontak terdiam. "Kenapa jangan?"
"Aku akan datang."
"Eh?" Suara Laras terdengar meninggi karena terkejut. "Kamu... mau datang menemui mereka? Kamu serius?"
Dirga membuka matanya perlahan dan menatap hamparan gedung di balik jendela kaca besar di hadapannya. "Hmm."
"Ya Tuhan..." ucap Laras hampir tak percaya. "Ibu senang sekali mendengarnya. Ya sudah, Ibu akan hubungi mereka. Nanti Ibu kirimkan alamat kita bertemu."
"Ya."
Panggilan itu berakhir beberapa detik kemudian. Dirga meletakkan ponselnya di atas meja sebelum kembali mengalihkan pandangannya kepada ketiga pria yang sedari tadi menunggunya.
"Anda semua bisa kembali," ucapnya singkat. "Saya akan datang menemui keluarga Pradipta."
Ketiga pria itu saling bertukar pandang sejenak.
"Apa itu artinya Anda menerima perjodohan ini?" tanya sang pengacara memastikan.
Dirga terdiam cukup lama sebelum akhirnya menganggukkan kepala tipis.
"Hmm."
"Baik kalau begitu." Sang pengacara menutup kembali map yang sebelumnya dibukanya. "Kami akan mengurus kembali berkas-berkas ini. Saya harap Anda tidak lagi berubah pikiran, Pak Dirga. Semoga semuanya berjalan lancar. Kami permisi."
"Ya, silahkan."
Tak lama kemudian, mereka pun meninggalkan ruangan tersebut, menyisakan keheningan yang terasa begitu menyesakkan.
Dirga memejamkan matanya dan menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Pemandangan ibu kota yang biasanya mampu menenangkan pikirannya kini terasa begitu asing.
"Sial..." desisnya pelan.
Robi yang masih berdiri di tempatnya menatap sang atasan dengan ragu-ragu. "Pak, Anda yakin dengan keputusan Anda?"
Dirga terkekeh pelan. Namun, tawanya terdengar lebih seperti seseorang yang sedang menertawakan nasibnya sendiri.
"Entahlah," jawabnya seraya mengembuskan napas panjang. "Aku hanya memikirkan nasib semua karyawanku yang bergantung pada perusahaan ini. Tanpa mereka, aku juga bukan apa-apa."
"Lalu... bagaimana dengan Nona Viona?" tanya Robi hati-hati.
Pertanyaan itu membuat Dirga kembali terdiam. Rahangnya mengeras, sementara pandangannya kembali tertuju pada gedung-gedung tinggi dibalik jendela.
"Itu juga yang sedang aku pikirkan sekarang," ucapnya lirih. Setelah jeda beberapa detik...ia kembali membuka suara, kali ini hampir seperti bergumam kepada dirinya sendiri.
"Bagaimana jika dia tau masalah ini..."