Xiao Lin seorang pemuda murid pelayan di sebuah sekte di bagian timur kekaisaran Angin Surgawi. terkenal sebagai sampah dan selalu di bully oleh murid lain.
Hingga suatu hari saat ia melihat teman nya hampir terbunuh. tiba tiba ia kalap mata dan membunuh murid luar tersebut. namun ia tak menyadari hal apa yang sudah terjadi.
nasib apakah yang di tanggung Xiao Lin di sekte setelah pembunuhan terjadi? mampu kah ia keluar dari masalah itu?
saksikan perjalan hidup Xiao Lin untuk menjadi kuat. membantai setiap musuh yang menghalangi jalan kultivasi nya. hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Mangsa di Mata Serigala
Kemenangan Xiao Lin di babak pertama menyebar dengan cepat di kalangan murid pelayan. Bagi mereka yang selama ini selalu diinjak-injak, sosok Xiao Lin yang berhasil mengalahkan Zhao Gang dengan begitu bersih dan elegan bagaikan secercah harapan. Namun, bagi para murid luar, kemenangan itu tidak lebih dari sekadar "keberuntungan dua ekor cacing yang saling menggeliat."
Setelah jeda istirahat selama satu jam, gong raksasa kembali bergaung. Babak kedua akan segera dimulai. Kali ini, jumlah peserta telah menyusut setengahnya, menyisakan pertarungan yang jauh lebih sengit.
Xiao Lin kembali berdiri di depan layar proyeksi cahaya bersama Ah Gou yang terus merapalkan doa keselamatan. Saat nama-nama di layar mulai berputar dan akhirnya mengunci lawan berikutnya, wajah Ah Gou yang tadinya mulai cerah langsung berubah menjadi pucat pasi.
> Panggung Nomor 3: Xiao Lin (Murid Pelayan) VS Lu Feng (Murid Luar)<
"L-Lu Feng..." Ah Gou bergumam dengan bibir gemetar. "Xiao Lin, ini buruk. Sangat buruk!"
"Siapa Lu Feng, Ah Gou?" tanya Xiao Lin dengan tenang, mencoba merapikan jubah abu-abunya yang sedikit berdebu.
"Dia adalah salah satu pengikut setia Wang Chen! Kultivasinya sudah mencapai Qi Gathering Tingkat 3 Awal!" Ah Gou mencengkeram lengan Xiao Lin dengan panik.
"Dia terkenal kejam di halaman luar. Setiap kali bertarung, dia tidak pernah membiarkan lawannya keluar panggung tanpa mematahkan setidaknya satu tangan atau kaki! Wang Chen pasti sengaja mengatur ini melalui koneksinya!"
Xiao Lin menatap nama Lu Feng di layar. Dia bisa merasakan tatapan tajam yang menusuk punggungnya. Ketika dia berbalik, di kejauhan tampak seorang pemuda kurus ber-jubah putih dengan mata sipit seperti ular sedang menatapnya sambil menjilat bibirnya sendiri. Di sampingnya, Wang Chen berdiri sambil bersedekap dada, memberikan anggukan dingin kepada pemuda bernama Lu Feng tersebut.
"Jangan khawatir, Ah Gou. Aku sudah berjanji padamu untuk tidak menyerah begitu saja,"
kata Xiao Lin lembut. Dia menepuk tangan Ah Gou untuk menenangkannya, lalu mulai berjalan menuju Panggung Nomor 3.
Di dalam Dantiannya, danau energi Qi tingkat 2 milik Xiao Lin mulai bergolak. Kehadiran lawan di tingkat 3 tidak membuatnya takut; sebaliknya, sifat pejuang kerasnya justru membuat darahnya terasa sedikit mendidih oleh semangat bertarung.
Di dalam ruang jiwanya yang gelap, sosok kejam itu kembali membuka matanya setengah. Sebuah senyum dingin terukir di kegelapan.
"Tingkat 3 fana? Serangga yang sedikit lebih besar. Biarkan bocah polos ini babak belur sedikit agar dia tahu bahwa kebaikan tidak ada gunanya di dunia ini."
Begitu Xiao Lin menapakkan kakinya di Panggung Nomor 3, Lu Feng sudah menunggu dengan menyilangkan tangan di depan dada. Di pinggangnya, tergantung sebilah pedang besi tipis yang berkilau tajam di bawah sinar matahari.
"Kau rupanya punya nyali juga untuk naik, sampah pelayan," desis Lu Feng, suaranya terdengar mendesis seperti ular beludak.
"Kudengar kau beruntung di babak pertama. Tapi di hadapanku, keberuntunganmu telah habis."
Xiao Lin membungkuk dengan sopan, mempertahankan tata kramanya. "Mohon petunjuknya, Senior Lu Feng."
"Petunjuk? Aku tidak akan memberimu petunjuk, aku akan memberimu pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu!"
WUSH!
Begitu diaken pengawas memberikan aba-aba mulai, Lu Feng langsung mencabut pedang besinya. Tubuhnya melesat maju dengan kecepatan yang jauh melampaui Zhao Gang di babak pertama. Energi Qi tingkat 3 miliknya mengalir deras, menyelimuti bilah pedangnya dengan cahaya putih tipis yang tajam.
*Tebasan Angin Berbisa!*
Lu Feng mengayunkan pedangnya dalam serangkaian tebasan cepat yang mengincar titik-titik vital Xiao Lin—leher, dada, dan tendon kaki.
Xiao Lin langsung memusatkan seluruh konsentrasinya. Langkah kakinya bergerak lincah, menghindari tiga tebasan pertama dengan selisih jarak yang sangat tipis. Namun, tajamnya angin pedang Lu Feng tetap berhasil menyayat jubah abu-abu Xiao Lin, meninggalkan beberapa garis robekan tipis.
PING! PANG! PING!
Xiao Lin terpaksa menggunakan pedang kayu tuanya untuk menangkis tebasan berikutnya. Setiap kali kedua senjata itu berbenturan, getaran energi Qi tingkat 3 dari pedang besi Lu Feng merambat naik ke lengan Xiao Lin, membuat tangannya terasa sedikit mati rasa. Pedang kayu tua milik Xiao Lin pun mulai dipenuhi oleh bekas takikan dalam akibat tebasan pedang besi.
"Hahaha! Hanya bisa menghindar dan bertahan seperti tikus?!" Lu Feng tertawa sinis, serangannya semakin gencar dan agresif. "Lihat berapa lama pedang kayu sampahmu itu bisa bertahan!"
Xiao Lin terus terdesak hingga ke pinggir panggung batu. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya. Dia menyadari bahwa jika terus mengandalkan pertahanan pasif, pedang kayunya akan hancur dalam beberapa jurus lagi.
‘Aku harus menyerang!’ batin Xiao Lin.
Saat Lu Feng kembali menusukkan pedangnya ke arah dada, Xiao Lin tidak menghindar ke samping. Dia justru memiringkan tubuhnya sedikit, membiarkan bilah pedang tajam Lu Feng melesat lewat di bawah ketiak kirinya—menyerempet kulitnya hingga mengeluarkan darah—sementara dia menggunakan momentum itu untuk maju mendekat.
Ini adalah taktik yang sangat berani dan berbahaya!
Dengan jarak yang kini sangat dekat, Lu Feng terkejut dan tidak sempat menarik kembali pedang besinya. Xiao Lin memusatkan seluruh energi Qi tingkat 2 miliknya ke telapak tangan kanannya, lalu menghantamkan pukulan lurus ke arah dada Lu Feng.
Pukulan Pemecah Batu!
Meskipun itu hanya teknik pukulan dasar fana, dengan sokongan Qi tingkat 2 yang murni dari Xiao Lin, pukulan itu menghasilkan suara dentuman udara yang cukup keras.
DUAK!
Hantaman telak mendarat di dada Lu Feng. Pemuda ber-jubah putih itu mendengus kencang dan terpaksa mundur lima langkah ke belakang untuk menstabilkan tubuhnya. Wajahnya memerah menahan rasa sakit, dan matanya dipenuhi oleh keterkejutan yang luar biasa.
"Kau... kau memiliki Qi?!" seru Lu Feng dengan gigi tergetar.
"Dan itu... Qi tingkat 2?! Bagaimana mungkin seorang pelayan fana sepertimu..."
Bukan hanya Lu Feng yang terkejut. Di tribun penonton, beberapa penonton yang memperhatikan pertarungan di Panggung 3 langsung berdiri dari tempat duduk mereka.
"Pelayan itu... dia berada di ranah Qi Gathering tingkat 2?!"
"Bagaimana dia bisa menyembunyikan kultivasinya selama ini?!"
Bahkan Wang Chen yang menonton dari jauh langsung menyipitkan matanya dengan tajam, tangannya mencengkeram erat gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Kebencian di dalam hatinya kini bercampur dengan rasa terancam. Seorang pelayan tak berbakat tiba-tiba memiliki Qi tingkat 2 dalam waktu singkat? Ini tidak logis!
Di atas panggung, Lu Feng yang merasa dipermalukan di depan umum oleh seorang pelayan rendahan langsung kehilangan akal sehatnya. Wajahnya menjadi merah padam karena amarah yang membakar.
"Sampah busuk! Berani sekali kau melukaiku!" teriak Lu Feng histeris.
Dia menggenggam pedang besinya dengan kedua tangan. Seluruh energi Qi di dalam tubuhnya diperas habis-habis hingga membuat urat-urat di dahinya menonjol. Bilah pedang besinya kini tidak lagi memancarkan cahaya putih tipis, melainkan cahaya putih yang menyilaukan dan mengeluarkan suara mendenging yang menusuk telinga.
Ini adalah jurus pamungkasnya yang paling mematikan: Tebasan Pembelah Badai.
"Aku akan memotong-motong tubuhmu menjadi berkeping-keping!" Lu Feng menerjang maju dengan kecepatan penuh,
Melompat tinggi ke udara dan mengayunkan pedangnya ke arah kepala Xiao Lin dengan kekuatan penuh yang berniat membunuh secara mutlak!
Serangan ini terlalu cepat dan terlalu kuat untuk dihadapi oleh seorang kultivator tingkat 2 biasa. Tekanan angin dari pedang Lu Feng bahkan membuat lantai batu di bawah kaki Xiao Lin mulai retak.
Ujung pedang kayu Xiao Lin yang sudah rapuh tidak akan mungkin bisa menahan hantaman ini. Kematian terasa begitu dekat merayap di leher pemuda polos itu.
bossss
🐉🐉🐉🐉💪💪💪💪
wuss
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
👻👻👻👻👻👻
jedug
🐉🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉
fgjkitrcv
🐉
🐉🐉
🐉🐉🐉
uh
kejam
kejam
7
🐉🐉🐉
pitu
bantai
🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
wolu
🐉👻🐉👻🐉
10
🐉
11
hukum Konoha
👻👻🐉🐉
9
🐉👻
8
🐉
12
🐉